Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 12



Nieya memegang map kuning pemberiannya Althan.


"Bukalah dan kamu akan tau siapa aku." Ujar


Althan santai. Ya mereka sudah pindah ke ruangan kerja membiarkan adiknya


bermain dengan Rayyan.


"Apa ini?" Tanya Nieya seraya membuka isinya.


Nieya mulai mengambil lembar demi lembar seraya membaca.


"Surat tahananku dan juga lainnya. Pacarmu ini


mantan narapidana dan rehab." Althan menumpukan kedua tangannya di


pegangan kursi roda seraya menunduk melihat Nieya. Nieya langsung terkejut ia


perlahan menatap mata tajam di depannya.


"Apa kamu takut?" Tanya Althan. "Apa kamu


tidak mau bersamaku Nieya?" Tanya Althan lagi. Nieya cepat- cepat


menggeleng sambil memeluk kekasihnya.


"Enggak, aku gak takut denganmu." Jawab Nieya pelan


ia membelai belakang rambut lelakinya. "Aku mau bersamamu, aku sayang


denganmu Althan." Jawab Nieya lagi. Althan tertawa senang ia memeluk Nieya


dan mencium rambutnya.


"Mau menikah denganku?"


Nieya terdiam sejenak setelah itu melepas pelukan mereka.


"Mau." Jawab Nieya penuh ragu. "Tapi, aku


memiliki cerita yang kelam. Berjanjilah untuk tidak merendahkanku, melecehkanku


ataupun jahat. Setelah mendengarkannya aku membebaskanmu untuk merubah


keputusan tadi." Ujar Nieya. Althan mengangguk lalu ia membawa Nieya duduk


berhadapan.


"Aku gak akan jahat kepadamu." Jawab Althan.


Nieya menarik nafasnya lalu mulai bercerita.


 


 


Tok


Tok


Tok


Tok


"Mba, mba Nieya." Panggil Riko.


Althan menutup kedua matanya dan langsung berdiri untuk


membuka pintu maklum pintu tadi terkunci.


"Mba, Rayyan pingsan terus di bawah gak ada orang


karena lagi keluar." Ujar Riko yang bingung mau minta tolong dengan siapa.


Nieya langsung berdiri dan meminta Althan membawanya ke bawah.


Setelah sampai di bawah ia melihat Rayyan merintih sakit


setelah makan.


"Kenapa nak?" Nieya berjongkok di tempat mainan


tadi.


"Sakit Aunty, magh Ray kambuh." Jawabnya.


"Ayo kerumah sakit." Althan membantu Rayyan


berdiri dan keluar menuju mobil. Riko membantu Nieya untuk berjalan dengan


tongkat sedangkan kursi rodanya ia tinggal di atas.


❤❤❤❤


administrasi sedangkan Rayyan dan Nieya berada di UGD.


"Kamu makan pedas tadi ya?" Tanya Nieya sambil


menggenggam tangan Rayyan. Rayyan mengangguk sambil menutup matanya. Perpaduan


yang sempurna antara  Keana dan Danu dari sudut pandang Nieya.


"Iya aunty, mama sama papah selalu ngelarang makan


pedes tapi kepingin ya beli." Jawabnya. Nieya menarik lekukan bibirnya


menjadi lurus seraya kenunggu Althan.


"Aku sudah urus dan dia bisa dipindahkan ke vvip


room. Aku nelpon kedua orang tuanya tapi gak aktif." Ujar Althan sambil


melihat Rayyan di urusi oleh suster yang baru datang. "Sudah di


periksa?" Tanya Althan. Nieya mengangguk


"Sudah, katanya dia kena magh dan gak boleh


pulang." Jawab Nieya.


"Nanti keluarganya datang dan kita baru bisa


pulang." Ujar Althan. Nieya mengangguk sambil melihat Rayyan di pindahkan.


Setelah dipindahkan ia bangun dan melihat Nieya, wanita


itu mirip sekali dengan maidnga dulu tapi kata mamah bukan.


"Dulu Rayyan punya maid terus dia pernah buatkan


omlet mie, makanan itu sangat enak dan membuat kenyang.'' Kata Ray.


Nieya mengangguk dan teringat ketika ia pertama kali


kerja dan mengurus Rayyan.


"Aunty juga buat, mau coba?" Ujar Nieya. Rayyan


mengangguk sambil tersenyum


"Kalau sudah sembuh, ok?"


"Ok"


❤❤❤❤


Hari sudah malam, keluarga Rayyan sudah datang untuk


menemani. kini Nieya, Althan dan Riko sudah pulang di dalam perjalanan.


Lelaki itu sudah tidur hingga menyisakan dua insan yang


saling terdiam dan menatap ke depan.


"Apa dirimu lelah Daeng?" Tanya Nieya. Althan


menggeleng sambil memegang tangan Nieya.


"Tidak sayang, besok ikutlah denganku kerumah


sakit." Kata Althan.


"Buat apa?" Tanyanya.


"Pasang kaki palsu buatmu, aku sudah konsultasi sama


dokter spesialis juga tadi." Kata Atlhan.


"Serius? Berarti aku bisa jalan normal?" Tanya


Nieya antusias. Althan mengangguk sambil tersenyum


"Iya sayang." Kawabnya.


Nieya tersenyum syukur ia bisa bayangkan jalan tanpa


tongkat ataupun kursi roda. Ia bisa jalan tanpa membuat susah keluarga dan


orang lain.


"Terima kasih tuhan sudah berikan aku malaikat


penolong." Batin Nieya sambil bersandar di lengan Althan.