
Althan dan Nieya berdiri di depan halaman keluarga
Agatha. Mereka berdua pamit untuk pulang dan menikah disana.
"Aunty Nieya." Kata sang anak perempuan Aika.
Ia paling sedih karena tidak bisa lagi bermain bersama.
"Sayang nanti aunty kembali lagi ya." Bujuk
Nieya sambil memeluk anak itu berharap ia memiliki anak perempuan.
"Jangan lupa undangannya." Kata Adriana sambil
memeluk Nieya dan Althan bergantian.
"Pasti." Jawab Nieya kemudian melihat Althan.
Althan mengangguk sambil menggenggam tangan Nieya.
❤❤❤❤
Althan membawa mobilnya untuk menyusuri jalan hingga ia
sampai di sebuah tempat makan yang cukup terkenal yaitu tahu sumedang.
"Makan dan sholat dulu." Kata Althan sambil
memarkir mobilnya dan melepas sabuk pengaman.
"Hm." Jawab Nieya sambil melepas sabuk pengaman
dan keluar begitupun dengan Althan. Nieya tidak sholat melainkan duduk di
sebuah tempat yang sudah di pesan sedangkan calon suaminya itu
melaksakannya. Bukannya Nieya tidak mau tapi untuk saat ini ia belum kuat
berdiri lama- lama.
Nieya memilih pesanan ke pelayan. Semua menu membuatnya
tergiur dan ingin mencicipi saru persatu.
Lima belas menit kemudian…
"Hei." Tegur Althan yang baru selesai terlihat
rambutnya basah. "Sudah pesan sayang?" Tanya Althan sambil melihat
pelayan menunggu Nieya menulis menu.
"Aku ingin tahu sumedang, risoles, indomi goreng,
nasi goreng dan cemilan lainnya." Jawab Nieya. Althan tertawa ia lalu
mengatakan ke pelayan.
"Pesan semua menu disini." Katanya membuat
Nieya berhenti menulis pesanan.
"Daeng.'' Kata Nieya dan Althan tersenyum seraya
menutup matanya. Kawai.
"Yakin pak?" Kata pelayan dan Althan yakin.
Nieya kemudian tersipu dan tak jadi menuliskan pesanan. "Ditunggu
ya." Kata pelayan sambil menuju kesana.
"Aku tidak percaya Daeng datang menjemputku."
Ujar Nieya. Althan menggenggam tangan Nieya di hadapannya.
"Aku menjemputmu karena dirimu wanita yang
kucintai." Jawabnya. "Bagaimana bila aku sakit nanti tidak ada yang
mengurus apalagi aku di diagnosis terkena kanker batang otak." Jawab
tapi Althan tertawa lepas sambil menggeleng. "Aku bohong, aku tidak sakit
seperti itu..." jawab althan dan Nieya tetap langsung menangis membuat
pengunjung lain melihat mereka.
"Kamu jahat! Masa mau nikahin aku pas sudah sekarat
hiks..." kata Nieya. Althan langsung berpindah tempat duduk di samping
Nieya lalu memeluknya.
"Aku hanya bercanda dan tidak sakit. Aku sehat Nieya
tadi hanya bohong karena abis nonton drakor di hpku yang kamu pinjam tadi hehe
" kata Althan yang membuat Nieya langsung berhenti nangis dan menengok.
"Aaa kamu mh jahat nakutin aku." Kata Nieya
sambil memukul dada Althan pelan.
"Sudah berani panggil diriku "kamu"".
Kata Althan dalam tanda kutip. Nieya mengangguk.
"Iya, Kamu kamu kamu Althan." Kata Nieya kesal.
Althan menengok kesana kemari kemudian berbisik ke Nieya.
"Aku akan memperkosa dirimu, jadi bersiaplah kita akan
menyewa hotel terdekat." Bisiknya. Nieya langsung melihat Althan yang
mengerlingkan matanya lalu menyambut makanan yang di letakan di atas meja.
"Aku hamil dan belum mau begituan." Bisik
Nieya.
"Bisa, pelan- pelan. baby kita mengerti kok kalau
daddy-nya ini butuh kehangatan."
"Daeng." Kata Nieya tapi Althan tidak
menggubris.
❤❤❤❤
Hotel platinum...
Althan mencumbu Nieya di sebuah kasur begitupun
sebaliknya. Meluapkan kerinduan yang mereka punya hingga batas yang tak
tertentu. Althan segera bertelanjang begitupun sebaliknya setelah itu saling
menyatu dengan penuh kenikmatan yang indah.
Tidak ada kata- kata melainkan suara alunan yang
malaikatpun enggan mengedarkannya karena malu. Nieya mencengkram seprei saat
milik Althan masuk dan menggoyangkannya pelan.
"Pelan- pelan, sakit." Cicit Nieya.
"Aneh, punyamu masih sempit." Kata Althan yang
gak sabar menuju puncaknya.
Althan menciun bibir Nieya lalu satu tangannya bermain di
area dada
Setidaknya sehabis ini mereka harus menikah agar tidak
melakukan hubungan terlarang terus.