Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 29



Althan menyendarkan tubuhnya di


sofa, setelah itu ia menatap Nieya yang sedang mengusap lengan papahnya dengan


handuk basah.


‘’Kapan Daeng menikahi Mbak


Nieya? Aku tidak rela jika ia tidak menjadi bagian dari keluarga kita.’’ Kata


Elthan yang baru saja duduk di sampingnya.


‘’Secepatnya, tunggu kondisi


papah baik.’’ Jawabnya.


‘’Awas memang dia pergi.’’


Sungut Elthan. Althan terkekeh sambil menepuk bahu adiknya.


‘’Dia sekarang lagi hamil


anakku jadi gak bakalan pergi.’’ Jawab Althan.


Di sisi


lain.


Nieya meletakan handuk basah ke


dalam wadah setelah membersihkan Tantra.


‘’Makasih ya, Nieya. Sudah lama


sama Althan?’’ Tanya Tantra. Nieya tersenyum lalu menggeleng pelan.


‘’Baru dua bulan lebih Om,


waktu tante belikan Daeng makan siang di tempat saya. Saya jualan waktu itu.’’


ceritanya.


‘’Hampir tiga bulan papah.’’


Jawab Althan dari belakang Nieya. Nieya menengok dan Althan tersenyum sambil


mengelus rambutnya.


‘’Ayo kita lamar dia buat kamu.


Papah sudah baikan.’’ Kata Tantra.


‘’Papah yakin? Nanti kenapa-


napa lagi.’’ Kata Althan.


‘’Yakin, semakin lama semakin


tidak baik nanti jadi aib yang mencemarkan nama keluarga. Besok kita datang


kerumahnya, nanti papah minta rawat jalan sama dokter.’’ Kata Tantra. Mamah


yang baru datang dari supermarket langsung menghampiri mereka dan duduk.


‘’Kenapa ini?’’ Tanya Mamah.


‘’Mau lamar Nieya buat Althan


secepatnya.’’ Kata Tantra.


‘’Boleh, kapan?’’ Tanya Mamah.


‘’Besok siang, biar segera


menikah dan halal. Gak baik Mah jika kelamaan nanti jadi aib.’’ Kata Tantra


sambil melihat mantan istrinya.


Mamah mengangguk setuju ia tau


dari maksud Tantra adalah semakin lama semakin besarlah perut Nieya dengan


kejadian seperti itu nanti banyak pembicaraan orang hingga terjadilah aib


besar.


‘’Beneran.’’ Kata Nieya. Nieya


tersenyum sambil berdiri dan melihat Altan.


‘’Beneran sayang.’’ Jawab


Althan.


‘’Kali an harus bahagia, semuanya.’’ Jawab Papah


semangat. ‘’Kalian semangat papah untuk melawan penyakit ini.’’ Kata Tantra.


Nieya memeluk Tantra sambil menangis haru.


‘’Terima kasih.’’ Jawabnya.


****


Malam…


sampai dirumahnya, ia kemudian melambaikan tangannya ke Althan yang tidak turun


karena ingin ke rumah sakit lagi.


‘’Hati- hati.’’ Ujar Nieya dan


Althan tersenyum sambil mengangguk tak lama ia pergi.


Nieya masuk ke dalam rumah di


sana ada Ibu, Bapak dan Riko sedang menonton tv.


‘’Assalamualaikum, Ibu.’’ Kata


Nieya lalu masuk dan duduk di dekat mereka.


‘’Besok Daeng dan keluarganya


datang mau lamar Nieya Bu.’’ Kata Nieya seraya menahan tangis haru. Ibu dan


Bapak langsung saling memandang dan tak lama tersenyum penuh syukur.


‘’Masya Allah Nieya, nasibmu


baik sayang. Ibu tidak menyangka Tuhan sangat baik menempatkanmu di takdir yang


bahagia.’’ Tangis ibu pecah sambil memeluk anak perempuannya.


‘’Nieya juga gak nyangka Bu,


tapi papahnya sendiri yang mau. Nieya pikir mereka tidak menerima tapi


sebaliknya mereka sangat baik ibu.’’ Jawab Nieya. Bapak berdiri menghadap


kiblat lalu bersujud berulang kali.


‘’Terima kasih Allah engkau


mengangkat derajat kami, menempatkan anak kami di takdir yang baik. Hamba putus


asa ketika anak perempuan satu- satunya hancur, hamba pikir anak hamba sudah


tidak punya masa depan tapi kini.’’ Bapak menangis haru. Riko yang melihat


ketiganya menangis langsung memeluk dan tak lama ikut menangis juga.


‘’Mbak.’’ Cicit Riko pelan.


Nieya menghapus air matanya lalu memeluk sang adik.


‘’Jangan nangis, nanti Mbak


penuhi kebutuhan kamu. Mbak tetap jualan dan memperbaiki segalanya. Nieya akan


memperbaiki semua yang salah dari dulu


‘’Kapan mereka datang kesini?


Biar ibu libur jualan dan menyajikan mereka makanan.’’ Kata Ibu.


‘’Jam dua belas siang Bu.’’


Jawab Nieya.


‘’Bapak juga libur ojek dulu.’’


Kata Bapak.


‘’Riko mau izin sekolah juga


kalau gitu.’’ Kata Riko. Nieya mengangguk sambil tersenyum.


‘’Bagaimana keluarganya Mbak?’’


Tanya Bapak.


‘’Papahnya Daeng Althan orang


bule Pak, Belanda terus Mamahnya Bugis pantasan Daeng tampan walaupun kulitnya


gak putih.’’ Ujar Nieya. Ya, Althan bisa di bilang 80% wajah Indonesia kecuali


hidung dan tinggi badannya. Kulitnya juga tidak putih melainkan sawo mateng.


‘’Walah, terus bahasanya


bagaimana?’’ Tanya Bapak.


‘’Papahnya Daeng bisa bahasa


Indonesia kok Pak.’’ Jawab Nieya dan Riko tertawa ngakak begitupun dengan Ibu


setelah itu Bapak sendiri.


Nieya pov


Apa diriku Bahagia? Jawabannya sangat, sangat


bahagia.Bayangkan seorang wanita miskin dan hancur memiliki takdir yang baik,


di jodohkan dengan lelaki baik- baik seperti Althan.