
Tolong jangan ada lagi yang
ingin meminta jika Nieya di beri karma karena Althan harus berselingkuh! Tidak
puaskan kalian dengan ke cacatannya? Biarkan dia bahagia dan jangan ada yang
menganggunya.
Nieya duduk di samping Ibu dan
Bapak. Seluruh keluarga Althan datang untuk meminang Nieya yang tengah hamil.
Althan terus melihat calon istrinya yang sedang mengusap- usap perutnya tanpa
melihat Althan.
‘’Saya disini untuk meminang
Nieya buat anak pertama saya, Althan.’’ Kata Papah, Tantra.
‘’Berat rasanya mau memberikan
Nieya tapi kalau jodohnya datang untuk menjemput saya berikan, asalkan Nak
Althan bertanggung jawab dan tidak menyia- nyiakan Nieya. Althan sudah tau
segalanya tentang Nieya dan Bapak berharap mau menerima segala kekurangannya.’’
Kata Bapak Nieya.
‘’Saya juga memiliki masa lalu,
dan Nieya juga tau itu tapi kami sama- sama menerima dan mulai hidup yang baru.
Saya akan menjaga Nieya dan tidak terbesit untuk menjahatinya Pak.’’ Jawab
Althan. Bapak menatap anak gadisnya lalu mengelus rambutnya yang panjang.
‘’Menurut orang di luar sana Ia
hanyalah batu kerikil tapi menurut kami permata adalah sebuah permata yang
indah.’’
‘’Bapak, saya janji akan
menjaga Nieya dan tidak akan menyakitinya. Jangan takut jika nantinya saya
berselingkuh karena itu tidak mungkin. Hati saya sudah bersama Nieya’’ jawab
Althan sambil melihat Nieya. Nieya tersipu membuat kedua keluarga itu tertawa.
‘’Mba Nieya juga, sudah mau
punya suami jadi harus nurut sama Nak Althan dan sayangin dia.’’ Kata Ibu dan
NIeya mengangguk
‘’Iya bu.’’ Kawab Nieya.
‘’Jadi? Lamaran kami di
terima?’’ Tanya Tantra dan Baak mengangguk.
‘’Diterima.’’ Jawab Bapak.
‘’Makan dulu Bu, Pak.’’ Kata
Ibu seraya berdiri dan membuka tudungan saji.
Mereka semua berdiri untuk
melihat masakan Ibu dan makan siang.
***
Pergelaran acara pernikahan sangat mewah terlebih lagi Papahnya Althan mengundang kolega dan beberapa teman mereka di Singapura. Nieya sudah meminta kalau pernikahan yang di adakan cukup sederhana saja tapi malah buatkan yang besar. Sedari tadi wanita yang sedang memakai kebaya adat bugis merintih sakit akibat kelamaan berdiri. Althan langsung memegang Nieya di atas pelaminan lalu membantunya duduk.
‘’Ma.’’ Panggil Althan saat mamanya lewat. Mama langsung datang sambil melihat Nieya.
‘’Kenapa sayang?’’ Tanya Mama sedikit panik.
‘’Sakit Ma.’’ Ringis Nieya.
‘’Istirahat aja, Ayo Althan bawa istrimu ke kamar.’’ Kata Mama. Althan langsung menggendong Nieya ke kamar mereka.
‘’Gak usah Ma, Nieya duduk saja disini sampai acara selesai, nanggung.’’ Tolak Nieya. Althan duduk di samping Nieya
‘’Gakpapa? Kalau sudah benar- benar gak kuat bilang ya.’’ Kata Althan dan Nieya menganggukinya. Mama duduk di samping Althan bers
****
Jam sepuluh malam…
Acara telah selesai, Althan dan Nieya sudah berada di kamar hotel untuk beristirahat, Nieya duduk di depan cermin sambil menunggu dua orang penata rias mecabut sanggulan di kepalanya. Sungguh kepalanya cukup pusing. Setelah selesai Ia mengadahkan wajahnya untuk mengapus rias wajah hingga benar- benar bersih lalu yang terakhir adalah kebaya Abu- abu yang melekat di tubuhnya dilepas.
‘’Sudah selesai Bu, silahkan mandi lalu beristirahat.’’ Kata salah satu penata rias sambil memberesi alat- alatnya. Nieya tersenyum seraya mengikat baju handuk.
‘’Terima kasih.’’ Kata Nieya.
Tok
Tok
Pintu kamar terbuka hingga terlihatlah sosok tampan yaitu Althan.
‘’Apa sudah selesai?’’ Tanya Althan di ambang pintu. Kedua penata rias itu pamit pergi lalu Althan masuk ke dalam kamar.
‘’Tutup pintunya.’’ Kata Nieya setelah mereka keluar, Althan menututp pintu tak lupa menguncinya.
‘’Apa dirimu merasa lelah?’’ Tanya Althan dan Nieya mengangguk.
‘’Mau mandi bareng?’ tawar Nieya. Althan langsung mengangguk lalu melepas semua pakaiannya.
‘’Ayo.’’ Kata Althan membuat Nieya tertawa.
Tidak ada adengan panas karena kondisi Nieya masih lemas karena perutnya. Besok pagi mereka akan berangkat ke raja ampat untuk berbulan madu tapi sebelum itu harus ke rumah sakit dulu.
****
Althan berbaring setelah mandi begitupun dengan Nieya. Akhirnya yang di impi- impikan Althan sudah jadi kenyataan yaitu memiliki seorang istri dan anak.
‘’Bahagia gak?’’ Tanya Althan sambil mengelus wajah Nieya di dekapannya. Nieya mengongak lalu mengangguk senang.
‘’Bahagia bisa seperti ini dan memiliki Daeng seutuhnya.’’ Jawab Nieya. Althan sekilas mengecup bibir Nieya.
‘’Aku tak kala bahagianya memiliki istri sepertimu Nieya.’’ Jawab Althan.
‘’Daeng, habis menikah kita mau tinggal dimana? Di rumah Daeng?’’ tanyanya. Althan menggeleng.
‘’Rumah itu akan ku hadiahkan untuk mamah dan papah sedangkan kita nanti pindah ke Singapura untuk membuka usaha.’’ Jawab Althan.
‘’Tapi bagaimana dengan usaha Danu yang Daeng jalani?’’ Tanya Nieya.
‘’Nanti aku akan bicarakan dengan Danu, bagaimana baiknya.’’ Althan menguap lalu merenggangkan tubuhnya.
‘’Daeng mengantuk? Tidurlah.’’ Nieya menaikan selimut ke dada suaminya yang sudah memejamkan mata.
‘’Daeng kalau tidur ganteng.’’ Gumam Nieya. Althan langsung menoleh ke Nieya dan tersenyum
‘’Kau bilang apa?’’ Tanya Althan dan Nieya menggeleng ia segera memunggungi suaminya dan bersembunyi di balik selimut.
‘’Nieya, apa kau tidur?’’ kata Althan. ‘’Dosa loh munggungin suami, mau pahalanya berkurang.’’ Katanya. Nieya kemudian berbalik menghadap suami dengan mata tertutup.
‘’Gitu dong kan bisa di peluk.’’ Althan memeluk Nieya yang sudah menjadi istri sahnya.