
Dagangan Nieya sudah habis bahkan orang orang tadi pergi
hingga menyisakan mereka berempat.
Ayah, ibu, Nieya dan Althan.
"Ayo jalan." Ajak Althan sambil melihat jam di
tangan rupanya masih jam tiga sore.
"Tunggu aku harus menutup warung." Jawab Nieya.
Althan memeluk Nieya dan membisikan sesuatu.
"Ada janjian sama dokter soal kakimu."
Nieya menengok "Maksudnya."
"Ayolah." Althan menarik Nieya tak lupa mereka
berpamitan.
Althan memasukan Nieya ke dalam mobil setelah itu
dirinya. Althan memasang sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya keluar dari
pasar.
❤❤❤❤
Nieya duduk di atas ranjang rumah sakit sementara kakinya
di periksa oleh dokter dan diukur.
Dokter itu mengerutkan keningnya sambil melihat Nieya
mengobrol dengan Althan.
"Sepertinya ukuran anda sudah kami buatkan atas Nama
Danu sanjaya lima tahun yang lalu.
Nieya dan Althan langsung terdiam pikiran laki- laki itu
langsung bercabang kemana- mana. Dokter itu berdiri dan memanggil suster.
"Tolong ambilkan kaki palsu."
"Maksud dokter?" Tanya Althan rasa taunya sudah
memuncak ia akan mencari tau setelah ini.
"Maksud saya bukannya Nieya pasien dari Banjarmasin?
Semua biaya ditanggung oleh Pak Danu karena..."
"Pak kakinya palsunya." Ujar suster. Dokter itu
langsung mengambil dan memasangkannya di kaki Nieya dan ternyata pas.
"Wah pas sekali." Ujar dokter Cipto. Nieya
langsung tersenyum kikuk ke Althan yang diam.
"Silahkan jalan Bu Nieya." Kata dokter setelah
memasangnya dengan benar. Nieya mulai turun dengan di bantu oleh Althan dan
jalan dengan pelan.
Nieya berjalan dengan menyesuaikan dirinya dengan kaki
palsu. Saat melangkah ia lunglai dan jatuh ke dada Althan.
"Pelan- pelan." Kata Althan sambil menegakan
Nieya. Nieya mengangguk Ia mencoba lagi tetapi tangannya tidak lepas dari
tangan Althan.
"Harus sering- sering di latih agar bisa ya."
Ujar dokter. Althan mengangguk lalu membawa Nieya keluar.
"Habis mengantarmu aku langsung balik soalnya ada
sesuatu di kantor." Ujar Althan. Nieya melapaskan pegangannya dan mulai
berjalan sendiri
"Pergilah, aku bisa menaiki kendaraan umum lagian
kantormu tidak jauh dari sini." Kata Nieya tetapi Althan menggeleng ia
tersenyum di balik rasa pengetahuannya tentang masa lalu Nieya.
"Tidak apa, ayo."
❤❤❤❤
Sesuai janjknya Althan mengantar Nieya hingga sampai
rumah setelah itu pamit tanpa mampir sebentar untuk duduk. Altah menelfon
"Hallo saya mau kamu datang ke kantor saya jam lima
sore ini.
''Setengah jam lagi."
"Baiklah.
Althan mematikan telpnya dan melihat jalanan dengan
tajam, ia harus tau agar bisa menerima kekurangan dan kelebihan Nieya.
❤❤❤❤
Saat sampai di kantor Althan menemui sang detektif.
"Belum pulang?" Tanya Althan ke Rista dingin
dan datar. Rista mengerutkan keningnya seraya berfikir tumben nih bosnya
bersifat seperti itu.
"Nunggu suami jemput." Jawabnya.
"Hm, Baiklah." Althan segera pergi ke
ruangannya.
Setelah sampai ia membuka pintu dan duduk disana untuk
mempersiapkan berkas tentang Danu dan Nieya.
Hubungan apa yang mereka punya hingga Danu sangat
berpengaruj sekali dalam kehidupan Nieya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Kata Althan sambil berkutat di depan
laptop.
"Saya detektif swasta, Adji Regart." Ujarnya
sambil masuk dan duduk di hadapan Althan
"Saya ingin mencari tau tentang Danu Sanjaya dengan
calon istri saya bernama Nieya." Kata Althan serius.
"Kirimi datanya melalui email." Kata Adji
sambil memberikan kartu namanya. Althan menerima itu lalu menulisnya di layar
laptop.
"Sudah." Jawab Althan
"Ok, seperti yang anda ketahui ini urusan yang
sangat sensitif dan bersangkutan dengan orang banyak terutama istri Pak Danu
yaitu Keana."
"Maksudnya?" Tanya Althan
"Tidak ada, hanya ingin mengetahu hubungannya kan?
Saya akan berikan seminggu lagi karena membongkar rahasia pak Danu adalah hal
yang sulit." Ujarnya.
"Kenapa begitu? Bukannya banyak yang bekerja sama
denganmu karena keahlianmu sangat bagus?"
"Saya bisa saja mencarinya dan memberikannya sejam
kemudian tapi yang menyusahkan adalah istrinya yang berusaha melindungi Danu.
Ia tidak akan membiarkan siapapun mengetahui rahasia mereka." Jawab Adji.
Althan bersandar di kursi dan teringat dengan sosok Keana.
"Baiklah tapi jangan sampai seminggu."
"Saya akan usahakan itu kalau gitu saya permisi dulu."
Mereka berdua saling berdiri dan berjabat tangan.
"Permisi."
Kata Adji sambil pergi keluar.