
Untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di sebuah
pasar setelah cacat. Ibu membantuku buka dagangan sedangkan bapak membantuku
untuk duduk dibalik meja daganganku.
"Gakpapa ditinggal sendiri kan, Mbak." Kata
Bapak dan Ibu setelah membantuku. Aku mengangguk seraya tersenyum ku angkat
kedua jempolku tanda tak apa.
"Iya, gakpapa bu pak." Jawabku. Mereka berdua
langsung tersenyum sambil duduk di kursi yang di sediakan.
"Bapak mau ke dalam pasar dulu ya." Pamit
Bapak. Aku mengangguk lalu mencium tangannya setelah itu bapak pergi tak lama
ibu juga seperti itu sambil membawa dagangannya.
Ya Tuhan, kenapa di usia senja mereka harus berjuang
juga.
Hari ini aku memakai kaos longgar bewarna putih bergaris
merah muda lalu rok panjang bewarna merah muda juga hingga menutupi kakiku ini.
Aku harus bersemangat dalam menjual daganganku semoga saja hari ini laris.
❤❤❤❤
1 jam
2 jam
3 jam
4 jam
5 jam
Dengan sabar aku menunggu pembeli sambil membaca koran
bekas yang jatuh di jalan. Maksudnya selembar koran yang jatuh dari meja
tetangga yang di terpa angin. Aku membaca sebuah cerita pendek yang entah
penulisnya siapa.
Karma si cantik...
Masa lalu yang membuat matanya buta. Kecelakaan lah yang
merenggut salah satu panca indranya. Karma telah terbalaskan dari rasa sakit
hati seorang wanita yang tulus.
"Tulus." Gumamku.
"Mbak, jual gado-gado ya?" Tanya seorang wanita
cantik berparas khas bugis.
"Iya bu." Jawabku sambil melipat kertas koran
dan membuka penutup cobek dan sayuran.
"Saya beli satu dan makan di sini ya. Nanti anak
saya yang kesini buat makan. Namanya Althan." Ujar ibu itu dengan logat
bugis, ia mengeluarkan uang seratus ribu.
"Uang pas aja bu." Kataku setelah melihat
uangnya. Ibu itu kemudian melihat isi dompetnya lagi tapi menggeleng.
"Gak ada, cappu ( Habis) uang
kecilku." Jawabnya. Aku terseyum masam sambil membuatkan gado- gado.
"Pedes gak bu?" Tanyaku.
"Pedes, cabenya tiga aja. Saya tinggal ya... nanti
anak saya kesini. Ini uangnya gak usah di kembalikan." Jawab itu
seraya tersenyum dan pergi. Aku memegang uang itu sambil berucap syukur kepada
Allah.
Makasih untuk rejekinya hari ini Tuhan. Kumasukan uang
itu ke dalam kaleng bekas wafer setelah itu membuatkan makanan.
❤❤❤❤
PASAR KEBUN SAYUR.
12: 23 wib
Pertama kalinya aku menginjakan kaki di sini, di sebuah
pasar swalayan. Becek? Sepertinya tidak karena bukan musim hujan. Kalau bukan
karena mamah untuk menjemput dirinya pasti aku sudah di kantor.
Aku memiliki adik perempuan dan laki- laki namanya Emily
dan Elthan. Mereka berdua sudah menikah dengan jodohnya masing- masing dan di
karuniai malaikat kecil. Mereka berdua menyuruhku untuk menjemput mama sebelum
beliau marah dan memarahi ketiga anaknya termasuk aku.
Aku memarkirkan mobilku di sebuah parkiran pinggir jalan.
Setelah itu aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil tak lupa kaca mata
hitam tersampir di mataku karena matahari siang membuat mataku silau.
Mamah bilang aku harus mencari tempat yang jual gado-
yang menyita penglihatanku gadis yang duduk di balik meja sambil membuatkan
jualan gado- gado untuk pelanggan lain. Tapi sayang gadis itu memakai kursi
roda.
Aku menyebrang kesana sambil melewati kendaraan yang
padat. Setelah menyeberang aku langsung mendekati penjual gado- gado itu dan
langsung duduk.
"Permisi, tadi ada yang kesini gak pesenin gado-
gado? Kalo gak salah pake baju warna ungu terus memakai emas dan pakai topi
haji juga." Kataku. Hehehe, maklum lah ya mamahku bugis asli jadi jangan
heran dengan emas- emasnya.
"Oh iya mas, namanya Althan ya." Kata wanita
itu seraya tersenyum. Senyumannya membuat hatiku terpana sungguh wanita
seperti ini yang kucari.
''Iya nama saya Althan." Jawabku sambil tersenyum.
Kulihat ia langsung menunduk sambil mengeluarkan sepiring gado- gado.
"Ini mas." Kata wanita itu.
"Mba- mas, boleh minta sisa makanan? Kami
lapar." Pinta seorang pengamen kecil dengan menggendong adiknya. Aku dan
penjual itu masih sama- sama memegang piring makanan. Aku tersenyum kemudian
mengambil piring itu dan memberikannya.
"Duduklah dan makan disini, pesan lagi nanti saya
yang bayar." Ujarku sambil memberikan makanan milikku ke dia. Mereka
langsung duduk dan makan dengan lahap.
"Pesan dua lagi ya. Nama kamu siapa?" Kataku ke
penjual itu. Wanita itu enggan menatap mataku apa aku memakai kaca mata? Kulepas
kaca mataku dan meletakannya di kantong. Aku tersenyum sambil memandanginya
hingha ia tersipu malu.
"Nieya, Mas." Jawabnya sambil membuat gado-
gado.
"Panggil aku Daeng jangan Mas." Kataku sambil
terus melihatinya. Nieya mengangguk.
"Iya Daeng." Jawab Nieya. Aih kenapa hatiku
menjadi seperti ini.
"Kalau boleh tau kamu pakai kursi roda karena
apa?" Tanyaku. Wanita itu langsung sendu dan menggeleng pelan.
"Saya cacat mas." Jawabnya sambil memegang
sebelah kakinya. "Maksdunya Daeng." Sambungnya guna membetulkan
kalimat.
"Tapi kamu cantik saya suka." Kataku kelepasan.
Kelepasan yang tidak di sengaja hehe. Nieya tertawa setelah selesai membuat
gado- gado. Ia meletakannya di tepat di depanku dan yang satunya lagi buat di
sebelahku.
"Semoga suka ya Daeng, saya baru pertama kali jualan
disini." Katanya saat aku mengaduk makanan. Entahlah menurutku gado- gado,
kupat tahu dan tahu tek tek adalah makanan kegemaranku padahal aku bukan orang
jawa.
"Oh ya?" Kataku. "Pantesan aku baru liat,
biasanya kan tempat ini kosong jadi bisa parkir." Ujarku sambil berdoa
sejenak lalu makan.
Enak, rasanya pas dan sesuai dengan lidahku. Entahlah
tapi buatan dia sangat enak.
"Enak, aku suka. Apa sudah banyak pembelinya?"
Tanyaku sambil memakannya sambil pakai kerupuk. Nieya menggeleng pelan
"Baru ibunya mas yang beli tadi." Jawabnya. Aku
langsung mengangguk bagaimana kalau aku ketemuan di sini aja sama mereka.
Aku ada sebuah janjian untuk makan tapi karena sudah
kelaparan jadi makan disini sedikit dan melanjutkannya nanti. Tapi sepertinya
mereka kuajak aja.
"Tunggu ya. Gakpapa kan kalau saya sedikit lama
disini?" Kataku sambil mengambil hp di saku selana. Nieya mengangguk
sambil tersenyum menawan.
Duhai, ingin sekali aku bersamanya dan menerima
kekurangannya.
"Baiklah."
Jawabku.