
Mamahnya Althan keluar dari mobil setelah itu melihat
anaknya dari jendela.
"Mamah mungkin sedikit lama kalau mau pulang duluan
gakpapa."
Althan menengok mamahnya dan mengangguk.
"Mau mutar- mutar aja. Malas ada pembantu dirumah
mending mamah pecat aja." Kata Althan sambil berpindah kursi.
"Pecat sudah. Yaudah mama pergi dulu." Mamah
masuk ke dalam gang sempit. Althan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit
untuk merawat dirinya. Jalanan cukup macet hingga Althan terjebak di
antaranya, mata lelaki itu melihat seorang bocah baru pulang sekolah dengan
berjalan kaki sambil mainan yoyo.
"Riko." Guman Althan. Althan segera mengelakson
lalu menjalankan mobilnya pelan. "Riko." Panggil Althan bersyukur
dirinya bertemu adiknya Nieya. Riko langsung terdiam ia ingin lari tapi
perutnya sangat lapar.
"Dari mana? Baru pulang sekolah ya?"
"Enggak Daeng mau main, Daeng mau kemana?"
Tanya Riko.
Althan menaikan satu alisnya ia akan mencari tau dimana
Nieya tinggal di mana.
"Om laper mau makan richeese abis itu ke minimarket
beli coklat." Kata Althan. Riko langsung meneguk air liurnya sambil
memegang perut yang berbunyi. "Mau ikut Daeng? Lekas duduk di samping
sini." Kata Althan memancing. Awalnya Riko ingin menolak tapi karena
makanan enak akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah." Riko masuk ke dalam mobil di samping
Althan
"Daeng kok lewat sini?"
"Abis antar mamahku." Jawab Althan sambil
menyetir. "Kamu sendiri kenapa bisa sampai sini?"
"Mba Nieya suruh kami pindah supaya Daeng gak
tau." Jawab polos Riko. Riko menutup mulutnya karena baru sadar. Althan
tertawa sambil mengacak rambut Riko.
"Ooo supaya Daeng gak tau kediaman Mba Nieya
sekarang gitu?" Tebak Danu dan Riko mengangguk.
"Emang Daeng tau dimana Mba Nieya?" Tanya Riko.
Tentu saja Althan tidak mau makanya mendekati Riko.
"Tau." Bohong Althan.
"Ooo om tau... Mba Nieya memang lagi di
Samarinda." Kata Riko. Althan langsung menengok Riko.
"Serius?" Tanya Althan. Riko mengangguk sambil
melihat ke depan. Althan langsung menggigit jempolnya untuk berfikir.
"Daeng kita jadi makan?" Tanya Riko. Althan
mengangguk dan tersenyum.
❤❤❤❤
Althan memesan beberapa menu setelah itu membayar
sedangkan Riko duduk di kursi dekat jendela besar.
Althan memasukan dompet ke dalam kantong setelah itu
membawa nampan berisi pesanannya.
"Makan siang." Kata Althan sambil meletakannya
di meja dan ia duduk di hadapan Riko. Riko nampak kesenengan akhirnya bisa
makan ayam pedas yang lagi kekinian.
"Ini level satu milikmu dan ini punya Daeng."
Ujar Althan sambil memberikan milik Riko dan dirinya.
"Daeng gak cariin Mba Nieya?" Tanya Riko
sambil mulai makan. Daeng pura- pura cuek sambil memakan paha ayam.
"Dia yang ninggalin Daeng jadi buat apa
mencarinya."
"Mba Nieya katanya hamil pas ngobrol sama Ibu, gak
tau deh detailnya gimana soalnya cuma asal lewat." Kata Riko sambil
kepedesan dan minum. Althan berhenti makan ia langsung menatap Riko dengan
dalam.
Nieya hamil
Hamil anaknya, tak rasa air mata lelaki itu jatuh
"Daeng nangis?" Tanya Riko. Althan menghapus
air matanya lalu tertawa.
"Tidak, Daeng hanya kepedasan saja." Althan
bersandar di kursi.
"Sama siapa Mba disana?" Tanya Althan.
"Gak tau Daeng..." jawab Riko sambil makan
❤❤❤❤
Althan mengantar Riko sampai rumah. Ibu yang melihat
Althan keluar dari mobil langsung kaget saat menjaga jualan.
"Ibu." Panggil Althan. Ibu langsung
mendetakinya dan memeluk ayah dari anaknya Nieya.
"Apa benar Nieya hamil?" Tanya Althan serius.
Ibu mengangguk sambil membelai pipi Althan yang tirus.
"Maafin Nieya karena sudah membuatmu seperti
ini."
"Tidak apa- apa bu, kata Riko dia di Samarinda
daerah mana?"
"Ibu gak tau karena Nieya tidak kasih tau, tapi dia
di Samarinda. Bawalah dia pulang nak."
Althan mengangguk. "Akan kubawa pulang dia Bu, dan
menikahinya. Aku tidak peduli dengan masa lalunya karena diriku juga memiliki
masa lalu." Jawab Althan.
"Duduklah, kamu sudah makan?" Tanya Ibu. Althan
mengangguk dan duduk di bangku plastik
"Sudah makan sama Riko tadi." Jawab Althan
sambil memeriksa hpnya. Sudah lama ia tidak memeriksa email yang masuk.
Althan membuka file yang detektif itu berikan sebulan
yang lalu satu persatu ia baca hingga sebuah alamat tertera di bawahnya.
Alamat kediaman keluarga Agatha yang terkenal paling kaya
satu Samarinda.
"Ibu aku pergi dulu untuk menjemput Nieya."
Althan segera masuk ke dalam mobil dan menuju kantornya.
Setelah sampai di kantor ia masuk keruangannya yang
ternyata ada Danu, Bayu, Sultan dan seseorang yang baru yaitu Devan.
"Aku tau dia dimana." Kata Althan ke Danu. Danu
berdiri dan Althan duduk di tempatnya sambil membuka email agar lebih jelas.
"Dia ada di keluarga Agatha.."
"Agatha? Agatha corp? Wah hebat pengusaha paling
terkenal di dunia dan paling kaya se Samarinda. Sulit sekali bekerja sama
dengan dia." Kata Bayu.
"Aku harus menjemput Nieya.'' Kata Althan.
"Tidak semudah itu karena ia akan melindungi yang
sudah dianggap keluarga jadi untuk bertemu sangat sulit." Ujar Sultan.
"Jadi bagaimana?" Tanya Althan yang hampir
putus asa. Danu lagi- lagi yang akan mengambil masalah ini.
"Kamu." Tunjuk Danu ke Althan "lagi- lagi
aku." Danu mengambil gagang telp untuk menelfon Kanza. "Naik ke atas
sini dan bawa surat kerja sama antara kita dan Agatha corp " kata Danu
setelah itu menutup gagang telp.
Mereka berempat langsung bertepuk tangan terutama Althan
yang langsung memeluk Danu.
"Jadi selama ini kau memiliki surat kerja sama
dengannya?" Tanya Sultan. Danu melepas pelukan Althan di belakangnya lalu
memperbaiki kemeja hitamnya.
"Hah yalah, sudah dari dua bulan lalu. Hebat
kan!." Kata Danu sombong.
"Sombong." Sungut Bayu.
"Palingan Keana yang ngajukan istrimu itu kan
perisai." Kata Sultan dan Danu langsung ciut.
"Iya juga sih, untung istriku bisa bisnis walaupun
kebanyakan dirumah." Kata Danu.
Tok
Tok
Tok
Kanza masuk sambil membawa map berisi file. Danu
mengambil file lalu menyuruh Althan tanda tangan tangan karena ia yang
menggantikan posisi Danu.
"Ini dan uruslah milikmu ingat jangan buat
perusahaanku bangkrut atau kubunuh kau. Minggu depan aku dan Keana akan pindah
ke Dubai, baik- baiklah disini.'' Ujar Danu.
"Jadi ini momen perpisahan?" Tanya Bayu kaget.
"Serius mau pindah di sana?" Tanya Sultan.
Danu mengangguk
"Ceritaku sudah
selesai maka aku akan pindah ke sana untuk mulai hidup yang lebih
bahagia." Jawab Danu seraya tersenyum