
Vegas melirik jam di pergelangan tangannya beberapa kali, keadaan jalan yang begitu padat membuat Vegas cukup frustasi dan bingung. Ingin rasanya dia menghubungi Marteen dan meminta sang manajer untuk mengatur beberapa orang agar Vegas bisa sampai dengan cepat menuju gedung, namun sayangnya kini Vegas sedang menghindari Marteen yang pastinya saat ini sedang marah besar karena Vegas tidak menghadiri beberapa pekerjaannya sedari kemarin. “Apakah masih jauh letak gedung ini?” tanya Vegas dengan nada tak sabaran.
Supir yang sedari tadi merasa aneh dengan penampilan Vegas yang begitu tertutup hingga dia tidak bisa melihat sedikitpun wajah pria itu hanya menatap sinis dari kaca mobil sambil menggelengkan kepalanya. Vegas yang mendapatkan jawaban seperti itu cukup kebingungan, apa maksud dari gelengan tersebut? Apakah gedungnya sudah dekat? Hal seperti ini cukup membuat Vegas frustasi, dia berdecak pelan dan mengerti dengan keraguan supir tersebut. Tanpa pikir panjang Vegas pun membuka topi hitamnya dan juga masker yang dia kenakan. “Apa sudah dekat? Aku harus cepat ke sana.”
Sang supir yang sepertinya langsung mengetahui siapa Vegas terlihat membelalakan matanya tak percaya, dia seketika gugup dan tidak percaya dengan keadaan ini. “Su-sudah dekat Tuan,” jawabnya gugup lalu menunjuk sebuah perempatan di depan dengan tangan bergetar. “Hanya tinggal belok kiri dan kita sudah sampai di gedung itu.”
Seketika nafas Vegas tercekat, ada rasa semangat yang kembali bergejolak. Vegas melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu lampu merah yang baru saja muncul di tengah kepadatan ini. “Kalau begitu aku sampai sini saja,” ucap Vegas sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet dan kembali mengenakan masker dan topi. Vegas turun dari dalam taxi dan mengabaikan sang supir yang tampak membujuknya untuk tetap berada di dalam mobil.
Saat sudah berada di luar dan berbaur dengan beberapa orang pejalan kaki, Vegas mulai berjalan dengan cepat sambil menunduk, di dalam hati Vegas dia mulai berharap-harap cemas agar tidak ada orang yang dapat mengenalinya. Dia harus segera sampai dan tidak memiliki banyak waktu lagi untuk mengatasi sesuatu di luar kendalinya jika ada fans yang menghampiri Vegas.
Ketika berbelok, Vegas dengan hati-hati mengangkat kepalanya dan melihat sebuah gedung berwarna putih dengan sebuah papan indah bertulisan the wedding Helena dan Zack, ada perasaan tak nyaman saat membaca nama itu, namun yang terpenting saat ini adalah Vegas bisa menghentikan pernikahan ini. “Maaf, apa kau memiliki kartu undangan? Kami tidak mengizinkan sembarang orang untuk datang.”
Vegas mengangkat perlahan kepalanya dan melepaskan topi serta masker. “Aku tamu VIP Helena, aku terlambat datang dan lupa membawa undangan itu,” ucap Vegas dengan wajah yang meyakinkan.
“Aku sering melihatnya di iklan,” ucap salah seorang penjaga yang langsung membuat Vegas tersenyum dengan lebar.
“Benarkah? Aku pun seperti tidak asing,” ucap salah satu dari mereka yang kini mengamati Vegas. “Apa kau memiliki bukti sebagai tamu VIP itu?”
Ketika Vegas akan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sosial medianya yang memiliki followers banyak, seorang wanita paruh baya berlari kearah mereka. “Hei, biarkan dia masuk, Ella mendapatkan pesan dari Nona dan Tuan jika pria bernama Vegas datang langsung diantarkan saja! Ayo cepat Tuan, pemberkatan akan segera dimulai.”
Vegas tidak mengerti dengan wanita yang membantunya tersebut, apakah dia yang mengirimkan sebuah voice note? Atau Helena yang sudah memberikannya bantuan agar bisa masuk? Tanpa ingin memikirkan hal lain, Vegas dengan cepat berlari mengikuti wanita itu dan saat masuk ke dalam Vegas yang terengah-engah melihat Helena yang akan berjalan di karpet merah langsung berteriak. “Berhenti!”