
Ku berdiri di depan cermin seraya melihat penampilanku
yang casual. Aku akan mengajak Nieya jalan- jalan ke kebun raya sesuai janji
yang kemarin.
“Bagusnya gimana ya, El? Rambutnya ke atas tau diponiin
gitu?” tanyaku ke sang adik. Dia main kerumahku bersama Mamah, Emily, dan
pasangan mereka.
“Terserah kamu Daeng.” Jawabnya sambil melihat layar hp.
Aku berbalik dan langsung menatapnya.
“Mau kucabut wifi dirumah ini,ya.’’ Aku mengacak pinggang
sambil mencari hpku. Elthen langsung mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum
sambil mengangguk.
“Aja’na (Jangan). Kamu sudah ganteng kak...
tampan Daengku ini.”
Aku mengangguk sambil meraih jaket dan kunci mobil tak
lupa hp dan dompet.
“Memangnya Daeng punya pacar?” tanya El. Aku mengangguk
sambil memakai arloji di tangan.
“Masih calon, makanya doain.” Kataku.
“iyalah, apapun itu jodohmu Daeng aku tetap mendukungmu
meski nantinya satwa Kalimantan kamu nikahin nanti.” Katanya sambil kembali
bermain hp.
Aku langsung mengambil hpnya hingga ia berdiri dan
memohon kepadaku.
“Daeng, aku hanya bercanda. Kembalikan hpku nanti nube itu.”
Ia menunjuk hpnya. Aku melihat isi hpnya Ah ia sedang bermain game Ml.
“Kau lari ke kamarku agar bisa bersembuyi dari Emah
supaya bisa main game.’’ Kataku. Kuberikan hpnya sambil mengajak rambutnya.
“Jangan pentingin game nanti istrimu pergi.” Kataku sambil pergi keluar dari
kamar.
“Dasar calleda. (Genit)” Umpatnya di saat aku menutup pintu.
“elloka jokka diga?” (mau jalan kemana?) Aku
melihat mamah dan tersenyum. Kubantu beliau duduk di kursi terdekat.
“Jokka sama
temen ke kebun raya.” Jawabku sambil memijit kaki mamah. Mamah tersenyum sambil
mengusap rambutku.
“Kamu suka sama penjual gado- gado itu?” tebak mama. Aku
langsung menatapnya tak percaya dan mengangguk pelan.
“Iye, kenapa ko? Mama gak suka?”
tanyaku. Mamah tersenyum dan menggeleng.
“Bukan, mamah percaya sama pilihanmu. Lebih baik cacat
fisik daripada cacat hati. Bawa dia kerumah dan kenalkan sama kita.” Jawab
mamaku. Aku langsung tersenyum.
“kukira mamah bakal melarang Althan untuk bersama Nieya.”
“Tidak ji, di dunia ini bukan cuma Nieya yang
memiliki kecacatan tapi mamahmu ini juga.” Kata mamah sambil menunjukan kakinya
sebelah kanan. Yah, mamahku seperti Nieya memiliki keterbatasan fisik.
Mamah di tabrak oleh pria sialan yaitu papah kami demi
wanita lain. Aku tidak sudi bertemu dengannya karena dia mamaku cacat.
“Pergi sudah Mamah gakpapa. Ada ademu dirumah.” Kata
Mama. Aku berdiri dan mencium keningnya.
“Doain ya ma.” Kataku sambil memeluknya lalu pergi
kerumah Nieya.
❤❤❤❤
Aku merapikan pakaian terbaikku walaupun tidak bagus. Maklum hanya ini yang
kupunya karena tidak ada uang buat membelinya.
“Mbak, Mas Althan datang.” Kata Rino di ambang pintu.
“Dia bawa sesuatu kak.” Ucapnya lagi. Aku mengambil tongkatku lalu berdiri dari
kursi roda.
“Assalamualaikum.” Salamnya. Aku menatapnya seraya
menjawab salam.
“Walaikumsallam, Daeng.’’ Jawabku. “Apa itu?”
tunjukku.
Althan memberikan bungkusan itu ke Rino seraya ia melepas
sepatu di pintu.
“Jajan buat adikmu.” Jawabnya. Tak lama ia masuk dan
mencium keningku.
“Ayo kita jalan, mau kugendong?” tawarnya setelah mencium keningku.
Tangannya sebelah kanan memegang pinggangku hingga diriku
sedikit maju.
“Hm.” Jawabku sambil memperbaiki kerah bajunya. Althan tertawa lembut ia
melepaskan pegangannya dan masuk ke rumah.
“Bapak dan Ibu mana?” tanyanya sambil menyingkai kain
korden dapur.
“Pasar, Ibu menggantikanku jualan sama bapak.” Jawabku.
“Rino hari ini masuk siang jam 1.” Kataku.
“Oh, yaudah...” jawabnya. Ia melihat Rino duduk di depan
tv sambil membuka bungkusan berlogo indomaret ckck.
“Rino, Mbak jalan dulu ya sama Daeng, nanti kunci kasih
Ibu di pasar.” Kataku sambil mengambil tas. Rino mengangguk sambil memakan
cokelat.
“Iya Mba, hati- hati.” Katanya lagi.
“mau bawa kursi rodanya?” kata Althan. Aku mengangguk dan
ia langsung melipat kursi roda itu dengan lihai.
“Ayo.” Katanya sambil memegang tanganku dan menuntunku
keluar dengan pelan.
“Mobilku di parkir cukup jauh tunggu sini ya.” Katanya
sambil mendudukanku di kursi dekat warung kopi. Althan membawa kursi rodaku
sambil berlari kecil untuk menuju mobil bewarna putih. Dari belakang saja ia
sangat tampan apalagi dari depan ya kan.
Kulihat ia menjalankan mobilnya menuju ke arahku sambil
“Siapa itu Nieya? Pacarmu ya?” tanya Bu Sabina, penjaga
warung. Aku menggeleng pelan
“Temen bu.” Jawabku. Pacar? Ingin sekali aku mengatakan
iya tapi takut nanti gak dianggap begitu.
“Ganteng banget.”
“Hehe.” Tawaku pelan saat Althan sudah sampai. Ia turun
dari mobil dan aku berdiri tapi ia tidak menuntunku melainkan menggendongku dan
memutari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi.
“Daeng, aku malu.” Cicitku saat ia menggendongku dan
masuk ke dalam. Ia memasangkan sabuk pengaman kemudian.
“Aku tidak suka dirimu di lihati laki- laki brandalan.”
Ungkapnya sebelum menutup pintu.
Althan memutari mobilnya hingga ia masuk dan duduk di
sebelahku.
“Ayo kita jalan.” Ucapnya sambil memasang sabuk dan menjalankan mobilnya pelan.
❤❤❤❤
Kami terjebak macet saat naik ke kilo satu. Kulihat Nieya
dengan tenang melihat ke depan dan sesekali disampingnya. Aku penasaran kenapa
ia bisa seperti ini? Sungguh gadis yang malang.
“Nieya, aku boleh nanya gak?” tanyaku ke dia. Dia segera
melihatku dan mengangguk.
“Apa itu Daeng?”
“Kecelakaan apa yang menimpamu hingga seperti ini?”
tanyaku. Ia segera menggeleng pelan dan mengalihkan pandangannya dariku.
“Ceritanya panjang dan tidak bisa di jelaskan. Aku
mengalami kecelakaan dua kali...” jawabnya. “Tapi kita hanya sebatas teman
kan.”
“kalau aku maunya lebih? Kita pacaran misalnya?” kataku.
Nieya menggeleng.
“Jangan pacaran sama orang cacat seperti diriku Daeng.
Kamu harus cari yang sempurna seperti dirimu. Katanya tulus.
Aku menggeleng buat apa cari yang sempurna tapi hatinya
busuk.
“Aku tidak butuh kesempurnaan fisik Nieya tapi
kesempurnaan hati. Kakimu bisa di sampung dengan kaki palsu di luar negeri tapi
kalau cacat hati? Gimana.” Kataku. Aku menjalankan mobilku saat jalanan
melonggar. Ia mengusap lenganku pelan tak lama kuambil tangannya dan
menciumnya.
“menurutku kamu sempurna menjadi istriku nantinya.” Jawabku tulus.
Padahal baru seminggu tapi rasanya hatiku sudah mantap
memilihnya.
“Kamu menggombali diriku Daeng? Baiklah kita jalani saja
dulu seperti air yang mengalir.” Katanya.
“Iya tapi jangan sampai ada kotoran yang lewat, bisa
jorok itu.” Jawabku asal. Ia kemudian tertawa sambil memukul diriku pelan.
Akupun ikut tertawa sambil merengkuhnya ke dalam diriku.
“Kamu membelikan Rino jajan sedangkan diriku tidak?”
tanyanya manja. Aku mencium kepalanya sambil menunjuk ke belakang
“Lihatlah ke belakang sayang. Aku tidak akan membiarkanmu
kelaparan sampai di sana nanti.” Ujarku. Nieya menegakan tubuhnya dan melihat
kebelakang.
Aku membeli roti isi daging di Bsb dan
snack di indomaret. Ada juga makanan berat seperti richesse, colonel
katsu, yakiniku, steak ayam mozarela tanpa
nasi, nasi goreng dan masih banyak lagi.
“Banyak sekali Daeng. Ya ampun.” Katanya sambil mengambil
snack dan minuman di dalam tas.
“Aku suka lapar jadi beli banyak. Takut di sana gak ada
toko atau restoran.’’ Jawabku santai.
“Ya ya ya... Sultan mh bebas.” Jawabnya membuatku tertawa.
“Aku Althan bukan Sultan.” Protesku.
“Emang Daeng pekerjaannya apa?” tanyanya sambil memakan
snack singkong.
“Aku disini?” tanyaku dan dia mengangguk. “Tambang di
sanga- sanga, sebenarnya bukan punyaku tapi temen namanya Danu. Dia menyuruhku
untuk menggantikan posisinya selama tiga tahun karena ia akan ke Dhubai untuk
bekerja disana.” Jawabku.
Nieya langsung berhenti mengunyah dan meminum air meniral
“Kenapa? Apa kamu kenal sama Danu?"
tanyaku ia segera menggeleng dan tersenyum.
“Tidak, kecuali saat ia memesan gado- gado bumbu rujak.”
Jawabnya. Aku mengangguk sedikit curiga.
“Dia sudah memiliki istri namanya Keana. Mereka berdua di
jodohkan waktu itu.” Kataku lagi.
“Oh ya Daeng, dia sudah menikah apa Daeng juga sama
seperti dirinya?”
“Aku bujangan Nieya. Belum menikah sama sekali.” Jawabku
jujur. “Padahal umurku sudah mau 40 hehe.”
“Kukira Daeng seorang duda hehe.” Jawabnya. Aku langsung
merebut makanannya.
“Emang umurmu berapa?” tanyaku sambil mengembalikannya
dan meminta di suap.
“38 Daeng, sudah tua kan.” Ujarnya sambil menyuapiku
keripik.
“Apa bedanya dengan diriku.” Jawabku sambil mengunyah.
“Makan dulu baru jawab.’’ Katanya. Aku mengangguk seperti
anak kecil hingga membuat dirinya tertawa.
❤❤❤❤