Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 4



Kulihat ketiga pria itu datang menghampiri Althan dan


satu yang paling ku kenal yaitu Danu. Segera kutundukan pandanganku sambil


membenahi jualan aku berharap ia tidak melihatku.


"Duduk, makasih sudah datang. Danu, Bayu dan


Sultan...  ayo pesan gado- gadonya nanti aku yang bayar." Kata Althan


sambil tersenyum ramah.


"Kamu-,." Kata Danu tertahan ke Althan.


"Karena kamu aku melewatkan makan siangku bersama istriku." Kata Danu


tak terima.


"Keana? Hah..." Bayu menakuti Danu sambil


menunjuk tangannya ke atas dan dilambainya.


"Haizz... cuma kali ini aja.'' Kata Althan.


"Duduklah dan makan." Ujarnya. Sultan dan Bayu duduk berhadapan


dengan jualanku begitupun Danu yang tidak sadar akan kehadiranku.


"Aku bungkus aja, buat Ana. Dia suka gado- gado


bumbu rujak.'' Ujar Danu.


"Ada gado- gado bumbu rujak? Bodoh." Kata Bayu


sambil berdiri untuk mengambil kacang goreng yang di bungkus ibu.


"Mba ada gado- gado bumbu rujak?" Kata Danu ke


aku. Aku langsung mengangguk tanpa melihat wajahnya.


"Hah! Ada..." kata Danu ke Bayu.


"Yah... Mba harusnya bilang gak ada biar di marahin


istrinya. Istrinya galak loh mba. Hih... mau ajak Danu nongkrong aja gak


boleh." Kata Bayu ke aku. Aku hanya tertawa segitu cintakah Keana ke


suaminya.


"Ya bagus, berarti istri cinta suami. Daripada kamu


kelayapan malah di biarin Rista." Jawab Sultan untuk pertama kali.


"Mba saya gado- gado satu sama hm ada minumnya gak?" Tanya Sultan ke


aku. Aku mengangguk


"Teh hangat atau teh es mas?" Tanyaku.


"Dua- duanya aja." Jawab Sultan. Danu berdiri


ia kemudian melihatku.


"Nieya." Panggil Danu. Aku segera mendongak dan


tersenyum paksa.


"Iya." Jawabku. Ya ampun rasanya aku ingin


bersembunyi karena malu.


"Hah, Nieya?" Bayu ikut berdiri dan melihatku.


"Saya pesan gado- gado bumbu rujak ya ." Kata


Danu sambil tersenyum kemudian duduk dan bergurau kembali dengan Althan.


"Kok kamu tau nama dia?" Tanya Althan.


"Kan tadi kamu sebutin pas nelp." Kilah Danu.


"Aku juga sama deh di bungkus aja. Kebetulan Rista lagi ngidam gado-


gado."


Aku segera membuat tiga porsi gado- gado untuk di bawa pulang dan makan


disini.


❤❤❤❤


Aku memperhatikan Nieya yang terlihat tegang semenjak


ketiga temanku datang terutama ketika ia melihat Danu. Apa mereka saling kenal?


"Pikirin apa?" Tanya Sultan. Lamunanku buyar


lalu menggeleng sambil mengambil rokok milik Bayu dan menyulutnya dengan korek.


"Tidak ada." Kataku sambil menghisap rokok lalu


menghembuskannya.


"Kamu kepikiran aku ya?" Tebak Danu sambil


melihatku dengan gaya khasnya.


"Najis! Aku cuma mikir kenapa Keana mau sama kamu


ya?" Tanyaku alasan. Danu langsung menatapku datar.


"Tau ah, aku pulang duluan aja." Katanya sambil


berdiri lalu mengeluarkan dompet. "Berapa mba?" Tanya Danu ke Nieya.


Nieya nampak tidak berani menatap Danu seperti ia menatapku tadi.


"Sepuluh ribu mas." Jawabnya.


dulu... sensi amat sih kalo bahas Ana." Kataku sedikit kesal.


"Nih Mbak. Sisanya ambil aja." Kata Danu sambil


memberikan uang seratus. Lelaki itu tidak mendengarkan perkataan Nieya dan


Althan.


"Gak usah mas, tunggu dulu saya cari


kembalian." Nieya segera bergegas walaupun susah karena memakai kursi


roda.


"Tidak usah..." tahan Danu ke Nieya. Nieya


langsung terdiam seolah menuruti perintah sang kekasih.


Ada apa ini?


❤❤❤❤


Aku terdiam saat mendengar suara perintahnya. Tak lama


aku tertunduk dan dia duduk kembali.


"Nu, balik sudah yuk." Ajak Bayu. Bayu


melirikku sekilas dengan tatapan tak suka. Aku masih ingat di perkosa oleh anak


buahnya dan dirinya tapi kenapa begitu. Aku sudah tidak seperti dulu lagi.


"Iya nih, istriku minta di jemput juga di rumah


sakit pertamina.'' Jawabnya.


"Anakmu sakit?" Kata Althan.


"Si kembar sakit cacar." Danu berdiri dan mulai


pergi jauh begitupun dengan Bayu dan Sultan.


"Baru juga datang malah pergi lagi." Kata


Althan sambil ikut berdiri saat mamahnya datang.


"Teman- temanmu tadi ya? Pergi sudah biar mamah naik


angkot aja." Kata mamanya Althan yang baru bertemu dengan anaknya.


"Mamah duluan saja, masih ada yang kutunggu."


Kata Althan. Mamanya kemudian mengangguk sambil mengangkat belanjaan yang tidak


banyak.


"Carikan mama angkot dulu baru kamu pergi."


Ujar mamahnya Althan. Althan mengangguk sambil membawa plastik merah dan


memegang tangan mamanya menuju angkutan umum.


"Loh bukannya aku yang jemput mamah kok mau naik


angkot sekarang." Kata dirinya.


''Lah, tadi kan kamu bilang mau disini dulu."


Ujarnya


"Ah iya, yaudah ayo."


Bila kulihat ia sangat perhatian sama mamahnya dan nampak


sayang sekali. Kulihat ia menaikan mamanya diangkot serta belanjaannya dan


membayar angkot itu dengan khusus karena pengantarannya sampai rumah, mungkin.


Angkot yang di naiki mamanya mulai berjalan dan Althan


kembali dan duduk di tempatnya.


"Hei Nieya, sepertinya aku juga harus pergi. Senang


bisa berjumpa denganmu, apa aku boleh mampir kesini lagi?" Tanyanya. Aku


mengangguk sambil tersenyum.


"Silahkan." Jawabku. Aku membenahi dagangan


sambil membersihi piring sisa makan.


"Ada nomor hp atau lainnya.'' Kata lelaki itu.


Hp? Ah sejak lima tahun yang lalu aku sudah tidak


memilikinya.


"Tidak ada Daeng. Saya gak punya." Jawabku.


"Nomor hp keluargamu?" Tanya lagi.


"Ada tapi punya bapak." Beritahuku.


"Boleh, nih masukin di hpku." Ia menyodorkan hp


yang sangat bagus. Aku mengambilnya lalu memasukan nomor bapak.


"Sudah Daeng." Kataku sambil memberikan hpnya


kembali. Althan mengantungi hpnya seraya berpamitan denganku.


"Bye..." ia melambaikan tangannya seraya pergi


dan aku membalasnya.


Laki- laki yang baik.