Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 14



Dagangan Nieya sudah habis bahkan orang orang tadi pergi


hingga menyisakan mereka berempat.


Ayah, ibu, Nieya dan Althan.


"Ayo jalan." Ajak Althan sambil melihat jam di


tangan rupanya masih jam tiga sore.


"Tunggu aku harus menutup warung." Jawab Nieya.


Althan memeluk Nieya dan membisikan sesuatu.


"Ada janjian sama dokter soal kakimu."


Nieya menengok "Maksudnya."


"Ayolah." Althan menarik Nieya tak lupa mereka


berpamitan.


Althan memasukan Nieya ke dalam mobil setelah itu


dirinya. Althan memasang sabuk pengaman lalu menjalankan mobilnya keluar dari


pasar.


❤❤❤❤


Nieya duduk di atas ranjang rumah sakit sementara kakinya


di periksa oleh dokter dan diukur.


Dokter itu mengerutkan keningnya sambil melihat Nieya


mengobrol dengan Althan.


"Sepertinya ukuran anda sudah kami buatkan atas Nama


Danu sanjaya lima tahun yang lalu.


Nieya dan Althan langsung terdiam pikiran laki- laki itu


langsung bercabang kemana- mana. Dokter itu berdiri dan memanggil suster.


"Tolong ambilkan kaki palsu."


"Maksud dokter?" Tanya Althan rasa taunya sudah


memuncak ia akan mencari tau setelah ini.


"Maksud saya bukannya Nieya pasien dari Banjarmasin?


Semua biaya ditanggung oleh Pak Danu karena..."


"Pak kakinya palsunya." Ujar suster. Dokter itu


langsung mengambil dan memasangkannya di kaki Nieya dan ternyata pas.


"Wah pas sekali." Ujar dokter Cipto. Nieya


langsung tersenyum kikuk ke Althan yang diam.


"Silahkan jalan Bu Nieya." Kata dokter setelah


memasangnya dengan benar. Nieya mulai turun dengan di bantu oleh Althan dan


jalan dengan pelan.


Nieya berjalan dengan menyesuaikan dirinya dengan kaki


palsu. Saat melangkah ia lunglai dan jatuh ke dada Althan.


"Pelan- pelan." Kata Althan sambil menegakan


Nieya. Nieya mengangguk Ia mencoba lagi tetapi tangannya tidak lepas dari


tangan Althan.


"Harus sering- sering di latih agar bisa ya."


Ujar dokter. Althan mengangguk lalu membawa Nieya keluar.


"Habis mengantarmu aku langsung balik soalnya ada


sesuatu di kantor." Ujar Althan. Nieya melapaskan pegangannya dan mulai


berjalan sendiri


"Pergilah, aku bisa menaiki kendaraan umum lagian


kantormu tidak jauh dari sini." Kata Nieya tetapi Althan menggeleng ia


tersenyum di balik rasa pengetahuannya tentang masa lalu Nieya.


"Tidak apa, ayo."


❤❤❤❤


Sesuai janjknya Althan mengantar Nieya hingga sampai


rumah setelah itu pamit tanpa mampir sebentar untuk duduk. Altah menelfon


"Hallo saya mau kamu datang ke kantor saya jam lima


sore ini.


''Setengah jam lagi."


"Baiklah.


Althan mematikan telpnya dan melihat jalanan dengan


tajam, ia harus tau agar bisa menerima kekurangan dan kelebihan Nieya.


❤❤❤❤


Saat sampai di kantor Althan menemui sang detektif.


"Belum pulang?" Tanya Althan ke Rista dingin


dan datar. Rista mengerutkan keningnya seraya berfikir tumben nih bosnya


bersifat seperti itu.


"Nunggu suami jemput." Jawabnya.


"Hm, Baiklah." Althan segera pergi ke


ruangannya.


Setelah sampai ia membuka pintu dan duduk disana untuk


mempersiapkan berkas tentang Danu dan Nieya.


Hubungan apa yang mereka punya hingga Danu sangat


berpengaruj sekali dalam kehidupan Nieya.


 


 


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Kata Althan sambil berkutat di depan


laptop.


"Saya detektif swasta, Adji Regart." Ujarnya


sambil masuk dan duduk di hadapan Althan


"Saya ingin mencari tau tentang Danu Sanjaya dengan


calon istri saya bernama Nieya." Kata Althan serius.


"Kirimi datanya melalui email." Kata Adji


sambil memberikan kartu namanya. Althan menerima itu lalu menulisnya di layar


laptop.


"Sudah." Jawab Althan


"Ok, seperti yang anda ketahui ini urusan yang


sangat sensitif dan bersangkutan dengan orang banyak terutama istri Pak Danu


yaitu Keana."


"Maksudnya?" Tanya Althan


"Tidak ada, hanya ingin mengetahu hubungannya kan?


Saya akan berikan seminggu lagi karena membongkar rahasia pak Danu adalah hal


yang sulit." Ujarnya.


"Kenapa begitu? Bukannya banyak yang bekerja sama


denganmu karena keahlianmu sangat bagus?"


"Saya bisa saja mencarinya dan memberikannya sejam


kemudian tapi yang menyusahkan adalah istrinya yang berusaha melindungi Danu.


Ia tidak akan membiarkan siapapun mengetahui rahasia mereka." Jawab Adji.


Althan bersandar di kursi dan teringat dengan sosok Keana.


"Baiklah tapi jangan sampai seminggu."


"Saya akan usahakan itu kalau gitu saya permisi dulu."


Mereka berdua saling berdiri dan berjabat tangan.


"Permisi."


Kata Adji sambil pergi keluar.