
Makan malam sudah tersaji di sebuah meja bewarna hitam.
Keluarga Agatha sudah berkumpul dan kali ini sangat lengkap karena Ratna
memanggil anak- anaknya. Berbagai macam makanan sudah terhidang sempurna.
"Wah dirimu pandai memasak." Puji Ratna membuat
Nieya yang berdiri langsung tersipu.
"Ayo sini duduk kita makan.' Kata Ai sambil menunjuk
kursi yang kosong.
"Mau cuci piring dulu.'' Kata Nieya namun satu
keluarga itu menolak tanda tak terima.
"Dirumah ini ada pembantu biar mereka yang
kerja." Ujar Kiran. Nieya dengan pelan duduk di samping Adrina dan Aika.
"Makanlah setelah itu istirahat." Ujar Ai
sambil bersiap menyuapi anaknya makan.
"Makasih." Jawab Nieya.
❤❤❤❤
1 Bulan kemudian...
Sejak kehadiran Nieya kediaman Agatha selalu bersih dan
rapi begitupun dengan keramahannya terhadap cucu- cucu Ratna hingga mereka betah
tinggal disini. Nieya selalu menerima jika mereka mengajak main seperti
congklak, asinan dan boneka- bonekaan termasuk menjadi wadah untuk menyalurkan
bakat make up.
Nieya duduk di lantai sambil mengadahkan wajahnya untuk
di make up oleh Anaknya Aika yang bernama Nana berusia enam tahun.
Wajah penuh dengan bedak putih, blush on ping terang dan
juga lipstik belepotan tapi Nieya tidak tidak marah justru senang.
"Waaa, Aunty Nieya cantik." Puji Nana saat
melihat hasil make upnnya.
"Oh ya? Coba Aunty Nieya lihat."
"Tunggu Aunty rambutnya di kuncir dulu." Nana
mengambil pita kecil lalu mengikat sejumput rambut Nieya. Nieya dengan pasrah
mengikuti Nana.
"Nah berkacalah." Kata Nana sambil pergi untuk
menonton. Nieya berdiri dan hendak berkaca tapi entah kenapa tiba- tiba
kepalanya pusing dan perutnya sangat mual hingga ia segera berlari ke wastafel
cucian piring untuk bertadah di sana.
Huek
Huek
Huek
Nieya mengeluarkan isi makanannya sambil memegang
perutnya yang amat mual, sungguh ia ingin menangis karena tidak kuat.
"Ibu." Ringis Nieya saat teringat dengan
ibunya.
Aika yang baru saja datang langsung terpekik ia segera
mendekati Nieya dan menegakannya.
Antara miris dan kasian Aika memeluk Nieya yang
sesenggukan.
"Kamu kenapa?" Tanya Ai sambil mengusap
punggungnya.
"Perutku mual dan aku tidak tahan." Ujar Nieya.
Ai melihat Nieya dan mengusap makeup di wajahnya dengan tangan.
"Ayo kita ke kamar dan memanggilkan dokter
untukmu." Jata Ai. Nieya menggeleng sambil menahan Ai
"Gak usah Ai, aku cuma masuk angin aja..." kata
Nieya. Ai melepas ikatan rambut di kepala Nieya lalu membuangnya di tempat
sampah.
"Kamu ini mau aja di makeup Nana." Kata Ai.
Nieya tertawa sambil dituntun Ai menuju kamarnya.
"Abisnya dia lucu dan aku tidak bisa
menolaknya." Jawab Nieya. Setelah sampai di kamar Ai mendudukan Nieya lalu
mengambil alat pembersih wajah di lemari. Ai dengan cekatan memberisi wajah
Nieya hingga benar- benar tak ada makeup.
"Aku akan panggilkan dokter, titik." Ai segera
bangkit lalu pergi keluar ia akan memanggil Uncle Pram suami dari Bunda Ratni
Nieya berbaring dengan memejamkan mata awalnya ia murni
ingin berbaring tapi sejak kilasan itu datang ia langsung bangun. Nieya melihat
kalender di atas nakas dan menghitung hari kapan terakhir haid. Nieya mengingat
ia selesai haid empat hari sebelum berhubungan dengan Althan.
"Apa jangan- jangan." Nieya memegang perutmya
ia kemudian menangis sambil tersenyum.
"Ade ada di perut mamah?" Tanya Nieya ke
perutnya.
Tak lama Aika datang dengan seorang dokter paruh baya.
Dokter itu duduk di samping Nieya yang di suruh berbaring oleh Ai.
"Gejalanya apa aja nih?" Tanya Dr. Pram ke
Nieya. Nieya menggeleng sambil melihat Ai.
"Gak ada cuma mual tadi terus saya tidak haid sejak
sebulan lebih disini." Jawab Nieya.
Ai dan Dr. Pram saling memandang.
"Sepertinya dia harus di bawa ke dokter kandungan
Ai, mungkin ada penyakit dalam atau hamil.'' Kata Dr. Pram.
"Jangan berfikiran negatif, saya hamil dari lelaki
lain sebelum datang kesini." Kata Nieya yang takut jika Ai ataupun
keluarga curiga.
Aika tertawa lalu duduk di tepi kasur.
"Kau ngomong apa? Kami tidak memiliki pikiran
negatif. Seperinya kita harus ke klinik untuk memeriksa dirimu."
❤❤❤❤
Di sebuah layar monitor itu terlihat jelas benih yang
sebesar biji cambah hadir di rahim Nieya. Aika yang mengantar sangat antusias
bahkan yang kebanyakan tanya dia.
"Dia sehat kan dok? Terus kandungan Nieya lemah
tidak? Terus pantangannya apa? Apa seperti saya waktu hamil gak bisa makan
kacang hijau hehe.''
"Kandungannya lemah sebaiknya Ibu Nieya jangan
banyak pikiran dan santai banyak makan makanan sehat." Kata Bidan Yuana.
Nieya menutupi perutnya dengan baju lalu ia bangun.
"Perasaan dia gak mikiran apa- apa deh soalnya
dirumah dia ketawa terus sama anak- anak." Ujar Ai. Nieya tersenyum sambil
memandang layar monitor mereka tau Nieya ceria tapi jika di kamar ia menangis
karena merindukan Althan
"Sehabis ini nanti tebus vitamin ya biar
kandungannya kuat" kata Dr. Yuana sambil memberikan resep obat. Nieya dan
Ai pamit untuk menebus obat.
"Ai, bisakah nanti aku meminjam Hpmu? Aku ingin
menghubungi orang tuaku." Kata Nieya saat duduk di kursi lobby. Ai
mengangguk sambil memberikan hpnya lalu ia pergi untuk menebus obat.
Wanita itu berdiri lalu pergi keluar sambil menelfon sang
Ibu
Tut
Tut
Tut
"Hallo."
Nieya menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan
tangis.
"Ibu ini Nieya, ibu bagaimana kabarnya?" Tanya
Nieya.
"Ya Allah Gusti, Nieya kabar ibu baik- baik saja,
bapak dan adikmu juga. Kami sudah pindah rumah di daerah kilo dua di pinggir
jalan."
"Alhamdulillah
bu, Ibu boleh Nieya kasih kabar tapi jangan marah." Nieya menggigir
kukunya.
"Iya Mba, apa itu sayang."
"Nieya hamil bu."