
Satu minggu berlalu, pria itu tak kunjung datang apalagi
memberi kabar lewat pesan.
Sedih? Sedikit.
Dalam seminggu juga daganganku sudah ada pembelinya tak
jarang mereka membelinya banyak. Pagi ini sekitar jam delapan aku melayani para
pembeli sampai- sampai ibu membantuku karena diriku terbatas.
Lima bungkus nasi kuning
Empat bungkus nasi campur
Tiga bungkus gado- gado.
Lumayan kan.
"Makan disini saya Bu." Kata tukang parkir yang
baru saja datang.
"Makan apa pak?" Tanya Ibu sedangkan aku
membungkus makanan.
"Nasi campur aja." Jawabnya. Ibu lalu mengambilkan
nasi lengkap dengan lauk campuran dan di berikan ke dia.
"Pake apa Mba?" Tanyaku ke pembeli yang
berdiri.
"Ayam aja Mba." Jawabnya sambil mengeluarkan
uang.
Aku mengangguk sambil
mengambilkan ayam potongan. Syukur pagi ini Tuhan kasih banyak rejeki buat aku.
❤❤❤❤
Diriku sudah selesai menjualkan dagangan hingga nasi
kuning habis di jam setengah sepuluh. Kulihat ibu mengangkat tempat yang kosong
dan mencucinya.
"Bu, nanti malam belikan Rino martabak sama terang
bulan ya." Pintaku ke ibu untuk adik lelakiku.
"Buat apa, Mbak. Mending simpan uangnya." Kata
ibu sambil membasuh piring.
"Buat apa di simpan bu, belikan saja." Jawab
seseorang. Aku segera menengok dan dia datang. Althan duduk di depan jualanku
dengan pakaian santai. Kaos putih dan celana santai selutut bewarna cream, rambutnya tidak serapi dulu melainkan ia
membiarkan anakan poni jatuh di dahinya. Benar- benar tampan.
"Eh, siapa ya?" Tanya Ibu sambil berdiri
melihat Altan. Althan tersenyum sambil membakar ujung rokoknya.
"Ibu, dia namanya Althan teman Nieya." Kataku
ke Ibu. Ibu langsung tersenyum sambil menyimpan tempat yang bersih tadi.
"Oh, teman Nieya baru tau ibu." Katanya.
Kulihat althan meletakan rokoknya di sudut lalu berdiri dan menyalimi ibuku.
"Salam kenal bu, saya baru sempat kesini karena
habis pulang dari Makassar." Jawab Althan setelah itu duduk kembali.
"Oh, orang bugis ya?" Tanya Ibu.
"Iyeee (Iya), bugis bone bu." Jawab
Althan dengan dialeg bugisnya.
"Daeng mau makan atau minum?" Tawarku. Kulihat
Althan melihat minuman rentengan yang tergantung di sampingku. Hm, usaha kecil-
kecilan yang kubuka cukup berkembang walaupun dalam seminggu.
"Good day aja yang warna biru tuh."
Tunjuknya. Aku mengambil gunting lalu mengambil minuman serbuk setelah itu
kuberikan pada ibu. Ibu yang akan menyeduhnya dengan air panas.
"Bu, bolehkah saya ajak Nieya jalan- jalan?"
Izin Althan tiba- tiba.
Ibu yang sedang menyeduh langsung melihatku dan tersenyum
tetapi aku tidak dan menggeleng pelan.
"Nieya tidak pernah keluar ataupun jalan- jalan
sejak lima tahun ini. Dia takut merepotkan orang karena keterbatasannya."
Ujar Ibu dan aku mengangguk. Ibu memberikan kopinya ke Althan.
"Gakpapa Bu, saya tidak kerepotan dengan Nieya. Saya
akan bantu dia bila perlu saya gendong." Ujar Althan. Matanya memancarkan
kesungguhannya untuk mengajakku jalan.
"Aku cacat Daeng, sebelah kakiku tidak ada. Aku
tidak mau kamu malu karena diriku." Kataku sendu. Althan menggeleng seraya
tersenyum tenang. Duhai senyumnya memancarkan aura damai dan tenang seperti air
danau walaupun matanya terlihat tajam
"Tidak, buat apa malu. Aku bukan penjahat. Aku hanya
mengajakmu jalan." Katanya.
Ibu memegang bahuku dan mengangguk.
"Baru kali ini kamu dapat teman lagi. Ibu izinkan
kupikir- pikir baiklah.
"Baiklah. Tapi jangan sekarang karena aku harus
berjualan." Kataku. Althan mengangguk senang ia kemudian mengedipkan
sebelah matanya ke aku.
Dia mampu membuatku tersipu setiap bertemu dengannya.
❤❤❤❤
"Apa kamu pernah ke kebun raya Balikpapan?"
Tanya Althan. Aku menggeleng pelan sambil menutup jualan. Sekarang sudah jam
empat sore dan lelaki itu beluman pulang.
"Belum pernah, kamu gak pulang? Ini sudah
sore." Kataku takutnya ibunya khawatir.
"No, aku mau mengantarmu pulang." Jawabnya.
"Rumahku jelek." Kataku.
"Yang penting orangnya cantik." Jawab Althan
dengan nada yang sama. Aku langsung tertawa ingin sekali kucubit lengannya.
Althan ikut tertawa sambil menghabiskan minumannya. Tadi, Kami tidak banyak
bicara karena aku sibuk berjualan dan dia membantuku untuk menukar uang
kecil di warung lain sampai berkeliling ckck.
"Semua sudah kubenahi tinggal tunggu bapak, ibu dan
juga Rino." Kataku.
"Kalian biasanya pulang pergi pakai apa?" Tanya
Althan kepadaku.
"Angkutan umum atau ojek." Jawabku.
"seriously? Kamu wanita kuat Nieya. Apa kamu
sudah menikah dan memiliki suami?"
Aku menggeleng walaupun pernah dengan Danu tapi pantaskah
itu di sebut menikah?
"Tidak. Oh ya itu bapak dan ibuku. Oh ya Daeng, apa
dirimu tidak menghubungiku lewat pesan atau telp?" Tanyaku yang baru
ingat.
"Sering tapi gak pernah di balas dan waktu nelpon
pun bukan kamu yang jawab." Katanya. Ya ampun aku baru ingat bapak tidak
tau cara menggunakan hp layar sentuh selain menelfon dan terima telp.
"Hehe, maaf ya Daeng." Ujarku.
❤❤❤❤
Rumah ini tidak seperti milikku. Bahkan aku harus
menunduk untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku membantu Nieya untuk pindah dari
kursi roda ke lantai sedangkan kedua orang tuanya memasukan barang jualan dan
belanjaan untuk besok.
"Daeng mau minum apa?" Tawar Rino yang duduk di
sampingku. Aku mengacak rambutnya sambil menggeleng.
"Tidak usah, oh ya kamu kelas berapa sekarang?"
Tanyaku.
"Kelas dua smp, Daeng.'' Jawabnya. Anak yang pintar
"Oh ya? Berarti nanti naik kelas dong." Kataku
dan Rino mengangguk antusias.
"Iya dong." Jawabnya. Tak lama Rino berdiri dan
pergi keluar saat teman- teman sebayanya memanggil.
Ku lihat Nieya yang sedang menyalakan tv. Sepertinya aku
mulai menyukai gadis itu tanpa melihat kekurangannya.
"Nieya, aku pamit pulang dulu." Aku bangun dan
mencium keningnya entah dorongan dari mana. Rasanya aku ingin melindungi
dirinya. Ia nampak kaget setelah itu menatapku sendu sambil tersenyum
"Hati- hati Daeng." Ucapnya.
"Besok kita jalan ya." Kataku lembut tepat di
depannya.
"Iya" jawabnya. Aku berdiri kemudian berpaminat
dengan bapak dan ibu di dapur.
"Pak, bu... saya pulang dulu." Kataku sambil
menyingkai kain di antara pintu. Ibu dan bapak menghampiriku dan aku meraih
tangan mereka untuk menciumnya.
"Masya Allah nak, ibu jadi gak enak." Katanya.
Aku tersenyum dan menggeleng pelan.
"Gakpapa bu, saya suka sama Neiya tapi diem- diem
aja ya. Hehe." Kataku setelah itu pergi dari rumahnya.
Aku tidak menyangka keluarga itu mau tinggal di tempat
kumuh seperti ini. Banyak laki- laki pengangguran dan peminum. Jika Nieya
jodohku akan kubawa pergi satu keluarganya dari sini.
Akan kuberikan keluarga itu rumah dan hidup yang layak.
❤❤❤❤