
Althan sibuk dengan pengurusan proyek baru di sanga-
sanga sejak tiga hari yang lalu ia tidak pernah bertemu dengan Nieya. Ia
mencoba menahan hasrat rindunya kepada sang kekasih hingga benar- benar tau
rahasia Nieya. Althan memijit pelipisnya seraya mendengar guntur di langit
Balikpapan sejenak ia melihat ke jendela yang gelap serta berkilat. Sebentar
lagi akan hujan di tambah angin yang cukup kencang
"Hujan." Kata Althan saat melihat rintikan air
yang berubah menjadi deras.
Althan segera kembali ke pekerjaannya seraya membaca
kontrak dan menandatanginya.
❤❤❤❤
Wanita itu turun di halte setelah sampai di dekat kantor
Althan tak lama hujan deras mengguyurnya hingga ia tidak bisa kesana. Nieya
duduk sambil mengusap lengannya yang tertutup mantel. Nieya membawakan Althan
sebuah makanan yaitu durian santan yang masih panas- panas kukuh di sebuah
termos sedang.
"Apa aku menerjang hujan saja?" Tanya ke diri
sendiri. Nieya tersenyum sambil berdiri dan membawa termos ia menerjang hujan
sambil menyebrang jalan untuk sampai ke kantor Althan dengan jalan yang cukup
sempurna
Setelah sampai ia membuka pintu kaca dan mekinta izin ke Rista.
"Siang." Sapa Nieya dalam keadaan basah kuyup.
Rista nampak kaget ia tak tega melihat Nieya dalam keadaan begini.
"Siang, mau ketemu pak Althan? Silahkan naik saja
disini dingin." Rista tak tega melihat orang yang dulu jahat seperti ini.
"Makasih." Nieya segera menaiki anak tangga
hingga sampai di depan pintu kantor Althan.
Tok
Tok
Tok
Nieya mengetuk pintu setelah itu membukanya lalu masuk.
"Daeng." Panggil Nieya. Althan yang sedang
bekerja langsung menengok dan terkaget.
"Astaga, sayang." Althan langsung berdiri melihat
Nieya masuk dalam keadaan basah kuyup. Althan mencari remot Ac dan mematikan
ruangan pendingin. "Kamu..." Althan kehabisa kata- kata setelah
melihat Nieya tertawa seolah tidak ada beban.
"Aku tadi berada di halte terus dari pada kelamaan
disana jadi aku kesini deh." Jawab Nieya sambil memperlihatka
makanan yang ia bawa.
"Pakaianmu basah kamu gak bawa baju ganti?"
Althan berkata sambil berkacak pinggang. Nieya menggeleng sambil menuju sofa
untuk meletakan bawaanya dan membuka mantel tipis. Althan berbalik lalu mendekati
Nieya.
"Dingin." Kata Nieya yang tidak berani duduk di
sofa karena takut basah.
Althan membuka jasnya lalu kemeja yang ia pakai.
"Apa yang kau lakukan Daeng?" Tanya Nieya.
"Lepas pakaianmu lalu pakai ini, nanti dirimu
sakit." Kata Althan yang bertelanjang dada. Nieya nampak kagum dengan
tubuh atletis dia apalagi di bagian menonjol.
"Aku malu Daeng." Cicit Nieya malu. Althan
tertawa kemudian mencium kening Nieya.
Althan membuka pakaian Nieya setelah itu branya hingga menampilkan bulatan
sempurna. Althan mencoba untuk tidak tergoda ia segera memakaikan Nieya
kemejanya lalu mengancingnya hingga selesai.
Nieya nampak tak enak dengan pelan ia mengangkat
kepalanya hingga Althan terlihat jelas.
"Dirimu sangat tampan Daeng." Kata Nieya pelan.
Althan mengusap pipi Nieya tak lama wajahnya mendekat dan bibir mereka saling
menyatu. Althan mencium Nieya pelan sambil memegang lekukan leher Nieya untuk
menekannya mendekat.
Lumatan demi lumatan mereka rasakan hingga Althan membawa
Nieya di sofa dan membaringkannya.
"Aku mau dirimu." Kata Althan tak tahan. Nieya
menggigit bibirnya dan mengangguk.
Lampu hijau ia dapat dan Althan melakukan aksinya dengan
panas.
Kemeja tadi sudah terlepas hingga terlihat dada Nieya.
Ciuman Althan semakin turun hingga ******* dadanya.
Nieya mendesah seraya menggoyangkan dadanya. Ia teringat
dengan kejadian dulu bersama Danu.
"Althan." Panggil Nieya. Althan semakin ganas.
setelah puas ia segera melepas celana kainnya dan membuka celana dalam. Althan
membangunkan Nieya dan menyuruhnya untuk mengulum miliknya.
"Ah." Desah Althan setelah miliknya masuk ke
dalam mulut Nieya dan bergerilya disana.
Mereka saling menikmati dan saling memuaskan hingga
puncaknya bercinta sungguhan.
❤❤❤❤
Dua jam selesai, berkali- kali Althan mengeluarkan cairan
miliknya ke dalam milik Nieya. Kini mereka sama- sama duduk dengan keadaan
Nieya memakai kemeja lalu di peluk oleh Althan yang sudah memakai celana kain.
"Enak?" Tanya Althan dan Nieya mengangguk.
"Makasih sayang." Althan mencium kening Nieya dan wanita itu
tersenyum.
"Kau bawa apa tadi?" Tanya Althan sambil
melepaskan pelukannya dan membuka wadah termos kecil.
"Durian santan dan lempengnya." Jawab Nieya
sambil menyajikan untuk Althan. "Masih hangat." Kata Nieya. Althan menyendokan
makanan itu ke dalam mulutnya dan ia nampak takjub.
"Wow ini sangat enak dan warnanya mirip
spermaku." Kata Althan membuat Nieya memukul pundak lelakinya.
"Ih jorok sekali omongannya.'' Kata Nieya kesal.
Althan terkekeh sambil mengunyah makanannya.
"Tapi fakta kan cuma beda rasa aja."
"Althan" pekik Nieya yang malu. Althan tertawa
terbahak- bahak.
"Sudah berani memanggil namaku hm?" Althan
berkata sambil menyuapi Nieya. Nieya menerima tanpa menolak.
"Aku ingin makan nasi padang Daeng." Ujar Nieya.
"Boleh." Althan menutup makanannya setelah itu
melihat Nieya "Tapi setelah menghukummu karena sudah tidak sopan memanggil
namaku." Althan tertawa sambil membaringkan Nieya sedangkan Nieya
menggeleng dan tak dapat menolak.
Satu hal yang Nieya
belum ketahui yaitu Althan memiliki nafsu sex yang besar sama sepertu dirinya.