Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 11



Tidak bisa di biarkan. Althan mengambil ponselnya dan


menelfon seseorang.


"Dia dimana?" Tanya Althan.


"Di sebuah taman bersama adiknya, Tuan." Jawab


pengawal rahasia yang di berikan Althan ke Nieya secara diam- diam.


"Baiklah, awasi dia dan jangan sampai tau."


Althan berdiri dan menatap jendela yang memberikan


pemandangan kota Balikpapan.


"Apa masa lalumu Nieya, apa perlu aku mencarinya


sendiri?" Gumam lelaki itu.


 


 


Tok


Tok


Tok


Althan menyapu wajahnya kemudian berbalik.


"Masuk." Kata Althan seraya ia duduk di


kursinya.


"Daeng." Sapa Emily sang adik.


"Kenapa?" Tanya Althan to the point.


"Aku dapat kaki palsu yang bagus untuk kekasihmu,


harganya berfariasi tinggal pilih saja. Cek emailmu." Kata Emily. Emily


bekerja dengan Althan sebagai serketaris. adiknya itu dulu pernah bekerja di


bank swasta sebelum akhirnya berhenti dan menikah dengan salah satu pengusaha


juga.


"Yang paling bagus dan mahal. Agar dirinya bisa


berjalan sempurna." Jawab althan sambil memeriksa emailnya.


"Kenapa sih Daeng mau sama Nieya? Dia kan maaf,’’ ia


mengutip dengan kedua tangannya " "cacat" ". Kata Emily.


Althan menutup kedua wajahnya lalu bersandar seraya mengusap wajah itu lelah.


"Aku jatuh hati dengannya, seorang gadis pasar


penjual gado- gado. Namanya jodoh mau diapain lagi." Kata Althan.


"Hm, ajaklah kerumah mamah Daeng. Kita masak bareng


dan mengobrol." Kata Emily.


"Aku pernah mengajaknya tapi kalian sudah


pulang." Jawab Althan.


"Salah sendiri pulangnya kelamaan." Jawab


Emily.


"Hujan hujan hujan, jadi telat." Althan


beralasan.


"Pake mobil masa telat emang pemotor pake neduh


dulu."


Althan menghembuskan nafasnya sambil membuka map kuning.


Map itu berisi surat- surat pelepasannya di rutan dan rehab.


"Mau ketemuan lagi?" Tebak Emily. Althan


mengangguk sambil terenyum lesu.


"Biar aku yang menjemputnya. Dia dimana?" Tanya


sang adik sambil berdiri dan mengangkat tasnya.


"Taman bekapai." Jawab Althan.


"Baiklah, tunggu disini ya.'' Emily langsung pergi


untuk menjemput sang calon kaka ipar.


❤❤❤❤


Emily melepas kaca matanya saat melihat Nieya sedang


duduk sambil memangku sebuah buku dan bercerita dengan anak- anak yang duduk di


depannya. Anak- anak itu tertawa saat Nieya memperagakan menjadi seekor singa.


"Mba itu sederhana sekali." Gumam Emily karena


Nieya memakai kaos sopan berlengan panjang bewarna hijau toska dan roknya


putih. Emily memasang senyumannya sambil mendatangi mereka.


"Hay." Sapa Emily. Terlihat Nieya langsung


memudarkan senyumnya sambil menutup buku.


"Hai juga." Sapa Riko tak lama ia mengajak


teman- teman barunya bubar dan bermain di tempat lain.


"Mba namanya Nieya?" Tanya Emily sambil melipat


kaca mata dan di masukan ke dalam tas. Nieya mengangguk sambil melihat Emily


dengan pakaian kerjanya, sungguh modis sekali.


"Iya.'' Jawab Nieya.


"Perkenalkan, namaku Emily adiknya Daeng Althan.''


Emily menjulurkan tangannya dan Nieya menyambutnya.


"Hm, pantesan kok mukanya gak asing ternyata adenya


Daeng.'' Balas Nieya sambil tersenyum.


"Mirip ya?" Tanya Emily dan Nieya mengangguk


sambil melepas tangannya. "Ayo Mba, Daeng memanggilmu.''


Nieya sedikit kaget sambil melihat Emily.


"Kenapa? Padahal aku hari ini ingin disini."


Jawab Nieya.


"Daeng merindukan Mba, lagian dia gak bisa terus-


terusan keluar kantor nanti di marahi sama temennya. Temennya galak temprament


dan jutek." Jawab Emily sambil ke belakamg Nieya dan ingin mendorongnya.


"Tunggu." Kata Nieya. "Adikku." Nieya


berbalik lalu memanggil Adiknya.


"Riko, ayo kita mau pergi.'' Panggil Nieya. Sang


adik yang sedang bermain langsung mendatangi sang kakak.


"Mau kemana Mba? Nanti bapak jemput gimana?"


Ujar Riko.


"Ah iya ya.'' Jawab Nieya.


"Ada nomor telp? Biar saya katakan nanti.'' Kata


Emily. Nieya mengangguk sambil mengambil hp Emily dan memasukan nomor hpnya


bapak.


"Langsung telp aja." Ujar Emily. Nieya menelfon


bapak.


"Hallo hallo."


"Bapak ini Nieya, pak nanti tidak usah jemput karena


Nieya dan Riko sudah di jemput duluan sama adiknya mas Althan.


"Oh, iya ndok. Pulangnya jangan malem ya soalnya


Riko sekolah.


"Iya Pak.


"Yaudah kalo gitu bapak bantu ibu jualan.


"Iya pak


Panggilan terputus dan Nieya memberikan hpnya ke sang


"Okey, ayo kita pergi." Ujar Emily sambil


mendorong Nieya ke mobilnya.


❤❤❤❤


Althan menyambut kekasihnya datang dengan santai ia


membuka pintu kaca dan keluar menuju mobil Emily yang baru datang.


"Pst, wazir." Panggil Rista. Wazir yang sedang


mengelap kaca datang.


"Apa?" Tanya Wazir.


"Liat deh, mantan pelakor kok karmanya enak ya?


Dapat suami setara mas Danu." Bisik Rista. "Dulu kan dia jahat banget


terus aku juga jadi saksi dia dan mas Danu menikah." Ujar Rista. Wazir


mengangguk setuju sambil melihat Althan membuka pintu mobil sambil tersenyum.


"Ish, walaupun udah berlalu tetap aja gak suka,


kasian Bu Ana."


"Semoga karmanya gak dirasakan ke diri


sendiri." Ucap Kanza yang baru datang.


"Hastaga! Kaget mereka berdua.


"Kaget ya?" Tanya Kanza sambil memasukan kedua


tangannya ke saku celana. "Udah bubar mereka mau kesini." Ujar Kanza


lalu berbalik menuju ruangannya begitupun Wazir. Althan membuka pintu kaca


sambil lalu mendorong Nieya di belakangnya ada seorang bocah laki- laki.


"Ini kantornya punya Daeng?" Tanya Nieya. Riska


yang melihat langsung membuang pandangannya sambil membersihkan kuku.


"Punya pak Danu lebih tepatnya Ibu Keana bos


kami." Jawab Rista tanpa melihat mereka. Nieya langsung menengok dan ber


oh ria.


"Aku hanya menggantikan mereka. Mau duduk disini


atau di ruanganku?" Tanya Althan.


"Disini aja." Jawab Nieya.


"Mba, Riko boleh main disana?" Tunjuk Riko


tempat mainan milik Rayyan.


"Gak boleh duduk aja sama Mba." Kata Nieya.


Riko dengan lesu duduk di sofa tamu sambil melihat kakinya yang dekil.


"Assalaualaikum." Sapa lelaki berseragam smp.


"Walaikumsallam" jawab Rista.


"Mba ada mama gak? Atau papah?" Tanya Rayyan


sambil meletakan helm biru di samping ia kemudian melepas tasnya dan duduk di


samping Riko.


Riko melihat Rayyan tiba- tiba ia merasa sedih kapan


dirinya menjadi  seperti dia pakaian sekolah bagus dan mahal.


"Loh bukannya dirumah?"


"Gak ada, Ray udah nelp tapi gak aktif terus adik-


adik di titipin tempat nenek. Mau kesana tapi capek jadi istirahat dulu."


Jawab Rayyan sambil bersandar."


"Eh, ada Ray. Papah dan Mamah ke Bali lusa baru


pulang." Kata. Ela yang baru turun dari ruangannya. Rayyan sontak berdiri


dan menuntut penjelasan.


"Kok gak bilang padahal tadi pagi kan? Uwah mereka


bulan madu terus." Kata Rayyan kesal. "Terus adik adikku?" Tanya


Rayyan.


"Dibawalah cuma kamu tinggal karena ulangan semester


" jawab Ella.


"Kok Mba Ella tau?"


"Taulah kan Mba yang beli tiketnya."


Rayyam duduk kembali dan bersandar sungguh tidak adil


bukan di tempat sang Nenek.


"Biarin deh mereka pergi Rayyan bisa main ps


sepuasnnya.’’ Rayyan melepas kemeja sekolah hingga menyisakan kaos hitam dan


ikat pinggang.


"Risih? Mau pindah." Bisik Althan ke Nieya.  Nieya


menggeleng sambil melihat duplikat Danu.


"Mau makan?" Tawar Ella. Rayyan mengangguk


"Mau geprek sama ricis." Jawab Rayyan.


"Double ya pesannya sama buat dia.'' Tunjuk Rayyan ke Riko. "Hai, Aku


Ray..." Rayyan tersenyum sambil melipat kemejanya lalu dimasukan ke dalam


tas.


"Aku Riko." Jawabnya pelan.


"Mau temanin main ps? Ayo." Rayyan mengajak


Riko bermain di tempatnya.


"Disitu?" Tunjuk Riko sumringah. Rayyan


mengangguk sambil berjalan duluan.


"Mba jadi aku tidur dimana?" Kata Rayyan "


dirumah sendirian." Ujar Rayyan sambil menyalakan tv dan ps. Riko melihat


Nieya untuk meminta persetujuan.


"Ayo sini Riko, jangan takut... gak ada yang mau


ditakutin disini, mamah dan papahku gak ada. "


Rayyan menepuk tempat duduk di sebelahnya. Rayyan berdiri lalu memegang lengan


Riko.


"Eh tante baru liat. Maaf." Rayyan tersenyum


dan Nieya membalasnya


"Mainlah." Jawab Nieya. Riko langsung berdiri


dan melihat Rayyan tersenyum.


"Ayo."


Rayyan dan Riko duduk di depan ps.


"Pernah main ps?" Tanya Rayyan. Riko mengangguk


"Pernah tapi bayar empat ribu sejam di deket rumah,


tapi model lama."


"Ini ps baru, sebenarnya ini punyanya dirumah cuma


papah bawa kesini supaya aku gak mainan terus." Jawab Rayyan.


Dari jauh Nieya melihat Riko tersenyum sesekali bercerita


dengan Rayyan yang mendengarkan.


"Dia senang disini." Kata Althan dan Nieya


mengangguk.


"Permisi silahkan minumannya." Ujar Nazir yang


baru datang.


"Wah, makasih.'' Ujar Althan padahal tidak diminta.


"Sama- sama namanya tamu..." jawab Nazir


setelah itu ia berbalik dan melihat Rista dengan penuh luka.