
Dua hari kemudian...
Althan berjabat tangan dengan salah satu CEO Agatha corp
kemudian Antony inc.
"Senang bekerja sama dengan perusahaan anda walaupun
diwakilkan." Kata Adrian setelah meeting bersama. Althan tersenyum
kemudian duduk di sofa putih.
"Sama- sama, lagian kalau kelamaan menunggu tidak
baik kan?" Tanya Althan dan mereka berdua mengangguk.
"Emang pak Danu kemana?" Tanya Angga. Anggabaya
Cakara, ada yang kangen sama suaminya Ai?
"Beliau akan berangkan ke Dubai untuk menetap disana
dan bekerja disana." Jawab Althan.
"Al, maukah nanti malam kerumah kami?" Tawar
Adrian. Althan awalnya terdiam tapi kemudian tersenyum lalu mengangguk.
"Sure" jawab Althan.
"Kebetulan lagi ada acara makan malam, jadi sekalian
aja nanti bertemu dengan Papahku." Kata Adrian.
"Papahmu dulu CEO paling terkenal kejam? Haaaa
papahku pernah bercerita dulu." Ujar Althan sambil menyeruput teh.
"Kok kamu tau?" Tanya Angga antusias.
"Papahnya dia memang kejam.'' Lanjut Angga. Adrian menatap Angga datar.
"Dia papahmu juga karena dirimu menikah dengan
adikku." Kata Adrian membuat Angga terkekeh.
"Iya ya." Jawab Angga membuat Althan tertawa
pelan.
❤❤❤❤
Nieya masuk ke dalam dapur saat sampai ia melihat Tante
Ratna, Adriana dan Aika serta beberapa pembantu sedang sibuk memasak.
"Ada yang bisa Nieya bantu Tante?" Tanya Nieya
saat melihat Ratna menyicipi makanan.
"Eh gak usah nak, duduk aja." Kata Ibu.
"Sudah minum vitaminmu?" Tanya Ai saat memotong
sayuran. Nieya mengangguk sambil mengambil pisau lalu membantu Aika memotong.
"Aku tidak enak terus berdiam." Ujar Nieya
sambil mengiris wortel.
"Baiklah, tapi kalau lelah berentilah." Ujar
Ai.
"Emang ada tamu ya Mba?" Tanya Nieya. Ai
mengangguk
"Temannya suami aku dan Abang dari Balikpapan."
Jawab Ai. Nieya langsung teringat dengan seseorang yaitu Althan hatinya
tiba- tiba saja hatinya sakit. Sakit karena merindukannya.
"Nieya astaga." Pekik Ai sambil mengambil pisau
di tangan Nieya. Nieya langsung sadar dan menunduk.
"Kamu ingin memotong tanganmu sendiri." Kata Ai
kemudian Adriana mendatangi mereka.
"Ma...maaf...maaf." kata Nieya sambil berkaca-
kaca tak lama buliran air mata jatuh di pipinya.
"Kok nangis? Gakpapa." Adriana mengusap air
mata Nieya. "Ayo." Adriana membawa Nieya ke ruang tengah lalu duduk
disana. Nieya langsung menutupi wajahnya tak lama suara tangis terdengar.
Adriana mengusap belakang Nieya pelan.
"Aku merindukannya tapi aku takut ia membenciku
karena tau masa laluku." Kata Nieya sambil melihat Adriana. Luapan emosi
itu sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Siapa Nieya?" Tanya Adriana.
Adriana memeluk Nieya dan membiarkan wanita itu menangis hingga merasa lega.
****
Althan keluar dari mobil ia kemudian tersenyum sambil
mengingat kekasih hatinya.
"Sabar sayang aku akan menjemputmu." Gumam
Althan sambil masuk ke dalam kediaman Agatha.
"Assalamualaikum." Salam Althan di depan pintu
kemudian Angga dan Adrian menyambutnya.
"Walaikumsallam, masuk kita langsung duduk di meja
makan." Kata Angga. Althan masuk dan mengikuti langkah mereka hingga
sampai di sebuah ruang makan yang megah. Disana ada keluarga serta anak- anak
yang saling berisik satu sama lain.
"Selamat datang Althan, silahkan duduk disini."
Sapa Ardi. Althan duduk dengan tenang matanya ia tundukan.
"Ih ternyata dirimu ganteng." Puji Ai tanpa
sadar.
"Ai." Tegur Angga cemburu. Ai menengok lalu
menaikan alisnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Ai polos.
"Mau kartu kredit kakak bekukan? Biar dirimu gak
bisa jajan.'' Kata Angga tenang sambil meminta diambilkan makanan. Ai langsung
menggeleng keras.
"Ampun, suamiku yang paling ganteng.'' Kata Ai
membuat Althan tertawa pelan.
"Oh ya, kenalkan ini istriku namanya Malaika Putri
Cantika Ardiansyah sedangkan di samping kak Adrian adalah istrinya namanya
Adriana dan itu Abraham dan istrinya Lilly." Kata Angga menjelaskan.
"Dan di sana anak- anak kami." Kata Angga lagi.
"Bunda Kiran sama Ayah kemana?" Tanya Adrian.
"Pulang ke Balikpapan karena si kembar mau ujian.''
Jawab Ratna.
"Jadi Althan kesibukannya apa? Bentar ya. Nieya
kesini nak." Panggil Ratna. "Nieya." Panggilnya lagi.
Nieya dengan pelan datang dalam keadaan menunduk.
"Tadi dia habis nangis." Bisik Adriana di samping
Adian. Bisikan itu terdengar di telinga Althan membuat dirinya segera berdiri
dan melihat Nieya
"Iya Tante." Jawab Nieya tak lama ia melihat ke
depan.
Degh
Apa itu benar? Yang ia lihat benar di sana ada Althan.
Nieya langsung merasa pusing matanya mulai terasa gelap dan dan kepalanya sakit
hingga tak sadar ia jatuh ke dinginnya lantai.
"Nieya." Pekik mereka saat Nieya telah pingsan.
Althan langsung maju dan memangku kekasihnya.
"Hei, ini aku? Ayo aku datang menjemputmu."
Ujar Althan lembut. Mereka semua yang melihat langsung terkaget dan bengong.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Ardi. Althan
menggendong Nieya dan mengangguk.
"Dia kekasih saya pak." Jawab Althan.
"Dia hamil, bawa dia ke kamar." Kata Ai
lalu menyuruh kakaknya untuk menelpon Dr. Pram. Tanpa pikir panjang
Althan membawa Nieya ke kamarnya dengan ditunjukan oleh Adriana.
"Kamu hamil anakku." Gumam Althan senang.