
Kang Young mondar mandir di ruang kerjanya. Dia sudah menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil cucunya.
Tanpa permisi Kang Joon masuk dan duduk di sofa milik kakeknya. Dia tahu bahwa kakeknya akan mengintrogasi dirinya mengenai rubah merah yang dia bawa dari hutan keramat.
Go Nana mengedarkan pandangan ke penjuru ruanganan ini. Tadi, sewaktu melakukan perjalanan yang singkat menuju ruangan ini. Go Nana melihat berbagai lukisan gumiho. Gumiho berwarna putih. Jika di lihat dulu pernah dia melihat sang ayah memelihara gumiho berwarna putih. Persis lukisan milik keluarga ini. Tak hanya itu. Di dalam ruangan ini juga ada patung gumiho.
Rasa penasaran sebenarnya timbul dihatinya. Dia akan cari tahu, tapi tidak sekarang.
"Jadi... anak nakal, dari mana kau mendapatkan rubah itu."
"Bukannya kemarin sudah aku bilang, bahwa aku dari hutan keramat. Aku dapat dari sana."
"Joona... Jaga bicaramu, jangan sebut nama hutan itu."
"Memangnya kenapa?"
"Sudah... jelaskan pada kakek sejujurnya, tanpa ada yang kau tutupi."
"Aku menemukannya di hutan, dia sendirian. Jadi aku berniat untuk merawatnya."
"Kakek tidak setuju."
"Kenapa kakek tidak setuju? Dia hanya rubah, Tidak bahaya."
"Kang Joon menurutlah, kembalikan dia ke hutan."
what, kembali ke hutan sepi itu. Tidak... itu tak akan terjadi. Go Nana harus melakukan sesuatu. Go Nana pun menatap Kang Joon penuh iba. Merasa ditatap, Kang Joon menoleh ke Go Nana.
Kang Young yang menatap interaksi antara keduanya menaruh curiga, jangan-jangan kecurigaannya benar. Bahwa dia bukanlah rubah biasa, melainkan Gumiho.
"Aku Mohon kek. Setelah ini akau akan menurut. Aku janji."
"Bicarah terus terang, atau kau kuhukum."
Go Nana sangat geram, dia marah. Tanpa sadar dia mengeluarkan auranya. Aura merah menyala. Kang Joon sangat kaget.
Panas... itulah yang dirasakan Kang Joon. Secara tak sengaja, Kang Joon melepaskan gendongannya. Rubah itu pun berjalan dan mendekati Kang Young.
Go Nana berubah, dia merubah dirinya menjadi manusia dan ekornya pun keluar. Aura merah yang mencekam membuat suasana ruangan jadi hening.
"Hei... Nana, hentikan.. Aku tidak akan mengembalikanmu kehutan."
"Tapi dia memintamu untuk mengembalikanku dihutan, jika tidak dia akan menghukummu."
Kang Young kaget, sepertinya mereka sudah sangat dekat.
"Aku hanya ingin memancingmu, agar yang aku pastikan itu benar."
"Apa." teriak Go Nana dan Kang Joon.
Mereka kaget, kemarahan Go Nana menghilang.
"Jadi kakek tahu, bahwa yang aku bawa bukanlah rubah biasa."
"Tentu saja, hahhahaha."
Kang Joon ketahuan, walaupun ketahuan Kang Joon merasa tenang. Kakeknya tidak marah. Itu tandanya Kang Joon di perbolehkan memelihara rubah itu.
"Duduklah nona, jadi siapa namamu?"
"Go Nana." jawabnya singkat.
"Nona Go, aku memperbolehkan kau tinggal disini, lakukan apa yang kau suka."
"Tapi kenapa anda tiba-tiba memperbolehkan saya tinggal disini."
"Dulu aku juga mempunyai gumiho putih, tapi dia sudah meninggal."
"Pantas saja, disini ada lukisan gumiho putih, dan juga patung gumiho."
"Nona Go, saya ingin bicara dengan anda, dan kau cucu kurang ajar. Cepat pergi ke kampus sana. Jangan buat masalah lagi.
" Aku tidak mau, jangan-jangan kakek mau membuang Nana."
"Hilangkan pikiran jahatmu itu padaku, cepat pergi!" Sambil mengusir Kang Joon.
Dengan langkah gontai Kang Joon keluar ruangan kakeknya.