
Keberangkatan mereka ke Paris sudah terjadwalkan dengan matang, Helena dibuat kewalahan karena Vegas yang kembali sulit di dekati, Vegas seakan menjaga jarak pada Helena yang selalu ingin mengajaknya berbincang. "Biar aku bantu," ucap Helena yang langsung melangkah hendak membantu Vegas melepaskan jaket yang dia kenakan.
Namun tanpa diduga Vegas malah menepis tangan Helena yang hendak membantunya. "Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawab Vegas yang membuat Helena semakin frustasi, dia tidak mengerti apa salahnya dan jika seperti ini terus Helena merasa sia-sia sudah melakukan sejauh ini.
Vegas melihat Helena yang langsung murung dan pergi mengambil botol minum dalam tas yang dia bawa tadi, rasanya Vegas semakin hari tak bisa menahan lagi perasaannya itu, jantungnya selalu saja berdebar tak menentu dan Vegas merasa gugup jika Helena mengajaknya berbincang dengan mata indah itu. "Ini minum mu," ucap Helena dengan tak bersemangat.
Ketika Vegas baru saja akan mengambil botol minum tersebut, matanya baru menyadari sebuah cincin berwarna silver yang ada di tangan Helena. "Apa ini?" tanya Vegas spontan sambil menunjuk sebuah cincin di jari manis Helena.
Helena langsung menarik kembali jemarinya, dia melihat ke arah cincin yang dimaksud oleh Vegas. Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada Vegas? "Ini cincin pertunangan ku," jawab Helena.
Siapa pun bisa melihat jelas raut wajah terkejut Vegas yang tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kau? sudah bertunangan?" tanya Vegas.
Helena menganggukkan kepalanya. "Ya, tapi ini semua hanyalah perjodohan yang dibuat oleh kakek ku dengan temannya. Apa kau kenal Gabriel?"
"Kakek Gabriel sangat dekat dan baik dengan keluarga ku, dia memiliki seorang anak laki-laki yang kabur karena menikahi seorang gadis desa yang tak lain adalah anak dari pengurus peternakan yang ada di Desanya. Anaknya itu bernama Phi—"
"Vegas, ayo kita bersiap sekarang, masuk ke ruang make up," teriak Marteen yang akan full mengikuti kegiatan Vegas yang terbilang besar ini selama di Paris. "Kita akan foto bersama terlebih dahulu dengan yang lainnya, setelah itu kita akan melakukan rapat, ayo." Marteen meminta Vegas untuk berdiri dari duduknya sekarang juga.
Vegas menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak akhirnya terbebas dari cerita yang membuat Vegas tidak tertarik itu. Oh ayolah, siapa juga yang akan tertarik pada cerita perjodohan seseorang? Vegas merasakan sesak dan moodnya langsung turun begitu saja, dia meninggalkan Helena yang masih duduk di tempatnya tadi.
Helena memejamkan matanya pelan, dia tidak bisa mengatakannya sekarang, bagaimana pun ini adalah urusan keluarga dan yang Helena dengar dari Rose jika Vegas sudah sangat membenci Daddy dan wanita yang merebut Daddy nya itu. "Jika benar-benar sudah menutup pintu maaf untuk Daddy mu, apakah kau bersedia melakukan hal ini untuk membatalkan perjodohan ku dengan Zack?" gumam Helena pelan.
Awalnya Helena berpikir dia merindukan Daddynya, namun setelah melihat sosok Vegas yang sekarang dia sudah menjadi manusia dingin yang pendendam, mengingat Helena tidak, padahal banyak janji yang mereka buat saat itu.