
Selesai makan siang dan berpamitan pada semua yang ada di studio, Vegas memberikan kunci mobil miliknya pada Helena. “Kau bisa mengemudi bukan?” tanya Vegas sedikit tak yakin. Namun, Helena dengan cepat menganggukkan kepalanya, dia mengambil kunci yang diberikan Vegas. “Kau sudah memiliki Surat Izin Mengemudi?” tanya Vegas kembali. Tidak lucu jika dia harus mendapatkan masalah lalu lintas karena asisten barunya ini.
“Tentu saja, aku sudah memiliki Surat Izin Mengemudi,” jawab Helena, kini setelah dia tidak sependiam tadi, dia mulai bersikap cekatan dengan apa yang diperintahkan Vegas, namun setiap dia ingin membuka pembicaraan Vegas selalu menjawab dengan gumaman seakan malam untuk berbicara dengan Helena. Jika sudah seperti ini, sangat sulit untuk Helena meminta bantuan pada Vegas.
Helena masuk ke dalam mobil, dia mulai menyalakan mesin mobil sedangkan Vegas duduk di belakang dan sibuk memainkan ponselnya. Kening Vegas berkerut samar, dia menatap tak suka pada ponselnya saat membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh Marteen. “Helena,” panggil Vegas untuk pertama kalinya membuat Helena senang, apakan Vegas sudah mau berbincang dengannya?
“Ya?” seru Helena sambil melirik ke arah kaca yang ada di atas dan melihat Vegas di belakang sana sedang menoleh ke arahnya.
“Jika nanti ada yang mencari ku, khususnya wanita yang bernama Laura, katakan jika hari ini pekerjaan ku sangat menumpuk, aku tidak bisa menemui siapapun hari ini. Kau mengerti?”
“Ya, aku mengerti,” jawab Helena dengan cepat, dalam hati Helena mulai bertanya-tanya siapa Laura? Apakah ada hubungan pekerjaan atau justru kekasih Vegas? Nama Vegas dan Laura seakan tidak asing bagi Helena, dia seakan pernah mendengar nama itu.
Sesampainya di lokasi selanjutnya, Vegas masuk terlebih dahulu dan meninggalkan Helena yang kini baru selesai memarkirkan mobil. Helena turun dan cukup kebingungan dengan lantai berapa yang harus dia tuju, Helena mengeluarkan sebuah tab dan melihat daftar jadwal Vegas dan membaca segala rincian yang tertera di sana. “Apa di sini?” gumam Helena sambil membuka pelan pintu ruangan yang bertuliskan B.13.
“Cepat kemari, kau ini lama sekali,” gerutu Vegas yang ternyata sudah duduk dengan wajah kesalnya. Helena dengan kesabaran yang masih tersisa berjalan mendekati Vegas dan menyimpan tas khusus keperluan Vegas terlebih dahulu. “Sebentar lagi wanita bernama Laura akan tiba, kau harus melarangnya untuk masuk ke ruangan ini, dia akan ada pemotretan di ruangan sebelah. Pasti Laura akan mencari kesempatan untuk mengganggu ku di sini,” ucap Vegas sedikit berbisik.
“Boleh aku tahu Laura itu seperti apa?” tanya Helena berhati-hati.
Baru saja Helena akan membuka mulutnya, seorang pria meminta Vegas untuk mengikutinya ke ruang ganti. Sambil menghembuskan nafasnya pelan, Helena pun duduk di kursi yang sudah di tunjuk oleh Vegas. “Sebentar, Marteen mengatakan Vegas ada di sini, apa aku bisa meminta waktu 5 menit untuk bertemu dengan kekasih ku?” sayup-sayup Helena mendengar seorang wanita sedang berbincang di depan pintu. Kekasih? Helena sedikit mengerutkan keningnya, jika memang kekasih mengapa reaksi Vegas seperti itu saat mengetahui wanita itu akan datang?
Belum selesai pertanyaan muncul di dalam pikiran Helena, tak lama pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik. Bukan hanya cantik, tapi benar*benar cantik! “Vegas,” panggil wanita itu yang masuk begitu saja ke dalam ruangan dan tak menghiraukan Helena sama sekali.
“Maaf, Vegas sedang sibuk dan tidak bisa bertemu dengan siapapun saat ini juga,” ucap Helena sambil berdiri dari duduknya.
Laura yang mendengar suara lalu berbalik dan melihat Helena dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Oh, kau asisten baru Vegas? Kau pasti sudah mengenal aku bukan? bisa aku bertemu dengan Vegas?” tanya Laura dengan raut wajah percaya diri yang tidak Helena sukai.
“Maaf Miss, tapi Vegas sudah mengatakan pada ku jika tidak ingin diganggu oleh siapapun, jadwalnya hari ini sangat padat dan tidak ada waktu untuk berbincang dengan siapapun.”
Raut wajah Laura yang tadinya tersenyum percaya diri langsung menghilang, dia menatap Helena dengan tatapan tajam. “Kau—”
“Laura, sudah nanti saja, kau juga harus pemotretan sekarang, jangan membuang waktu lagi,” ucap seorang pria yang Helena yakini adalah Manajernya.
“Kali ini aku akan memaafkan ucapan mu, lain kali kau harus mengetahui dulu pada siapa kau sedang berbicara,” ucap Laura sambil tersenyum tipis lalu berbalik dan kembali berjalan dengan 3 orang lainnya. Helena menghembuskan nafasnya perlahan, dalam satu hari ini cukup membuat Helena tertekan dengan segalanya. Bukan ini yang awalnya Helena harapkan, semua rencananya menjadi kacau hanya kerena bangun kesiangan!