
Tantra sudah sadar ia melihat
ke sekeliling ruangan, kosong. Ia menghembuskan nafasnya tapi tunggu, Ellie
datang dari balik pintu toilet lalu mendatangi dirinya.
''Kamu sudah bangun.'' Ellie
duduk di samping mantan suaminya.
''Ellie.'' Panggil Tantra.
''Ini aku Ellie. Dirimu memang
sakit kenapa waktu disana tidak berobat.'' Kata Ellie.
''Aku baru tau kalau diriku
memiliki penyakit ini.''
''Berobat ya, harus sembuh kata
dokter kemungkinan 60% bisa sembuh bahkan 90%.'' Kata Ellie.
''Tapi aku ingin bersama kalian
kalau tidak biarkan saja penyakit ini tambah parah.'' Katanya Tantra. Ellie
tersenyum lalu menggeleng.
''Jangan, kamu tidak ingin
melihat cucu- cucumu terutama menjadi wali nikah Althan.'' Kata Ellie.
''Mau, apa mereka akan
kesini?'' Tanya Tantra.
''Iya, mereka akan kesini
sehabis makan siang.'' Jawabnya Ellie.
111
Althan menjemput Nieya
dirumahnya.
''Ayo.'' Kata Althan ke Nieya
yang duduk di teras rumah sambil menunggu jualan.
''Mau kemana?'' Tanya Nieya ia
berdiri dengan tongkat karena kaki palsunya ia lepas. Althan membantu
Nieya berdiri setelah itu mencium keningnya sekilas.
''Rumah sakit, papahku masuk
rumah sakit.''
''Ah, kok gak bilang
sejak kapan? Aku ganti baju dulu.'' Nieya masuk kerumah begitupun dengan
Althan. Althan duduk di ruang tamu tak lama Iby datang dari dapur.
"Loh, ada
Althan. Kapan datang, Nak? " Ibu bertanya sambil duduk.
"Barusan tadi Bu,
Papah saya masuk rumah sakit jadi mau jenguk sekaligus ngenalin Nieya. "
Tak lama Nieya keluar dari
kamar lalu duduk di samping Althan dengan pakaian rapi dan sopan. Althan
menggenggam tangan Nieya membuat wanita itu ingin menariknya karena malu sama
Ibu.
"Malu ada Ibu." bisik
Nieya. Ibu tersenyum tak lama ia berdiri melihat jualan. Althan
tertawa pelan kemudian menarik Nieya untuk lekas pergi.
"Ayo, mereka sudah
menunggu kita. " Ujar Althan.
Althan dan Nieya keluar dari
rumah setelah itu berpamitan dengan Ibu yang sedang melayani pembeli yang baru
saja datang.
"Ibu pergi dulu."
kata Nieya sambil mencium pipinya karena kedua tangan Ibu sedang sibuk dengan
pesanan orang. "
"Iya, Mbak.
Hati- hati. "Kata Ibu. Althan mendekat lalu mendekap Ibu dari
belakang.
"Ibu aku juga pergi
ya, nanti kalau Riko pulang kasih tau ya Bu." kata Althan. Ibu
tertawa melihat tingkah calon menantunya.
"Ganteng ya Bu,
anaknya. " puji pembeli sambil melihat Althan. Althan tersenyum
sambil melepaskan pelukannya.
"Anak saya yang cewek
bu, Nieya. Kalau cowok ini calon suaminya. " kata Ibu dan
pembeli itu ber oh ria.
"Saya kira yang cowok
Bu, soalnya penyayang banget jadi iri deh. " kata pembeli. Ibu
tersipu malu.
"Ibu pergi dulu.
Assalamualaikum. " kata Althan sambil membuka pintu mobil untuk Nieya
setelah itu ia masuk di pintu kemudi.
"Datang gak salam malah
pergi baru salam. Gimana Daeng ini. " kata Nieya. Althan
terkekeh sambil memasang sabuk pengaman.
"Sayang pake sabuknya.
" kata Althan. Althan menyalakan mobilnya lalu membuka kaca di
samping Nieya.
"Ibu pergi dulu. "
Althan mengklakson mobilnya setelah itu pergi ke rumah sakit.
"Daeng gak pernah cerita
soal papahnya ke aku dan baru ini tau. " kata Nieya. Althan menengok
sebentar lalu fokus menyetir.
"Aku tidak suka
membicarakan yang sudah menjadi masa lalu, Menurutku masa lalu
sudah berlalu dan tidak akan terulang lagi di masa sekarang. Papah dan Mamah
bercerai karena mamah seorang pelayan di bar, mamah terpaksa menjadi
pelayan demi menghidupi Aku, Elthan dan Emily. " kata Althan
"Emily memilih menikah muda karena tidak ingin menyusahkan mamah lalu
Elthan bekerja dari bawah dari seorang kuli hingga karyawan tetap. "
lanjutnya. "Dan calon suamimu ini menderita dan masuk penjara hingga
di rehab. " kata Althan sambil tertawa pedih.
"Kenapa Daeng masuk
penjara dan di rehab? " tanya Nieya.
"Aku mencoba melakukan
percobaan pembunuhan dan yang ingin ku bunuh adalah papahku sendiri,
karena dia menabrak mamah hingga kakinya seperti dirimu. " kata
Althan. Althan memukul dadanya agar tidak sakit lalu Nieya menarik
tangannya dan menggengamnya erat.
"Dadaku sesak haha. "
kata Althan sambil tertawa sakit.
"Maafin aku Daeng sudah
bicara masa lalunya "
"Gakpapa sayang. "
jawab Althan.
❤❤❤❤
Nieya sedikit gugup untuk
bertemu dengan seluruh anggota keluarga Althan apalagi papahnya, karena
ia takut di tolak karena memiliki keterbatasan.
Clek.
Pintu rumah sakit terbuka lalu
Althan dan Nieya masuk. .
"Bagaimana kondisi papah?
" tanya Althan sambil melihat mamah yang menyiapkan makan siang. makan
siang hasil beli di luar bukan masak ckck.
"Sudah sadar terus lagi di
kamar mandi katanya gak nyaman kalau buang air dari kasur gitu. "
jawabnya.
"Oh, ada Nieya mah. "
kata Althan sambul duduk di hadapan makanan dan mencuilnya satu persatu
hidangan.
"Nieya sini, lama
sudah tidak bertemu. " Mamah mendekati Nieya yang malu- malu.
kemudian meminum air putih.
"Hai Mba. " sapa
Emily yang baru saja datang tak lama Elthan dari belakang Emily.
"Siapa ini? " tanya
Elthan sambil meletakan tas laptop di sofa. Mamah kemudian pergi ke kamar
mandi untuk melihat Tantra.
"Calon istriku. "
jawab Althan sambil mendekati Nieya dan memeluk pinggangnya.
"Oh, pacarnya Daeng
gitu? Yang mau Daeng nikahin? Salam kenal. " Elthan melepas
pelukan Althan lalu ia memeluk Nieya. Elthan mirip dengan Althan tapi
lebih muda.
"Calon istriku. "
protes Althan. Nieya tersenyum sambil membalas pelukan Elthan.
"Tau Ai. " balas
Elthan sambil melirik kakaknya sambil melepaskan pelukannya. "Mba
Nieya dirimu nampak kalem ya. Tolong kalau sudah menikah dengan kakakku
jagain dia, dia pemanja sekali seperti anak kecil, iseng, kejam dan
tentunya dia baik. " kata Elthan ke Nieya. Nieya mengangguk lalu
melihat Althan di belakang El. Althan tersenyum membuat Nieya tersipu
malu.
"Daeng gak manja
kok, justru aku yang manja sama dia. Daeng dewasa banget
orangnya membuatku suka dan nyaman terus dia selalu pengertian dan buat aku
nyaman. " jawab Nieya seraya tertunduk malu. Althan menarik Nieya
lalu memeluknya.
"Aku jadi iri. " kata
Emily. "Daeng Althan kau janji ingin membelikanku tas dan kau Daeng
El mana make up yang kau janjikan. " kata Emily sambil melipat kedua
tangannya. Tak lama suami Emily datang yaitu Rayhan.
"Buat apa? Kurang banyak
tas dan make up yang kau punya dirumah hah? " tanya sang suami sambil
membawa Emily duduk di sofa.
"Ish, mereka berdua
janji tadi malam sayang. " kata Emily kesal.
"Nanti aku yang belikan
sekarang diam dan aku mau tidur " Rayhan berbaring di paha Emily lalu mulai
tertidur
"Itu suaminya Emily
namanya Rayhan, dia pengusaha di bidang IT. " kata Althan.
"Lebih ganteng dari dirimu
Daeng." bisik Nieya. Althan tersenyum sambil membawa ia duduk di
kursi.
"Lantas, calon
suamimu ini gak ganteng gitu? "
"Ganteng hanya saja mirip
Danu cueknya. " kata Nieya.
"Dia masih saudara sama
Danu cuma gak saling kenal karena berjauhan. Rayhan tau Danu tapi Danu gak tau
Rayhan. " jawab Althan.
"Oh, kok bisa gitu?
" tanya Nieya. Althan menggedikan bahunya
"Katanya Rayhan adik tiri
Danu dari istri kedua papahnya tapi gak tau juga bener apa enggak. Udah gak
usah bahas dia. " kata Althan cemburu.
Emah datang yaitu istri Eltan
dengan membawa dua buah rantang makanan.
"Eh sudah pada ngumpul.
" kata Emah sambil meletakan makanannya. " Renna,
Rannold, Elma, Sean dan Seana pulang sekolah baru kesini di
jemput sama supir mas Rayhan ya? " kata Elma. Rayhan yang mendengar
mengangguk tanpa bangun.
"Mereka satu
sekolah, Renna, Rannold dan Elma anaknya Elthan dan Emah kalau Sean
dan Seana anaknya Rayhan dan Emily." jelas Althan.
"Namanya bagus ya ke bule-
bulean." kata Nieya. Althan tersenyum
"Kami orang Belanda
Nieya. Papah kami asli belanda tapi besar di Indonesia. "Jelas Emily
dan Elthan mengangguk begitupun dengan Althan.
Dua orang parug baya keluar
dengan sigap Althan dan Eltan serta Rayhan menuntun Tantra untuk berbaring di
kasur, membuat sang papah tertawa bahagia. Althan membaringkan kepala
lalu Elthan badannya dan Rayhan kakinya hingga papah mereka berbaring indah di
atas sana.
"Ini siapa? " tanya
Tantra saat matanya melihat ke Nieya. Althan memanggil Nieya untuk
mendekat.
"Calon istriku pah, dan di
dalamnya ada anak Althan. " Althan mengusap perut Nieya.
"Althan nakal, belum
nikah sudah hamilin anak orang. Ayo nanti kalau papah sembuh kita lamar
dia buat kamu. " ujar Papah. Nieya malu ia kemudian memeluk Althan.
"kalian bertiga sudah besar.
Althan, Elthan dan Emily. Maafin papah sudah meninggalkan kalian. "
kata papah, suasana sendu mulai terasa
"Papah, kami tumbuh
dengan sempurna berkat mamah. Dia berhasil mendidik kami untuk tidak
menjadi buruk. " ungkap Emily di samping papahnya.
"Mamah selalu
bilang, kita harus jadi orang pintar biar suatu saat bisa bertemu dengan
papah. " kata Elthan.
"Cuma Althan yang paling
buruk pah. Maaf gak bisa bahagiain kalian seperti Elthan dan Emily.
" kata Althan. Papah menggeleng dan menggenggam tangan anak
pertamanya
"Siapa bilang? Kau
mampu menduduki jabatan direktur utama di sebuah perusahaan temanmu dan mampu
menjalankannya dengan sempurna. Papah selalu dengar namamu hingga negeri
singa, para kolega membicarakanmu setiap kembali dari Indonesia. "
cerita Tantra. "Papah punya hadiah buat kalian, hadiah yang membuat
papah mati dengan tenang nantinya. "
"Papah ngomong apa sih,
papah harus sembuh. Gak liat cucu papah di dalam sana. " tunjuk
Emily ke perut Nieya.
Nieya menarik kursi lalu duduk
di samping Tantra.
"Nama saya Nieya om,
saya tidak sempurna dan memiliki keterbatasan tapi Daeng menerima apa
adanya. Dia baik sekali dan dewasa ia mampu mengubahku untuk menjadi yang
lebih baik sama penyayang. " cerita Nieya. Althan menarik kursi satu
lalu duduk di samping Nieya.
"Althan gak lihat dari
fisik pah, tapi dari dalam dirinya. Papah merestui kami kan? "
tanya Althan
"Tentu saja papah
merestui. Keluarga kita harus saling menyayangi dan mencintai tidak boleh
ada yang boleh menjelekan calon memantuku. " ujar Tantra. Mamah yang
duduk di sofa langsung terharu melihat ketiga anaknya dan juga ketiga menantunya
bercengkrama dengan sang mantan suami.