
Hujan mengguyur kota Balikpapan dan untungnya aku dan
Althan sudah di jalan dan menuju kerumah walaupun lelaki itu sempat kebasahan
karena diriku.
"Mau singgah kerumah gak?" Tanya Althan. Aku
langsung menggeleng karena malu.
"Jangan malu, aku tinggal sendirian dirumah."
Jawabnya sambil mengelus punggung tanganku.
"Baiklah." Jawabku pada akhirnya. Kulihat
Althan menggerutuk tanda kedinginan aku segera mengambil tangannya dan
menggosoknya agar hangat.
"Hehe, aku kedinginan sekali sampai begini."
Jawab Althan.
"Berhenti aja dulu lalu lepas pakaiannya."
Ujarku. Althan mengangguk ia segera meminggirkan mobilnya lalu membuka bajunya
hingga menyisakan dalaman. Aku mengambil jaket hitamnnya yang kebetulan
tertinggal di mobil.
"Pakai ini." Ujarku tapi dia menggeleng.
"Boleh minta peluk? Sebentar aja." Katanya. Aku
langsung mengangguk lalu ia langsung memelukku erat. Perlahan ia menidurkan
kursiku ku tatap wajahnya dan ia hanya tersenyum sambil mendorongku untuk
berbaring.
"Apa yang kau lakukan Daeng." Kataku sedikit
takut. Althan menggeleng ia merengkuh diriku dengan posisi ia di atas.
Setelah beberapa menit ia mencium keningku lalu pipiku
dan turun ke bibirku. Aku mencoba mendorongnya namun ia tidak mau. Ia *******
bibirku beberapa kali lalu beralih ke leherku cukup lama.
"Daeng, hentikan." Cicitku dengan nafas sedikit
tersendat. Althan tidak bergeming ia terus mencium leherku setelah itu dadaku
walaupun tertutup kain. Ia menjepit nya dengan bibir seolah olah sedang
bermain.
Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama dimana
berhubungan sebelum menikah. Aku mendorongnya hingga sadar dan langsung
berhenti.
"Maaf... maafkan aku... aku aku tidak bermaksud
begitu tadi." Kata Althan setelah sadar ia menatap dadaku yang basah
karena gigitannya walaupun beralaskan baju. Aku membantunya memakaikan jaket
dan tersenyum tanpa tidak apa. Althan langsung memelukku erat sebelum duduk di
dengan benar.
"Apa dirimu marah?" Tanya Althan sambil
mengambil minuman di kursi belakang. Aku menggeleng pelan sambil mengambil tisu
dan mengelap bajuku.
"Dirimu sudah minta maaf jadi buat apa aku
marah." Kataku. Althan yang sedang minum langsung mengusap rambutku dengan
sayang.
"Makasih." Jawabnya.
❤❤❤❤
Aku duduk di sofa empuk bewarna hitam. Rumah ini besar
dan megah mengingatkanku dengan rumah Danu dan Keana dulu.
"Tunggu di sini, aku ke kamar dulu." Kata
Althan lalu ia segera pergi ke kamarnya. Aku merapikan celanaku sambil melihat
kakiku yang tiada.
"Siapa ya?" Tanya pembantu Althan dengan nada
jutek. "Pengemis di larang duduk di sofa. Kamu cacat ya?" Sembur
pembantu itu ke arahku. Aku menggeleng sambil melihat mencari bantuan tapi
Althan tidak ada.
"Duduk di lantai." bentaknya.
"Winda!" Aku terkaget saat mendengar bentakan
dari atas tangga. Aku segera menengok dan ternyata Althan yang sedang memakai
baju
"Minta kaaf atau kupecat! Dia wanitaku bukan
memakai kaos hijau.
"Daeng jangan gitu, dia gak tau makannya
begitu." Belaku. Althan tidak perduli ia mendatangi pembantunya dengan
tatapan tajam.
Aku segera berdiri dan memeluk Althan.
"Jangan marah." Kataku pelan. Althan langsung
melihatku dan mencium kepala sambil mengelus punggungku.
"No, dia harus di beri pelajaran. Bagaimana kalau ia
tidak suka denganmu dan jahat.'' Katanya. Aku menggeleng seraya menenangkannya.
"Gak." Kataku. Aku kemudian berbalik dengan di
bantu Althan.
"Pergilah sebelum Althan marah." Kataku ke
Winda. Winda langsung berlari pergi entah kemana.
"Duduklah sayang, aku akan memanggil mamahku dan
adikku." Katanya. Aku langsung menengok dan ia mengedipkan kedua matanya.
"Hehe, jangan marah." Katanya lagi.
❤❤❤❤
Aku meninggalkan Nieya sebentar setelah itu mencari Mamah
dan adikku.
"Kemana mamah dan adik- adikku." Kataku ke
Winda.
"Pulang Daeng." Jawabnya. Kutatap dirinya yang
terlihat ketakutan.
"Sepertinya aku tidak butuh pembantu... aku akan
menyuruh mama memberhentikanmu atau mempekerjakan di tempat lain. Kamu tidak
suka dengan Nieya saat kutinggal apalagi lebih lama." Kataku. Aku langsung
berbalik dan pergi tapi Winda memelukku dari belakang.
"Jangan Daeng, maafkan aku... jangan berhentikan
aku.'' Pintanya.
"Daeng.'' Panggil Nieya saat di ambang pintu. Aku
langsung melepaskan pelukan Winda saat Nieya melihat kami.
Nieya langsung tertunduk seraya mencoba tersenyum.
"Aku ingin pulang, bisa pesankan ojek online.''
Pinta Nieya setelah itu pergi sambil tertatih karena memakai tongkat. Aku
menatap Winda yang tersenyum puas, sepertinya sengaja.
"Murahan!" Umpatku ke Winda sebelum akhirnya
pergi menyusul Nieya.
❤❤❤❤
Aku berdiri di pinggir jalan sambil menunggu ojek online
yang kupinta. Hatiku sedikit sakit melihat tadi...
Winda menyeringai saat memeluknya, andaikan aku belum
tobat sudah kubalas perbuatannya.
"Apa yang kamu harapkan Nieya, kamu cacat dan tidak
pantas bersamanya.'' Kataku ke diri sendiri. pedih hatiku tanpa rasa air
mataku jatuh.
"Nieya." Panggil Althan. Aku segera menengok
dan dan tersenyum. Ia melangkah tapi aku menahannya dengan gelengan.
"Sudah pesankan ojek online?" Tanyaku. Dia
menggeleng sambil melihat pipiku. Aku segera mengusap tangisku.
"Aku kelilipan saat debu datang." Kataku cepat.
"Kemarilah, aku yang antar." Katanya sambil
berkacak pinggang. Aku menggeleng kemudian berbalik untuk meninggalkannya. Baru
malangkah ia menarik pinggangku kurasakan diriku tak lagi berjalan melainkan di
gendong.
"Althan." Kataku penuh malu.
"Jangan pernah jalan sendirian di jalan raya. Aku
tidak mau kau tertabrak." Ujarnya . Aku langsung terdiam segitu
perhatiannya kah dirinya.