
Nieya memakai pakaian yang di belikan Althan sebelum
pulang kerumah. Tanda merah begitu tertera di tubuh Nieya akibat ulah Althan.
"Pulang ke apart yuk." Ajak Althan sambil
meremas bokong Nieya.
"Gak, aku mau pulang saja. Ibu dan bapakku harus
makan malam nanti gak ada yang nyiapin." Kata Nieya setelah memakai baju
dan mengikat rambutnya asal.
"Kalau gitu izin saja, bilang aja nginap dirumah
aku."
"Orang tuaku tidak begitu, membiarkan anak
perempuannya nginap dirumah orang lain, lain kali aja." Nieya memegang
dada bidang Althan lalu mencium bibir lelakinya.
"Baiklah." Althan mengalah sambil memeluk
Nieya.
Althan akan mengantar Nieya untuk pulang kerumah tapi
sebelum itu makan nasi padang.
"Jadi makan nasi padang?" Tanya Althan saat
Nieya memasukan pakaian basah ke dalam tas belanja.
"Jadi dong." Jawabnya.
"Nasi padang dimana?" Tanya Althan sambil
memainkan hpnya. Saat bermain hp muncul sebuah pesan singkat mengenai Danu dan
Nieya.
Saya sudah mendapatkan informasinya, menurut kabar ini
sangat akurat dan tidak bisa di sangkal.
Althan mematikan layar hpnya saat Nieya memeluknya dari
belakang.
"Makan di manggar." Jawabnya. Althan mengangguk
sambil melepaskan pelukan Nieya lalu berdiri dan menyimpan hpnya di saku.
"Ayo." Ajaknya sambil meraih kunci mobil dan
memegang tangan Nieya.
❤❤❤❤
"Apapun yang terjadi kau tidak membenciku kan?
Sekalipun masalaluku yang buruk." Kata Nieya tiba- tiba. Althan langsung
menengok dan menggeleng
"Percayalah, jika dirimu mendengarnya jangan
salahkan pihak lawan tapi akulah yang bersalah. Jangan menghakimi mereka."
Kata Nieya sendu. Althan meminggirkan mobilnya setelah itu melihat Nieya.
"Maksudnya apa? Jangan buat aku penasaran."
Kata Althan.
"Aku bukanlah seorang gadis yang baik, masa laluku
buruk. Aku dulu bekerja sebagai pembantu keluarga Keana dan Danu. Aku terobsesi
menjadi orang kaya hingga menggoda Danu." Kata Nieya tertahan ia
mengeluarkan air matanya. "Aku menggoda Danu hingga ia terbuai lalu kami
bersentuhan setiap tidak ada Keana, aku pernah hamil hingga menikah siri dengan
Danu. Tapi pernikahan kami tidak bertahan lama karena Danu menyiksaku dalam
keadaan mabuk. Ia mabuk karena di cecoki preman miras oplosan demi menyicipi
tubuhku. Aku kecelakaan karena preman yang mengejarku hingga kakiku seperti
ini." Kata Nieya jujur.
"Siapa yang mengetahui hal itu." Tanya Althan
dingin dan mengintimidasi.
"Semuanya. Karyawanmu, ibu dan bapak, Keana, Danu
dan Rayyan serta Bayu." Jawab Nieya.
Althan langsung memukul stir mobil penuh emosi. Bahkan ia
membenturkan kepalanya di mobil.
"Kenapa? Kenapa mereka tidak memberitau aku."
Teriak Althan tak terkendali. Nieya menangis tak lama ia keluar dari mobil dan
pergi menjauh, Althan tidak mengejar justru ia menjalankan mobil untuk pulang
kerumah Danu.
"Brengsek loe Danu! Sahabat macam apa dirimu."
Althan mempercepat mobilnya hingga ia sampai di kediaman sahabatnya.
Althan keluar dari mobil dan menggedor pintu rumah Danu.
Danu membuka pintu dan tersenyum.
"Hey dude.
Buk
Buk
Buk
Danu tersungkur di lantai bibirnya pecah dan pelipisnya
sobek.
"Brengsek! Teman macam apa kamu hah!!" Kata
Althan membabi buta. Keana lari saat mendengar teriakan Althan dan betapa
kagetnya ia mendapati sang suami sudah lebam.
"Althan!" Teriak Keana sambil melindungi Danu.
"Kau gila datang dan memukul suamiku hah!" Kata Keana.
"Suamimu bohong dia ternyata mantan suami
memangis. Danu menggeleng pelan ke Keana tanda tidak apa- apa.
"Kamu sudah tau?" Tanya Danu pelan dan Althan
mengangguk.
"Dia yang ngomong saat kami ingin makan."
Jawabnya.
"Itu sudah jadi masa lalu Althan." Kata Keana.
Althan melihat Keana lalu bergantian dengan Danu.
"Tapi kenapa kalian diam dan tidak mengatakannya padaku?
Aku mencintainya dengan segala kekurangannya." Ujar Althan. Danu berdiri
lalu menyuruh Althan masuk dan duduk di ruang tamu.
"Duduklah, sekarang dimana Nieya?" Tanya Danu.
"Dia pergi saat di jalan."
"Astaga kau meninggalkannya?" Kata Keana kaget
"ia pasti sangat ketakutan sekarang." Keana berdiri dan meraih kunci
mobil ia segera mencari Nieya agar wanita itu tidak diganggu oleh orang- orang
nakal.
"Nieya takut dengan orang jahat apalagi preman, jadi
Keana menyusulnya untuk membawanya pulang. Kau tau kenapa aku ataupun yang
lainnya tidak memberitahukan masa lalu Nieya? Itu semua karena dirinya
menemukan semangat hidup, menemukan seseorang yang bisa melindunginya."
Jelas Danu. "Aku minta maaf tapi itu sudah menjadi masa lalu."
"Dia trauma dengan preman?" Tanya Althan dan
Danu mengangguk. "Dia kehilangan semangat hidup karena cacat?" Tanya
Althan lagi dan Danu mengangguk.
"Ya, tapi sejak kehadiranmu ia menjadi semangat dan
menjadi orang yang lebih baik bahkan Keanapun iri dengannya." Kata Danu.
"Althan, semua orang memiliki masa lalu. Kamu dan
Nieya sama- sama dalam keputus asaan tapi Tuhan mempersatukan kalian hingga
memiliki semangat untuk hidup bersama dan menjalaninya." Kata Danu lagi
sambil memegang rahangnya sendiri.
"Ia tidak bersalah tapi egolah yang membuat dia
seperti itu." Gumam Althan ia menghapus air matanya dan menelfon kedua
orang tua Nieya.
"Hallo."
"Ibu ini saya Althan mohon maaf Nieya pulangnya
sedikit terlambat.
"Oh nak Althan, iya gakpapa nak."
"Yaudah kalau gitu bu."
Althan mematikan telpnya lalu melihat anak- anaknya Danu
yang sedang menonton tv di ruang tengah.
"Bahagia rasanya memiliki mereka ya?" Tanya
Althan. Danu tersenyum lalu mengangguk.
"Ada rasa tersendiri menjadi seorang ayah."
Jawab Danu. Althan tiba- tiba saja teringat dengan Nieya bagaimana kalau wanita
itu hamil anaknya karena sudah berbuat.
Entahlah.
❤❤❤❤
"Nieya?" Panggil Keana setelah berdiri di
sampingnya. Nieya menengok dengan mata sembab tak lama ia menangis pilu membuat
Keana langsung memeluknya.
"Aku mencintainya Ana, tapi Tuhan tidak mengizinkan
kami karena masa laluku." Kata Nieya di bahu Keana.
"Sst, ayo kita pulang." Ujar Keana. Nieya
menggeleng ia tidak ingin pulang ia tak mau Althan berada disana nanti.
"Keana, adakah pekerjaan untukku di tempat yang
jauh? Aku janji tidak akan menggoda suamimu. Aku ingin melupakan Althan karena
aku tau pasti ia membenciku."
"Nieya, dia tidak membencimu..." kata Keana
sambil menuntun Nieya masuk ke dalam mobilnya.
"Althan berada dirumahku ia menghajar Danu hingga
babak belur." Kata Keana setelah masuk ke dalam mobil. Nieya menghapus air
matanya dan menengok.
"Sudah kubilang mereka tidak bersalah. " ujar
Nieya karena ia tau kalau mereka melindungi Nieya demi kebahagian.
"Keana bisakah besok pagi kau mengantarkanku ke
terminal batu ampar?" Kata Neiya.
"Buat apa?" Tanya Keana sambil menyetir.
"Aku ingin pergi untuk menenangkan diri. Aku akan
izin dengan ibu dan bapak." Kata Nieya meyakinkan.
"Mau kemana memangnya?"
"Samarinda." Jawab Nieya.
Nieya akan pergi meninggalkan kota Balikpapan ini dan
pergi untuk menenangkan diri.