Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 31 (Tamat)



Althan membuka matanya saat


cahaya terang masuk ke dalam ruangan, lelaki itu kemudian melengguh sambil


merenggangkan badannya. Ia kemudian melihat tempat tidur Nieya yang kosong Ia


segera bangun dan keluar dari kamar hotel.


‘’Kemana dia?’’ Tanya Althan


sambil menyusuri lorong hotel setelah itu Ia membuka pintu lift dan di sanalah


sang istri tercinta dengan jintingan sarapan.


‘’Sudah bangun.’’ Nieya keluar


lalu menggandeng Althan untuk ke kamar mereka.


‘’Menurutmu? Apa yang kamu


bawa?’’ Tanya Althan lalu Nieya memberikan belanjaan ke Althan


‘’Sarapan, ada bubur ayam dan


nasi kuning telur.’’ Nieya membuka pintu kamar lalu masuk bersama Althan. Lelaki


itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sedangkan Nieya menyiapkan sarapan.


Setelah lima belas menit Althan keluar dengan wajah yang basah. Nieya segera


mengambil handuk kecil lalu mengusap wahag suaminya.


‘’Jam sepuluh kita check out,


langsung pulang kerumah.’’ Kata Althan dan Nieya mengangguk.


‘’Boleh tapi sekarang masih jam


delapan, sarapan dulu.’’ Nieya menuntun Althan duduk di sofa setelah itu


mempersilahkan suaminya untuk makan. Althan mengambil nasi kuning lalu


menyendokannya ke dalam mulut sedangkan Nieya mengambil bubur ayam untuk


dirinya dan juga baby.


*****


Tepat jam sepuluh pagi Althan


dan Nieya check out dari hotel. Althan menyeret koper di belakang Nieya dengan


santai.


‘’Pake taxi aja.’’ Kata Althan


yang sudah memesan sebelum turun ke lobby. Althan kemudian menggandeng Nieya


untuk masuk ke dalam mobil dan memasukan koper ke bagasi. Stelah selesai Ia


masuk dan duduk di samping istrinya.


‘’Kita pulang kerumahku ya.’’


Kata Althan dan Nieya menurut. Lelaki itu kemudian mendekatkan kepalanya di


perut Nieya lalu menciumnya dengan sayang.


‘’Anak Daddy sehat? Nanti kita


ke rumah sakit ya.’’ Katanya Althan, Nieya tersenyum sambil mengusap rambut


suaminya.


‘’Gak usah kerumah sakit,


klinik saja sudah cukup.’’ Kata NIeya. Althan bangun dan duduk seperti semula.


‘’Nope, lebih baik aku


panggilkan dokter untuk kerumah. Apa perutmu masih sakit?’’ Tanya Althan lalu


Nieya menggeleng sambil melihat kedepan.


‘’Kok macet ya?’’ Tanya Nieya.


‘’Sepertinya ada kecelakaan Bu,


di depan.’’ Balas driver. Althan lalu keluar karena banyak orang yang


berkumpul, awalnya Althan biasa saja tapi setelah itu terkaget karena kondisi


yang tertabrak sangat tragis


‘’Dia masih hidup.’’ Kata salah


satu orang.


‘’Serius Pak? Dia sudah


begitu.’’ Kata Althan. Althan melihat wajahnya hancur dan tertancap besi bahkan


bola matanya terkeluar. Althan segera pergi saat Nieya keluar Ia menyuruh


istrinya masuk lagi.


‘’Kenapa? Aku mau lihat.’’ Kata


Nieya namun Althan menggeleng lalu mendorong Nieya ke dalam mobil.


‘’Jangan liat nanti kamu muntah.’’


Kata Althan yang tiba- tiba saja menrasa mual.


****


Lima belas menit berlalu kini


Althan dan Nieya sudah sampai di depan rumah. Lelaki itu turun begitupun dengan


Nieya. Setelah mengambil koper mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh


keluarga besar Althan.


‘’Selamat datang.’’ Ucap Emily.


Nieya tersenyum sambil memeluk adiknya Althan. Emily melihat Althan dan


kakaknya itu tersenyum.


‘’Papah dan Mamah kemana?’’


Tanya Althan saat kedua orang tuanya tidak menampakan diri.


‘’Rumah sakit buat cek up.


ck.’’ Kata Emily ke Nieya.


‘’Makasih Emily, kamu baik


sekali.’’ Kata Nieya sambil melepaskan pelukannya.


‘’Jangan begitu, Oh ya. Apa


semalam kalian sudah ekhm.’’ Emily memberi kode ke Althan dan Nieya namun


mereka berdua menggeleng sambil tersipu malu.


‘’Belum, nanti saja kalau bulan


madu.’’ Jawab Althan. Mereka bertiga duduk di sofa hitam


‘’Kapan rencana bulan madu


Daeng?’’ Tanya Emily.


‘’Secepatnya, mungkin besok.’’


Jawab Althan. Nieya menyandarkan kepalanya di bahu suami.


‘’Daeng, aku kepengen makan


telur gulung.’’ Pinta Nieya.


‘’Telur gulung itu apa?’’ Tanya


Althan yang baru dengar namanya.


‘’Ya telur yang di gulung pakai


tusukan, Daeng.’’ Jawabnya Nieya. Nieya melihat Althan sambil mengelus


perutnya.


‘’Anak kita menginginkannya,


mau dia ileran?’’ kata Nieya. Emily menahan tawa saat melihat mimik kakaknya.


‘’Cari dimana itu?’’ Tanya


Althan.


‘’Gak tau, Daeng harus


mencarinya sampai dapat.’’ Kata Nieya.


‘’Biasanya kalau ngidamnya gak


kesampaian nanti anaknya ileran ih jorok.’’ Kata Emily tak lama Ia berdiri


sambil bergedik. ‘’Ngces terus mulutnya ih.’’


Tanpa lama Althan langsung


berdiri dan mencari kunci mobil.


‘’Ayo kita cari.’’ Katanya


sambil membayangkan jika anaknya ileran ih.


Nieya tersenyum sambil mengikuti


suaminya dari belakang.


**


Althan menyusuri lapangan


merdeka setelah berkeliling seluruh mall di Balikpapan, Ia melirik Nieya yang


sudah bête karena telur gulungnya belum dapat.


‘’Pulang aja.’’ Kata Nieya yang


sudah nampak lelah. Althan menggandeng Nieya lalu tersenyum


‘’Kita cari sana jika tidak ada


kita pulang.’’ Jawab Althan.


Sepertinya ngidamnya Nieya


tercapai, di ujung jalan terdapat rombong jual gorengan dan di situ ada telur


gulung. Althan melihat Nieya yang sumringah sambil mendatangi pedagang jajanan.


Althan tertawa pelan sambil menyilangkan tangannya sambil melihat Nieya.


****


Nieya mengelus perutnya saat


Althan membayar, hari mulai sore dan banyak orang yang jogging ataupun jalan-


jalan.


‘’Kenapa gak bawa sepatu ya,


biar bisa jogging.’’ Kata Althan saat melihat orang- orang.


‘’Bukan rejeki berarti, jalan-


jalan yuk.’’ Nieya menggandeng tangan Althan lalu jalan- jalan mengeliling


lapangan merdeka setelah itu ke kolam berenang Benua Patra  bukan untuk berenang melainkan duduk di kafenya


sambil melihat deburan air di pesisir pantai.


****


Bulan madu…


Althan dan Nieya sudah berada


di dalam pesawat setelah kemarin jalan- jalan mencari telur gulung. Semalam


Nieya merengek ingin ke Ubud Bali padahal Althan sudah memesan tiket ke Raja


Ampat.


Ia akan menghabiskan waktu


berdua selama seminggu di sana sebelum akhirnya melanjutkan kehidupan di negeri


Singapura.


TAMAT