Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 21



Mamahnya Althan keluar dari mobil setelah itu melihat


anaknya dari jendela.


"Mamah mungkin sedikit lama kalau mau pulang duluan


gakpapa."


Althan menengok mamahnya dan mengangguk.


"Mau mutar- mutar aja. Malas ada pembantu dirumah


mending mamah pecat aja." Kata Althan sambil berpindah kursi.


"Pecat sudah. Yaudah mama pergi dulu." Mamah


masuk ke dalam gang sempit. Althan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit


untuk merawat dirinya. Jalanan cukup  macet hingga Althan terjebak di


antaranya, mata lelaki itu melihat seorang bocah baru pulang sekolah dengan


berjalan kaki sambil mainan yoyo.


"Riko." Guman Althan. Althan segera mengelakson


lalu menjalankan mobilnya pelan. "Riko." Panggil Althan bersyukur


dirinya bertemu adiknya Nieya. Riko langsung terdiam ia ingin lari tapi


perutnya sangat lapar.


"Dari mana? Baru pulang sekolah ya?"


"Enggak Daeng mau main, Daeng mau kemana?"


Tanya Riko.


Althan menaikan satu alisnya ia akan mencari tau dimana


Nieya tinggal di mana.


"Om laper mau makan richeese abis itu ke minimarket


beli coklat." Kata Althan.  Riko langsung meneguk air liurnya sambil


memegang perut yang berbunyi. "Mau ikut Daeng? Lekas duduk di samping


sini." Kata Althan memancing. Awalnya Riko ingin menolak tapi karena


makanan enak akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah." Riko masuk ke dalam mobil di samping


Althan


"Daeng kok lewat sini?"


"Abis antar mamahku." Jawab Althan sambil


menyetir. "Kamu sendiri kenapa bisa sampai sini?"


"Mba Nieya suruh kami pindah supaya Daeng gak


tau." Jawab polos Riko. Riko menutup mulutnya karena baru sadar. Althan


tertawa sambil mengacak rambut Riko.


"Ooo supaya Daeng gak tau kediaman Mba Nieya


sekarang gitu?" Tebak Danu dan Riko mengangguk.


"Emang Daeng tau dimana Mba Nieya?" Tanya Riko.


Tentu saja Althan tidak mau makanya mendekati Riko.


"Tau." Bohong Althan.


"Ooo om tau... Mba Nieya memang lagi di


Samarinda." Kata Riko. Althan langsung menengok Riko.


"Serius?" Tanya Althan. Riko mengangguk sambil


melihat ke depan. Althan langsung menggigit jempolnya untuk berfikir.


"Daeng kita jadi makan?" Tanya Riko. Althan


mengangguk dan tersenyum.


❤❤❤❤


Althan memesan beberapa menu setelah itu membayar


sedangkan Riko duduk di kursi dekat jendela besar.


Althan memasukan dompet ke dalam kantong setelah itu


membawa nampan berisi pesanannya.


"Makan siang." Kata Althan sambil meletakannya


di meja dan ia duduk di hadapan Riko. Riko nampak kesenengan akhirnya bisa


makan ayam pedas yang lagi kekinian.


"Ini level satu milikmu dan ini punya Daeng."


Ujar Althan sambil memberikan milik Riko dan dirinya.


"Daeng gak cariin Mba Nieya?" Tanya  Riko


sambil mulai makan. Daeng pura- pura cuek sambil memakan paha ayam.


"Dia yang ninggalin Daeng jadi buat apa


mencarinya."


"Mba Nieya katanya hamil pas ngobrol sama Ibu, gak


tau deh detailnya gimana soalnya cuma asal lewat." Kata Riko sambil


kepedesan dan minum. Althan berhenti makan ia langsung menatap Riko dengan


dalam.


 


 


Nieya hamil


Hamil anaknya, tak rasa air mata lelaki itu jatuh


"Daeng nangis?" Tanya Riko. Althan menghapus


air matanya lalu tertawa.


"Tidak, Daeng hanya kepedasan saja." Althan


bersandar di kursi.


"Sama siapa Mba disana?" Tanya Althan.


"Gak tau Daeng..." jawab Riko sambil makan


❤❤❤❤


Althan mengantar Riko sampai rumah. Ibu yang melihat


Althan keluar dari mobil langsung kaget saat menjaga jualan.


"Ibu." Panggil Althan. Ibu langsung


mendetakinya dan memeluk ayah dari anaknya Nieya.


"Apa benar Nieya hamil?" Tanya Althan serius.


Ibu mengangguk sambil membelai pipi Althan yang tirus.


"Maafin Nieya karena sudah membuatmu seperti


ini."


"Tidak apa- apa bu, kata Riko dia di Samarinda


daerah mana?"


"Ibu gak tau karena Nieya tidak kasih tau, tapi dia


di Samarinda. Bawalah dia pulang nak."


Althan mengangguk. "Akan kubawa pulang dia Bu, dan


menikahinya. Aku tidak peduli dengan masa lalunya karena diriku juga memiliki


masa lalu." Jawab Althan.


"Duduklah, kamu sudah makan?" Tanya Ibu. Althan


mengangguk dan duduk di bangku plastik


"Sudah makan sama Riko tadi." Jawab Althan


sambil memeriksa hpnya. Sudah lama ia tidak memeriksa email yang masuk.


Althan membuka file yang detektif itu berikan sebulan


yang lalu satu persatu ia baca hingga sebuah alamat tertera di bawahnya.


Alamat kediaman keluarga Agatha yang terkenal paling kaya


satu Samarinda.


"Ibu aku pergi dulu untuk menjemput Nieya."


Althan segera masuk ke dalam mobil dan menuju kantornya.


Setelah sampai di kantor ia masuk keruangannya yang


ternyata ada Danu, Bayu, Sultan dan seseorang yang baru yaitu Devan.


"Aku tau dia dimana." Kata Althan ke Danu. Danu


berdiri dan Althan duduk di tempatnya sambil membuka email agar lebih jelas.


"Dia ada di keluarga Agatha.."


"Agatha? Agatha corp? Wah hebat pengusaha paling


terkenal di dunia dan paling kaya se Samarinda. Sulit sekali bekerja sama


dengan dia." Kata Bayu.


"Aku harus menjemput Nieya.'' Kata Althan.


"Tidak semudah itu karena ia akan melindungi yang


sudah dianggap keluarga jadi untuk bertemu sangat sulit." Ujar Sultan.


"Jadi bagaimana?" Tanya Althan yang hampir


putus asa. Danu lagi- lagi yang akan mengambil masalah ini.


"Kamu." Tunjuk Danu ke Althan "lagi- lagi


aku." Danu mengambil gagang telp untuk menelfon Kanza. "Naik ke atas


sini dan bawa surat kerja sama antara kita dan Agatha corp " kata Danu


setelah itu  menutup gagang telp.


Mereka berempat langsung bertepuk tangan terutama Althan


yang langsung memeluk Danu.


"Jadi selama ini kau memiliki surat kerja sama


dengannya?" Tanya Sultan. Danu melepas pelukan Althan di belakangnya lalu


memperbaiki kemeja hitamnya.


"Hah yalah, sudah dari dua bulan lalu. Hebat


kan!." Kata Danu sombong.


"Sombong." Sungut Bayu.


"Palingan Keana yang ngajukan istrimu itu kan


perisai." Kata Sultan dan Danu langsung ciut.


"Iya juga sih, untung istriku bisa bisnis walaupun


kebanyakan dirumah." Kata Danu.


 


 


Tok


Tok


Tok


Kanza masuk sambil membawa map berisi file. Danu


mengambil file lalu menyuruh Althan tanda tangan tangan karena ia yang


menggantikan posisi Danu.


"Ini dan uruslah milikmu ingat jangan buat


perusahaanku bangkrut atau kubunuh kau. Minggu depan aku dan Keana akan pindah


ke Dubai, baik- baiklah disini.'' Ujar Danu.


"Jadi ini momen perpisahan?" Tanya Bayu kaget.


"Serius mau pindah di sana?" Tanya Sultan.


Danu mengangguk


"Ceritaku sudah


selesai maka aku akan pindah ke sana untuk mulai hidup yang lebih


bahagia." Jawab Danu seraya tersenyum