Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 1



 


 


Hai...


Perkenalkan namaku adalah Nieya. Terima kasih sudah mau membaca kisahku setelah


cerita Keana tamat.


Kemarilah, duduklah bersamaku dan akan kuceritakan kisah-


kisahku yang mampu menyayat hati.


"Kemarilah..." aku menepuk kursi kayu kosong


buat kalian.


"Selamat menikmati."


❤❤❤❤


Pagi yang cerah...


Sang adik bernama Rino sudah pergi sekolah dengan


melewati jempatan kayu di atas laut.


Ibu dan Bapak juga sudah bersiap untuk bekerja di pasar.


Ibu berdagang kerupuk keliling sedangkan bapak menjadi kuli panggul di pasar.


Sedangkan diriku? Kuhembuskan nafasku sambil bersandar di


dinding. Aku ingin sekali membantu mereka tapi ada daya karena diriku cacat.


"Nieya, Ibu dan Bapak berangkat dulu ya." Pamit


Ibu dan Bapak. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.


ku malu rasanya tidak bisa berbuat apa- apa.


"Hati- hati Pak Bu." Jawabku. Tak lama mereka


pergi seraya menutup pintu.


Aku menatap layar televisi. Di sana menampilkan seorang


pria tampan dan kaya bukan selebriti ataupun publik figur malainkan pebisnis


tambang di tenggarong. Aku berkhayal jika bertemu dengannya lalu saling suka


dan menikah ckckk lucu rasanya walaupun mustahil.


"Hah, sadarlah Nieya. Gak ada laki- laki yang mau


bersama wanita cacat seperti dirimu." Kataku ke diri sendiri. Aku


meletakan remot tv lalu mencoba untuk berjalan dengan cara menyeret bokong.


Aku ingin ke dapur untuk masak buat makan siang. Semoga


bapak dan ibu pulang biasanya mereka tidak pulang dan memilih makan di jalan


atau puasa.


Setelah sampai di dapur aku mencari pegangan agar bisa


berdiri kebetulan tongkat jalanku tidak kubawa kesini tadi.


"Apa aku bantu Ibu dan Bapak jualan aja kali


ya." Kataku saat berdiri. Aku kan bisa masak apalagi buat gado- gado. Aku


akan menunggu mereka pulang saja sambil menyiapkan makan siang.


❤❤❤❤


12:12 wit


Aku duduk di depan tv sambil menyisir rambut tak lama


suara Ibu dan Bapak memberi sallam.


"Assalamulaikum, Nieya. Ibu dan Bapak pulang."


Seru mereka.


Senyumku merekah saat mereka berdua masuk ke dalam rumah


adan duduk bersamaku. Dirumahku tidak ada meja makan ataupun ruangannya


"Nieya masak oseng kangkung sama ikan goreng plus


sambal terasi." Kataku sambil membuka tudung saji bewarna cream usang.


Ibu dan Bapak tersenyum kemudian mencuci tangan mereka di


air kobokan.


"Enak sekali masakan anak Bapak ini." Puji


Bapak membuat diriku merasa senang.


Menurutku dan keluargaku makanan ini sudah paling mewah


semenjak kehancuran diriku dulu.


"Enak dong." Jawabku.


Ibu nampak mengambilkan Bapak asi dan juga lauk.


"Sayurnya banyak bu." Seru Bapak. Tak lama


kudengar suara adik lelakiku Rino.


"Assalamualaikum." Salammnya sambil


melepas sepatu sekolah di pintu. Seteleh lepas sepatu ia kebelakang untuk


meletakannya dan membuka tasnya juga. "Wah, Mba masak enaknya." Rino


langsung duduk di tengah kedua orang tuanya dan ikut makan.


"Makan yang banyak biar cepat besar." Kataku sambil mengacak


rambutnya.


"Bukan cepat besar tapi gendut ckck." Jawab


sang adik.


"Ibu dan Bapak, aku jualan gado- gado di pasar.


Boleh gak? Atau kalian malu punya anak cacat." Kataku yang mulai serius.


Bapak menatap sang anak kemudian menatap Ibu.


"Yakin? Bapak dan Ibu bolehkan kok tapi harus cari


tempat dulu." Ujar Ibu membuatku senang campur haru. Aku janji akan


berjualan dengan giat dan memperbaiki semuanya.


"Kebetulan di depan masjid ada tempat jualan yang


kosong. Kita kesana aja nanti buat nanya biaya sewanya." Kata Bapak ke


Ibu.


"Wah, nanti Rino ikut ya, bantuin bapak sama ibu


sama Mba juga." Jawab Rino.


"Emang Rino gak malu bantuin Mba jualan apalagi


mba---."


"Apaan sih mba, buat apa malu kan cari uangnya


halal." Potong adikku.


Satu yang aku bangga dari Rino. Ia tidak pernah malu


memiliki keluarga semiskin ini apalagi memiliki kakak seperti diriku.


"Nanti modalnya pakai tabungan Rino aja. Rino punya


tabungan di sekolah." Ujar Rino sambil makan.


"Serius dek? Berapa tabunganmu." Tanyaku.


"500 ribu Mba, setiap Ibu dan Bapak kasih uang jajan


Rino gak pernah pake. Uangnya di tabung buat keperluan nanti atau kenaikan


kelas." Jelas sang adik.


Aku, Bapak dan Juga ibu langsung terhenyuh dan terharu. Adikku


ini selain tidak malu ia juga tidak suka menyusahkan kami. Ibu meletakan piring


nasinya lalu memeluk Rino.


"Semoga Allah membalas kebaikan anak- anakku, ya


rabb." Kata Ibu sambil menangis.


Akupun ikut menangis karena hari ini.


❤❤❤❤


Dengan modal 500 ribu, aku membuat bahan gado- gado yang


di bantu oleh Ibu sedangkan Bapak dan Rino sedang membuatkan wadah kayu untuk


mengisi bahan gado- gado tersebut.


Rencana bukan cuma gado- gado saja. Tapi nasi kuning juga


sama beberapa makanan lainnya.


"Nieya jualannya dari jam berapa sampai jam berapa


nak?" Tanya Ibu sambil membuat lontong. Aku menengok saat mengangkat


kangkung rebus dan juga cambah.


"Pagi bu, jam enam  Nieya mulai jualan di sana sampai sore jam


empat." Kataku. Lumayan kalau pagi banyak yang cari nasi kuning sedangkan


siang dan sore gado- gado.


"Kursi roda pemberian Danu mau kamu pakai? Dipakai


lah, kan sudah jadi masa lalu." Kata Ibuku. Aku tertunduk sejenak sambil


menatap kursi roda yang masih terbungkus pelastik.


Lima tahun sudah berlalu tapi hatiku masih saja tetap


sakit. Apa aku masih mencintai Danu?


Iya, jawabannya iya aku masih sangat sayang dan cinta


dengannya tapi masih ada yang lebih dari aku yaitu istrinya Keana.


"Iya bu, Nieya akan pakai." Jawabku sendu. Ibu


mendekatiku lalu berdiri di depanku.


"Jangan sedih, berdoalah agar ada lelaki yang mau


bersama dirimu." Kata ibuku sambil mengelus wajahku. Aku memegang tangan


Ibu dan mengangguk.


"Insya Allah." Jawabku.


Semoga jualanku berkah dan rejekiku melimpah...


Amin...