Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 7



Kebun raya...


Apa aku pantas menjadikannya sebagai penyemangat hidup


untuk sang maha hidup.


Apa aku pantas menjadikannya sebagai pelindungku di kala


masih hidup.


Aku duduk di dalam mobil seraya menunggu  Althan


membuka pintuku dan menyiapkan kursi roda, ini sebenarnya bukan kemauanku tapi


kemauannya yang tidak bisa kubantah. Kulihat ia membuka pintu belakang lalu


mengambil kursiku setelah itu ia menutup pintu dan membuka kursi roda tepat di


pintu sampingku. Althan kemudian membuka pintuku dan tersenyum sambil


membantuku pindah ke kursi roda.


Aku duduk di kursi roda sedangkan Althan mengambil


tongkatku lalu menutup pintu mobil dan menguncinya.


Althan mendorong kursiku pelan sambil melihat- lihat


pepohonan besar dan taman yang indah.


"Daeng, orang utan." Pekikku saat melihat satwa


bewarna  merah bergantung di sebuah pepohonan yang lebat.


Althan ikut melihat dan tertawa. Aku menatapnya yang


tertawa menawan.


"Kamu belum pernah melihat orang utan?"


Tanyanya sambil mendorongku lagi.


"Belum pernah, padahal tinggal di Kalimantan "


jawabku sambil melihat bunga sedap malam.


"Berenti Daeng, aku ingin melihat bunga itu."


Tunjukku. Daeng menundurkan langkah kami dan menghadapkan diriku ke bunga


tersebut.


"Aromanya akan menguar jika malam hari." Kataku


sambil menciumnya dan membiarkan aromanya masuk ke dalam rongga dada. Aku


melihat Daeng memetik bunga itu lalu di delakan di telingaku.


"Kamu terlihat cantik Nieya.'' Puji Althan tak lama


ia mencium keningku dan tersenyum. "Ayo kita duduk di saung." Katanya


lagi sambil mendorong kursi rodaku. Aku tanpang terdiam karena Althan sungguh


memperlakukanku dengan sangat romantis dan hangat.


❤❤❤❤


 


 


 


 


Aku mengangkatnya untuk duduk di sebuah tempat yang nyaman. Aku mengeyampingkan


kursi rodanya dan duduk di sebelah Nieya.


"Seneng gak?" Tanyaku sambil menyingkai rambut


panjangnya agar aku bisa melihat wajah cantiknya. Nieya mengangguk seraya


tersenyum


"Sangat Daeng. Aku sangat senang dan bahagia bisa


jalan- jalan." Katanya.


Aku melihat gitar yang tidak ada pemiliknya. Aku melirik


Neiya yang sedang mengambil tongkat dan berdiri.


"Aku ingin ke tengah itu daeng." Pintanya. Aku


mengangguk kemudian menuntunnya menuju ke arah tengah.


"Mau turun ke bawah?" Tanyaku dan dia


menggeleng ia hanya ingin berdiri di pinggirnya saja.


"Nieya.'' Panggilku. Awan cukup mendung serta berangin


membuat rambut coklatnya terelai. "Tunggu sini." Aku segera berlari


dan mengambil gitar itu tak lama aku kembali sambil memetik senarnya. "Aku


ingin bernyanyi untukmu anggap saja sebagai sebuah lamaran kecil." Kataku.


Nieya langsung menutup mulutnya dengan tangan tanda terharu. Ia mengangguk


sambil mendengarku.


Menari


 


 


Rizky Febian


Salahkah bila ku mencinta


 


 


Salahkah bila semua selalu tentangmu


Izinkan agar ku sampaikan


Ku tahu walau kau dengannya


Haruskah terdiam


 


 


Menahan semua rasa


Inginnya kau dengar


Apa yang ku rasa


Menari bersamaku


 


 


Temani hingga akhir waktu


Jalani bersamaku


Ku temani dirimu di setiap perjalanan cinta


Menari bersamaku


 


 


Temani hingga akhir waktu


Jalani bersamaku


Tak ada yang selamanya


Tapi aku kan ada di setiap perjalanan cinta


Lihatlah diri ini untuk kali ini


 


 


Tak bisa ku miliki ku relakan semua


Ku mohon kepadamu


Di kehidupan baru


Izinkan ku jadi takdirmu


Aku bernyanyi sambil mengelilinginya hingga ia tertawa


bahagia dan mengikuti arahku. Ku goyangkan diriku mengikuti alur yang ku


nyanyikan dan dia pun ikut walaupun tidak sempurna.


"Daeng." Tak lama ia menangis sambil tertunduk.


Aku langsung berhenti dan memeluknya. "Kamu sungguh romantis dan baik,


tanpa sadar diriku terharu." Katanya. Aku menghapus air matanya dan


mencium keningnya cukup lama.


"Mau jadi takdirku? Temani hari tuaku dengan anak-


anak yang lucu?" Kataku serius. Mata merahnya melihat mataku mencari


keseriusan di dalam diriku. "Aku serius Nieya. Walaupun aku tidak tau masa


lalumu.'' Sambungku. Nieya langsung memangguk dan memelukku erat.


"Aku sayang kamu Nieya." Teriakku ke alam yang


sepi. Nieya langsung tertawa di dalam pelukanku.


Kami saling tertawa bahagia


❤❤❤❤


Author pov


Nieya berharap masa lalunya tidak menganggu hubungannya


dan Althan karena Nieya juga sayang dengan lelaki ini tapi masa lalu tidak bisa


ditinggalkan begitu saja bukan?.


Danu dan Bayu duduk di sebuah caffe tentu bersama istri


yang sedang sibuk shopping.


"Althan dengan Nieya?" Tanya Bayu sambil


menatap kopinya. Danu mengangguk sambil bermain laptop.


"Aku juga kaget pas tau hal itu." Jawab Danu


sambil melihat Bayu.


"Bagaimana kalau Althan tau masa lalunya dengan


dirimu. Apalagi yang menyebabkan dirinya cacat adalah kamu." Ujar Bayu.


Danu menarik nafasnya sambil menutup laptop. Ia nampak frustasi dengan ini.


"Kamu tau Althan dan aku tidak jauh beda. Kalau dulu


aku di rehab karena gila di tinggal wanita maka ia karena broken home."


Jawab Danu sambil meminum coklat hangat.


"Oh ya? Aku pernah dengar juga. Sepertinya takdir


mereka sama deh." Jawab Bayu.


"Hm, satunya si cacat hati dan satunya lagi cacat


fisik. Althan pernah berkeinginan membunuh papahnya karena menabrak tante Ellie


hingga kehilangan satu kaki." Cerita Danu.


"Jadi, kamu bertemu sana Althan dari


rehabilitas."


Danu mengangguk "Iya, dia lebih parah dariku sempat


masuk penjara juga pokoknya bad lah. Dia gak mau berteman sama siapa- siapa


kecuali denganku waktu itu. Dia kan baru bebas rehab setahun lalu terus aku


tawari dia untuk gantikan posisiku sementara karena aku mendapatkan pekerjaan


di Dhubai."


"Ngapain lagi kamu kerja, sudah ada usaha


sendiri." Kata Bayu.


"Waktu itu aku kirim- kirim lamaran sebelum balikan


sama Ana terus beberapa minggu lalu dipanggil. Lumayanlah pengalaman baru


tinggal di sana. Aku mau hidup tenang juga sama keluargaku." Kata Danu.


"Jadi Althan itu gak beda jauh sama kamu. Hehhhh!!


"Iya seperti itu." Jawab Danu santai.


"Kita harus tutup mulut demi kebahagiaan


mereka." Kata Bayu dan Danu mengangguk.


"Pura- pura gak kenal Nieya aja." Jawab Danu.


"Eh, Nu apa Nieya masih cinta sama kamu ya? Soalnya


waktu itu ia gak berani menatapmu dan tertunduk takut.


"Semoga enggak, aku gak mau menyakiti hati


Keana." Jawabnya.


"Aku rela gantikan posisi dirimu kok, Nu. Untuk


menjadi suami dan papah baru untuk ke empat anakmu." Kata Bayu membuat


Danu menaikan sebelah alisnya dan bersiap melempar laptop ke kepala Bayu.