
Bapak mengambilkanku kursi roda. Kursi roda yang tidak
pernah kupakai dan baru pertama kali ini aku memakainya.
"Coba, Mbak duduk." Pinta Bapak setelah
mengambilkan. Aku melepas tongkat jalanku dengan di bantu Bapak setelah itu
duduk. Kursi yang nyaman dan bisa membuatku duduk leluarsa.
"Coba, Mba ayunkan tangannya diroda. Di putar."
Kata Bapak karena ia takut kursi yang kupakai rusak karena kelamaan di lemari.
"Masih bagus pak, bisa jalan." Kataku membuat
Bapak lega.
"Besok pagi antarin ya pak, Nieya mau jualan."
Kataku antusias. Bapak mengangguk pelan lalu mendorongku menuju ruang tv.
Mau tau bentuk rumahku? Rumahku hanya terdiri empat
bagian.
Pertama ruang tv yang di jadikan satu dengan ruang tamu.
Kedua kamar tidur kami menjadi satu juga tapi aku dan adikku tidur di depan tv.
Ketiga dapur kecil dan keempat kamar mandi.
Jangan bayangkan kalau rumah kami terbuat dari batu.
Rumah kami hanya terbuat dari papan sibitan bekas yang sudah lama bahkan cat
rumah kami saja sudah memudar.
Aku tersenyum saat keluar menuju ruang tamu. Ibu dan Rino
langsung berdecak dan juga kesenengan.
"Masih bagus kursinya bu, nanti besok pagi ini buat
jualan ya." Kata Nieya dan ibu menganggukinya. Rino berdiri menghampiri
diriku.
"Kak, bagaimana rasanya pakai kursi roda. Pinjem
dong." Pinta adikku namun Bapak langsung menjewer telinga Rino
"Gak boleh, ini kan buat Mbakmu." Kata Bapak.
Aku langsung melerai mereka dan berdiri dengan satu kaki.
"Naiklah, setelah itu jangan pinjam lagi."
Kataku yang di bantu ibu. Rino langsung duduk dan memutar- mutar rodanya ke
depan dan belakang.
❤❤❤❤
Ibu dan Bapak menatap layar tv. Di tv tersebut
menampilkan acara dangdut di sebuah stasiun tv. Sedangkan diriku duduk di
pinggir jendela menikmati pemandangan hujan dan mendengar suara jatuhnya ke
genteng. Adikku sedang belajar di lantai tepat di sampingku.
Kuharap ia bisa mengubah hidup kami seperti sedia kala
walaupun tidak kaya tetapi tidak susah.
❤❤❤❤
Althan pov
"Ah." Desah seorang pria yang ternyata adalah
diriku sendiri. Pulang kerumah dalam keadaan basah kuyup membuatku sangat
kedinginan dan lapar.
Tanya sang pembantu rumahku.
"Belikan aja tahu tek- tek di depan gang."
Pintaku sambil mengeluarkan uang di dompet dan meletakannya di meja.
"Gak ganti baju dulu Daeng? Dirimu basah kuyup nanti
masuk angin." Ujar Pembantuku. Pembantuku masih muda dan cantik tapi aku
tidak tertarik padanya karena bukan tipeku. Ia baru saja lulus SMA.
"Hm, habis kamu pergi baru aku ganti baju."
Jawabku lagian ini rumahku kenapa dia mengantur! Hei!.
"Baiklah." Jawab pembantu itu lalu pergi untuk
membelikan makanan kesukaanku.
Pasti kalian bingung dengan nama panggilanku bukan.
Daeng itu seperti kata "mas" dalam orang jawa
atau "akang" dalam orang sunda. Tapi karena aku orang makassar
tepatnya bugis bone makanya diriku dipanggil Daeng. Hanya keluargaku sajalah
yang memanggilku Daeng termasuk pembantu itu.
Kuletakan kedua tanganku di atas kepala sambil
membayangkan memiliki istri. Umurku hampir 40 tapi belum juga menikah
padahal diriku sudah mapan.
Aku bangun kemudian beranjak dari depan tv menuju
kamarku. Kamarku sangat maskulin sekali karena hanya ada warna abu- abu dan
hitam.
Aku meletakan dompet dan kunci mobil di atas meja setelah
itu aku melepas kemeja putihku dan juga celana kain. Aku mengambil handuk putih
dan kulilitkan di pinggang setelah itu masuk ke dalam kamar mandi. Aku
menyalakan keran air hangat sambil melepaskan handuk tadi.
Aku mulai masuk ke dalam pancuran air sambil membiarkan
air itu membasahi diriku yang kedinginan ini. Setelah cukup aku mengambil sabun
dan sampo untuk badan dan rambutku.
Aku akan mandi dulu dan kalian gak boleh ikut.
❤❤❤❤
Kuhempaskan diriku di atas kasur yang empuk sambil
mengisap rokok dengan nikmat. Entahlah menurutku rokok adalah bagian dari jiwa.
"Daeng, makanannya." Kata Winda dari luar. Baru
juga pakai baju dan merokok.
"Siapkan di meja makan nanti aku kesana."
Kataku sambil mengisap rokok sekali lalu ku matikan.
Aku berjalan keluar dan membuka pintu kamar rupanya Winda
masih ada di depan pintu kamarku sambil membawakan nampan berisikan tahu tek
dan teh hangat.
"Lain kali turuti perintahku sebelum dirimu
kupecat" kataku sambil mengambil nampan itu dan kembali ke kamar tak lupa
kututup pintu dengan keras pertanda diriku sedang kesal dengan dirinya.