
Nieya duduk di teras sambil terdiam ia ditinggal oleh
Althan yang sedang mengambilkannya minum. Sungguh ia ingin pulang kerumah dan
memeluk Ibunya.
"Nieya." Panggil Keana. Nieya menengok dan tertunduk
malu. "Bagaimana kabarmu? Ibumu? Bapakmu dan adikmu?" Tanya Keana
ramah sambil duduk di kursi.
"Baik Ana. Aku tidak tau kalau althan membawaku
kesini." Ujar Nieya tak enak. Keana menggeleng pelan.
"Tidak apa, mungkin kamu sudah tau tapi tidak bisa
menolaknya. Maafkan kami yang tadi, Danu baru menjelaskannya pas kami di
kamar... aku bahagia Althan memilikimu." Kata Ana.
Nieya tersenyum penuh syukur ia menatap Ana haru.
"Aku cacat Ana dan dia mau menerimaku. Aku bersyukur
ada yang menggantikan sosok di dalam hatiku" kata Nieya. "Tapi aku
takut jika masa laluku diketahui dirinya dan dia membuangku."
"Kita akan bantu untuk membuatnya mengerti pelan-
pelan. Jangan sampai masa lalumu terbawa sampai ke dalam pernikahan
Nieya." Kata Keana.
"Maafkan Aku Ana, maaf sekali lagi. Aku sudah
menerima semuanya dengan ikhlas tapi aku tidak sanggup untuk kehilangan
althan." Kata Nieya kemudian menangis pelan. Keana memeluk Nieya sambil
mengeluas punggungnya.
"Althan dan Danu berasal dari tempat yang sama hanya
saja berbeda masalah. Danu karena perempuan sedangkan Althan karena broken home." Ujar Keana. Nieya
melepaskan pelukannya dan menghapus air mata.
"Apa dirimu mau menceritakannya? Aku bingung kalau
bersama dirinya untuk mengungkit masa lalu." Kata Nieya.
"Buat apa masa lalu mau di ceritakan yang penting
kamu dan dia bahagia."
"Supaya aku bisa membuka masa laluku juga."
Kawabnya pelan.
"Sayang." Tegur Althan yang baru saja datang.
Keana lekas berdiri dan pergi untuk menemui sang suami.
"Loh, kok pergi Ana?" Tanya Althan.
"Bayi tuaku merengek tuh." Jawab Ana ke Danu
yang sedari tadi memberi kode.
''Mau ngapain dia kalau seperti itu na?" Tanya
Nieya.
"Biasa, ngajak tidur.'' Jawab Keana sambil tertawa
kemudian melengos pergi.
"Katanya kamu haus? Aku membawakan ini." Althan
duduk di tempat Keana tadi dan memberikan minuman ke Nieya.
"Kamu kok baik banget sih." Kata Nieya sambil
menerima segelas minuman dingin.
"Baik dong kamu kan kekasihku. Oh ya? Tadi kalian
bahas apa?" Tanya Althan sambil menenggak minumannya sendiri yang ia bawa.
"Tentang dirimu yang habis rehab." Jawab Nieya.
Althan langsung terdiam kemudian melihat Nieya.
"Apa kamu akan menjauh dariku?" Tanya Althan.
Nieya mengusap lengan Althan dan menggeleng pelan
"Buat apa menjauhimu? Kalau Keana bisa menerima Danu
masa aku tidak bisa menerimamu, yang penting berubah jadi baik untuk berumah
tangga nanti." Jawab Nieya ke Althan. Althan meletakan minumannya dan
mengelus pipi Nieya.
"Terima kasih sayang, yang penting kamu di
sampingku." Jawab Althan sambil mencium kening Nieya mesra.
❤❤❤❤
Makan malam berlalu semua yang hadir pamit berpulangan
kecuali Nieya yang masih di dalam toilet sambil di tunggui oleh Althan yang
berdiri di luar kamar mandi. Nieya tidak melakukan apa- apa hanya saja ia ingin
dan menyendiri beberapa saat.
"Nieya." Panggil Althan sambil melihat jam
wajahnya seraya menarik nafas.
"Bukalah." Kata Nieya sambil berdiri dan pura-
pura habis buang air. Tak lama Althan membuka pintu dan membantu Nieya berjalan
menuju ruang tamu.
Keana dan Danu saling membersihi rumah maklum trauma
dengan pembantu membuat Keana melakukan pekerjaan rumah serba sendiri.
"Loh kalian gak pake pembantu? Kok kerjanya
berdua." Ujar Althan. Keana melihat Nieya kemudian beralih ke piring yang
ia bawa.
"Tidak, kalau pake pembantu nanti diriku tidak ada
kerjaan. Kalau gak ada aktifitas diriku gendut dan gak cantik lagi. Kalau gak
cantik lagi nanti Danu cari yang baru...." jawab Keana sambil memberikan
piring ke Danu lalu lelaki itu membawanya ketempat cucian piring. Althan
tertawa sambil menyandarkan Nieya di dekapannya.
"Kalian gak pulang? Pulang sana." Usir Danu
sambil mengelap meja tamu.
"Ngusir? Bagaimana kalau aku tidak ingin pulang? Aku
bisa tidur di kamar Rayyan dan bermain ps sampai pagi." Jawab Althan. Danu
melempar elap di wajah Althan dan berdiri seraya mengacak pinggang.
"Anakku! Makanya buat anak biar ada temen main.
Besok dia sekolah jadi gak boleh main ps." Jawab Danu. Sudah menjadi
peraturan bahwa Danu dan Keana mengizinkan anak- anaknya bermain game ketika
hari libur.
Althan mengambil elap yang nyangkut di wajahnya sambil
tertawa.
"Ya deh, ayo kita pulang sayang, aku naikan kursi
rodamu dulu. Tunggu sini." Kata Althan sambil melipat kursi roda dan
membawanya keluar.
"Aku mau mandi, jangan nakal jika ingin surat cerai
ada di sampingmu." Ancam Keana ke Danu. Danu menggeleng dengan wajah
polos.
Suasana nampak canggung saat Danu duduk di hadapan Nieya.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak seperti
ini." Kata Danu. Nieya menatap seseorang di masa lalunya.
"Baik, bolehkah aku memberitahumu walaupun sudah
jadi masa lalu." Kata Nieya pelan. Danu mengangguk dengan serius.
"Aku pernah hamil anakmu tapi keguguran karena kamu
memukulku. Tapi itu sudah jadi masa lalu maaf sudah membahasnya." Kata
Nieya sambil menahan air mata.
"Itu sudah jadi masa lalu dan informasimu membuatku
terluka. Maafin aku." Kata Danu.
Keana mengelus dadanya saat mendengar masalalu di balik pintu
kamar begitupun dengan Althan yang sekilas mendengar Danu berbicara.
"Apa mereka saling kenal?" Althan sedikit
terusik dengan ini. Apa ia menunggu Nieya menjelaskan atau mencarinya sendiri?
Entahlah.
Keana keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju
handuk.
"Loh belum mandi?" Tanya Danu. Althan masuk ke
dalam rumah dan menyuruh Nieya berdiri.
"Lupa, suamiku yang tampan harus ikut." Kata
Keana genit sambil menarik suaminya untuk berdiri kemudian Keana membisikan
sesuatu. "Takut masa lalu terulang lagi dan aku tidak rela." Danu
langsung tersenyum kemudiam mencium bibir istrinya sekilas.
"Yuk mandi bareng." Ajak Danu ke Ana.
"Kami pulang deh, ayo sayang." Althan membantu
Nieya menggunakan tongkatnya.
"Hati- hati." Jawab Keana saat Althan dan Nieya
keluar dari rumahnya.
❤❤❤❤