Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 26



Altan pulang kerumahnya ia masuk ke dalam sambil


meletakan kunci mobil di atas meja. Perasaannya tak enak dengan pelan ia menuju


ke dapur dan mengambil handgun di bawah kain. Althan meletakannya di balik baju


setelah itu berjalan pelan ke kamar.


‘’Wow sudah pulang.’’ Kata seorang wanita. Althan


berbalik dengan santai Ia kemudian melihat matan pembantu dan beberapa preman,


tidak tauah Althan bahwa salah satu diantara mereka pernah ingin memperkosa


Nieya,


‘’Keluar.” Althan menuruni anak tangga dengan santai


sambil memasukan kedua tangannya di kantung celana.


‘’Tidak semudah itu, bercinta dulu denganku disini dan di


hadapan kamera.’’ Kata Winda. Althan tertawa setelah itu menatap mantan


pembantunya dengan dingin.


‘’Hm, bagaimana kalau preman- preman itu saja yang


bercinta denganmu. Nanti akan kubayar mahal tapi jangan disini tapi diluar.’’


Kata Althan. ‘’Buat apa juga bawa preman- preman ini dirumhaku, kamu pikir aku


takut? Baiklah.’’ Althan mundur dan memanggil preman itu untuk melawannya satu


persatu.


‘’Majulah dan bunuh aku.’’ Kata Althan. Winda tertawa


sarkas ia kemudian menodongkan senjata api dan membidiknya ke dada Althan.


‘’Mati saja kau bedebah.’’ Umpatnya


Dor.


Bruk!


Bukan


Bukan Althan yang kena ia di dorong ke samping hingga


lengannya sakit. Althan langsung bangun dan melihat ke belakang.


‘’Kau tidak apa- apa.’’ Tanya seorang pria paruh baya.


Pria itu adalah papahnya.


‘’Pa…pah.’’ Kata Althan sambil melihat papahnya yang


tersungkur. Papah segera berdiri ia tidak terkena karena memakai pelindung di


dalam bajunya.


‘’Wah, kalian ingin melukai putraku?’’  kata Tantra sambil menghampiri Winda. ‘’kamu


ingin membunuh kakak tirimu sendiri hah!’’ bentaknya. ‘’Hentikan Winda, dia


kakakmu.’’


‘’Dia bukan kakakku kami tidak memiliki hubungan darah


bahkan dengan dirimu ayah. Aku mencintainya.’’


‘’Tidak boleh! Dia sudah memiliki calon istri. Pergi atau


kulaporkan kepada ibumu.’’ Tantra mengambil ponselnya lalu menelfon Andreas si


kepala pengawal.


‘’Bodoh, jemput anak ini dan jangan menginjakan kaki


disini.’’ Kata Tantra ke Andreas di balik telp.


Althan terduduk di anak tangga bukankah dia seorang


pembantu kenapa bisa jadi adiknya.


‘’Ngaco.’’ Kata Althan tak masuk akal. Lelaki itu berdiri


dan melihat drama di depannya. Tak lama kepala pengawal datang dengan beberapa


anak buah dan menangkap mereka.


‘’Bawa dia pergi dari sini.’’ Perintah Tantra ke


pengawalnya.


‘’Ayah.’’ Panggilnya.


‘’Memang benar, kamu bukan putriku melainkan pembantu di


keluargaku. Pergilah.’’ Kata Tantra tak lama mereka pergi.


‘’Maaf andai papah datang terlambat mungkin dirimu sudah


tiada.’’ Ujar Tantra saat tinggal berdua.


‘’Anda tau dari mana ini rumah saya.’’ Jawab Althan


dingin. Tantra melihat rumah yang bagus dank has lelaki.


‘’Aku selalu tau dirimu dan kedua adikmu, son.’’


Jawabnya.


‘’Buat apa anda kesini? Pergilah ini sudah malam dan saya


ingin istirahat.’’


‘’Bolehkan Papah datang menjadi wali nikahmu? Kudengar


kau akan menikah dengan wanita bernama Nieya.’’ Kata Papah. Althan tertawa


‘’Tidak perlu bagiku papahku sudah mati dua puluh tahun


yang lalu.’’


‘’Bagaimana kabar mamahmu, Nak.’’


‘’Buat apa Tanya mamah! Tidak perlu.’’ Kata Althan.


‘’Papah merindukan mamahmu. Papah masih mencintainya


Althan.’’ Kata Tantra pelan.


‘’Buat apa! Hah! Papah menabrak mamah karena masa lalunya


yang kelam! Hanya mamah bekerja di bar demi menghidupi kita. Lalu papah


berselingkuh dengan wanita kaya lalu membuat mamah hingga cacat! Jangan pernah


bertanya dengan mamahku!’’ teriak Althan emosi nafasnya berderu lalu matanya


merah karena menahan emosi hingga air matanya jatuh.


‘’Kita sudah bahagia! Jangan pernah menggangu kami.’’


Kata Althan pelan kemudian menaiki anak tangga meninggalkan sang papah.


‘’Papah hanya ingin menjadi orang tua kalian sekali saja


hingga kematian datang karena kanker batang otak.’’ Ucap Tanrta. ‘’Papah ingin


menghabiskan sisa umur ini dengan kalian terutama Ellie.’’ Jawabnya. Langkah


Althan terhenti lalu berbalik. ‘’Papah lupa jalan pulang dab rumah ini yang


papah ingat karena mencatat alamatnya.’’ Tantra mengambil secarik kertas dan


menujukan ke Althan. ‘’Papah bahkan lupa nama sendiri dan asalnya.’’


Tantra.


‘’Papah Cuma ingat mamahmu, Althan, Emily dan…’’ tantra


terhenti.


‘’Elthen.’’ Kata Althan. Papah mengangguk.


‘’Siapa yang memberikan alamatku?’’ Tanya Althan.


‘’Entah siapa.’’ Jawabnya. Althan meghembuskan nafasnya


lalu tertunduk, Ia mengambil hpnya di saku lalu menelfon mamah.


Tut


Tut


Tut


’’Hallo,


Al.’’ panggil mama.


‘’Mah, kemarilah ada papah di sini.’’


‘’Buat


apa dia datang? Usir saja.’’


‘’Mamah, papah sakit sepertinya sudah waktunya kita


merawat beliau. Cobalah.’’ Kata Althan.


‘’Baiklah.’’Sambungan terputus. Althan menuntun pria berparas


belanda itu duduk di sofa hitam.


‘’Ini rumah pertama yang papah dan mamahmu bangun mulai


dari gubuk kayu hingga sebesar ini.’’


‘’Bukan, ini rumahku sedangkan yang papah buat sedang


ditinggali mamah. Aku ingin kekamar dulu mau istirahat.’’ Althan bangkit


setelah itu pergi ke kaarnya.


1111


Eliie menatap Tantra yang sedang menonton tv dan Althan meletakan


mangkuk dan segelas minum.


‘’Buat apa kamu kesini? Ingin menyakiti aku dan anakku.’’


Ellie mendekati Tantra dan menariknya untuk keluar.


‘’Mamah.’’ Cegah Althan.


‘’Dia tidak sakit! Dia bohong agar bisa kesini. Kenapa?


Kamu kesini Tantra.’’ Teriak Ellie penuh kebencian.


‘’Ellie aku ingin pulang.’’ Kata Tantra.


‘’Pulang? Saya bukan rumahmu! ******* ini bukan rumahmu!


Rumahmu di sana, wanita cantik nan gadis yang kamu selalu bangga- banggakan


akan keperawanannya.’’ Kata Ellie.


‘’Maafkan aku Ellie, maaf.’’ Tantra langsung berlutut di


hadapan Ellie seraya menangisi masa lalunya.


‘’Aku cacat karena dirimu Tantra, kau mebrakku bersama


wanita perawan. Aku sudah tenang dengan ketiga anakku…’’ kata Mamah.


‘’Aku ingin kembali Ellie, hidupku tidak akan lama kalau


tidak percaya pergilah kerumah sakit restu ibu, ayo.’’ Kata Tantra.


‘’Gak! Aku tidak akan membiarkan dirimu membawa ketiga


anakku apalagi mengusiknya!.’’


‘’Ellie, aku tidak membawanya tapi ingin kembali sebelum


aku mati.’’ Bentak Tantra membuat Ellie langsung terdiam. Tantra berdiri namun


penglihatannya kabur dan pendengarannya hilang. ‘’Aku, mencintaimu anak-


anak.’’ Gumam Tantra sebelum akhirnya jatuh pingsan.


‘’Papah.’’ Althan mengangkat sang papah ke sofa.


‘’Mamah.’’ Panggil Althan. Ellie menangis ia akhirnya


mengalahkan egonya sendiri.


‘’Bawalah kerumah sakit.’’ Ibu memeluk Tantra.


‘’Kamu jahat, kamu tinggalkan aku di saat mereka tumbuh


dan menjadi dewasa.’’ Kata Mamah meluapkan segalanya.


Althan membawa papahnya keluar dan menuju mobil tentunya


bersama mamah. Mereka pergi menuju kerumah sakit restu ibu


*****


Mamah, Elthen, Althan dan Emily berada dirumah sakit menunggu


Tantra yang sedang di periksa di ICU. Mamah tak hentinya berdoa agar mantan


suaminya itu bangkit kembali dan bisa melawan penyakitnya.


‘’Mamah, tidurlah ini sudah jam dua pagi.’’ Kata Emily.


Mamah menggeleng sambil mengusap lengan anaknya.


‘’Kamu pulanglah, besok suamimu kerja dan Elthen dirimu


pulang kerja langsung kesini tanpa berganti baju dan kamu Althan habis pulang


dari Samarinda. Kalian pulanglah biar mamah yang jaga papah kalian. ‘’ kata


Mamah.


‘’Gak mau.’’ Kata Emily. Althan memijit pangkal hidungnya


ia butuh istirahat juga begitupun dengan Elthen ia meninggalkan lemburannya dan


langsung kesini.


‘’Baiklah bu, besok pagi nanti kita kesini.’’ Althan dan


Elthan mengapit Emily yang menangis karena tidak mau pulang.


‘’Nanti kubelikan makeup.’’ Sogok Althan lelah.


‘’Nanti kubelikan tas.’’ Sogok Elthan dengan lelah. Emily


langsung berhenti menangis dan mau untuk di ajak pulang kerumah.


‘’Aku aja yang mengantar Emily Daeng, dirimu pulanglah


dan istirahat.’’ Kata Elthen. Mereka berbeda mobil kecuali Emily yang naik


grab. Althan mengangguk dan masuk kedalam mobilnya


Lelah? Tentu saja sepertinya ia akan ke Apartemen