Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 20



Ibu memegang kain korden agar tubuhnya tak jatuh. Anaknya


hamil Nieya telah hamil tapi sama siapa?


"Nieya apa kau menggoda suami orang lagi?"


Tanya Ibu sambil menitikan air mata. Terdengar sebuah isakan di sana.


"Tidak bu, Nieya hamil anaknya Daeng Althan."


Ibu mengusap dadanya sambil duduk di depan tv.


"Jangan


marah bu, Nieya salah maafkan Nieya. Ibu... ibu." Panggil Nieya.


"Nieya, tidak apa- apa tenanglah Ibu gak marah.


Pulanglah nak dan minta pertanggung jawaban Althan."


"Althan bagaimana kabarnya Bu."


"Setiap hari ia ke warung dan kerumah berharap ada


dirimu. Ia kemarin habis berkelahi dengan tukang parkir dan akhirnya masuk


kantor polisi, dia seperti orang gila nak... cuma kamu yang bisa menenangkan


Althan." Kata Ibu.


"Ibu, ibu... maafkan Nieya Daeng."


 


 


Tut


Tut


Tut


Telp itu terputus membuat ibu menangis dalam hati.


❤❤❤❤


Nieya berdiri sambil menggenggam hp milik Ai gemetaran.


Apa yang harus ia perbuat? Pulang kah ke Balikpapan atau menetap di sini?


"Ayo." Ajak Ai setelah menebus obat dan


menuntun Nieya untuk pulang kerumahnya.


Setelah sampai dirumah Nieya di bawa oleh Ai untuk


istirahat di kamarnya.


"Tidurlah." Ujar Ai tak lama ia keluar dari


kamar.


Pintu terbuka menampilkan Ratna si wanita paruh baya.


"Kata Ai kamu hamil?" Tanya Ratna. Nieya


memgangguk lemah tenanganya sudah habis karena memikirkan Althan


"Dirimu mengingatkan akan diriku jaman dulu."


Cerita Ratna "aku dulu seorang gadis yang buta lalu di cap pelakor."


Cerita Ratna. Ratna duduk di tepi kasur sambil mengusap perut Nieya.


"Diumur yang sangat muda diriku hamil Adrian lalu


Aika, mereka berdua penyemangatku. Dalam kebutaan aku jualan dengan sepeda bersama


Abra waktu itu karena mereka berdua ikut sang papah." Jelas Ratna.


"Percayalah Nieya, calon ayahnya akan datang menjemputmu asalkan kau


bersabar sedikit lagi." Ujar Ratna. Nieya memengang tangan Ratna dan


mengangguk.


"Apa dirimu di juluki Si gadis Mahakam? Banyak yang


mendengar kisah tante pada waktu itu." Ujar Nieya. Ratna mengangguk


"Hm, kisah cinta si wanita buta dan lelaki kaya


ckck." Jawabnya.


Nieya dan Ratna tertawa kemudian melanjutkan


pembahasannya.


❤❤❤❤


"Pak anda membuat para pejalan kendaraan macet


silahkan pindahkan mobil anda di sana." Ujar tukang parkir ke Althan yang


duduk di warung Nieya yang tutup. Ibu dan Bapak sudah tidak berjualan lagi di


san melainkan di depan rumah barunya.


Tatapan pria itu kosong dan terlihat sangat menderita,


hampir setiap hari ia menyusuri jalan yang ia tinggalkan Nieya, tempat


tinggalnya juga warungnya.


"Woy! Kita hancurin nih mobilnya ya." Seru


salah satu orang. Bahkan ada beberapa preman pasar yang berjumlah empat orang


datang dan melihat mobil Pajero itu.


"Pindahkan atau kita hancurkan." Kata preman.


mengambil batu gunung sebesar dua kali lipat dari tangan ia melemparnya ke


tukang parkir hingga terjatuh dan berdarah.


"Siapa! Siapa lagi yang mau lawan saya!."


Teriak Altan setelah itu melihat keempat preman yang menyentuh mobilnya.


Preman


 


 


Preman


Hal yang membuat kekasihnya rusak adalah preman.


"Akan kuhancurkan semua preman disini!"


Althan menghajar satu persatu preman yang menang gaya namun nyalinya kecil.


Satu preman yang berhasil lolos dari pukulan Althan mengeluarkan benda tajam


dan segera mentusuknya di belakang.


Althan meringis namun tidak jatuh ia berbalik sambil


tersenyum, disudut bibirnya berdarah ia mengusapnya dengan tangan setelah itu


membuang ludahnya.


"Bagaimana kalau aku yang menusukmu." Althan


maju membuat preman yang menusuknya menjatuhkan pisau hinga Althan mengambilnya


dan mengadahkannya ke preman tadi.


"Berhenti." Teriak seorang polisi.


"Jatuhkan pisau itu lalu angkat tangan ke kepala." Polisi itu


mengacungkan pistol.


Althan membuang pisau itu lalu mengangkat tangannya ke


kepala ia berbalik setelah itu tangannya di borgol dan di naikan ke dalam


mobil.


Althan duduk di sudut jeruji besi matanya mengisyaratkan


keputus asaan.


"Ah." Ringis Althan saat luka di belakangnya


tertekan.


"Saudara Althan silahkan keluar." Althan


berdiri kemudian pintu terbuka dan ia segera keluar. Di kantor polisi sana ada


Danu dan Bayu serta mamahnya untuk membebaskan dia.


"Saya yang jadi jaminannya." Ujar Danu


begitupun Bayu yang mengangguk.


"Ya Tuhan Althan." Mamah memeluk Althan dan


lelaki itu menangis sambil bersembunyi di lekukan lehernya


"Nieya hilang, dia pergi ninggalin aku mah..."


kata Althan. Danu berdiri setelah itu berjabat tangan dengan mereka setelah itu


mendatangi Althan begitupun dengan Bayu.


"Althan bisa pulang kerumah tante.'' Kata Danu lalu


ia menepuk bahu temannya.


"Makasih, Danu dan Bayu mau bantu anakku ini."


Ujarnya dengan logat bugis.


"Sama- sama. Kalau gitu kami berdua permisi dulu,


Assalamualaikum.''


Danu dan Bayu pergi sedangkan ibu dan anak itu masih


disana. Althan menegakan tubuhnya lalu menghapus air matanya. Lelaki itu


mencoba untuk tersenyum di depan ibunya.


"Kenapa gak cari dia dan menunggu disini?"


Tanya Mamah sambil membawa pulang anaknya.


"Mau cari dimana ma? Seluruh kota ini sudah ku


kelilingi."


"Mungkin kota lain.'' Ujar Ibu sambil masuk ke dalam


mobil. "Mama mau ke tempat teman di kilo dua mau ikut?''


"Tunggu di mobil aja." Jawab Althan yang sudah


masuk ke dalam  lalu bersandar.


Mobil jazz biru menyusuri jalan kilang menikmati pantai


melawai yang indah. Althan memejamkan matanya ia mengingat senyum Nieya,


tertawanya, kelembutannya.


"Aku merindukan dirimu sayangku."