Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 25



Nieya menggandeng Althan saat masuk ke dalam rumahnya.


‘’Assalamualaikum.’’ Salam Altan.


‘’Walaikumsallam” Salam ibu yang baru dari dapur ia


menegakan kepalanya dari sarung yang ia lipat. Ibu langsung menutup mulutnya


saat Althan membawa Nieya.


‘’Nieya, anak ibu.’’ Kata Ibu ia tak kuasa menahan tangis


karena anaknya kembali. Nieya melepaskan pegangannya dan langsung memeluk sang


ibu.


‘’Ibu, ibu Nieya kangen.’’ Kata Nieya. Ibu memeluk


anaknya lalu melihat Althan dan bahagia.


‘’Bagaimana keadaanmu nak.’’ Kata Ibu sambil melepaskan


pelukannya dan melihat Nieya.


‘’Baik bu, dan cucu ibu juga baik.’’ Nieya mengelus


perutnya membuat ibu ikut memegangnya.


‘’Kita rawat dia sama- sama ya, cucu kesayangan Eyang.


Ibu ingin dipanggil eyang olehnya kelak.’’ Kata Ibu. Nieya mengangguk lalu


melihat Althan yang tersenyum dan mengangguk.


‘’Bapak mana bu?’’ Tanya Nieya.


‘’Bapak sedang antar makanan Mba, duduk.’’ Ibu menuntut


Nieya. “Althan sini sayang dudu atau baring di kasur pasti dirimu lelah.’’ Kata


Ibu.


‘’Iya bu, Saya mau baring di depan tv situ aja.’’ Althan


membuka jaketnya lalu di berikan ke Nieya ia kemudian berbaring di sana sambil


menyetel acara tv dan bertadah kipas angin.


‘’Bapak sekarang bekerja kah bu?’’ Tanya Nieya. Ibu


mengangguk.


‘’Berkat jualan yang kamu dirikan Bapak bisa kredit motor


lalu ojek online, hidup kita lebih baik dari yang dulu apalagi adanya Althan.’’


Kata Ibu sambil melihat Althan yang mulai menutup mata dan mendengkur bahkan


remot di tangannya terlepas.


‘’Kami akan menikah bu, secepatnya. Ibu merestui kan?’’


kata Nieya. Ibu mengangguk.


‘’Ibu merestui nak, dirimu pantas bahagia seperti


Keana.’’ Jawabnya.


‘’Keana sudah pindah bu di dubai, hm jadi mau tinggal di


luar negeri juga.’’ Kata Nieya sambil melihat Altan tertidur pulas.


‘’Oh ya, Riko sebentar lagi pulang dan ibu belum masak.


Ibu berdiri tapi Nieya menahannya.


‘’Beli makan aja bu di luar. Sebentar.’’ Nieya berdiri


lalu duduk di samping Althan yang tertidur. Nieya meraba hp milik calon


suaminya untuk memesan makanan via online.


‘’Sttt.’’ Nieya mengelus dada Althan sambil memesan


makanan pakai aplikasi di hp calon suaminya. Althan berbalik kanan lalu memeluk


pinggang Nieya.


‘’Dingin.’’ Gumam Althan. Nieya mematikan kipas angin


lalu meminta ibu ambilkan selimut.


‘’Bu ada sarung bapak gak?’’ kata Nieya dan ibu


mengangguk beliau masuk ke kamar untuk mengambilnya.


‘’Ini, mau hujan diluar baru anginkan kencang semoga


bapak dan Riko cepet pulang.’’ Kata Ibu.


‘’Iya bu.’’ Nieya mengambil sarung saat itu keluar dari


kamar dan memakaikannya ke Althan.


menyiapkan makanan yang ia pesan tadi. Deruman motor terdengar lalu pekikan


Riko saat memberi salami a belum sadar kalau Nieya ada.


‘’Assalamualikum, Ibu minta handuk. Dingin.’’ Kata Riko


dari depan pintu. Bapak turun dari motor dan melipat jas hujan yang ia pakai.


‘’Kamu sih le, gak mau dipake.’’ Kata Bapak lalu Riko


tersenyum.


Althan mulai sadar ia melihat ke atasnya asal suara


memekik tadi, Althan merenggangkan badannya lalu berbalik ke dinding dan


melipat kedua tangannya ia mencoba untuk tidur lagi.


‘’Ini.’’ Kata Nieya. Riko dan bapak terkaget.


‘’Huah Mbak.’’ Riko langsung masuk dan memeluk Mbanya ia


menangis haru karena mbanya kembali.


‘’Mba kamu sudah pulang.’’ Bapak memeluk putri satu-


satunya.


‘’Sudah pak tadi siang, Riko ganti baju sayang tapi


keringkan dulu badanmu.’’ Ujar Mba sambil menggosok kepala Riko dengan handuk.


‘’Gantiin mba.’’ Riko membawa Nieya ke kamarnya.


‘’Mba, Riko rindu.’’ Kata Riko yang duduk di sudut kasur


sedangkan Nieya mengambil pakaian di lemari. ‘’Mba tega tinggalin Riko, Mba


tega ninggalin adiknya di saat tidur.’’ Riko menghapus air matanya sambil


sesenggukan oelan. Nieya meletakan pakaian adiknya di atas kasur lalu ia


memeluk sang adik.


‘’Mba minta maaf sudah ninggalin Riko, mba janji gak akan


ninggalin kalian lagi.’’ Kata Nieya sambil ikut menangis. ‘’Jangan nangis kita


harus bahagia sekarang.’’ Kata Nieya sambil menghapus air mata anaknya.


‘’Apa di sini ada keponakan Riko. Riko mau dipanggil Mas


nantinya.’’ Riko mengelus perut Mbanya.


‘’Iya, keponakan Riko ada disini. Ayo ganti baju beru


makan.’’ Kata Nieya sambil membantu adiknya berganti baju.


Ibu dan bapak mengintip di balik kain korden di pintu,


mereka berdua merasa terharu  melihat


kedua anaknya saling menangis dan berpelukan lalu tersenyum bersama.


Dulu mereka menderita tapi sekarang mereka akan bahagia…


Bahagia


Bahagia


Dan bahagia selamanya.


*****


Riko dan Nieya keluar dari kamar sedangkan ibu dan bapak


duduk di ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tv.


‘’Wah, makanannya banyak.’’ Pekik Riko lalu mendekati


makanan di meja tamu. Althan baru datang dari kamar mandi setelah itu minta di


elapkan wajahnya oleh Nieya. Nieya mengambil helaian tisu lalu mengelap wajah


calon suaminya.


‘’Manja banget sih.’’ Kata Nieya pelan. Althan tersenyum


dan mengelus perutnya.


‘’Harus.’’ Jawabnya.


‘’Ayo makanan.’’ Kata ibu. Althan duduk di kursi tamu di


samping Riko kemudian Nieya di tengah ibu dan bapak.


Mereka makan dalam canda dan tawa sesekali Althan


menganggu Riko begitupun sebaliknya. Nieya, ibu dan bapak hanya tertawa melihat


tingkat mereka.