
Helena menatap jam yang ada di ponselnya, sepuluh menit lagi semuanya akan bersiap untuk pemotretan, Helena pun dengan cepat bergegas menuju ruangan di mana Vegas dan Laura sarapan bersama. Memang terlihat sangat menyebalkan, tapi Helena tak bisa berbuat lebih. Saat Helena berjalan di sebuah lorong menuju ruangan, ponselnya berdering dengan nomor tak dikenal memenuhi layar ponselnya. Seketika Helena kembali menjadi gugup, mulai sekarang dia tidak bisa mengabaikan lagi setiap panggilan dari Zack, Helena takut jika Zack berani melakukan sesuatu pada Ella.
Sambil menarik nafasnya dalam, Helena menekan tombol terima pada panggilan tersebut. "Halo?"
"Halo sayangku, ada berita bagus untuk kita," ucap Zack dengan nada bicara yang membuat Helena begitu muak, bisa terlihat jelas bagaimana ekspresi Zack yang sedang berbicara seperti itu.
"Katakanlah langsung, apa pernikahan ini dibatalkan?" tanya Helena dengan ketus karena hanya hal itulah yang menurut Helena berita bagus.
Terdengar tawa Zack yang terkekeh pelan. "Sudah aku peringatkan untuk tidak memimpikan hal itu. Cepat kembali sebelum hari Sabtu, minggu ini kita akan melangsungkan pemberkatan."
Mata Helena seketika membulat, hari Minggu, itu artinya 5 Hari lagi Helena bisa di sini. "Apa? mengapa jadi seperti ini?" pekik Helena marah.
"Aku sudah membantumu dari masalah Helena, jika Sabtu ini kau belum sampai di rumah, aku akan menjemput mu langsung ke sana. Kau tahu sendiri bukan jika kau tidak akan main-main dengan ucapan ku?"
"Tidak ada tapi, ini semua karena ulah mu sendiri Helena," kekeh Zack terdengar begitu licik.
Setelah itu panggilan pun terputus secara sepihak. Zack tersenyum pada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi balkon. "Rencana mu memang bagus Mom, sebentar lagi kita akan memiliki semuanya."
Wanita itu tersenyum kecil, semenjak kematian Ayah mertuanya semua rencana yang sudah diatur oleh Dessy seakan berjalan dengan lancar, surat wasiat yang mengatakan jika Gabriel akan memberikan sebagian besar harga warisannya pada cucu laki-laki satu-satunya saat dulu membuat Dessy merasa sudah puas karena mengambil langkah yang tepat. "Kau memang anak ku yang paling pintar, urusan Helena yang akan menjadi istri mu nanti biar Mommy yang atur agar dia bisa menjadi istri penurut bagi mu. Kau akan menjadi pria paling bahagia setelah mendapatkan semuanya, Zack, apapun yang kau inginkan bisa kau gapai dengan mudah."
Philip yang mendengar itu semua hanya bisa menangis dalam diam, kondisi lumpuh ini membuatnya tak berdaya, tidak menyangka jika selama ini dia hanya terjebak dalam permainan Dessy, mantan kekasih yang tiba-tiba datang dan mengatakan sudah membesarkan anak Philip yang dulu tak Dessy beritahu kabar kehamilannya. "Hendrick," gumam Philip dengan susah payah. Nama itu selalu terngiang di kepala Philip, dia merasa bersalah pada anak laki-laki yang dia tinggalkan, semua ini seharusnya milik anak kandungnya, bukan Zack yang entah Anak Dessy dengan siapa.
Tiga tahun lalu saat Philip menyadari sesuatu yang mencurigakan, dia diam-diam melakukan test DNA dengan Zack, kecurigaannya selama ini benar, Zack bukanlah anak Philip, Dessy selama ini berbohong dan meminta seseorang untuk menabrak Philip hingga kondisinya seperti ini, Philip menyesal sudah terbujuk untuk kembali ke Venezuela dengan alasan kesehatan Ayahnya yang buruk adalah rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh wanita itu.
'Angelina, Rosaline, maafkan aku.' ingin rasanya Philip menjerit dengan keras dan berlari memohon ampun pada keluarga kecilnya yang dulu, walaupun tanpa kekayaan yang melimpah dia ingin merasa bahagia dan tenang.