
Helena baru saja sampai di Bogota, hari sudah cukup malam untuk melanjutkan perjalanannya mencari apartemen milik Vegas, dia juga tidak tahu apakah akan bisa langsung menemuinya atau akan disuruh pulang dulu untuk menemuinya besok karena jika sudah malam seperti ini cukup mengganggu waktu istirahat Vegas.
Helena menatap sebuah hotel di hadapannya, dia menarik koper kecil dan berhanti di depan penyebrangan menunggu lampu untuk pejalan kaki menyala. Saat sedang menunggu, Helena merasa ponselnya bergetar, dia mengeluarkan ponsel dari dalam jaket dan melihat nama Ella di sana. “Halo Helena, bukankah aku akan pulang hari ini? Mengapa sampai sekarang kau belum sampai di rumah?”
“Astaga Ella, aku lupa mengabari mu, aku tidak jadi pulang hari ini, aku pergi ke Bogota untuk menemuinya, kau tahu? Aku mendapatkan tawaran untuk menjadi asistennya! Aku bisa dekat dengannya dan membujuk—"
“Apa? Menjadi asisten! Astaga Helena, jika orangtua mu sampai tahu mereka akan marah, lagi pula kau hanya memiliki waktu 3 hari lagi di sana sebelum semua orang di rumah tahu tentang kabur mu ke Kolombia. Aku harap kau bisa dengan cepat menyelesaikan urusan mu di sana, cepatlah kembali dan jangan membuat ku cemas.”
Senyum Helena mengembang, dia menarik kopernya dan mulai menyebrang bersama beberapa orang lainnya. “Baiklah, jangan khawatir Ella, aku baru sampai di Hotel, perjalanan ini sangat membuat ku lelah,” ucap Helena lalu mematikan panggilan itu. Helena masuk ke dalam hotel dan mulai check in.
**
Sementara di sana. Vegas menatap Marteen yang baru saja tiba di restoran, dia datang dengan wajah yang gembira. “Ada angin apa yang bertemu dengan ku? Biasanya kau selalu sibuk dengan anak mu yang lain,” ucap Vegas sambil memotong steak miliknya. Ucapan Vegas bisa dibilang menyindir, namun dia menyampaikan ucapannya dengan nada bercanda.
Vegas yang mendengar nama Laura langsung menghentikan kegiatan memotong steaknya, dia menatap malas ke arah Marteen. “Apa aku tidak memiliki pasangan lain untuk foto? Selalu saja Laura dan Laura,” gerutu Vegas.
“Ada masalah apa dengan Laura? Dia cantik dan sangat memenuhi kriteria wanita idaman ku. Kau dan Laura adalah pasangan yang dicintai oleh banyak orang, banyak permintaan masuk untuk projek mu dan Laura, untung saja pihak Laura pun bersedia mengambil banyak kontrak bersama kita Vegas, kau harus bersikap baik pada Laura, dia adalah berlian yang harus dijaga, jika aku jadi—”
“Cukup. Lebih baik aku memesan makan malam mu dulu,” ucap Vegas dan Harry dengan sigap memanggil waiter untuk mencatat makan malam Marteen. “Aku lebih baik solo dari pada memiliki pasangan seperti dia, wanita itu sangat menakutkan, selalu menggoda ku dan aku tidak suka.”
Marteen yang sudah bekerja dalam dunia hiburan lebih dari 10 tahun menatap Vegas bingung, dia baru tahu ada seorang pria yang menolak mendapatkan pasangan cantik seperti Laura, bahkan beberapa artis yang dia urus sangat menginginkan kesempatan emas ini. “Kau sepertinya agak berbeda dengan pria normal lainnya, aku bahkan tak pernah melihat mu berkencan dengan siapa pun.” Marteen mendekatkan wajahnya pada Vegas. “Apa kau tidak menyukai wanita?” bisik Marteen.
“Apa kau gila menanyakan hal itu pada ku? Tentu saja aku menyukai wanita, hanya saja belum ada yang berhasil mendapatkan perhatian ku,” jawab Vegas dengan tatapan tajamnya.