Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 5



Satu minggu berlalu, pria itu tak kunjung datang apalagi


memberi kabar lewat pesan.


Sedih? Sedikit.


Dalam seminggu juga daganganku sudah ada pembelinya tak


jarang mereka membelinya banyak. Pagi ini sekitar jam delapan aku melayani para


pembeli sampai- sampai ibu membantuku karena diriku terbatas.


 


 


Lima bungkus nasi kuning


Empat bungkus nasi campur


Tiga bungkus gado- gado.


Lumayan kan.


"Makan disini saya Bu." Kata tukang parkir yang


baru saja datang.


"Makan apa pak?" Tanya Ibu sedangkan aku


membungkus makanan.


"Nasi campur aja." Jawabnya. Ibu lalu mengambilkan


nasi lengkap dengan lauk  campuran dan di berikan ke dia.


"Pake apa Mba?" Tanyaku ke pembeli yang


berdiri.


"Ayam aja Mba." Jawabnya sambil mengeluarkan


uang.


Aku mengangguk sambil


mengambilkan ayam potongan. Syukur pagi ini Tuhan kasih banyak rejeki buat aku.


❤❤❤❤


Diriku sudah selesai menjualkan dagangan hingga nasi


kuning habis di jam setengah sepuluh. Kulihat ibu mengangkat tempat yang kosong


dan mencucinya.


"Bu, nanti malam belikan Rino martabak sama terang


bulan ya." Pintaku ke ibu untuk adik lelakiku.


"Buat apa, Mbak. Mending simpan uangnya." Kata


ibu sambil membasuh piring.


"Buat apa di simpan bu, belikan saja." Jawab


seseorang. Aku segera menengok dan dia datang. Althan duduk di depan jualanku


dengan pakaian santai. Kaos putih dan celana santai selutut bewarna cream,  rambutnya tidak serapi dulu melainkan ia


membiarkan anakan poni jatuh di dahinya. Benar- benar tampan.


"Eh, siapa ya?" Tanya Ibu sambil berdiri


melihat Altan. Althan tersenyum sambil membakar ujung rokoknya.


"Ibu, dia namanya Althan teman Nieya." Kataku


ke Ibu. Ibu langsung tersenyum sambil menyimpan tempat yang bersih tadi.


"Oh, teman Nieya baru tau ibu." Katanya.


Kulihat althan meletakan rokoknya di sudut lalu berdiri dan menyalimi ibuku.


"Salam kenal bu, saya baru sempat kesini karena


habis pulang dari Makassar." Jawab Althan setelah itu duduk kembali.


"Oh, orang bugis ya?" Tanya Ibu.


"Iyeee (Iya), bugis bone bu." Jawab


Althan dengan dialeg bugisnya.


"Daeng mau makan atau minum?" Tawarku. Kulihat


Althan melihat minuman rentengan yang tergantung di sampingku. Hm, usaha kecil-


kecilan yang kubuka cukup berkembang walaupun dalam seminggu.


"Good day aja yang warna biru tuh."


Tunjuknya. Aku mengambil gunting lalu mengambil minuman serbuk setelah itu


kuberikan pada ibu. Ibu yang akan menyeduhnya dengan air panas.


"Bu, bolehkah saya ajak Nieya jalan- jalan?"


Izin Althan tiba- tiba.


Ibu yang sedang menyeduh langsung melihatku dan tersenyum


tetapi aku tidak dan menggeleng pelan.


"Nieya tidak pernah keluar ataupun jalan- jalan


sejak lima tahun ini. Dia takut merepotkan orang karena keterbatasannya."


Ujar Ibu dan aku mengangguk. Ibu memberikan kopinya ke Althan.


"Gakpapa Bu, saya tidak kerepotan dengan Nieya. Saya


akan bantu dia bila perlu saya gendong." Ujar Althan. Matanya memancarkan


kesungguhannya untuk mengajakku jalan.


"Aku cacat Daeng, sebelah kakiku tidak ada. Aku


tidak mau kamu malu karena diriku." Kataku sendu. Althan menggeleng seraya


tersenyum tenang. Duhai senyumnya memancarkan aura damai dan tenang seperti air


danau walaupun matanya terlihat tajam


"Tidak, buat apa malu. Aku bukan penjahat. Aku hanya


mengajakmu jalan." Katanya.


Ibu memegang bahuku dan mengangguk.


"Baru kali ini kamu dapat teman lagi. Ibu izinkan


kupikir- pikir baiklah.


"Baiklah. Tapi jangan sekarang karena aku harus


berjualan." Kataku. Althan mengangguk senang ia kemudian mengedipkan


sebelah matanya ke aku.


Dia mampu membuatku tersipu setiap bertemu dengannya.


❤❤❤❤


"Apa kamu pernah ke kebun raya Balikpapan?"


Tanya Althan. Aku menggeleng pelan sambil menutup jualan. Sekarang sudah jam


empat sore dan lelaki itu beluman pulang.


"Belum pernah, kamu gak pulang? Ini sudah


sore." Kataku takutnya ibunya khawatir.


"No, aku mau mengantarmu pulang." Jawabnya.


"Rumahku jelek." Kataku.


"Yang penting orangnya cantik." Jawab Althan


dengan nada yang sama. Aku langsung tertawa ingin sekali kucubit lengannya.


Althan ikut tertawa sambil menghabiskan minumannya. Tadi, Kami tidak banyak


bicara  karena aku sibuk berjualan dan dia membantuku untuk menukar uang


kecil di warung lain sampai berkeliling ckck.


"Semua sudah kubenahi tinggal tunggu bapak, ibu dan


juga Rino." Kataku.


"Kalian biasanya pulang pergi pakai apa?" Tanya


Althan kepadaku.


"Angkutan umum atau ojek." Jawabku.


"seriously? Kamu wanita kuat Nieya. Apa kamu


sudah menikah dan memiliki suami?"


Aku menggeleng walaupun pernah dengan Danu tapi pantaskah


itu di sebut menikah?


"Tidak. Oh ya itu bapak dan ibuku. Oh ya Daeng, apa


dirimu tidak menghubungiku lewat pesan atau telp?" Tanyaku yang baru


ingat.


"Sering tapi gak pernah di balas dan waktu nelpon


pun bukan kamu yang jawab." Katanya. Ya ampun aku baru ingat bapak tidak


tau cara menggunakan hp layar sentuh selain menelfon dan terima telp.


"Hehe, maaf ya Daeng." Ujarku.


❤❤❤❤


Rumah ini tidak seperti milikku. Bahkan aku harus


menunduk untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku membantu Nieya untuk pindah dari


kursi roda ke lantai sedangkan kedua orang tuanya memasukan barang jualan dan


belanjaan untuk besok.


"Daeng mau minum apa?" Tawar Rino yang duduk di


sampingku. Aku mengacak rambutnya sambil menggeleng.


"Tidak usah, oh ya kamu kelas berapa sekarang?"


Tanyaku.


"Kelas dua smp, Daeng.'' Jawabnya. Anak yang pintar


"Oh ya? Berarti nanti naik kelas dong." Kataku


dan Rino mengangguk antusias.


"Iya dong." Jawabnya. Tak lama Rino berdiri dan


pergi keluar saat teman- teman sebayanya memanggil.


Ku lihat Nieya yang sedang menyalakan tv. Sepertinya aku


mulai menyukai gadis itu tanpa melihat kekurangannya.


"Nieya, aku pamit pulang dulu." Aku bangun dan


mencium keningnya entah dorongan dari mana. Rasanya aku ingin melindungi


dirinya. Ia nampak kaget setelah itu menatapku sendu sambil tersenyum


"Hati- hati Daeng." Ucapnya.


"Besok kita jalan ya." Kataku lembut tepat di


depannya.


"Iya" jawabnya. Aku berdiri kemudian berpaminat


dengan bapak dan ibu di dapur.


"Pak, bu... saya pulang dulu." Kataku sambil


menyingkai kain di antara pintu. Ibu dan bapak menghampiriku dan aku meraih


tangan mereka untuk menciumnya.


"Masya Allah nak, ibu jadi gak enak." Katanya.


Aku tersenyum dan menggeleng pelan.


"Gakpapa bu, saya suka sama Neiya tapi diem- diem


aja ya. Hehe." Kataku setelah itu pergi dari rumahnya.


Aku tidak menyangka keluarga itu mau tinggal di tempat


kumuh seperti ini. Banyak laki- laki pengangguran dan peminum. Jika Nieya


jodohku akan kubawa pergi satu keluarganya dari sini.


Akan kuberikan keluarga itu rumah dan hidup yang layak.


❤❤❤❤