
Tidak bisa di biarkan. Althan mengambil ponselnya dan
menelfon seseorang.
"Dia dimana?" Tanya Althan.
"Di sebuah taman bersama adiknya, Tuan." Jawab
pengawal rahasia yang di berikan Althan ke Nieya secara diam- diam.
"Baiklah, awasi dia dan jangan sampai tau."
Althan berdiri dan menatap jendela yang memberikan
pemandangan kota Balikpapan.
"Apa masa lalumu Nieya, apa perlu aku mencarinya
sendiri?" Gumam lelaki itu.
Tok
Tok
Tok
Althan menyapu wajahnya kemudian berbalik.
"Masuk." Kata Althan seraya ia duduk di
kursinya.
"Daeng." Sapa Emily sang adik.
"Kenapa?" Tanya Althan to the point.
"Aku dapat kaki palsu yang bagus untuk kekasihmu,
harganya berfariasi tinggal pilih saja. Cek emailmu." Kata Emily. Emily
bekerja dengan Althan sebagai serketaris. adiknya itu dulu pernah bekerja di
bank swasta sebelum akhirnya berhenti dan menikah dengan salah satu pengusaha
juga.
"Yang paling bagus dan mahal. Agar dirinya bisa
berjalan sempurna." Jawab althan sambil memeriksa emailnya.
"Kenapa sih Daeng mau sama Nieya? Dia kan maaf,’’ ia
mengutip dengan kedua tangannya " "cacat" ". Kata Emily.
Althan menutup kedua wajahnya lalu bersandar seraya mengusap wajah itu lelah.
"Aku jatuh hati dengannya, seorang gadis pasar
penjual gado- gado. Namanya jodoh mau diapain lagi." Kata Althan.
"Hm, ajaklah kerumah mamah Daeng. Kita masak bareng
dan mengobrol." Kata Emily.
"Aku pernah mengajaknya tapi kalian sudah
pulang." Jawab Althan.
"Salah sendiri pulangnya kelamaan." Jawab
Emily.
"Hujan hujan hujan, jadi telat." Althan
beralasan.
"Pake mobil masa telat emang pemotor pake neduh
dulu."
Althan menghembuskan nafasnya sambil membuka map kuning.
Map itu berisi surat- surat pelepasannya di rutan dan rehab.
"Mau ketemuan lagi?" Tebak Emily. Althan
mengangguk sambil terenyum lesu.
"Biar aku yang menjemputnya. Dia dimana?" Tanya
sang adik sambil berdiri dan mengangkat tasnya.
"Taman bekapai." Jawab Althan.
"Baiklah, tunggu disini ya.'' Emily langsung pergi
untuk menjemput sang calon kaka ipar.
❤❤❤❤
Emily melepas kaca matanya saat melihat Nieya sedang
duduk sambil memangku sebuah buku dan bercerita dengan anak- anak yang duduk di
depannya. Anak- anak itu tertawa saat Nieya memperagakan menjadi seekor singa.
"Mba itu sederhana sekali." Gumam Emily karena
Nieya memakai kaos sopan berlengan panjang bewarna hijau toska dan roknya
putih. Emily memasang senyumannya sambil mendatangi mereka.
"Hay." Sapa Emily. Terlihat Nieya langsung
memudarkan senyumnya sambil menutup buku.
"Hai juga." Sapa Riko tak lama ia mengajak
teman- teman barunya bubar dan bermain di tempat lain.
"Mba namanya Nieya?" Tanya Emily sambil melipat
kaca mata dan di masukan ke dalam tas. Nieya mengangguk sambil melihat Emily
dengan pakaian kerjanya, sungguh modis sekali.
"Iya.'' Jawab Nieya.
"Perkenalkan, namaku Emily adiknya Daeng Althan.''
Emily menjulurkan tangannya dan Nieya menyambutnya.
"Hm, pantesan kok mukanya gak asing ternyata adenya
Daeng.'' Balas Nieya sambil tersenyum.
"Mirip ya?" Tanya Emily dan Nieya mengangguk
sambil melepas tangannya. "Ayo Mba, Daeng memanggilmu.''
Nieya sedikit kaget sambil melihat Emily.
"Kenapa? Padahal aku hari ini ingin disini."
Jawab Nieya.
"Daeng merindukan Mba, lagian dia gak bisa terus-
terusan keluar kantor nanti di marahi sama temennya. Temennya galak temprament
dan jutek." Jawab Emily sambil ke belakamg Nieya dan ingin mendorongnya.
"Tunggu." Kata Nieya. "Adikku." Nieya
berbalik lalu memanggil Adiknya.
"Riko, ayo kita mau pergi.'' Panggil Nieya. Sang
adik yang sedang bermain langsung mendatangi sang kakak.
"Mau kemana Mba? Nanti bapak jemput gimana?"
Ujar Riko.
"Ah iya ya.'' Jawab Nieya.
"Ada nomor telp? Biar saya katakan nanti.'' Kata
Emily. Nieya mengangguk sambil mengambil hp Emily dan memasukan nomor hpnya
bapak.
"Langsung telp aja." Ujar Emily. Nieya menelfon
bapak.
"Hallo hallo."
"Bapak ini Nieya, pak nanti tidak usah jemput karena
Nieya dan Riko sudah di jemput duluan sama adiknya mas Althan.
"Oh, iya ndok. Pulangnya jangan malem ya soalnya
Riko sekolah.
"Iya Pak.
"Yaudah kalo gitu bapak bantu ibu jualan.
"Iya pak
Panggilan terputus dan Nieya memberikan hpnya ke sang
"Okey, ayo kita pergi." Ujar Emily sambil
mendorong Nieya ke mobilnya.
❤❤❤❤
Althan menyambut kekasihnya datang dengan santai ia
membuka pintu kaca dan keluar menuju mobil Emily yang baru datang.
"Pst, wazir." Panggil Rista. Wazir yang sedang
mengelap kaca datang.
"Apa?" Tanya Wazir.
"Liat deh, mantan pelakor kok karmanya enak ya?
Dapat suami setara mas Danu." Bisik Rista. "Dulu kan dia jahat banget
terus aku juga jadi saksi dia dan mas Danu menikah." Ujar Rista. Wazir
mengangguk setuju sambil melihat Althan membuka pintu mobil sambil tersenyum.
"Ish, walaupun udah berlalu tetap aja gak suka,
kasian Bu Ana."
"Semoga karmanya gak dirasakan ke diri
sendiri." Ucap Kanza yang baru datang.
"Hastaga! Kaget mereka berdua.
"Kaget ya?" Tanya Kanza sambil memasukan kedua
tangannya ke saku celana. "Udah bubar mereka mau kesini." Ujar Kanza
lalu berbalik menuju ruangannya begitupun Wazir. Althan membuka pintu kaca
sambil lalu mendorong Nieya di belakangnya ada seorang bocah laki- laki.
"Ini kantornya punya Daeng?" Tanya Nieya. Riska
yang melihat langsung membuang pandangannya sambil membersihkan kuku.
"Punya pak Danu lebih tepatnya Ibu Keana bos
kami." Jawab Rista tanpa melihat mereka. Nieya langsung menengok dan ber
oh ria.
"Aku hanya menggantikan mereka. Mau duduk disini
atau di ruanganku?" Tanya Althan.
"Disini aja." Jawab Nieya.
"Mba, Riko boleh main disana?" Tunjuk Riko
tempat mainan milik Rayyan.
"Gak boleh duduk aja sama Mba." Kata Nieya.
Riko dengan lesu duduk di sofa tamu sambil melihat kakinya yang dekil.
"Assalaualaikum." Sapa lelaki berseragam smp.
"Walaikumsallam" jawab Rista.
"Mba ada mama gak? Atau papah?" Tanya Rayyan
sambil meletakan helm biru di samping ia kemudian melepas tasnya dan duduk di
samping Riko.
Riko melihat Rayyan tiba- tiba ia merasa sedih kapan
dirinya menjadi seperti dia pakaian sekolah bagus dan mahal.
"Loh bukannya dirumah?"
"Gak ada, Ray udah nelp tapi gak aktif terus adik-
adik di titipin tempat nenek. Mau kesana tapi capek jadi istirahat dulu."
Jawab Rayyan sambil bersandar."
"Eh, ada Ray. Papah dan Mamah ke Bali lusa baru
pulang." Kata. Ela yang baru turun dari ruangannya. Rayyan sontak berdiri
dan menuntut penjelasan.
"Kok gak bilang padahal tadi pagi kan? Uwah mereka
bulan madu terus." Kata Rayyan kesal. "Terus adik adikku?" Tanya
Rayyan.
"Dibawalah cuma kamu tinggal karena ulangan semester
" jawab Ella.
"Kok Mba Ella tau?"
"Taulah kan Mba yang beli tiketnya."
Rayyam duduk kembali dan bersandar sungguh tidak adil
bukan di tempat sang Nenek.
"Biarin deh mereka pergi Rayyan bisa main ps
sepuasnnya.’’ Rayyan melepas kemeja sekolah hingga menyisakan kaos hitam dan
ikat pinggang.
"Risih? Mau pindah." Bisik Althan ke Nieya. Nieya
menggeleng sambil melihat duplikat Danu.
"Mau makan?" Tawar Ella. Rayyan mengangguk
"Mau geprek sama ricis." Jawab Rayyan.
"Double ya pesannya sama buat dia.'' Tunjuk Rayyan ke Riko. "Hai, Aku
Ray..." Rayyan tersenyum sambil melipat kemejanya lalu dimasukan ke dalam
tas.
"Aku Riko." Jawabnya pelan.
"Mau temanin main ps? Ayo." Rayyan mengajak
Riko bermain di tempatnya.
"Disitu?" Tunjuk Riko sumringah. Rayyan
mengangguk sambil berjalan duluan.
"Mba jadi aku tidur dimana?" Kata Rayyan "
dirumah sendirian." Ujar Rayyan sambil menyalakan tv dan ps. Riko melihat
Nieya untuk meminta persetujuan.
"Ayo sini Riko, jangan takut... gak ada yang mau
ditakutin disini, mamah dan papahku gak ada. "
Rayyan menepuk tempat duduk di sebelahnya. Rayyan berdiri lalu memegang lengan
Riko.
"Eh tante baru liat. Maaf." Rayyan tersenyum
dan Nieya membalasnya
"Mainlah." Jawab Nieya. Riko langsung berdiri
dan melihat Rayyan tersenyum.
"Ayo."
Rayyan dan Riko duduk di depan ps.
"Pernah main ps?" Tanya Rayyan. Riko mengangguk
"Pernah tapi bayar empat ribu sejam di deket rumah,
tapi model lama."
"Ini ps baru, sebenarnya ini punyanya dirumah cuma
papah bawa kesini supaya aku gak mainan terus." Jawab Rayyan.
Dari jauh Nieya melihat Riko tersenyum sesekali bercerita
dengan Rayyan yang mendengarkan.
"Dia senang disini." Kata Althan dan Nieya
mengangguk.
"Permisi silahkan minumannya." Ujar Nazir yang
baru datang.
"Wah, makasih.'' Ujar Althan padahal tidak diminta.
"Sama- sama namanya tamu..." jawab Nazir
setelah itu ia berbalik dan melihat Rista dengan penuh luka.