
Satu minggu sudah berlalu, kini hanya ada sisa 13 hari lagi pernikahan Helena. "Untuk apa aku memiliki banyak anak buah jika tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan anak ku di mana!" teriak seorang pria paruh baya yang tampak sudah lelah mencari anak satu-satunya yang sebentar lagi menikah.
Ella menundukkan kepalanya dalam, dia menggenggam ponsel di dalam saku dengan begitu erat. Hatinya benar-benar merasa tak tenang sekarang, sudah seminggu ini Helena sulit untuk dihubungi, Zack sudah beberapa kali datang dengan wajah lelah dan sedih. Dalam hati Ella kini sangat marah kepada Helena, dia terlalu egois untuk ambisinya sendiri, melibatkan banyak orang yang menjadi kesusahan karena ambisinya. Zack adalah pria yang baik, tapi Helena selalu membuat alasan jika pria itu sangat kasar dan mengancamnya, padahal sudah sangat jelas jika Zack adalah pria baik yang bertanggung jawab, Zack terlihat sangat mencintai Helena dengan tulus.
"Ella, kau benar-benar tidak mendapatkan kabar dari Helena sekalipun?" tanya Anthony.
Ella menelan salivanya dengan kuat, dia menggelengkan kepala lalu menarik nafasnya dengan perlahan. "Tidak Tuan, terakhir Nona Helena mengabariku minggu lalu, saat aku masih tahu Nona Helena berada di rumah temannya."
Anthony menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia memijat bagian keningnya yang terasa pening. "Hari ini kita cari lagi di segala sudut kota, jika masih tidak ada aku akan melakukan pencarian di luar kota dan menghubungi beberapa teman yang bisa membantu," ucap Anthony pasrah.
Anthony mungkin sedikit lebih sadar jika Helena tidak terlalu menyukai perjodohan ini, tapi seharusnya Helena tidak kabur dan membicarakan semuanya dengan baik-baik. Anthony hanya ingin Helena melihat sebaik apa Zack, hati Helena seperti terlalu keras untuk diluluhkan Zack. "Ella, telepon Zack dan katakan aku akan menemuinya di Kantor."
"Ba-baik Tuan."
***
Saat jam makan siang, ponsel Vegas berdering, nama Rose terlihat memenuhi layar ponsel. "Halo kak, kau sudah jarang meneleponku," gumam Vegas sambil melanjutkan kembali makan siangnya.
"Apa kau merindukan kakakmu ini sekarang?" tanya Rose dengan tawa kecil khas yang selalu membuat Vegas tenang. "Aku selalu mendapatkan kabar terbarumu dari Helena, dia memberikan kabar sangat rinci melebihi Harry."
"Oh ya, Helena mana? sudah 2 jam pesan ku tidak dia baca, jangan-jangan dia mengganti nomor lagi."
Vegas seakan baru sadar jika Helena sudah cukup lama tidak kembali dari ruang pengambilan pakaian. "Aku memintanya untuk mengambil pakaian pemotretan, sepertinya ada sedikit kendala dengan pakaian ku," jelas Vegas.
Sementara di sana, Helena menelan salivanya kuat, John tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang tak ada orang lain lagi di dalamnya. "Aku tidak yakin jika kau memang kekasih Vegas," ucap John sambil terus berjalan mendekati Helena yang terus mundur.
"Memangnya ada masalah apa dengan hal itu? Sekali lagi kau mendekat, aku akan berteriak!" desis Helena yang sudah merasa terancam dengan gelagat John yang aneh.
John tersebut kecil, dia menaikan sebelah alisnya seakan menantang. "Jika kau berteriak aku akan mencium mu."
Kedua mata Helena langsung membulat, dia menatap penuh benci pada John. "Apa yang kau inginkan!"
"Aku? aku hanya ingin kau mengaku bukan kekasih Vegas dan katakan jika Vegas tidak menyukai perempuan, dengan begitu karirnya akan redup dan Marteen akan mempromosikan aku," ucap John dengan tersenyum licik.
"Kau gila!"