
Keesokkan harinya, Vegas lagi*lagi dibangunkan oleh suara ponsel dari panggilan masuk Rose, dengan mata sedikit terbuka Vegas menggapai ponselnya yang berada di atas nakas. “Halo,” ucap Vegas dengan suara serak khas bangun tidur.
“Vegas, kau baru bangun lagi?” tanya Rose dengan lembut. “Harry sudah menceritakan semuanya, jangan seperti anak kecil Vegas, Harry memiliki urusan lain dan kau tidak bisa memaksanya untuk tetap bersamamu.”
Vegas menarik nafasnya dalam, semalam dia cukup lelah dan tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. “Ya kak, aku tahu itu, aku juga tidak bermaksud untuk mencegahnya, tapi surat pengungunduran diri ini sangat mendadak, setidaknya dia harus mengatakan hal ini 2 minggu sebelum keluar, mencari asisten baru dan mengajarkannya terlebih dahulu agar nanti saat dia pergi asisten baru sudah bisa bekerja dengan terbiasa dan aku tidak perlu lagi mengajarkannya,” jawab Vegas pelan, dia memejamkan matanya sesaat sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
“Setidaknya dia pamit sebelum meninggalkan mu. Untuk masalah asisten kau tidak perlu khawatir, aku sudah memiliki asisten baru. Kau pastinya sangat menyukai asisten baru ini, dia sangat cekatan dan mudah diatur, kau tidak akan kecewa dengan pilihan ku.”
Vegas melirik jam di ponselnya, baru pukul 7 pagi, masih ada 1 jam lagi untuk dia tidur, masalah asisten baru dia sudah malas memikirkannya. “Ya sudah, kalau begitu aku harus siap-siap dulu bekerja kak, aku akan menghubungi mu lagi,” ucap Vegas.
Terdengar suara tawa kecil dari sebrang sana. “Aku akan menghubungi mu lagi, kau selalu mengatakan itu setiap ingin mengakhiri percakapan, tapi tidak pernah ada satu pesan pun yang kau kirimkan pada ku terlebih dahulu, selalu aku yang memulai menghubungi mu,” kekeh Rose. “Kalau begitu semangat untuk hari ini, jika ada waktu luang tolong sempatkan dirimu kembali ke Desa, peternakan kita sudah cukup ramai pelanggan.”
“Itu berita bagus, aku akan berlibur ke sana setelah menyelesaikan pekerjaan ku,” ucap Vegas.
**
Selama di perjalanan, Harry melirik Vegas yang sepertinya sudah tidak marah lagi kepadanya, dia cukup lega jika Vegas menerima semuanya dengan baik-baik saja. “Rose mengatakan sudah menemukan asisten yang cocok untuk mu,” ucap Harry memulai obrolan.
“Ya. Ada apa? Kau menyesal karena sudah menulis surat resign? Kau ingin menarik surat mu sebelum asisten pilihan Rose mulai bekerja?” tanya Vegas.
“Hey! Memangnya sangat sulit menangani aku? Jangan berlebihan Harry.”
Melihat mood Vegas yang sepertinya sudah baik, membuat Harry tertawa kecil mendengar gerutuan itu. “Tidak, kau anak yang baik Vegas. Sekali lagi aku minta maaf karena sangat mendadak untuk berhenti dari pekerjaan ini, tapi semua ini diluar kendali ku, Julia—”
“Ya, aku sudah tahu, aku membaca surat pengunduran diri mu yang sangat lengkap itu. Tapi bagaimana bisa kau baru mengetahui Julia hamil? Memangnya wanita itu tidak merasakan dirinya sedang hamil?” tanya Vegas bingung. “Dan mengapa kau seceroboh itu Harry!” tambah Vegas kesal.
“Aku tidak tahu, mungkin memang sudah saatnya untuk aku menikah. Aku sudah membujuk Julia untuk tinggal di Kolombia, tetapi dia tidak ingin jauh dari kedua orangtuanya dan aku hanya bisa mengikuti apa kemauannya karena keluarganya pun cukup memaksa ku untuk tinggal di sana.”
Vegas menganggukan kepalanya mengerti. “Baiklah, aku mengerti, kapan pernikahan mu di adakan?” tanya Vegas.
“Satu minggu lagi.”
“Semoga saja jadwal ku tidak terlalu padat, aku akan menyempatkan diri untuk hadir,” ucap Vegas. Sudah 4 tahun Harry membantu segala urusannya, rasanya sangat tidak baik jika dia tidak menghadiri hari special Harry dan Julia.
“Tidak perlu memaksakan diri untuk hadir, jarak Kolombia dan Peru cukup jauh, kau akan kehilangan beberapa dollar jika sampai tepat di lokasi pemotretan,” kekeh Harry membuat keduanya tertawa kecil.