Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 19



Makan malam sudah tersaji di sebuah meja bewarna hitam.


Keluarga Agatha sudah berkumpul dan kali ini sangat lengkap karena Ratna


memanggil anak- anaknya. Berbagai macam makanan sudah terhidang sempurna.


"Wah dirimu pandai memasak." Puji Ratna membuat


Nieya yang berdiri langsung tersipu.


"Ayo sini duduk kita makan.' Kata Ai sambil menunjuk


kursi yang kosong.


"Mau cuci piring dulu.'' Kata Nieya namun satu


keluarga itu menolak tanda tak terima.


"Dirumah ini ada pembantu biar mereka yang


kerja." Ujar Kiran. Nieya dengan pelan duduk di samping Adrina dan Aika.


"Makanlah setelah itu istirahat." Ujar Ai


sambil bersiap menyuapi anaknya makan.


"Makasih." Jawab Nieya.


❤❤❤❤


1 Bulan kemudian...


Sejak kehadiran Nieya kediaman Agatha selalu bersih dan


rapi begitupun dengan keramahannya terhadap cucu- cucu Ratna hingga mereka betah


tinggal disini. Nieya selalu menerima jika mereka mengajak main seperti


congklak, asinan dan boneka- bonekaan termasuk menjadi wadah untuk menyalurkan


bakat make up.


Nieya duduk di lantai sambil mengadahkan wajahnya untuk


di make up oleh Anaknya Aika yang bernama Nana berusia enam tahun.


Wajah penuh dengan bedak putih, blush on ping terang dan


juga lipstik belepotan tapi Nieya tidak tidak marah justru senang.


"Waaa, Aunty Nieya cantik." Puji Nana saat


melihat hasil make upnnya.


"Oh ya? Coba Aunty Nieya lihat."


"Tunggu Aunty rambutnya di kuncir dulu." Nana


mengambil pita kecil lalu mengikat sejumput rambut Nieya. Nieya dengan pasrah


mengikuti Nana.


"Nah berkacalah." Kata Nana sambil pergi untuk


menonton. Nieya berdiri dan hendak berkaca tapi entah kenapa tiba- tiba


kepalanya pusing dan perutnya sangat mual hingga ia segera berlari ke wastafel


cucian piring untuk bertadah di sana.


Huek


Huek


Huek


Nieya mengeluarkan isi makanannya sambil memegang


perutnya yang amat mual, sungguh ia ingin menangis karena tidak kuat.


"Ibu." Ringis Nieya saat teringat dengan


ibunya.


Aika yang baru saja datang langsung terpekik ia segera


mendekati Nieya dan menegakannya.


Antara miris dan kasian Aika memeluk Nieya yang


sesenggukan.


"Kamu kenapa?" Tanya Ai sambil mengusap


punggungnya.


"Perutku mual dan aku tidak tahan." Ujar Nieya.


Ai melihat Nieya dan mengusap makeup di wajahnya dengan tangan.


"Ayo kita ke kamar dan memanggilkan dokter


untukmu." Jata Ai. Nieya menggeleng sambil menahan Ai


"Gak usah Ai, aku cuma masuk angin aja..." kata


Nieya. Ai melepas ikatan rambut di kepala Nieya lalu membuangnya di tempat


sampah.


"Kamu ini mau aja di makeup Nana." Kata Ai.


Nieya tertawa sambil dituntun Ai menuju kamarnya.


"Abisnya dia lucu dan aku tidak bisa


menolaknya." Jawab Nieya. Setelah sampai di kamar Ai mendudukan Nieya lalu


mengambil alat pembersih wajah di lemari. Ai dengan cekatan memberisi wajah


Nieya hingga benar- benar tak ada makeup.


"Aku akan panggilkan dokter, titik." Ai segera


bangkit lalu pergi keluar ia akan memanggil Uncle Pram suami dari Bunda Ratni


Nieya berbaring dengan memejamkan mata awalnya ia murni


ingin berbaring tapi sejak kilasan itu datang ia langsung bangun. Nieya melihat


kalender di atas nakas dan menghitung hari kapan terakhir haid. Nieya mengingat


ia selesai haid empat hari sebelum berhubungan dengan Althan.


"Apa jangan- jangan." Nieya memegang perutmya


ia kemudian menangis sambil tersenyum.


"Ade ada di perut mamah?" Tanya Nieya ke


perutnya.


Tak lama Aika datang dengan seorang dokter paruh baya.


Dokter itu duduk di samping Nieya yang di suruh berbaring oleh Ai.


"Gejalanya apa aja nih?" Tanya Dr. Pram ke


Nieya. Nieya menggeleng sambil melihat Ai.


"Gak ada cuma mual tadi terus saya tidak haid sejak


sebulan lebih disini." Jawab Nieya.


Ai dan Dr. Pram saling memandang.


"Sepertinya dia harus di bawa ke dokter kandungan


Ai, mungkin ada penyakit dalam atau hamil.'' Kata Dr. Pram.


"Jangan berfikiran negatif, saya hamil dari lelaki


lain sebelum datang kesini." Kata Nieya yang takut jika Ai ataupun


keluarga curiga.


Aika tertawa lalu duduk di tepi kasur.


"Kau ngomong apa? Kami tidak memiliki pikiran


negatif. Seperinya kita harus ke klinik untuk memeriksa dirimu."


❤❤❤❤


Di sebuah layar monitor itu terlihat jelas benih yang


sebesar biji cambah hadir di rahim Nieya. Aika yang mengantar sangat antusias


bahkan yang kebanyakan tanya dia.


"Dia sehat kan dok? Terus kandungan Nieya lemah


tidak? Terus pantangannya apa? Apa seperti saya waktu hamil gak bisa makan


kacang hijau hehe.''


"Kandungannya lemah sebaiknya Ibu Nieya jangan


banyak pikiran dan santai banyak makan makanan sehat." Kata Bidan Yuana.


Nieya menutupi perutnya dengan baju lalu ia bangun.


"Perasaan dia gak mikiran apa- apa deh soalnya


dirumah dia ketawa terus sama anak- anak." Ujar Ai. Nieya tersenyum sambil


memandang layar monitor mereka tau Nieya ceria tapi jika di kamar ia menangis


karena merindukan Althan


"Sehabis ini nanti tebus vitamin ya biar


kandungannya kuat" kata Dr. Yuana sambil memberikan resep obat. Nieya dan


Ai pamit untuk menebus obat.


"Ai, bisakah nanti aku meminjam Hpmu? Aku ingin


menghubungi orang tuaku." Kata Nieya saat duduk di kursi lobby. Ai


mengangguk sambil memberikan hpnya lalu ia pergi untuk menebus obat.


Wanita itu berdiri lalu pergi keluar sambil menelfon sang


Ibu


Tut


Tut


Tut


"Hallo."


Nieya menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan


tangis.


"Ibu ini Nieya, ibu bagaimana kabarnya?" Tanya


Nieya.


"Ya Allah Gusti, Nieya kabar ibu baik- baik saja,


bapak dan adikmu juga. Kami sudah pindah rumah di daerah kilo dua di pinggir


jalan."


"Alhamdulillah


bu, Ibu boleh Nieya kasih kabar tapi jangan marah." Nieya menggigir


kukunya.


"Iya Mba, apa itu sayang."


"Nieya hamil bu."