
Apa ini sebuah mimpi...
Mimpi dimana salah satu diantara mereka mirip sekali
dengan Althan atau hanya bayangan. Nieya mulai sadar tak lama ia menangis
dengan pelan sambil berusaha bangun. Tangan kokoh itu membantu Nieya untuk
menegakan tubuhnya hingga terduduk sempurna.
"Bagian mana yang sakit?" Tanya Althan di depan
Nieya. Nieya memberanikan diri menatap di depannya.
"Daeng? Ini beneran kamu? Atau cuma bayangan."
Gumam Nieya sambil berusaha meraba wajah Althan. Althan mengangguk ia langsung
mencium bibir Nieya pelan setelah itu keningnya.
"Ini aku, aku datang untuk menjemputmu dan anak
kita. Ayo kita nikah dan hidup bersama." Kata Althan seraya menyatukan
kening mereka. Nieya menghapus air matanya sambil menggeleng.
"Aku kotor, aku tidak pantas untukmu Daeng, banyak
wanita diluar sana yang bisa untuk di jadikan istri." Ujar Nieya. Daeng
menjauhkan kepalanya lalu menggeleng.
"Gak ada, cuma kamu yang aku inginkan dan butuhkan,
Nieya semua orang punya masa lalu yang kelam."
"Kehancuran seorang wanita adalah bumirang bagi
dirinya sendiri. Dari awal aku telah salah jalan." Kata Nieya.
"Bukan cuma kamu yang memiliki masa lalu tapi banyak
luar sana. Ada yang menikah tapi sudah gak perawan, banyak sangat banyak. Tapi
apa? Mereka di terima oleh lelaki karena cinta yang tulus walaupun tidak
seratus persen."
Menurut Althan dunia ini kejam karena lelaki menginginkam
seorang wanita yang masih perawan sedangkan dirinya brengsek.
"Darimana Daeng tau kalau aku hamil?" Tanya
Nieya.
"Tadi saat kamu pingsan wanita tadi memekik dirimu
hamil terus tadi dokter datang terus bilang kamu banyak pikiran, setres dan
kelelahan." Jawab Althan.
"Terus Daeng tau dari mana aku disini." Tanya
Nieya.
"Ibu, Riko dan Danu. Riko bilang kamu ada di
Samarinda terus ibu membenarkan dan Danu membantuku untuk kesini dan bertemu
denganmu."
"Danu? Dia sangat baik." Kata Nieya dan Althan
mengangguk
disana"
Nieya terdiam kemudian teringat dengan Keana.
"Keana juga ikut." Tanya Nieya dan Althan
mengangguk.
"Keana gak bilang aku belum sempat memberikannya
salam perpisahan." Kata Nieya. "Enak jadi Ana ia bisa hidup tenang dan
bahagia di tempat yang jauh." Kata Nieya sambil tertunduk.
"Kita juga bisa kok seperti itu. Makanya ayo kita
menikah dan hidup bersama.'' Kata Althan.
"Baiklah." Jawab Nieya sambil kembali berbaring
dan mengusap perutnya.
"Althan ikut mengusap perut Nieya sambil sesekali
menciumnya.
"Cepatlah tumbuh di dalam sana nak biar bisa daddy
elusin perut mamah kamu yang gede nanti." Kata Althan membuat Nieya
tersenyum. Althan terus berbicara dengan janin di perutnya membuat Nieya nampak
bahagia. Dengan pelan tangannya mengusap kepala calon suaminya.
❤❤❤❤
Althan duduk di ruang keluarga Agatha sedangkan Nieya
tertidur di kamarnya. Mereka bukan membahas pekerjaan melainkan Ia dan Nieya.
"Jadi dia kabur dari sana?" Tanya Ardi sang
kepala keluarga. Althan mengangguk dan melihat cangkir.
"Hm," Althan menegakan kepalanya. "Kami
bertengkar dan dia pergi kesini dengan tujuan yang kosong." Jawab Althan.
"Mirip Bunda, bunda juga gitu pergi ke Grogot sama
Abra terus papah jemput sampe trauma gak mau jalan jauh pake mobil." Kata
Ai sambil melihat kukunya.
"Ai." Tegur Angga membuat Ai tertawa pelan.
"Jadi bagaimana selanjutnya?" Tanya Ratna.
"Saya akan bawa pulang dan menikahinya. Makasih
sudah menerima Nieya disini Pak Ardi dan Ibu Ratna." Kata Althsn penuh
syukur.
"Nieya sudah dianggap sebagai keluarga disini.... kami
juga tidak menyangka dengan semua ini.''
Althan tersenyum ia akan membawa Nieya dan akan hidup
bahagia selamanya.