
Althan membuka matanya saat
cahaya terang masuk ke dalam ruangan, lelaki itu kemudian melengguh sambil
merenggangkan badannya. Ia kemudian melihat tempat tidur Nieya yang kosong Ia
segera bangun dan keluar dari kamar hotel.
‘’Kemana dia?’’ Tanya Althan
sambil menyusuri lorong hotel setelah itu Ia membuka pintu lift dan di sanalah
sang istri tercinta dengan jintingan sarapan.
‘’Sudah bangun.’’ Nieya keluar
lalu menggandeng Althan untuk ke kamar mereka.
‘’Menurutmu? Apa yang kamu
bawa?’’ Tanya Althan lalu Nieya memberikan belanjaan ke Althan
‘’Sarapan, ada bubur ayam dan
nasi kuning telur.’’ Nieya membuka pintu kamar lalu masuk bersama Althan. Lelaki
itu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sedangkan Nieya menyiapkan sarapan.
Setelah lima belas menit Althan keluar dengan wajah yang basah. Nieya segera
mengambil handuk kecil lalu mengusap wahag suaminya.
‘’Jam sepuluh kita check out,
langsung pulang kerumah.’’ Kata Althan dan Nieya mengangguk.
‘’Boleh tapi sekarang masih jam
delapan, sarapan dulu.’’ Nieya menuntun Althan duduk di sofa setelah itu
mempersilahkan suaminya untuk makan. Althan mengambil nasi kuning lalu
menyendokannya ke dalam mulut sedangkan Nieya mengambil bubur ayam untuk
dirinya dan juga baby.
*****
Tepat jam sepuluh pagi Althan
dan Nieya check out dari hotel. Althan menyeret koper di belakang Nieya dengan
santai.
‘’Pake taxi aja.’’ Kata Althan
yang sudah memesan sebelum turun ke lobby. Althan kemudian menggandeng Nieya
untuk masuk ke dalam mobil dan memasukan koper ke bagasi. Stelah selesai Ia
masuk dan duduk di samping istrinya.
‘’Kita pulang kerumahku ya.’’
Kata Althan dan Nieya menurut. Lelaki itu kemudian mendekatkan kepalanya di
perut Nieya lalu menciumnya dengan sayang.
‘’Anak Daddy sehat? Nanti kita
ke rumah sakit ya.’’ Katanya Althan, Nieya tersenyum sambil mengusap rambut
suaminya.
‘’Gak usah kerumah sakit,
klinik saja sudah cukup.’’ Kata NIeya. Althan bangun dan duduk seperti semula.
‘’Nope, lebih baik aku
panggilkan dokter untuk kerumah. Apa perutmu masih sakit?’’ Tanya Althan lalu
Nieya menggeleng sambil melihat kedepan.
‘’Kok macet ya?’’ Tanya Nieya.
‘’Sepertinya ada kecelakaan Bu,
di depan.’’ Balas driver. Althan lalu keluar karena banyak orang yang
berkumpul, awalnya Althan biasa saja tapi setelah itu terkaget karena kondisi
yang tertabrak sangat tragis
‘’Dia masih hidup.’’ Kata salah
satu orang.
‘’Serius Pak? Dia sudah
begitu.’’ Kata Althan. Althan melihat wajahnya hancur dan tertancap besi bahkan
bola matanya terkeluar. Althan segera pergi saat Nieya keluar Ia menyuruh
istrinya masuk lagi.
‘’Kenapa? Aku mau lihat.’’ Kata
Nieya namun Althan menggeleng lalu mendorong Nieya ke dalam mobil.
‘’Jangan liat nanti kamu muntah.’’
Kata Althan yang tiba- tiba saja menrasa mual.
****
Lima belas menit berlalu kini
Althan dan Nieya sudah sampai di depan rumah. Lelaki itu turun begitupun dengan
Nieya. Setelah mengambil koper mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh
keluarga besar Althan.
‘’Selamat datang.’’ Ucap Emily.
Nieya tersenyum sambil memeluk adiknya Althan. Emily melihat Althan dan
kakaknya itu tersenyum.
‘’Papah dan Mamah kemana?’’
Tanya Althan saat kedua orang tuanya tidak menampakan diri.
‘’Rumah sakit buat cek up.
ck.’’ Kata Emily ke Nieya.
‘’Makasih Emily, kamu baik
sekali.’’ Kata Nieya sambil melepaskan pelukannya.
‘’Jangan begitu, Oh ya. Apa
semalam kalian sudah ekhm.’’ Emily memberi kode ke Althan dan Nieya namun
mereka berdua menggeleng sambil tersipu malu.
‘’Belum, nanti saja kalau bulan
madu.’’ Jawab Althan. Mereka bertiga duduk di sofa hitam
‘’Kapan rencana bulan madu
Daeng?’’ Tanya Emily.
‘’Secepatnya, mungkin besok.’’
Jawab Althan. Nieya menyandarkan kepalanya di bahu suami.
‘’Daeng, aku kepengen makan
telur gulung.’’ Pinta Nieya.
‘’Telur gulung itu apa?’’ Tanya
Althan yang baru dengar namanya.
‘’Ya telur yang di gulung pakai
tusukan, Daeng.’’ Jawabnya Nieya. Nieya melihat Althan sambil mengelus
perutnya.
‘’Anak kita menginginkannya,
mau dia ileran?’’ kata Nieya. Emily menahan tawa saat melihat mimik kakaknya.
‘’Cari dimana itu?’’ Tanya
Althan.
‘’Gak tau, Daeng harus
mencarinya sampai dapat.’’ Kata Nieya.
‘’Biasanya kalau ngidamnya gak
kesampaian nanti anaknya ileran ih jorok.’’ Kata Emily tak lama Ia berdiri
sambil bergedik. ‘’Ngces terus mulutnya ih.’’
Tanpa lama Althan langsung
berdiri dan mencari kunci mobil.
‘’Ayo kita cari.’’ Katanya
sambil membayangkan jika anaknya ileran ih.
Nieya tersenyum sambil mengikuti
suaminya dari belakang.
**
Althan menyusuri lapangan
merdeka setelah berkeliling seluruh mall di Balikpapan, Ia melirik Nieya yang
sudah bête karena telur gulungnya belum dapat.
‘’Pulang aja.’’ Kata Nieya yang
sudah nampak lelah. Althan menggandeng Nieya lalu tersenyum
‘’Kita cari sana jika tidak ada
kita pulang.’’ Jawab Althan.
Sepertinya ngidamnya Nieya
tercapai, di ujung jalan terdapat rombong jual gorengan dan di situ ada telur
gulung. Althan melihat Nieya yang sumringah sambil mendatangi pedagang jajanan.
Althan tertawa pelan sambil menyilangkan tangannya sambil melihat Nieya.
****
Nieya mengelus perutnya saat
Althan membayar, hari mulai sore dan banyak orang yang jogging ataupun jalan-
jalan.
‘’Kenapa gak bawa sepatu ya,
biar bisa jogging.’’ Kata Althan saat melihat orang- orang.
‘’Bukan rejeki berarti, jalan-
jalan yuk.’’ Nieya menggandeng tangan Althan lalu jalan- jalan mengeliling
lapangan merdeka setelah itu ke kolam berenang Benua Patra bukan untuk berenang melainkan duduk di kafenya
sambil melihat deburan air di pesisir pantai.
****
Bulan madu…
Althan dan Nieya sudah berada
di dalam pesawat setelah kemarin jalan- jalan mencari telur gulung. Semalam
Nieya merengek ingin ke Ubud Bali padahal Althan sudah memesan tiket ke Raja
Ampat.
Ia akan menghabiskan waktu
berdua selama seminggu di sana sebelum akhirnya melanjutkan kehidupan di negeri
Singapura.
TAMAT