Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 3



Untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di sebuah


pasar setelah cacat. Ibu membantuku buka dagangan sedangkan bapak membantuku


untuk duduk dibalik meja daganganku.


"Gakpapa ditinggal sendiri kan, Mbak." Kata


Bapak dan Ibu setelah membantuku. Aku mengangguk seraya tersenyum ku angkat


kedua jempolku tanda tak apa.


"Iya, gakpapa bu pak." Jawabku. Mereka berdua


langsung tersenyum sambil duduk di kursi yang di sediakan.


"Bapak mau ke dalam pasar dulu ya." Pamit


Bapak. Aku mengangguk lalu mencium tangannya setelah itu bapak pergi tak lama


ibu juga seperti itu sambil membawa dagangannya.


Ya Tuhan, kenapa di usia senja mereka harus berjuang


juga.


Hari ini aku memakai kaos longgar bewarna putih bergaris


merah muda lalu rok panjang bewarna merah muda juga hingga menutupi kakiku ini.


Aku harus bersemangat dalam menjual daganganku semoga saja hari ini laris.


❤❤❤❤


 


 


1 jam


2 jam


3 jam


4 jam


5 jam


Dengan sabar aku menunggu pembeli sambil membaca koran


bekas yang jatuh di jalan. Maksudnya selembar koran yang jatuh dari meja


tetangga yang di terpa angin. Aku membaca sebuah cerita pendek yang entah


penulisnya siapa.


Karma si cantik...


Masa lalu yang membuat matanya buta. Kecelakaan lah yang


merenggut salah satu panca indranya. Karma telah terbalaskan dari rasa sakit


hati seorang wanita yang tulus.


"Tulus." Gumamku.


"Mbak, jual gado-gado ya?" Tanya seorang wanita


cantik berparas khas bugis.


"Iya bu." Jawabku sambil melipat kertas koran


dan membuka penutup cobek dan sayuran.


"Saya beli satu dan makan di sini ya. Nanti anak


saya yang kesini buat makan. Namanya Althan." Ujar ibu itu dengan logat


bugis, ia mengeluarkan uang seratus ribu.


"Uang pas aja bu." Kataku setelah melihat


uangnya. Ibu itu kemudian melihat isi dompetnya lagi tapi menggeleng.


"Gak ada, cappu  ( Habis) uang


kecilku." Jawabnya. Aku terseyum masam sambil membuatkan gado- gado.


"Pedes gak bu?" Tanyaku.


"Pedes, cabenya tiga aja. Saya tinggal ya... nanti


anak saya kesini. Ini uangnya gak usah di kembalikan." Jawab itu


seraya tersenyum dan pergi. Aku memegang uang itu sambil berucap syukur kepada


Allah.


Makasih untuk rejekinya hari ini Tuhan. Kumasukan uang


itu ke dalam kaleng bekas wafer setelah itu membuatkan makanan.


❤❤❤❤


 


 


PASAR KEBUN SAYUR.


12: 23 wib


Pertama kalinya aku menginjakan kaki di sini, di sebuah


pasar swalayan. Becek? Sepertinya tidak karena bukan musim hujan. Kalau bukan


karena mamah untuk menjemput dirinya pasti aku sudah di kantor.


Aku memiliki adik perempuan dan laki- laki namanya Emily


dan Elthan. Mereka berdua sudah menikah dengan jodohnya masing- masing dan di


karuniai malaikat kecil. Mereka berdua menyuruhku untuk menjemput mama sebelum


beliau marah dan memarahi ketiga anaknya termasuk aku.


Aku memarkirkan mobilku di sebuah parkiran pinggir jalan.


Setelah itu aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil tak lupa kaca mata


hitam tersampir di mataku karena matahari siang membuat mataku silau.


Mamah bilang aku harus mencari tempat yang jual gado-


yang menyita penglihatanku gadis yang duduk di balik meja sambil membuatkan


jualan gado- gado untuk pelanggan lain. Tapi sayang gadis itu memakai kursi


roda.


Aku menyebrang kesana sambil melewati kendaraan yang


padat. Setelah menyeberang aku langsung mendekati penjual gado- gado itu dan


langsung duduk.


"Permisi, tadi ada yang kesini gak pesenin gado-


gado? Kalo gak salah pake baju warna ungu terus memakai emas dan pakai topi


haji juga." Kataku. Hehehe, maklum lah ya mamahku bugis asli jadi jangan


heran dengan emas- emasnya.


"Oh iya mas, namanya Althan ya." Kata wanita


itu seraya tersenyum. Senyumannya membuat hatiku terpana  sungguh wanita


seperti ini yang kucari.


''Iya nama saya Althan." Jawabku sambil tersenyum.


Kulihat ia langsung menunduk sambil mengeluarkan sepiring gado- gado.


"Ini mas." Kata wanita itu.


"Mba- mas, boleh minta sisa makanan? Kami


lapar." Pinta seorang pengamen kecil dengan menggendong adiknya. Aku dan


penjual itu masih sama- sama memegang piring makanan. Aku tersenyum kemudian


mengambil piring itu dan memberikannya.


"Duduklah dan makan disini, pesan lagi nanti saya


yang bayar." Ujarku sambil memberikan makanan milikku ke dia. Mereka


langsung duduk dan makan dengan lahap.


"Pesan dua lagi ya. Nama kamu siapa?" Kataku ke


penjual itu. Wanita itu enggan menatap mataku apa aku memakai kaca mata? Kulepas


kaca mataku dan meletakannya di kantong. Aku tersenyum sambil memandanginya


hingha ia tersipu malu.


"Nieya, Mas." Jawabnya sambil membuat gado-


gado.


"Panggil aku Daeng jangan Mas." Kataku sambil


terus melihatinya. Nieya mengangguk.


"Iya Daeng." Jawab Nieya. Aih kenapa hatiku


menjadi seperti ini.


"Kalau boleh tau kamu pakai kursi roda karena


apa?" Tanyaku. Wanita itu langsung sendu dan menggeleng pelan.


"Saya cacat mas." Jawabnya sambil memegang


sebelah kakinya. "Maksdunya Daeng." Sambungnya guna membetulkan


kalimat.


"Tapi kamu cantik saya suka." Kataku kelepasan.


Kelepasan yang tidak di sengaja hehe. Nieya tertawa setelah selesai membuat


gado- gado. Ia meletakannya di tepat di depanku dan yang satunya lagi buat di


sebelahku.


"Semoga suka ya Daeng, saya baru pertama kali jualan


disini." Katanya saat aku mengaduk makanan. Entahlah menurutku gado- gado,


kupat tahu dan tahu tek tek adalah makanan kegemaranku padahal aku bukan orang


jawa.


"Oh ya?" Kataku. "Pantesan aku baru liat,


biasanya kan tempat ini kosong jadi bisa parkir." Ujarku sambil berdoa


sejenak lalu makan.


Enak, rasanya pas dan sesuai dengan lidahku. Entahlah


tapi buatan dia sangat enak.


"Enak, aku suka. Apa sudah banyak pembelinya?"


Tanyaku sambil memakannya sambil pakai kerupuk. Nieya menggeleng pelan


"Baru ibunya mas yang beli tadi." Jawabnya. Aku


langsung mengangguk bagaimana kalau aku ketemuan di sini aja sama mereka.


Aku ada sebuah janjian untuk makan tapi karena sudah


kelaparan jadi makan disini sedikit dan melanjutkannya nanti. Tapi sepertinya


mereka kuajak aja.


"Tunggu ya. Gakpapa kan kalau saya sedikit lama


disini?" Kataku sambil mengambil hp di saku selana. Nieya mengangguk


sambil tersenyum menawan.


Duhai, ingin sekali aku bersamanya dan menerima


kekurangannya.


"Baiklah."


Jawabku.