
Kebun raya...
Apa aku pantas menjadikannya sebagai penyemangat hidup
untuk sang maha hidup.
Apa aku pantas menjadikannya sebagai pelindungku di kala
masih hidup.
Aku duduk di dalam mobil seraya menunggu Althan
membuka pintuku dan menyiapkan kursi roda, ini sebenarnya bukan kemauanku tapi
kemauannya yang tidak bisa kubantah. Kulihat ia membuka pintu belakang lalu
mengambil kursiku setelah itu ia menutup pintu dan membuka kursi roda tepat di
pintu sampingku. Althan kemudian membuka pintuku dan tersenyum sambil
membantuku pindah ke kursi roda.
Aku duduk di kursi roda sedangkan Althan mengambil
tongkatku lalu menutup pintu mobil dan menguncinya.
Althan mendorong kursiku pelan sambil melihat- lihat
pepohonan besar dan taman yang indah.
"Daeng, orang utan." Pekikku saat melihat satwa
bewarna merah bergantung di sebuah pepohonan yang lebat.
Althan ikut melihat dan tertawa. Aku menatapnya yang
tertawa menawan.
"Kamu belum pernah melihat orang utan?"
Tanyanya sambil mendorongku lagi.
"Belum pernah, padahal tinggal di Kalimantan "
jawabku sambil melihat bunga sedap malam.
"Berenti Daeng, aku ingin melihat bunga itu."
Tunjukku. Daeng menundurkan langkah kami dan menghadapkan diriku ke bunga
tersebut.
"Aromanya akan menguar jika malam hari." Kataku
sambil menciumnya dan membiarkan aromanya masuk ke dalam rongga dada. Aku
melihat Daeng memetik bunga itu lalu di delakan di telingaku.
"Kamu terlihat cantik Nieya.'' Puji Althan tak lama
ia mencium keningku dan tersenyum. "Ayo kita duduk di saung." Katanya
lagi sambil mendorong kursi rodaku. Aku tanpang terdiam karena Althan sungguh
memperlakukanku dengan sangat romantis dan hangat.
❤❤❤❤
Aku mengangkatnya untuk duduk di sebuah tempat yang nyaman. Aku mengeyampingkan
kursi rodanya dan duduk di sebelah Nieya.
"Seneng gak?" Tanyaku sambil menyingkai rambut
panjangnya agar aku bisa melihat wajah cantiknya. Nieya mengangguk seraya
tersenyum
"Sangat Daeng. Aku sangat senang dan bahagia bisa
jalan- jalan." Katanya.
Aku melihat gitar yang tidak ada pemiliknya. Aku melirik
Neiya yang sedang mengambil tongkat dan berdiri.
"Aku ingin ke tengah itu daeng." Pintanya. Aku
mengangguk kemudian menuntunnya menuju ke arah tengah.
"Mau turun ke bawah?" Tanyaku dan dia
menggeleng ia hanya ingin berdiri di pinggirnya saja.
"Nieya.'' Panggilku. Awan cukup mendung serta berangin
membuat rambut coklatnya terelai. "Tunggu sini." Aku segera berlari
dan mengambil gitar itu tak lama aku kembali sambil memetik senarnya. "Aku
ingin bernyanyi untukmu anggap saja sebagai sebuah lamaran kecil." Kataku.
Nieya langsung menutup mulutnya dengan tangan tanda terharu. Ia mengangguk
sambil mendengarku.
Menari
Rizky Febian
Salahkah bila ku mencinta
Salahkah bila semua selalu tentangmu
Izinkan agar ku sampaikan
Ku tahu walau kau dengannya
Haruskah terdiam
Menahan semua rasa
Inginnya kau dengar
Apa yang ku rasa
Menari bersamaku
Temani hingga akhir waktu
Jalani bersamaku
Ku temani dirimu di setiap perjalanan cinta
Menari bersamaku
Temani hingga akhir waktu
Jalani bersamaku
Tak ada yang selamanya
Tapi aku kan ada di setiap perjalanan cinta
Lihatlah diri ini untuk kali ini
Tak bisa ku miliki ku relakan semua
Ku mohon kepadamu
Di kehidupan baru
Izinkan ku jadi takdirmu
Aku bernyanyi sambil mengelilinginya hingga ia tertawa
bahagia dan mengikuti arahku. Ku goyangkan diriku mengikuti alur yang ku
nyanyikan dan dia pun ikut walaupun tidak sempurna.
"Daeng." Tak lama ia menangis sambil tertunduk.
Aku langsung berhenti dan memeluknya. "Kamu sungguh romantis dan baik,
tanpa sadar diriku terharu." Katanya. Aku menghapus air matanya dan
mencium keningnya cukup lama.
"Mau jadi takdirku? Temani hari tuaku dengan anak-
anak yang lucu?" Kataku serius. Mata merahnya melihat mataku mencari
keseriusan di dalam diriku. "Aku serius Nieya. Walaupun aku tidak tau masa
lalumu.'' Sambungku. Nieya langsung memangguk dan memelukku erat.
"Aku sayang kamu Nieya." Teriakku ke alam yang
sepi. Nieya langsung tertawa di dalam pelukanku.
Kami saling tertawa bahagia
❤❤❤❤
Author pov
Nieya berharap masa lalunya tidak menganggu hubungannya
dan Althan karena Nieya juga sayang dengan lelaki ini tapi masa lalu tidak bisa
ditinggalkan begitu saja bukan?.
Danu dan Bayu duduk di sebuah caffe tentu bersama istri
yang sedang sibuk shopping.
"Althan dengan Nieya?" Tanya Bayu sambil
menatap kopinya. Danu mengangguk sambil bermain laptop.
"Aku juga kaget pas tau hal itu." Jawab Danu
sambil melihat Bayu.
"Bagaimana kalau Althan tau masa lalunya dengan
dirimu. Apalagi yang menyebabkan dirinya cacat adalah kamu." Ujar Bayu.
Danu menarik nafasnya sambil menutup laptop. Ia nampak frustasi dengan ini.
"Kamu tau Althan dan aku tidak jauh beda. Kalau dulu
aku di rehab karena gila di tinggal wanita maka ia karena broken home."
Jawab Danu sambil meminum coklat hangat.
"Oh ya? Aku pernah dengar juga. Sepertinya takdir
mereka sama deh." Jawab Bayu.
"Hm, satunya si cacat hati dan satunya lagi cacat
fisik. Althan pernah berkeinginan membunuh papahnya karena menabrak tante Ellie
hingga kehilangan satu kaki." Cerita Danu.
"Jadi, kamu bertemu sana Althan dari
rehabilitas."
Danu mengangguk "Iya, dia lebih parah dariku sempat
masuk penjara juga pokoknya bad lah. Dia gak mau berteman sama siapa- siapa
kecuali denganku waktu itu. Dia kan baru bebas rehab setahun lalu terus aku
tawari dia untuk gantikan posisiku sementara karena aku mendapatkan pekerjaan
di Dhubai."
"Ngapain lagi kamu kerja, sudah ada usaha
sendiri." Kata Bayu.
"Waktu itu aku kirim- kirim lamaran sebelum balikan
sama Ana terus beberapa minggu lalu dipanggil. Lumayanlah pengalaman baru
tinggal di sana. Aku mau hidup tenang juga sama keluargaku." Kata Danu.
"Jadi Althan itu gak beda jauh sama kamu. Hehhhh!!
"Iya seperti itu." Jawab Danu santai.
"Kita harus tutup mulut demi kebahagiaan
mereka." Kata Bayu dan Danu mengangguk.
"Pura- pura gak kenal Nieya aja." Jawab Danu.
"Eh, Nu apa Nieya masih cinta sama kamu ya? Soalnya
waktu itu ia gak berani menatapmu dan tertunduk takut.
"Semoga enggak, aku gak mau menyakiti hati
Keana." Jawabnya.
"Aku rela gantikan posisi dirimu kok, Nu. Untuk
menjadi suami dan papah baru untuk ke empat anakmu." Kata Bayu membuat
Danu menaikan sebelah alisnya dan bersiap melempar laptop ke kepala Bayu.