
Nieya memegang map kuning pemberiannya Althan.
"Bukalah dan kamu akan tau siapa aku." Ujar
Althan santai. Ya mereka sudah pindah ke ruangan kerja membiarkan adiknya
bermain dengan Rayyan.
"Apa ini?" Tanya Nieya seraya membuka isinya.
Nieya mulai mengambil lembar demi lembar seraya membaca.
"Surat tahananku dan juga lainnya. Pacarmu ini
mantan narapidana dan rehab." Althan menumpukan kedua tangannya di
pegangan kursi roda seraya menunduk melihat Nieya. Nieya langsung terkejut ia
perlahan menatap mata tajam di depannya.
"Apa kamu takut?" Tanya Althan. "Apa kamu
tidak mau bersamaku Nieya?" Tanya Althan lagi. Nieya cepat- cepat
menggeleng sambil memeluk kekasihnya.
"Enggak, aku gak takut denganmu." Jawab Nieya pelan
ia membelai belakang rambut lelakinya. "Aku mau bersamamu, aku sayang
denganmu Althan." Jawab Nieya lagi. Althan tertawa senang ia memeluk Nieya
dan mencium rambutnya.
"Mau menikah denganku?"
Nieya terdiam sejenak setelah itu melepas pelukan mereka.
"Mau." Jawab Nieya penuh ragu. "Tapi, aku
memiliki cerita yang kelam. Berjanjilah untuk tidak merendahkanku, melecehkanku
ataupun jahat. Setelah mendengarkannya aku membebaskanmu untuk merubah
keputusan tadi." Ujar Nieya. Althan mengangguk lalu ia membawa Nieya duduk
berhadapan.
"Aku gak akan jahat kepadamu." Jawab Althan.
Nieya menarik nafasnya lalu mulai bercerita.
Tok
Tok
Tok
Tok
"Mba, mba Nieya." Panggil Riko.
Althan menutup kedua matanya dan langsung berdiri untuk
membuka pintu maklum pintu tadi terkunci.
"Mba, Rayyan pingsan terus di bawah gak ada orang
karena lagi keluar." Ujar Riko yang bingung mau minta tolong dengan siapa.
Nieya langsung berdiri dan meminta Althan membawanya ke bawah.
Setelah sampai di bawah ia melihat Rayyan merintih sakit
setelah makan.
"Kenapa nak?" Nieya berjongkok di tempat mainan
tadi.
"Sakit Aunty, magh Ray kambuh." Jawabnya.
"Ayo kerumah sakit." Althan membantu Rayyan
berdiri dan keluar menuju mobil. Riko membantu Nieya untuk berjalan dengan
tongkat sedangkan kursi rodanya ia tinggal di atas.
❤❤❤❤
administrasi sedangkan Rayyan dan Nieya berada di UGD.
"Kamu makan pedas tadi ya?" Tanya Nieya sambil
menggenggam tangan Rayyan. Rayyan mengangguk sambil menutup matanya. Perpaduan
yang sempurna antara Keana dan Danu dari sudut pandang Nieya.
"Iya aunty, mama sama papah selalu ngelarang makan
pedes tapi kepingin ya beli." Jawabnya. Nieya menarik lekukan bibirnya
menjadi lurus seraya kenunggu Althan.
"Aku sudah urus dan dia bisa dipindahkan ke vvip
room. Aku nelpon kedua orang tuanya tapi gak aktif." Ujar Althan sambil
melihat Rayyan di urusi oleh suster yang baru datang. "Sudah di
periksa?" Tanya Althan. Nieya mengangguk
"Sudah, katanya dia kena magh dan gak boleh
pulang." Jawab Nieya.
"Nanti keluarganya datang dan kita baru bisa
pulang." Ujar Althan. Nieya mengangguk sambil melihat Rayyan di pindahkan.
Setelah dipindahkan ia bangun dan melihat Nieya, wanita
itu mirip sekali dengan maidnga dulu tapi kata mamah bukan.
"Dulu Rayyan punya maid terus dia pernah buatkan
omlet mie, makanan itu sangat enak dan membuat kenyang.'' Kata Ray.
Nieya mengangguk dan teringat ketika ia pertama kali
kerja dan mengurus Rayyan.
"Aunty juga buat, mau coba?" Ujar Nieya. Rayyan
mengangguk sambil tersenyum
"Kalau sudah sembuh, ok?"
"Ok"
❤❤❤❤
Hari sudah malam, keluarga Rayyan sudah datang untuk
menemani. kini Nieya, Althan dan Riko sudah pulang di dalam perjalanan.
Lelaki itu sudah tidur hingga menyisakan dua insan yang
saling terdiam dan menatap ke depan.
"Apa dirimu lelah Daeng?" Tanya Nieya. Althan
menggeleng sambil memegang tangan Nieya.
"Tidak sayang, besok ikutlah denganku kerumah
sakit." Kata Althan.
"Buat apa?" Tanyanya.
"Pasang kaki palsu buatmu, aku sudah konsultasi sama
dokter spesialis juga tadi." Kata Atlhan.
"Serius? Berarti aku bisa jalan normal?" Tanya
Nieya antusias. Althan mengangguk sambil tersenyum
"Iya sayang." Kawabnya.
Nieya tersenyum syukur ia bisa bayangkan jalan tanpa
tongkat ataupun kursi roda. Ia bisa jalan tanpa membuat susah keluarga dan
orang lain.
"Terima kasih tuhan sudah berikan aku malaikat
penolong." Batin Nieya sambil bersandar di lengan Althan.