Beauty And The Boss

Beauty And The Boss
bab 16 : Mata Indah



Ketika Vegas hendak melayangkan sebuah pukulan, seorang pria lainnya menahan tangan Vegas dan mendorong tubuh John. "Vegas, tenang, kau dan John sedang mabuk," ucap Will. "Mungkin dia tidak melihat Helena yang baru saja dia pegang."


Vegas berdecak kasar, pandangannya menatap muak pada John yang tampak sudah mabuk hanya tersenyum kecil seakan mengejek Vegas. "Apa dia buta? jelas-jelas dia ingin menggoda wanita ku!" teriakan Vegas membuat Helena dengan spontan menahan tangan Vegas yang lagi-lagi ingin ingin menghajar John.


"Sudah, aku tidak apa-apa, lebih baik kita pulang dan istirahat saja," ucap Helena dengan pelan. Lingkungan seperti ini sangat tidak biasa untuk Helena, suara bising, orang-orang yang ada di sini, semuanya sangat membuat Helena tidak nyaman.


"Tolong tenangkan Vegas, kalian berhati-hatilah dijalan. Sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian tadi," ucap Will dengan nada merasa bersalah.


Helena tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan dan membawa Vegas keluar dari club itu, walaupun Vegas terlihat masih sadar, namun kenyataannya langkah pria itu sedikit tak beraturan yang mengartikan jika Vegas sudah sedikit masuk. "Apa kau tidak marah sudah di perlakukan seperti itu orang orang lain? kau seharusnya menamparnya, memukulnya!" teriak Vegas dengan nafas yang masih tak beraturan karena emosi.


Helena menghembuskan nafasnya perlahan, dia baru saja selesai mendudukkan Vegas ke dalam mobil. "Jika aku tidak mengkhawatirkan mu aku sudah melakukan hal itu pada teman mu. Ingat apa yang dikatakan Marteen, jangan membuat skandal apapun, banyak kamera yang akan merekam perkelahian kalian."


"Untuk apa kau mementingkan itu? aku yang akan menanggung semuanya, bukan kau, yang harus kau lakukan hanyalah melindungi harga dirimu."


"Karena aku asisten mu, Vegas!" Helena menatap lekat Vegas yang kini terlhat sedikit sayu, entah lelah atau karena mabuk. "Lagi pula dia tidak melakukan hal lebih, kau sudah menolong ku dan menghentikan semuanya," ucap Helena pelan. Jika saja dalam keadaan sadar Vegas seperhatian ini mungkin Helena akan semakin mencintai pria ini dan tentunya lebih mudah meminta bantuan padanya.


"Mata mu indah, seperti orang yang aku kenal," ucap Vegas tiba-tiba saja membuat Helena tercekat, apa Vegas sudah mengingatnya? "Tapi aku tidak tahu siapa dia." Vegas tertawa kecil, matanya sedikit terpejam dan sebelah tangannya memijat pelan pangkal hidungnya.


Selama di perjalanan pikiran Helena berkelana pada apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dia tidak bisa kembali ke rumah dengan tangan kosong, dia tidak ingin bertemu Zack dan entah bagaimana lagi dia harus mengatakan semuanya pada kedua orangtuanya.


Sesampainya di Apartemen, Helena memapah Vegas yang berjalan dengan sangat pelan menuju lift. Tak ada percakapan apapun selama di lift dan saat masuk ke dalam kamar Vegas, Helena membaringkan Vegas di atas ranjang. "Buka jaket mu, apa kau akan langsung tidur tanpa mengganti pakaian?" tanya Helena bingung, apakah Vegas mengerti ucapannya atau Helena yang harus menggantikannya?


"Kau tahu mengapa hidup ku seperti ini?" tanya Vegas tiba-tiba, dia membuka matanya dan menatap langit-langit sambil tertawa kecil khas orang mabuk.


"Tidak, aku tidak tahu. Sekarang lepaslah jaket mu Vegas, aku pikir kau peminum yang hebat dan tidak akan mabuk." Helena berusaha membuka jaket Vegas dan akhirnya berhasil.


"Karena semua orang meninggalkan aku, tidak ada orang yang benar-benar memegang janjinya, kedua orangtua ku bercerai meninggalkan aku dan Rose, saat Rose menikah dia pun meninggalkan aku dan menyuruh ku mencari kehidupan baru di kota ini, tapi apa? suami Rose berselingkuh dan meninggalkannya sendirian, aku tidak bisa kembali ke sana untuk menemani Rose karena aku sudah terjebak dengan kenyamanan di kota ini," gumam Vegas pelan. Helena yang membantu Vegas melepaskan sepatunya hanya bisa diam dan mendengarkan, semua yang keluar dari mulut Vegas sepertinya hal-hal yang berat untuk dia lalui. "Tak hanya Rose, aku pun dikhianati oleh cinta pertama ku sendiri, dia yang membuat janji tapi dia sendiri yang pergi meninggalkan aku." Kini Vegas berucap dengan mata yang tertutup, nafasnya pun mulai tenang.


Helena mengerjapkan matanya beberapa kali, jantungnya kembali berdebar. Senyum Helena perlahan mengembang. "Kau benar-benar mengingatku?" gumam Helena pelan.


Saat itu seorang anak laki-laki sedang menangis karena baru saja kehilangan Mama-nya. Helena datang menghibur dan hampir satu minggu mereka selalu bersama, saling jatuh cinta untuk pertama kalinya dan membuat janji untuk tidak pernah pergi selamanya.


Helena berdiri dan menarik selimut untuk Vegas, dia dengan cepat kembali menuju kamarnya dan membuka kotak berisikan kalung yang selalu dia bawa. "Besok aku akan memperlihatkan ini," ucap Helena dengan penuh harap. Dalam hati Vegas ternyata masih mengingat Helena, hal itu jelas membuatnya bahagia, masih ada kesempatan untuk Helena kembali bersama Vegas! menepati janjinya kembali dan terbebas dari pria kasar itu.