
Ibu memegang kain korden agar tubuhnya tak jatuh. Anaknya
hamil Nieya telah hamil tapi sama siapa?
"Nieya apa kau menggoda suami orang lagi?"
Tanya Ibu sambil menitikan air mata. Terdengar sebuah isakan di sana.
"Tidak bu, Nieya hamil anaknya Daeng Althan."
Ibu mengusap dadanya sambil duduk di depan tv.
"Jangan
marah bu, Nieya salah maafkan Nieya. Ibu... ibu." Panggil Nieya.
"Nieya, tidak apa- apa tenanglah Ibu gak marah.
Pulanglah nak dan minta pertanggung jawaban Althan."
"Althan bagaimana kabarnya Bu."
"Setiap hari ia ke warung dan kerumah berharap ada
dirimu. Ia kemarin habis berkelahi dengan tukang parkir dan akhirnya masuk
kantor polisi, dia seperti orang gila nak... cuma kamu yang bisa menenangkan
Althan." Kata Ibu.
"Ibu, ibu... maafkan Nieya Daeng."
Tut
Tut
Tut
Telp itu terputus membuat ibu menangis dalam hati.
❤❤❤❤
Nieya berdiri sambil menggenggam hp milik Ai gemetaran.
Apa yang harus ia perbuat? Pulang kah ke Balikpapan atau menetap di sini?
"Ayo." Ajak Ai setelah menebus obat dan
menuntun Nieya untuk pulang kerumahnya.
Setelah sampai dirumah Nieya di bawa oleh Ai untuk
istirahat di kamarnya.
"Tidurlah." Ujar Ai tak lama ia keluar dari
kamar.
Pintu terbuka menampilkan Ratna si wanita paruh baya.
"Kata Ai kamu hamil?" Tanya Ratna. Nieya
memgangguk lemah tenanganya sudah habis karena memikirkan Althan
"Dirimu mengingatkan akan diriku jaman dulu."
Cerita Ratna "aku dulu seorang gadis yang buta lalu di cap pelakor."
Cerita Ratna. Ratna duduk di tepi kasur sambil mengusap perut Nieya.
"Diumur yang sangat muda diriku hamil Adrian lalu
Aika, mereka berdua penyemangatku. Dalam kebutaan aku jualan dengan sepeda bersama
Abra waktu itu karena mereka berdua ikut sang papah." Jelas Ratna.
"Percayalah Nieya, calon ayahnya akan datang menjemputmu asalkan kau
bersabar sedikit lagi." Ujar Ratna. Nieya memengang tangan Ratna dan
mengangguk.
"Apa dirimu di juluki Si gadis Mahakam? Banyak yang
mendengar kisah tante pada waktu itu." Ujar Nieya. Ratna mengangguk
"Hm, kisah cinta si wanita buta dan lelaki kaya
ckck." Jawabnya.
Nieya dan Ratna tertawa kemudian melanjutkan
pembahasannya.
❤❤❤❤
"Pak anda membuat para pejalan kendaraan macet
silahkan pindahkan mobil anda di sana." Ujar tukang parkir ke Althan yang
duduk di warung Nieya yang tutup. Ibu dan Bapak sudah tidak berjualan lagi di
san melainkan di depan rumah barunya.
Tatapan pria itu kosong dan terlihat sangat menderita,
hampir setiap hari ia menyusuri jalan yang ia tinggalkan Nieya, tempat
tinggalnya juga warungnya.
"Woy! Kita hancurin nih mobilnya ya." Seru
salah satu orang. Bahkan ada beberapa preman pasar yang berjumlah empat orang
datang dan melihat mobil Pajero itu.
"Pindahkan atau kita hancurkan." Kata preman.
mengambil batu gunung sebesar dua kali lipat dari tangan ia melemparnya ke
tukang parkir hingga terjatuh dan berdarah.
"Siapa! Siapa lagi yang mau lawan saya!."
Teriak Altan setelah itu melihat keempat preman yang menyentuh mobilnya.
Preman
Preman
Hal yang membuat kekasihnya rusak adalah preman.
"Akan kuhancurkan semua preman disini!"
Althan menghajar satu persatu preman yang menang gaya namun nyalinya kecil.
Satu preman yang berhasil lolos dari pukulan Althan mengeluarkan benda tajam
dan segera mentusuknya di belakang.
Althan meringis namun tidak jatuh ia berbalik sambil
tersenyum, disudut bibirnya berdarah ia mengusapnya dengan tangan setelah itu
membuang ludahnya.
"Bagaimana kalau aku yang menusukmu." Althan
maju membuat preman yang menusuknya menjatuhkan pisau hinga Althan mengambilnya
dan mengadahkannya ke preman tadi.
"Berhenti." Teriak seorang polisi.
"Jatuhkan pisau itu lalu angkat tangan ke kepala." Polisi itu
mengacungkan pistol.
Althan membuang pisau itu lalu mengangkat tangannya ke
kepala ia berbalik setelah itu tangannya di borgol dan di naikan ke dalam
mobil.
Althan duduk di sudut jeruji besi matanya mengisyaratkan
keputus asaan.
"Ah." Ringis Althan saat luka di belakangnya
tertekan.
"Saudara Althan silahkan keluar." Althan
berdiri kemudian pintu terbuka dan ia segera keluar. Di kantor polisi sana ada
Danu dan Bayu serta mamahnya untuk membebaskan dia.
"Saya yang jadi jaminannya." Ujar Danu
begitupun Bayu yang mengangguk.
"Ya Tuhan Althan." Mamah memeluk Althan dan
lelaki itu menangis sambil bersembunyi di lekukan lehernya
"Nieya hilang, dia pergi ninggalin aku mah..."
kata Althan. Danu berdiri setelah itu berjabat tangan dengan mereka setelah itu
mendatangi Althan begitupun dengan Bayu.
"Althan bisa pulang kerumah tante.'' Kata Danu lalu
ia menepuk bahu temannya.
"Makasih, Danu dan Bayu mau bantu anakku ini."
Ujarnya dengan logat bugis.
"Sama- sama. Kalau gitu kami berdua permisi dulu,
Assalamualaikum.''
Danu dan Bayu pergi sedangkan ibu dan anak itu masih
disana. Althan menegakan tubuhnya lalu menghapus air matanya. Lelaki itu
mencoba untuk tersenyum di depan ibunya.
"Kenapa gak cari dia dan menunggu disini?"
Tanya Mamah sambil membawa pulang anaknya.
"Mau cari dimana ma? Seluruh kota ini sudah ku
kelilingi."
"Mungkin kota lain.'' Ujar Ibu sambil masuk ke dalam
mobil. "Mama mau ke tempat teman di kilo dua mau ikut?''
"Tunggu di mobil aja." Jawab Althan yang sudah
masuk ke dalam lalu bersandar.
Mobil jazz biru menyusuri jalan kilang menikmati pantai
melawai yang indah. Althan memejamkan matanya ia mengingat senyum Nieya,
tertawanya, kelembutannya.
"Aku merindukan dirimu sayangku."