
Althan menyendarkan tubuhnya di
sofa, setelah itu ia menatap Nieya yang sedang mengusap lengan papahnya dengan
handuk basah.
‘’Kapan Daeng menikahi Mbak
Nieya? Aku tidak rela jika ia tidak menjadi bagian dari keluarga kita.’’ Kata
Elthan yang baru saja duduk di sampingnya.
‘’Secepatnya, tunggu kondisi
papah baik.’’ Jawabnya.
‘’Awas memang dia pergi.’’
Sungut Elthan. Althan terkekeh sambil menepuk bahu adiknya.
‘’Dia sekarang lagi hamil
anakku jadi gak bakalan pergi.’’ Jawab Althan.
Di sisi
lain.
Nieya meletakan handuk basah ke
dalam wadah setelah membersihkan Tantra.
‘’Makasih ya, Nieya. Sudah lama
sama Althan?’’ Tanya Tantra. Nieya tersenyum lalu menggeleng pelan.
‘’Baru dua bulan lebih Om,
waktu tante belikan Daeng makan siang di tempat saya. Saya jualan waktu itu.’’
ceritanya.
‘’Hampir tiga bulan papah.’’
Jawab Althan dari belakang Nieya. Nieya menengok dan Althan tersenyum sambil
mengelus rambutnya.
‘’Ayo kita lamar dia buat kamu.
Papah sudah baikan.’’ Kata Tantra.
‘’Papah yakin? Nanti kenapa-
napa lagi.’’ Kata Althan.
‘’Yakin, semakin lama semakin
tidak baik nanti jadi aib yang mencemarkan nama keluarga. Besok kita datang
kerumahnya, nanti papah minta rawat jalan sama dokter.’’ Kata Tantra. Mamah
yang baru datang dari supermarket langsung menghampiri mereka dan duduk.
‘’Kenapa ini?’’ Tanya Mamah.
‘’Mau lamar Nieya buat Althan
secepatnya.’’ Kata Tantra.
‘’Boleh, kapan?’’ Tanya Mamah.
‘’Besok siang, biar segera
menikah dan halal. Gak baik Mah jika kelamaan nanti jadi aib.’’ Kata Tantra
sambil melihat mantan istrinya.
Mamah mengangguk setuju ia tau
dari maksud Tantra adalah semakin lama semakin besarlah perut Nieya dengan
kejadian seperti itu nanti banyak pembicaraan orang hingga terjadilah aib
besar.
‘’Beneran.’’ Kata Nieya. Nieya
tersenyum sambil berdiri dan melihat Altan.
‘’Beneran sayang.’’ Jawab
Althan.
‘’Kali an harus bahagia, semuanya.’’ Jawab Papah
semangat. ‘’Kalian semangat papah untuk melawan penyakit ini.’’ Kata Tantra.
Nieya memeluk Tantra sambil menangis haru.
‘’Terima kasih.’’ Jawabnya.
****
Malam…
sampai dirumahnya, ia kemudian melambaikan tangannya ke Althan yang tidak turun
karena ingin ke rumah sakit lagi.
‘’Hati- hati.’’ Ujar Nieya dan
Althan tersenyum sambil mengangguk tak lama ia pergi.
Nieya masuk ke dalam rumah di
sana ada Ibu, Bapak dan Riko sedang menonton tv.
‘’Assalamualaikum, Ibu.’’ Kata
Nieya lalu masuk dan duduk di dekat mereka.
‘’Besok Daeng dan keluarganya
datang mau lamar Nieya Bu.’’ Kata Nieya seraya menahan tangis haru. Ibu dan
Bapak langsung saling memandang dan tak lama tersenyum penuh syukur.
‘’Masya Allah Nieya, nasibmu
baik sayang. Ibu tidak menyangka Tuhan sangat baik menempatkanmu di takdir yang
bahagia.’’ Tangis ibu pecah sambil memeluk anak perempuannya.
‘’Nieya juga gak nyangka Bu,
tapi papahnya sendiri yang mau. Nieya pikir mereka tidak menerima tapi
sebaliknya mereka sangat baik ibu.’’ Jawab Nieya. Bapak berdiri menghadap
kiblat lalu bersujud berulang kali.
‘’Terima kasih Allah engkau
mengangkat derajat kami, menempatkan anak kami di takdir yang baik. Hamba putus
asa ketika anak perempuan satu- satunya hancur, hamba pikir anak hamba sudah
tidak punya masa depan tapi kini.’’ Bapak menangis haru. Riko yang melihat
ketiganya menangis langsung memeluk dan tak lama ikut menangis juga.
‘’Mbak.’’ Cicit Riko pelan.
Nieya menghapus air matanya lalu memeluk sang adik.
‘’Jangan nangis, nanti Mbak
penuhi kebutuhan kamu. Mbak tetap jualan dan memperbaiki segalanya. Nieya akan
memperbaiki semua yang salah dari dulu
‘’Kapan mereka datang kesini?
Biar ibu libur jualan dan menyajikan mereka makanan.’’ Kata Ibu.
‘’Jam dua belas siang Bu.’’
Jawab Nieya.
‘’Bapak juga libur ojek dulu.’’
Kata Bapak.
‘’Riko mau izin sekolah juga
kalau gitu.’’ Kata Riko. Nieya mengangguk sambil tersenyum.
‘’Bagaimana keluarganya Mbak?’’
Tanya Bapak.
‘’Papahnya Daeng Althan orang
bule Pak, Belanda terus Mamahnya Bugis pantasan Daeng tampan walaupun kulitnya
gak putih.’’ Ujar Nieya. Ya, Althan bisa di bilang 80% wajah Indonesia kecuali
hidung dan tinggi badannya. Kulitnya juga tidak putih melainkan sawo mateng.
‘’Walah, terus bahasanya
bagaimana?’’ Tanya Bapak.
‘’Papahnya Daeng bisa bahasa
Indonesia kok Pak.’’ Jawab Nieya dan Riko tertawa ngakak begitupun dengan Ibu
setelah itu Bapak sendiri.
Nieya pov
Apa diriku Bahagia? Jawabannya sangat, sangat
bahagia.Bayangkan seorang wanita miskin dan hancur memiliki takdir yang baik,
di jodohkan dengan lelaki baik- baik seperti Althan.