
Pukul 9 malam, Helena baru menyelesaikan pekerjaannya. Dia kini berada di sebuah Apartemen di mana Vegas tinggal. “Ini adalah kamar milik ku, Harry biasanya membangunkan aku pukul 7 pagi, membuka semua tirai jendela dan yang lainnya bisa kau tanyakan lagi pada Harry.” Vegas mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah kunci pada Helena. “Kamar mu di lantai 12, nomor kamar tertera di kunci,” jelas Vegas.
Setelah menjelaskan semuanya Vegas dan Helena pun berpisah, Helena menarik koper mininya menuju lift dan Vegas langsung masuk ke dalam kamar. Baru saja Vegas membuka jaket dan kaosnya, sebuah panggilan masuk dari Rose muncul. “Halo? Aku baru sampai kak.”
**
Helena baru saja keluar dari lift dan mulai menyusuri lorong menjadi pintu kamar miliknya. “Ah, di sini,” gumam Helena pelan, dia membuka pintu kamar dan melihat dalam Apartemen yang cukup rapi, masih ada beberapa barang yang tersisa, buku-buku masih terpajang di sebuah meja baca. “Apa ini?” gumam Helena, dia membuka sebuah buku catatan yang tergeletak di atas meja, buku itu sepertinya sengaja di simpan di sana agar Helena bisa melihatnya.
Helena membuka halaman pertama dari buku itu, sebuah catatan di mana makanan kesukaan Vegas di catat, pada lembaran kedua terdapat catatan makanan yang tidak di sukai oleh Vegas. Helena melihat beberapa catatan lain, semuanya tentang keperluan Vegas yang cukup lengkap, sangat berguna untuk beberapa hari menjadi asisten Vegas di sini.
Bruk
Suara pintu yang dibuka dengan keras membuat Helena terkejut, dia berbalik dan melihat Vegas yang datang dengan wajah tampak marah. “Kau ini bekerja pada ku apa menjadi mata-mata kakak ku!”
“A—aku tidak mengerti,” cicit Helena pelan, dia bingung dengan apa yang dimaksud Vegas, tiba-tiba datang dan mengatakan jika Helena adalah mata-mata kakaknya?
“Kau mengatakan pada kakakku jika aku menolak makan malam! Kau juga mengatakan padanya jika makan siang ku tidak habis! Apa hal sesepele itu pun harus kau katakana pada Rose?” desis Vegas marah.
Vegas terdengar mendengus pelan, dia tidak bisa terus menerus marah seperti orang gila jika Helena terus meminta maaf dan tidak membuat perdebatan dalam percakapan mereka, rencana nya gagal membuat Helena marah dan menghubungi kakaknya untuk berhenti menjadi asisten Vegas. “Karena kau sudah mengadu, belikan aku makan malam dan beritahu Rose jika aku sudah melakukan apa keinginannya.” Vegas langsung berbalik dan keluar dari kamar Helena tanpa mengucapkan terima kasih atau hanya sekedar berpamitan.
“Mengapa dia menjadi seperti ini,” gumam Helena pelan. Sambil menghembuskan nafasnya lelah, Helena pun langsung bergegas turun ke lantai dasar di mana terdapat sebuah kantin yang Helena tadi lihat masih buka.
Helena melihat-lihat makanan yang akan dia beli, Helena langsung mengingat daftar makanan kesukaan Vegas yang ada di buku catatan Harry. “Seafood,” ucap Helena dan dengan mata berbinar Helena langsung memasuki sebuah restoran seafood dan memesannya.
Setelah mendapatkan makanan tersebut, Helena langsung menekan tombol lantai 14. “Sabar Helena, setelah ini kau bisa beristirahat langsung,” ucap Helena pada dirinya sendiri, berusaha menguatkan diri agar bisa bertahan beberapa hari lagi.
Pintu lift terbuka, Helena menekan bel yang ada diluar kamar Vegas. Tak lama, Vegas membuka pintu kamar dengan pemandangan yang lagi-lagi membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya. Vegas terlihat cukup segar selesai mandi, hanya mengenakan handuk yang melilit bagian pinggang sampai lutut, sebelah tangannya mengusap rambut basahnya yang baru keramas. “Apa yang kau bawakan?”
“Ha? Oh, ini aku membawakan seafood, kau menyukainya bukan?”
Vegas menggelengkan kepalanya. “Aku sedang tidak ingin seafood, aku ingin sesuatu yang lebih ringan,” ucap Vegas. Seketika, rasa kagum Helena pada pesona Vegas menjadi hilang, dia menarik nafasnya dalam karena sikap Vegas yang benar-benar menguji kesabarannya.