
Kulihat ketiga pria itu datang menghampiri Althan dan
satu yang paling ku kenal yaitu Danu. Segera kutundukan pandanganku sambil
membenahi jualan aku berharap ia tidak melihatku.
"Duduk, makasih sudah datang. Danu, Bayu dan
Sultan... ayo pesan gado- gadonya nanti aku yang bayar." Kata Althan
sambil tersenyum ramah.
"Kamu-,." Kata Danu tertahan ke Althan.
"Karena kamu aku melewatkan makan siangku bersama istriku." Kata Danu
tak terima.
"Keana? Hah..." Bayu menakuti Danu sambil
menunjuk tangannya ke atas dan dilambainya.
"Haizz... cuma kali ini aja.'' Kata Althan.
"Duduklah dan makan." Ujarnya. Sultan dan Bayu duduk berhadapan
dengan jualanku begitupun Danu yang tidak sadar akan kehadiranku.
"Aku bungkus aja, buat Ana. Dia suka gado- gado
bumbu rujak.'' Ujar Danu.
"Ada gado- gado bumbu rujak? Bodoh." Kata Bayu
sambil berdiri untuk mengambil kacang goreng yang di bungkus ibu.
"Mba ada gado- gado bumbu rujak?" Kata Danu ke
aku. Aku langsung mengangguk tanpa melihat wajahnya.
"Hah! Ada..." kata Danu ke Bayu.
"Yah... Mba harusnya bilang gak ada biar di marahin
istrinya. Istrinya galak loh mba. Hih... mau ajak Danu nongkrong aja gak
boleh." Kata Bayu ke aku. Aku hanya tertawa segitu cintakah Keana ke
suaminya.
"Ya bagus, berarti istri cinta suami. Daripada kamu
kelayapan malah di biarin Rista." Jawab Sultan untuk pertama kali.
"Mba saya gado- gado satu sama hm ada minumnya gak?" Tanya Sultan ke
aku. Aku mengangguk
"Teh hangat atau teh es mas?" Tanyaku.
"Dua- duanya aja." Jawab Sultan. Danu berdiri
ia kemudian melihatku.
"Nieya." Panggil Danu. Aku segera mendongak dan
tersenyum paksa.
"Iya." Jawabku. Ya ampun rasanya aku ingin
bersembunyi karena malu.
"Hah, Nieya?" Bayu ikut berdiri dan melihatku.
"Saya pesan gado- gado bumbu rujak ya ." Kata
Danu sambil tersenyum kemudian duduk dan bergurau kembali dengan Althan.
"Kok kamu tau nama dia?" Tanya Althan.
"Kan tadi kamu sebutin pas nelp." Kilah Danu.
"Aku juga sama deh di bungkus aja. Kebetulan Rista lagi ngidam gado-
gado."
Aku segera membuat tiga porsi gado- gado untuk di bawa pulang dan makan
disini.
❤❤❤❤
Aku memperhatikan Nieya yang terlihat tegang semenjak
ketiga temanku datang terutama ketika ia melihat Danu. Apa mereka saling kenal?
"Pikirin apa?" Tanya Sultan. Lamunanku buyar
lalu menggeleng sambil mengambil rokok milik Bayu dan menyulutnya dengan korek.
"Tidak ada." Kataku sambil menghisap rokok lalu
menghembuskannya.
"Kamu kepikiran aku ya?" Tebak Danu sambil
melihatku dengan gaya khasnya.
"Najis! Aku cuma mikir kenapa Keana mau sama kamu
ya?" Tanyaku alasan. Danu langsung menatapku datar.
"Tau ah, aku pulang duluan aja." Katanya sambil
berdiri lalu mengeluarkan dompet. "Berapa mba?" Tanya Danu ke Nieya.
Nieya nampak tidak berani menatap Danu seperti ia menatapku tadi.
"Sepuluh ribu mas." Jawabnya.
dulu... sensi amat sih kalo bahas Ana." Kataku sedikit kesal.
"Nih Mbak. Sisanya ambil aja." Kata Danu sambil
memberikan uang seratus. Lelaki itu tidak mendengarkan perkataan Nieya dan
Althan.
"Gak usah mas, tunggu dulu saya cari
kembalian." Nieya segera bergegas walaupun susah karena memakai kursi
roda.
"Tidak usah..." tahan Danu ke Nieya. Nieya
langsung terdiam seolah menuruti perintah sang kekasih.
Ada apa ini?
❤❤❤❤
Aku terdiam saat mendengar suara perintahnya. Tak lama
aku tertunduk dan dia duduk kembali.
"Nu, balik sudah yuk." Ajak Bayu. Bayu
melirikku sekilas dengan tatapan tak suka. Aku masih ingat di perkosa oleh anak
buahnya dan dirinya tapi kenapa begitu. Aku sudah tidak seperti dulu lagi.
"Iya nih, istriku minta di jemput juga di rumah
sakit pertamina.'' Jawabnya.
"Anakmu sakit?" Kata Althan.
"Si kembar sakit cacar." Danu berdiri dan mulai
pergi jauh begitupun dengan Bayu dan Sultan.
"Baru juga datang malah pergi lagi." Kata
Althan sambil ikut berdiri saat mamahnya datang.
"Teman- temanmu tadi ya? Pergi sudah biar mamah naik
angkot aja." Kata mamanya Althan yang baru bertemu dengan anaknya.
"Mamah duluan saja, masih ada yang kutunggu."
Kata Althan. Mamanya kemudian mengangguk sambil mengangkat belanjaan yang tidak
banyak.
"Carikan mama angkot dulu baru kamu pergi."
Ujar mamahnya Althan. Althan mengangguk sambil membawa plastik merah dan
memegang tangan mamanya menuju angkutan umum.
"Loh bukannya aku yang jemput mamah kok mau naik
angkot sekarang." Kata dirinya.
''Lah, tadi kan kamu bilang mau disini dulu."
Ujarnya
"Ah iya, yaudah ayo."
Bila kulihat ia sangat perhatian sama mamahnya dan nampak
sayang sekali. Kulihat ia menaikan mamanya diangkot serta belanjaannya dan
membayar angkot itu dengan khusus karena pengantarannya sampai rumah, mungkin.
Angkot yang di naiki mamanya mulai berjalan dan Althan
kembali dan duduk di tempatnya.
"Hei Nieya, sepertinya aku juga harus pergi. Senang
bisa berjumpa denganmu, apa aku boleh mampir kesini lagi?" Tanyanya. Aku
mengangguk sambil tersenyum.
"Silahkan." Jawabku. Aku membenahi dagangan
sambil membersihi piring sisa makan.
"Ada nomor hp atau lainnya.'' Kata lelaki itu.
Hp? Ah sejak lima tahun yang lalu aku sudah tidak
memilikinya.
"Tidak ada Daeng. Saya gak punya." Jawabku.
"Nomor hp keluargamu?" Tanya lagi.
"Ada tapi punya bapak." Beritahuku.
"Boleh, nih masukin di hpku." Ia menyodorkan hp
yang sangat bagus. Aku mengambilnya lalu memasukan nomor bapak.
"Sudah Daeng." Kataku sambil memberikan hpnya
kembali. Althan mengantungi hpnya seraya berpamitan denganku.
"Bye..." ia melambaikan tangannya seraya pergi
dan aku membalasnya.
Laki- laki yang baik.