Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 9



Keesokan pagi...


Aku duduk di kursi roda seraya berjualan nasi kuning.


Pelanggan pagi ini cukup ramai   hingga ibu dan Riko membantuku


jualan.


"Mba, nasi kuningnya satu." Pinta pembeli. Aku


langsung mengangguk saat melayani pembeli lain.


Aku tidak lupa kejadian kemarin tapi mencoba untuk


melupakannya.


❤❤❤❤


Aku masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruanganku.


"Selamat pagi pak." Sapa Rista dengan perut


pesarnya.


"Loh, masih kerja?" Tanyaku dan ia mengangguk


sambil tersipu.


"Bosan pak dirumah jadi kerja deh.'' Jawabnya


gampang. Aku mengangguk lalu jalan menuju lantai atas tapi sebelum itu aku


mengangkat tangaku dan memanggil Rista." Tolong minta kopi ya, suruh yang


lain antar ke ruangan jangan kamu." Kataku karena takut dengan perutnya


yang makin besar.


Setelah sampai di atas aku membuka pintu kantor dan


menuju tempat kerjaku.


Aku meletakan tas ransel di atas meja lalu mengelarkan


laptop dan chargernya. Baru ini aku duduk di kantornya Danu setelah lelaki itu


bersiap- siap untuk pergi. Biasanya aku bekerja lewat rumah.


 


 


Tok


Tok


Tok


"Pak, kopinya.'' Ujar seorang perempuan di balik


pintu.


"Masuk aja." Kataku sambil mencucuk kabel ke


stop kontak.


"Eh, kirain pak Danu ternyata pak Althan." Ujar


Wazir seorang wanita gemuk. Aku tersenyum sambil melihatnya meletakan kopi di


mejaku


"Terima kasih. Iya saya yang duduk di sini."


Kataku sekaligus berterima kasih.


"Semoga bapak gak galak seperti pak Danu ya.


Serem.'' Katanya.


"Oh ya? Padahal kami sama loh 11 12 aja."


Kataku menakutinya, kusilangkan kedua tanganku sambil menahan senyum tak


lama  Danu datang dan berdiri di ambang pintu yang terbuka.


"Pak Danu itu jutek, galak, pencemburuan dan marah-


marah." Katanya.


"Siapa yang seperti itu?" Tanya Danu dari


belakang Wazir. Wazir sontak terrkaget dan berbaliik


"Eh pak Danu, mau kopi? Saya buatkan dulu ok.'' Kara


Wazir setelah itu melesat keluar tanpa melihat Danu sama sekali. Danu


menggelengkan kepalanya saat mereka berpapasan


"Ngapain kesini?" Tanyaku sambil menegakan


badan dan duduk di kursi. Danu duduk di sofa sambil melihatku serius.


"Aku akan mengadakan makan malam dirumah, aku


mengundangmu dengan pacar barumu." Katanya. Aku langsung tersenyum dan


menerima.


"Jam berapa?" Tanyaku.


"Habis maghrib jam tujuh, istriku yang masak.''


Katanya lagi.


"Baiklah, aku masih sempat berangkat ke Jakarta


berarti." Kataku sambil melihat jam tangan. Hm ada salah satu perusahaan


di sana yang ingin mengajak kerja sama jadi aku harus datang sebagai gantinya


Danu.


"Hm pergilah, oh ya Tan aku mau nanya soal


kekasihmu." Katanya serius.


"Apa itu?" Tanyaku sambil membuka laptop dan


membaca email.


"Gak jadi deh. Aku pulang dulu deh mau bantuin


istriku masak." Danu segera berdiri dan melangkah pergi. "Oh ya?


Semoga suka dengan ruangan baru ini ckck." Katanya sebelum menutup pintu.


Aku tertawa kemudian melihat ke sekitar. Aku berdiri


kemudian pergi ke pinggir jendela.


"Aku merindukanmu Nieya." Kataku pelan.


❤❤❤❤


Author pov


Malam...


Mulai dari karyawan kantor hingga para pemimpin perusahaan. Danu tersenyum


sambil menggendong salah satu anak kembarnya.


"Ini tempat siapa?" Tanya Nieya saat Althan


membuka sabuk pengaman.


"Temenku namanya Danu." Jawabnya. Nieya


langsung terdiam tiba- tiba saja hatinya merasa takut.


"Aku tunggu sini aja." Pinta Nieya. Althan


mengerutkan keningnya aneh.


"Kenapa sih Nieya? Ada sesuatu yang kamu tutupin


dariku? Apa kamu kenal Danu?" Tanya Althan kesal sepertinya ia akan


mencari tau masa lalu Nieya.


"Bukan gitu! Aku dan istrinya pernah tetanggan


sewaktu tinggal di gunung tembak terus kami mengalami masalah. Mengertilah


Daeng! Aku tidak bisa menjelaskannya tapi kisahnya seperti itu." Kata


Nieya tak mau mengalah.


"Aku mau kamu turun, Jangan bantah aku Nieya."


Jawab Althan. Nieya menghembuskan nafasnya pasrah ia menunggu Althan membuka


pintu dan membantunya duduk di kursi roda.


"Setelah acara ini kita bicara." Kata Althan.


Mereka berdua sampai di tangga halaman. Para karyawan


nampak kaget mereka kemudian membantu mengangkat kursi roda dan membantu


Althan.


"Makasih.'' Jawab Althan. Nieya tak enak hati karena


bertemu dengan karyawan Keana terutama Rista dan suaminya.


"Silahkan masuk." Ujar Keana namun senyumnya


terhenti melihat siapa yang datang.


"Kamu." Kata Keana. Althan melihat Nieya dan


Ana bergantian.


Danu membawa istrinya ke dalam tetapi ia menolak. Ana


melirik suaminya dan Danu menggeleng pura- pura tidak kenal. Keana tau maksud


suaminya ia melihat Nieya dan merubah ekspresi wajah kagetnya.


"Kamu kekasihnya Althan? Salam kenal. Silahkan masuk


dan makan.''kata Keana sambil tersenyum ia kemudian pergi.


"Maklumi istriku. ia kaget melihat wanita di


sabilitas." Jawab Danu.


"Papah, can you help me." Pinta


Rayyan yang mendatangi Danu. "Pah, Raline minta jemput terus bensin mobil


habis jadi minta duit.'' Katanya sambil menadahkan tangan ke Danu. Rayyan


melihat kedepan sontak ia kaget.


Wanita itu pernah tidur bersama sang papah ketika ia


kecil. Bayangan itu tidak bisa lepas dari Rayyan karena hal itu yang menyakiti


sang mamah.


"Pergi! Maid gak boleh


disini." Teriak Rayyan ke Nieya.


Nieya hanya menunduk sambil memegang kedua tangannya.


Keana segera mendatangi anaknya dan menghalangi pandangan Rayyan ke Nieya.


"Buat apa maid kesini?" Tanya


Rayyan yang ingin menangis. "Ray gak mau papah tinggalin mamah lagi!"


Kata Rayyan tak lama anak lelaki itu menangis. Danu menurunkan anak bungsu dan


memeluk Rayyan.


"No, dia bukan maid tetapi temannya


om Althan." Kata Danu pelan. Keana mengangguk sambil mengelus kepala


anaknya. Para tamu yang datang langsung terdiam dan menontoni mereka.


"Bukan, dia yang pernah tidur sama papah! Dia yang


buat Ray dan mama sakit!" Kata Rayyan lagi. Keana mencium anaknya sambil


menggeleng.


"Bukan, dia temannya om Althan kalau tidak percaya


lihatlah kakinya. Maid mempunyai kedua kaki sedangkan dirinya


tidak." Kata Ana pelan. Rayyan segera melerai papah dan mamahnya kemudian


melihat Nieya.


"Tante jangan ganggu papah ya." Kata Rayyan


kemudian matanya melihat ke kaki Nieya.


"Oh, beneran. Maaf aunty Ray salah" Rayyan


menunduk sambil mengelus kaki Nieya yang tiada. Nieya tersenyum sambil mengelus


kepala Rayyan.


"Tidak apa- apa sayang." Jawab Nieya. Rayyan


segera berdiri dan melihat Althan.


"Maafin Rayyan ya om sudah marahin temannya. Sini


Rayyan dorong kursinya aunty." Kata Rayyan. Althan mengacak rambut Rayyan


dan melangkah mundur.


Althan menatap Danu begitupun sebaliknya. Lelaki itu


menaruh curiga, apa ada yang di sembunyikan dari dirinya.


Semua tamu yang datang kembali


berbaur dan pura- pura tidak tau.