
Keesokan pagi...
Aku duduk di kursi roda seraya berjualan nasi kuning.
Pelanggan pagi ini cukup ramai hingga ibu dan Riko membantuku
jualan.
"Mba, nasi kuningnya satu." Pinta pembeli. Aku
langsung mengangguk saat melayani pembeli lain.
Aku tidak lupa kejadian kemarin tapi mencoba untuk
melupakannya.
❤❤❤❤
Aku masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruanganku.
"Selamat pagi pak." Sapa Rista dengan perut
pesarnya.
"Loh, masih kerja?" Tanyaku dan ia mengangguk
sambil tersipu.
"Bosan pak dirumah jadi kerja deh.'' Jawabnya
gampang. Aku mengangguk lalu jalan menuju lantai atas tapi sebelum itu aku
mengangkat tangaku dan memanggil Rista." Tolong minta kopi ya, suruh yang
lain antar ke ruangan jangan kamu." Kataku karena takut dengan perutnya
yang makin besar.
Setelah sampai di atas aku membuka pintu kantor dan
menuju tempat kerjaku.
Aku meletakan tas ransel di atas meja lalu mengelarkan
laptop dan chargernya. Baru ini aku duduk di kantornya Danu setelah lelaki itu
bersiap- siap untuk pergi. Biasanya aku bekerja lewat rumah.
Tok
Tok
Tok
"Pak, kopinya.'' Ujar seorang perempuan di balik
pintu.
"Masuk aja." Kataku sambil mencucuk kabel ke
stop kontak.
"Eh, kirain pak Danu ternyata pak Althan." Ujar
Wazir seorang wanita gemuk. Aku tersenyum sambil melihatnya meletakan kopi di
mejaku
"Terima kasih. Iya saya yang duduk di sini."
Kataku sekaligus berterima kasih.
"Semoga bapak gak galak seperti pak Danu ya.
Serem.'' Katanya.
"Oh ya? Padahal kami sama loh 11 12 aja."
Kataku menakutinya, kusilangkan kedua tanganku sambil menahan senyum tak
lama Danu datang dan berdiri di ambang pintu yang terbuka.
"Pak Danu itu jutek, galak, pencemburuan dan marah-
marah." Katanya.
"Siapa yang seperti itu?" Tanya Danu dari
belakang Wazir. Wazir sontak terrkaget dan berbaliik
"Eh pak Danu, mau kopi? Saya buatkan dulu ok.'' Kara
Wazir setelah itu melesat keluar tanpa melihat Danu sama sekali. Danu
menggelengkan kepalanya saat mereka berpapasan
"Ngapain kesini?" Tanyaku sambil menegakan
badan dan duduk di kursi. Danu duduk di sofa sambil melihatku serius.
"Aku akan mengadakan makan malam dirumah, aku
mengundangmu dengan pacar barumu." Katanya. Aku langsung tersenyum dan
menerima.
"Jam berapa?" Tanyaku.
"Habis maghrib jam tujuh, istriku yang masak.''
Katanya lagi.
"Baiklah, aku masih sempat berangkat ke Jakarta
berarti." Kataku sambil melihat jam tangan. Hm ada salah satu perusahaan
di sana yang ingin mengajak kerja sama jadi aku harus datang sebagai gantinya
Danu.
"Hm pergilah, oh ya Tan aku mau nanya soal
kekasihmu." Katanya serius.
"Apa itu?" Tanyaku sambil membuka laptop dan
membaca email.
"Gak jadi deh. Aku pulang dulu deh mau bantuin
istriku masak." Danu segera berdiri dan melangkah pergi. "Oh ya?
Semoga suka dengan ruangan baru ini ckck." Katanya sebelum menutup pintu.
Aku tertawa kemudian melihat ke sekitar. Aku berdiri
kemudian pergi ke pinggir jendela.
"Aku merindukanmu Nieya." Kataku pelan.
❤❤❤❤
Author pov
Malam...
Mulai dari karyawan kantor hingga para pemimpin perusahaan. Danu tersenyum
sambil menggendong salah satu anak kembarnya.
"Ini tempat siapa?" Tanya Nieya saat Althan
membuka sabuk pengaman.
"Temenku namanya Danu." Jawabnya. Nieya
langsung terdiam tiba- tiba saja hatinya merasa takut.
"Aku tunggu sini aja." Pinta Nieya. Althan
mengerutkan keningnya aneh.
"Kenapa sih Nieya? Ada sesuatu yang kamu tutupin
dariku? Apa kamu kenal Danu?" Tanya Althan kesal sepertinya ia akan
mencari tau masa lalu Nieya.
"Bukan gitu! Aku dan istrinya pernah tetanggan
sewaktu tinggal di gunung tembak terus kami mengalami masalah. Mengertilah
Daeng! Aku tidak bisa menjelaskannya tapi kisahnya seperti itu." Kata
Nieya tak mau mengalah.
"Aku mau kamu turun, Jangan bantah aku Nieya."
Jawab Althan. Nieya menghembuskan nafasnya pasrah ia menunggu Althan membuka
pintu dan membantunya duduk di kursi roda.
"Setelah acara ini kita bicara." Kata Althan.
Mereka berdua sampai di tangga halaman. Para karyawan
nampak kaget mereka kemudian membantu mengangkat kursi roda dan membantu
Althan.
"Makasih.'' Jawab Althan. Nieya tak enak hati karena
bertemu dengan karyawan Keana terutama Rista dan suaminya.
"Silahkan masuk." Ujar Keana namun senyumnya
terhenti melihat siapa yang datang.
"Kamu." Kata Keana. Althan melihat Nieya dan
Ana bergantian.
Danu membawa istrinya ke dalam tetapi ia menolak. Ana
melirik suaminya dan Danu menggeleng pura- pura tidak kenal. Keana tau maksud
suaminya ia melihat Nieya dan merubah ekspresi wajah kagetnya.
"Kamu kekasihnya Althan? Salam kenal. Silahkan masuk
dan makan.''kata Keana sambil tersenyum ia kemudian pergi.
"Maklumi istriku. ia kaget melihat wanita di
sabilitas." Jawab Danu.
"Papah, can you help me." Pinta
Rayyan yang mendatangi Danu. "Pah, Raline minta jemput terus bensin mobil
habis jadi minta duit.'' Katanya sambil menadahkan tangan ke Danu. Rayyan
melihat kedepan sontak ia kaget.
Wanita itu pernah tidur bersama sang papah ketika ia
kecil. Bayangan itu tidak bisa lepas dari Rayyan karena hal itu yang menyakiti
sang mamah.
"Pergi! Maid gak boleh
disini." Teriak Rayyan ke Nieya.
Nieya hanya menunduk sambil memegang kedua tangannya.
Keana segera mendatangi anaknya dan menghalangi pandangan Rayyan ke Nieya.
"Buat apa maid kesini?" Tanya
Rayyan yang ingin menangis. "Ray gak mau papah tinggalin mamah lagi!"
Kata Rayyan tak lama anak lelaki itu menangis. Danu menurunkan anak bungsu dan
memeluk Rayyan.
"No, dia bukan maid tetapi temannya
om Althan." Kata Danu pelan. Keana mengangguk sambil mengelus kepala
anaknya. Para tamu yang datang langsung terdiam dan menontoni mereka.
"Bukan, dia yang pernah tidur sama papah! Dia yang
buat Ray dan mama sakit!" Kata Rayyan lagi. Keana mencium anaknya sambil
menggeleng.
"Bukan, dia temannya om Althan kalau tidak percaya
lihatlah kakinya. Maid mempunyai kedua kaki sedangkan dirinya
tidak." Kata Ana pelan. Rayyan segera melerai papah dan mamahnya kemudian
melihat Nieya.
"Tante jangan ganggu papah ya." Kata Rayyan
kemudian matanya melihat ke kaki Nieya.
"Oh, beneran. Maaf aunty Ray salah" Rayyan
menunduk sambil mengelus kaki Nieya yang tiada. Nieya tersenyum sambil mengelus
kepala Rayyan.
"Tidak apa- apa sayang." Jawab Nieya. Rayyan
segera berdiri dan melihat Althan.
"Maafin Rayyan ya om sudah marahin temannya. Sini
Rayyan dorong kursinya aunty." Kata Rayyan. Althan mengacak rambut Rayyan
dan melangkah mundur.
Althan menatap Danu begitupun sebaliknya. Lelaki itu
menaruh curiga, apa ada yang di sembunyikan dari dirinya.
Semua tamu yang datang kembali
berbaur dan pura- pura tidak tau.