Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 8



Hujan mengguyur kota Balikpapan dan untungnya aku dan


Althan sudah di jalan dan menuju kerumah walaupun lelaki itu sempat kebasahan


karena diriku.


"Mau singgah kerumah gak?" Tanya Althan. Aku


langsung menggeleng karena malu.


"Jangan malu, aku tinggal sendirian dirumah."


Jawabnya sambil mengelus punggung tanganku.


"Baiklah." Jawabku pada akhirnya. Kulihat


Althan menggerutuk tanda kedinginan aku segera mengambil tangannya dan


menggosoknya agar hangat.


"Hehe, aku kedinginan sekali sampai begini."


Jawab Althan.


"Berhenti aja dulu lalu lepas pakaiannya."


Ujarku. Althan mengangguk ia segera meminggirkan mobilnya lalu membuka bajunya


hingga menyisakan dalaman. Aku mengambil jaket hitamnnya yang kebetulan


tertinggal di mobil.


"Pakai ini." Ujarku tapi dia menggeleng.


"Boleh minta peluk? Sebentar aja." Katanya. Aku


langsung mengangguk lalu ia langsung memelukku erat. Perlahan ia menidurkan


kursiku ku tatap wajahnya dan ia hanya tersenyum sambil mendorongku untuk


berbaring.


"Apa yang kau lakukan Daeng." Kataku sedikit


takut. Althan menggeleng ia merengkuh diriku dengan posisi ia di atas.


Setelah beberapa menit ia mencium keningku lalu pipiku


dan turun ke bibirku. Aku mencoba mendorongnya namun ia tidak mau. Ia *******


bibirku beberapa kali lalu beralih ke leherku cukup lama.


"Daeng, hentikan." Cicitku dengan nafas sedikit


tersendat. Althan tidak bergeming ia terus mencium leherku setelah itu dadaku


walaupun tertutup kain. Ia menjepit nya dengan bibir seolah olah sedang


bermain.


Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama dimana


berhubungan sebelum menikah. Aku mendorongnya hingga sadar dan langsung


berhenti.


"Maaf... maafkan aku... aku aku tidak bermaksud


begitu tadi." Kata Althan setelah sadar ia menatap dadaku yang basah


karena gigitannya walaupun beralaskan baju. Aku membantunya memakaikan jaket


dan tersenyum tanpa tidak apa. Althan langsung memelukku erat sebelum duduk di


dengan benar.


"Apa dirimu marah?" Tanya Althan sambil


mengambil minuman di kursi belakang. Aku menggeleng pelan sambil mengambil tisu


dan mengelap bajuku.


"Dirimu sudah minta maaf jadi buat apa aku


marah." Kataku. Althan yang sedang minum langsung mengusap rambutku dengan


sayang.


"Makasih." Jawabnya.


❤❤❤❤


Aku duduk di sofa empuk bewarna hitam. Rumah ini besar


dan megah mengingatkanku dengan rumah Danu dan Keana dulu.


"Tunggu di sini, aku ke kamar dulu." Kata


Althan lalu ia segera pergi ke kamarnya. Aku merapikan celanaku sambil melihat


kakiku yang tiada.


"Siapa ya?" Tanya pembantu Althan dengan nada


jutek. "Pengemis di larang duduk di sofa. Kamu cacat ya?" Sembur


pembantu itu ke arahku. Aku menggeleng sambil melihat mencari bantuan tapi


Althan tidak ada.


"Duduk di lantai." bentaknya.


"Winda!" Aku terkaget saat mendengar bentakan


dari atas tangga. Aku segera menengok dan ternyata Althan yang sedang memakai


baju


"Minta kaaf atau kupecat! Dia wanitaku bukan


memakai kaos hijau.


"Daeng jangan gitu, dia gak tau makannya


begitu." Belaku. Althan tidak perduli ia mendatangi pembantunya dengan


tatapan tajam.


Aku segera berdiri dan memeluk Althan.


"Jangan marah." Kataku pelan. Althan langsung


melihatku dan mencium kepala sambil mengelus punggungku.


"No, dia harus di beri pelajaran. Bagaimana kalau ia


tidak suka denganmu dan jahat.'' Katanya. Aku menggeleng seraya menenangkannya.


"Gak." Kataku. Aku kemudian berbalik dengan di


bantu Althan.


"Pergilah sebelum Althan marah." Kataku ke


Winda. Winda langsung berlari pergi entah kemana.


"Duduklah sayang, aku akan memanggil mamahku dan


adikku." Katanya. Aku langsung menengok dan ia mengedipkan kedua matanya.


"Hehe, jangan marah." Katanya lagi.


❤❤❤❤


Aku meninggalkan Nieya sebentar setelah itu mencari Mamah


dan adikku.


"Kemana mamah dan adik- adikku." Kataku ke


Winda.


"Pulang Daeng." Jawabnya. Kutatap dirinya yang


terlihat ketakutan.


"Sepertinya aku tidak butuh pembantu... aku akan


menyuruh mama memberhentikanmu atau mempekerjakan di tempat lain. Kamu tidak


suka dengan Nieya saat kutinggal apalagi lebih lama." Kataku. Aku langsung


berbalik dan pergi tapi Winda memelukku dari belakang.


"Jangan Daeng, maafkan aku... jangan berhentikan


aku.'' Pintanya.


"Daeng.'' Panggil Nieya saat di ambang pintu. Aku


langsung melepaskan pelukan Winda saat Nieya melihat kami.


Nieya langsung tertunduk seraya mencoba tersenyum.


"Aku ingin pulang, bisa pesankan ojek online.''


Pinta Nieya setelah itu pergi sambil tertatih karena memakai tongkat. Aku


menatap Winda yang tersenyum puas, sepertinya sengaja.


"Murahan!" Umpatku ke Winda sebelum akhirnya


pergi menyusul Nieya.


❤❤❤❤


Aku berdiri di pinggir jalan sambil menunggu ojek online


yang kupinta. Hatiku sedikit sakit melihat tadi...


Winda menyeringai saat memeluknya, andaikan aku belum


tobat sudah kubalas perbuatannya.


"Apa yang kamu harapkan Nieya, kamu cacat dan tidak


pantas bersamanya.'' Kataku ke diri sendiri.  pedih hatiku tanpa rasa air


mataku jatuh.


"Nieya." Panggil Althan. Aku segera menengok


dan dan tersenyum. Ia melangkah tapi aku menahannya dengan gelengan.


"Sudah pesankan ojek online?" Tanyaku. Dia


menggeleng sambil melihat pipiku. Aku segera mengusap tangisku.


"Aku kelilipan saat debu datang." Kataku cepat.


"Kemarilah, aku yang antar." Katanya sambil


berkacak pinggang. Aku menggeleng kemudian berbalik untuk meninggalkannya. Baru


malangkah ia menarik pinggangku kurasakan diriku tak lagi berjalan melainkan di


gendong.


"Althan." Kataku penuh malu.


"Jangan pernah jalan sendirian di jalan raya. Aku


tidak mau kau tertabrak." Ujarnya . Aku langsung terdiam segitu


perhatiannya kah dirinya.