Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 23



 


 


Apa ini sebuah mimpi...


Mimpi dimana salah satu diantara mereka mirip sekali


dengan Althan atau hanya bayangan. Nieya mulai sadar tak lama ia menangis


dengan pelan sambil berusaha bangun. Tangan kokoh itu membantu Nieya untuk


menegakan tubuhnya hingga terduduk sempurna.


"Bagian mana yang sakit?" Tanya Althan di depan


Nieya. Nieya memberanikan diri menatap di depannya.


"Daeng? Ini beneran kamu? Atau cuma bayangan."


Gumam Nieya sambil berusaha meraba wajah Althan. Althan mengangguk ia langsung


mencium bibir Nieya pelan setelah itu keningnya.


"Ini aku, aku datang untuk menjemputmu dan anak


kita. Ayo kita nikah dan hidup bersama." Kata Althan seraya menyatukan


kening mereka. Nieya menghapus air matanya sambil menggeleng.


"Aku kotor, aku tidak pantas untukmu Daeng, banyak


wanita diluar sana yang bisa untuk di jadikan istri." Ujar Nieya. Daeng


menjauhkan kepalanya lalu menggeleng.


"Gak ada, cuma kamu yang aku inginkan dan butuhkan,


Nieya semua orang punya masa lalu yang kelam."


"Kehancuran seorang wanita adalah bumirang bagi


dirinya sendiri. Dari awal aku telah salah jalan." Kata Nieya.


"Bukan cuma kamu yang memiliki masa lalu tapi banyak


luar sana. Ada yang menikah tapi sudah gak perawan, banyak sangat banyak. Tapi


apa? Mereka di terima oleh lelaki karena cinta yang tulus walaupun tidak


seratus persen."


Menurut Althan dunia ini kejam karena lelaki menginginkam


seorang wanita yang masih perawan sedangkan dirinya brengsek.


"Darimana Daeng tau kalau aku hamil?" Tanya


Nieya.


"Tadi saat kamu pingsan wanita tadi memekik dirimu


hamil terus tadi dokter datang terus bilang kamu banyak pikiran, setres dan


kelelahan." Jawab Althan.


"Terus Daeng tau dari mana aku disini." Tanya


Nieya.


"Ibu, Riko dan Danu. Riko bilang kamu ada di


Samarinda terus ibu membenarkan dan Danu membantuku untuk kesini dan bertemu


denganmu."


"Danu? Dia sangat baik." Kata Nieya dan Althan


mengangguk


disana"


Nieya terdiam kemudian teringat dengan Keana.


"Keana juga ikut." Tanya Nieya dan Althan


mengangguk.


"Keana gak bilang aku belum sempat memberikannya


salam perpisahan." Kata Nieya. "Enak jadi Ana ia bisa hidup tenang dan


bahagia di tempat yang jauh." Kata Nieya sambil tertunduk.


"Kita juga bisa kok seperti itu. Makanya ayo kita


menikah dan hidup bersama.'' Kata Althan.


"Baiklah." Jawab Nieya sambil kembali berbaring


dan mengusap perutnya.


"Althan ikut mengusap perut Nieya sambil sesekali


menciumnya.


"Cepatlah tumbuh di dalam sana nak biar bisa daddy


elusin perut mamah kamu yang gede nanti." Kata Althan membuat Nieya


tersenyum. Althan terus berbicara dengan janin di perutnya membuat Nieya nampak


bahagia. Dengan pelan tangannya mengusap kepala calon suaminya.


❤❤❤❤


Althan duduk di ruang keluarga Agatha sedangkan Nieya


tertidur di kamarnya. Mereka bukan membahas pekerjaan melainkan Ia dan Nieya.


"Jadi dia kabur dari sana?" Tanya Ardi sang


kepala keluarga. Althan mengangguk dan melihat cangkir.


"Hm," Althan menegakan kepalanya. "Kami


bertengkar dan dia pergi kesini dengan tujuan yang kosong." Jawab Althan.


"Mirip Bunda, bunda juga gitu pergi ke Grogot sama


Abra terus papah jemput sampe trauma gak mau jalan jauh pake mobil." Kata


Ai sambil melihat kukunya.


"Ai." Tegur Angga membuat Ai tertawa pelan.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" Tanya Ratna.


"Saya akan bawa pulang dan menikahinya. Makasih


sudah menerima Nieya disini Pak Ardi dan Ibu Ratna." Kata Althsn penuh


syukur.


"Nieya sudah dianggap sebagai keluarga disini.... kami


juga tidak menyangka dengan semua ini.''


Althan tersenyum ia akan membawa Nieya dan akan hidup


bahagia selamanya.