
Hai...
Perkenalkan namaku adalah Nieya. Terima kasih sudah mau membaca kisahku setelah
cerita Keana tamat.
Kemarilah, duduklah bersamaku dan akan kuceritakan kisah-
kisahku yang mampu menyayat hati.
"Kemarilah..." aku menepuk kursi kayu kosong
buat kalian.
"Selamat menikmati."
❤❤❤❤
Pagi yang cerah...
Sang adik bernama Rino sudah pergi sekolah dengan
melewati jempatan kayu di atas laut.
Ibu dan Bapak juga sudah bersiap untuk bekerja di pasar.
Ibu berdagang kerupuk keliling sedangkan bapak menjadi kuli panggul di pasar.
Sedangkan diriku? Kuhembuskan nafasku sambil bersandar di
dinding. Aku ingin sekali membantu mereka tapi ada daya karena diriku cacat.
"Nieya, Ibu dan Bapak berangkat dulu ya." Pamit
Ibu dan Bapak. Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.
ku malu rasanya tidak bisa berbuat apa- apa.
"Hati- hati Pak Bu." Jawabku. Tak lama mereka
pergi seraya menutup pintu.
Aku menatap layar televisi. Di sana menampilkan seorang
pria tampan dan kaya bukan selebriti ataupun publik figur malainkan pebisnis
tambang di tenggarong. Aku berkhayal jika bertemu dengannya lalu saling suka
dan menikah ckckk lucu rasanya walaupun mustahil.
"Hah, sadarlah Nieya. Gak ada laki- laki yang mau
bersama wanita cacat seperti dirimu." Kataku ke diri sendiri. Aku
meletakan remot tv lalu mencoba untuk berjalan dengan cara menyeret bokong.
Aku ingin ke dapur untuk masak buat makan siang. Semoga
bapak dan ibu pulang biasanya mereka tidak pulang dan memilih makan di jalan
atau puasa.
Setelah sampai di dapur aku mencari pegangan agar bisa
berdiri kebetulan tongkat jalanku tidak kubawa kesini tadi.
"Apa aku bantu Ibu dan Bapak jualan aja kali
ya." Kataku saat berdiri. Aku kan bisa masak apalagi buat gado- gado. Aku
akan menunggu mereka pulang saja sambil menyiapkan makan siang.
❤❤❤❤
12:12 wit
Aku duduk di depan tv sambil menyisir rambut tak lama
suara Ibu dan Bapak memberi sallam.
"Assalamulaikum, Nieya. Ibu dan Bapak pulang."
Seru mereka.
Senyumku merekah saat mereka berdua masuk ke dalam rumah
adan duduk bersamaku. Dirumahku tidak ada meja makan ataupun ruangannya
"Nieya masak oseng kangkung sama ikan goreng plus
sambal terasi." Kataku sambil membuka tudung saji bewarna cream usang.
Ibu dan Bapak tersenyum kemudian mencuci tangan mereka di
air kobokan.
"Enak sekali masakan anak Bapak ini." Puji
Bapak membuat diriku merasa senang.
Menurutku dan keluargaku makanan ini sudah paling mewah
semenjak kehancuran diriku dulu.
"Enak dong." Jawabku.
Ibu nampak mengambilkan Bapak asi dan juga lauk.
"Sayurnya banyak bu." Seru Bapak. Tak lama
kudengar suara adik lelakiku Rino.
"Assalamualaikum." Salammnya sambil
melepas sepatu sekolah di pintu. Seteleh lepas sepatu ia kebelakang untuk
meletakannya dan membuka tasnya juga. "Wah, Mba masak enaknya." Rino
langsung duduk di tengah kedua orang tuanya dan ikut makan.
"Makan yang banyak biar cepat besar." Kataku sambil mengacak
rambutnya.
"Bukan cepat besar tapi gendut ckck." Jawab
sang adik.
"Ibu dan Bapak, aku jualan gado- gado di pasar.
Boleh gak? Atau kalian malu punya anak cacat." Kataku yang mulai serius.
Bapak menatap sang anak kemudian menatap Ibu.
"Yakin? Bapak dan Ibu bolehkan kok tapi harus cari
tempat dulu." Ujar Ibu membuatku senang campur haru. Aku janji akan
berjualan dengan giat dan memperbaiki semuanya.
"Kebetulan di depan masjid ada tempat jualan yang
kosong. Kita kesana aja nanti buat nanya biaya sewanya." Kata Bapak ke
Ibu.
"Wah, nanti Rino ikut ya, bantuin bapak sama ibu
sama Mba juga." Jawab Rino.
"Emang Rino gak malu bantuin Mba jualan apalagi
mba---."
"Apaan sih mba, buat apa malu kan cari uangnya
halal." Potong adikku.
Satu yang aku bangga dari Rino. Ia tidak pernah malu
memiliki keluarga semiskin ini apalagi memiliki kakak seperti diriku.
"Nanti modalnya pakai tabungan Rino aja. Rino punya
tabungan di sekolah." Ujar Rino sambil makan.
"Serius dek? Berapa tabunganmu." Tanyaku.
"500 ribu Mba, setiap Ibu dan Bapak kasih uang jajan
Rino gak pernah pake. Uangnya di tabung buat keperluan nanti atau kenaikan
kelas." Jelas sang adik.
Aku, Bapak dan Juga ibu langsung terhenyuh dan terharu. Adikku
ini selain tidak malu ia juga tidak suka menyusahkan kami. Ibu meletakan piring
nasinya lalu memeluk Rino.
"Semoga Allah membalas kebaikan anak- anakku, ya
rabb." Kata Ibu sambil menangis.
Akupun ikut menangis karena hari ini.
❤❤❤❤
Dengan modal 500 ribu, aku membuat bahan gado- gado yang
di bantu oleh Ibu sedangkan Bapak dan Rino sedang membuatkan wadah kayu untuk
mengisi bahan gado- gado tersebut.
Rencana bukan cuma gado- gado saja. Tapi nasi kuning juga
sama beberapa makanan lainnya.
"Nieya jualannya dari jam berapa sampai jam berapa
nak?" Tanya Ibu sambil membuat lontong. Aku menengok saat mengangkat
kangkung rebus dan juga cambah.
"Pagi bu, jam enam Nieya mulai jualan di sana sampai sore jam
empat." Kataku. Lumayan kalau pagi banyak yang cari nasi kuning sedangkan
siang dan sore gado- gado.
"Kursi roda pemberian Danu mau kamu pakai? Dipakai
lah, kan sudah jadi masa lalu." Kata Ibuku. Aku tertunduk sejenak sambil
menatap kursi roda yang masih terbungkus pelastik.
Lima tahun sudah berlalu tapi hatiku masih saja tetap
sakit. Apa aku masih mencintai Danu?
Iya, jawabannya iya aku masih sangat sayang dan cinta
dengannya tapi masih ada yang lebih dari aku yaitu istrinya Keana.
"Iya bu, Nieya akan pakai." Jawabku sendu. Ibu
mendekatiku lalu berdiri di depanku.
"Jangan sedih, berdoalah agar ada lelaki yang mau
bersama dirimu." Kata ibuku sambil mengelus wajahku. Aku memegang tangan
Ibu dan mengangguk.
"Insya Allah." Jawabku.
Semoga jualanku berkah dan rejekiku melimpah...
Amin...