
Helena membuka matanya perlahan, kali ini dia bangun pukul enam pagi dan kejadian seperti kemarin pastinya tidak akan terulang kembali. Mungkin sikap Vegas yang menyebalkan seperti itu karena Vegas tidak suka Helena datang terlambat. “Baiklah, mari kita check jadwal apa saja hari ini,” gumam Helena pelan, dia mengambil tab dan mencari informasi yang dia inginkan.
Setelah semuanya sudah di mengerti oleh Helena, dia pun mulai bergegas dan masuk ke dalam kamar mandi. Mencari pakaian yang cocok dan sedikit mengenakan make up. “Seperti ini jauh lebih baik,” ucap Helena, karena dia memiliki waktu yang cukup, Helena berhasil mengurai rambutnya rapi dan tidak asal diikat seperti kemarin.
Helena mengambil tas miliknya dan berjalan menuju kamar Vegas, dia pun membangunkan pria itu pelan-pelan. “Vegas, bangun, kau ada jadwal jam 8 ini,” ucap Helena. Karena tidak kunjung bangun, Helena pun membuka tirai kamar dan hal itu cukup berhasil membuat Vegas menggeliat panjang dari tidurnya, dia bangun dan tanpa menyapa Helena terlebih dahulu Vegas masuk ke dalam kamar mandi.
**
Selama di perjalanan Helena sibuk melihat kearah Maps, dia belum tahu sama sekali tentang kota ini, sedangkan Vegas sibuk bermain ponsel. Apa mungkin Vegas masih marah dan tidak menganggap kehadiran Helena ini ada? “Vegas, kau mau sarapan?” tanya Helena hati-hati.
“Tidak,” jawab Vegas ketus.
“Tapi kau harus makan, sarapan itu penting, biar aku carikan restoran yang cocok untukmu, kau ingin makanan seperti apa untuk sarapan?” Helena melirik pelan Vegas dari kaca.
“Siapa kau berani mangatur ku, jika aku tidak ingin sarapan itu artinya aku tidak ingin. Jangan beritahu ini pada Rose!” ucap Vegas memperingati.
Helena lagi-lagi tak bisa membantah, jika Vegas terus bersikap seperti ini bagaimana caranya Helena memberitahu Vegas tentang dirinya yang sebenarnya. “Baiklah,” jawab Helena pada akhirnya.
Sesampainya di sebuah studio, Vegas langsung mengganti baju dan di make up. Pagi ini jadwal Vegas adalah live streaming sebuah brand pakaian yang cukup dikenal banyak orang. “Sudah, kau tidak mengenakan aksesoris?” tanya seorang penata busana yang baru menyelesaikan tugasnya.
“Tentu saja, Helena!” panggil Vegas sedikit berteriak.
“Ambilkan aku perhiasan yang ada dikotak hitam, kau membawanya bukan?”
Helena terdiam sesaat, dia langsung bergegas mengambil tas keperluan Vegas dan mencari kotak perhiasan yang di maksud, memang ada kotak perhiasan tetapi kotak itu bukan berwarna Hitam. “Aku tidak menemukan warna hitam, apa ini maksud mu?” tanya Helena pelan.
Raut wajah Vegas langsung berubah datar, dia tampak kesal dengan Helena. “Sudah aku katakan untuk bertanya pada Harry, apa kau tidak bertanya padanya apa yang diperlukanku pada setiap jadwal? Sudahlah, ini saja, lain kali aku tidak ingin seperti ini lagi,” ucap Vegas ketus.
Tidak sampai sana saja. Saat Vegas baru selesai live, Helena sedang fokus membaca catatan buku Harry tentang bosnya, tak menyadari jika Vegas sudah selesai. "Helena! apa yang sedang kau lakukan? seharusnya kau langsung membawakan aku minum!"
Helena dengan cepat bangun dari duduknya, dia memberikan botol minum pada Vegas dan crew lain mengelap keringat Vegas. "Maaf, aku tidak menyadari," ucap Helena benar-benar menyesal.
Vegas berdecak pelan, dia pun mengambil botol minum dengan kasar. "Memang pada dasarnya kau tidak becus!"
Helena menatap seisi ruangan yang seakan menatap kearahnya, rasanya sungguh malu dibentak dihadapan orang-orang seperti ini. "Kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria ketika Vegas kembali berjalan masuk ke dalam ruangan yang tertutup tirai.
"Tidak, aku baik-baik saja. Oh ya, toilet di mana?" Tanya Helena.
"Di sana." Pria itu menunjuk sebuah pintu dan Helena pun langsung bergegas pergi, matanya berkaca dan rasanya sungguh memalukan diperlakukan seperti ini dihadapan semua orang. Sesampainya di toilet, tangis Helena pun pecah, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh keluarganya sendiri, dia tampak seperti orang bodoh dihadapan orang-orang!