
Nieya mengemasi bajunya di dalam tas sederhana ia sudah
bilang ke ibu dan bapak kalau dirinya ingin pergi ke Samarinda untuk
menenangkan diri. Ibu dan bapak hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan anaknya.
Mereka berdua memberikan wejangan dan juga beberapa uang hasil warung untuk
Nieya hidup disana.
Pikiran Nieya ia akan berdagang di sana walaupin
berkeliling.
"Kapan pulang jadinya Mba?" Tanya Ibu sambil
mengusap rambut panjang Nieya. Nieya berbalik sambil menghapus air matanya.
"Secepatnya bu, Nieya cuma mau menghilang dari
kehidupan Daeng Althan." Jawabnya Nieya.
"Mba Nieya jangan pergi nanti yang jagain Riko
siapa?" Tangis sang adikpun sedari tadi terus menggema.
"Ada Ibu dan Bapak, Mba hanya sebentar kok. Kalau
Daeng Althan tanya kamu tentang Mba bilang aja gak tau ya." Nieya memeluk
sang adik.
"Siapa yang mengantarmu Mba?" Tanya bapak.
"Keana pak dia lagi di dalam mobil."
"Walah panggil suruh kesini.'' Ujar bapak sambil
keluar untuk memanggil Keana.
"Simpan uang ini buat kebutuhanmu di sana ya Mba,
kalau kurang bilang nanti Ibu akan pinjam ke tetangga.'' Kata Ibu. Nieya
menggeleng.
"Jangan pinjam uang ke siapapum Bu, ibu jualan aja
di warung Nieya kalau rejekinya banyak pindahlah kerumah yang layak." Kata
Nieya.
Ibu memeluk anaknya tanpa sadar Nieya telah mengubah
perekonomian keluarga dengan inisiatifnya untuk membuka warung kecil- kecilan
di pasar.
"Semoga Allah melindungimu nak disana." Doa
ibu.
"Amin.
❤❤❤❤
Althan tidak pulang kerumah dan masih berada di kediaman
Danu. Lelaki itu menunggu Keana pulang untuk membawa Nieya disisinya.
"Tidurlah, Keana tidak pulang malam ini." Danu
meletakan teh hangat di meja santai.
"Kemana? Apa dirumah Nieya?" Tanya Althan
penasaran.
"Entahlah." Jawabnya.
"Harusnya aku mengejarnya tadi bukan kesini."
Althan meremas rambutnya frustasi.
"Hm." Jawab Danu.
"Bukannya kamu sedang ada janji?" Tebak Danu.
Althan menegakan badannya dan mencoba ingat.
"Ah, detektif untuk mencari informasi kalian
berdua." Kata Althan.
"Yalah, dia datang kepadaku untuk membenarkan tapi
Nieya terlebih dahulu jujur kepadamu."
"Sepertinya aku harus mendengar informasi dia."
"Kau sudah tau, bukan aku yang mencelakai Nieya tapi
beberapa preman." Kata Danu sambil menyeruput teh hangat.
"Kau pelakunya." Kata Althan membuat Danu
menghembuskan nafasnya.
"Terserah deh."
❤❤❤❤
Pagi menjelang tepat jam enam pagi Nieya berpamitan
dengan kedua orang tuanya tak lupa ia mencium adiknya yang masih tertidur
karena libur sekolah.
"Ibu jangan kasitau Althan ya." Kata Nieya. Ibu
mengangguk "tapi jangan membencinya ya Bu, dia cintanya Nieya." Kata
Nieya lagi.
Ibu mengangguk begitupun bapak yang menyiapkan mobil
Keana. Keana baru selesai sholat subuh wanita itu langsung bersiap untuk
mengantar Nieya.
"Ini Ana kuncinya, Bapak sudah panaskan tadi."
Kata Bapak sambil memberikan kunci mobil ke Keana. Keana tersenyum sambil
mengangguk
"Makasih.'' Jawab Keana. "Ayo, keburu Danu
"Walah ingat suami dan anaknya toh." Kata Ibu.
"Iyalah bu, Danu kalau gak ada saya bisa ngambek
seharian belum anak- anak haduh." Keana menepuk keningnya membuat mereka
tertawa.
"Ibu pergi dulu, Assalamualaikum" pamit Nieya
dan Keana. Ibu dan bapak tak kuasa menahan sedih.
"Bu, kita pindah rumah aja yuk. Supaya Althan tidak
menganggu keluarga kita nantinya.
"Iyalah Pak, kita cari uang dulu baru pindah."
Keana dan Nieya sudah berada di dalam mobil. Nieya nampak
melamun sambil melihat ke arah luar jendela.
Flashback.
Perasaan wanita itu tak enak sejak membaca surat masa
lalu Althan. Apa yang pria itu inginkan? Masa lalunya kah? Tapi buat apa di
ketahui.
Nieya akhirnya berfikir dan terus mempertimbangkan hingga
ia memutuskan untuk menceritakannya nanti. Nanti, bila ia siap untuk pergi dari
Althan.
Kemarin Nieya tak sengaja membaca sebuah pesan singkat
dari seorang detektif terus Nieya sengaja memeluk Althan agar pesan itu jelas
di matanya dan benar.
Dalam hati wanita itu meringis sambil menangis ia akan
bercerita nanti.
"Makan dimana?" Tanya Althan. Nieya reflek
menjawab
"Manggar." Agar ia memiliki waktu luang untuk
bercerita.
Flashback.
Nieya tersadar saat tubuhnya di goyangkan oleh Keana.
"Kamu tunggu sini, aku akan memesankan bus
untukmu." Kata Keana setelah itu ia keluar dan pergi menuju loket yang
cukup ramai.
10 menit kemudian Keana membuka pintu mobilnya dan
membantu Nieya keluar.
"Busnya pergi jam tujuh kurang." Keana menuntun
Nieya keluar lalu menuju bus dan masuk ke dalam sana. Keana sengaja memesan
tempat duduk di belakang dan di batasi dengan dua kursi kosong tak lupa Keana
menaruh satu pengawal rahasia yang sedang menyamar agar Nieya selamat sampai
tujuan. "Ini ada bantal dan selimut untumu dariku dan juga tas untuk kamu
pakai jadi tidak menjinting dompet." Kata Keana sambil memberikan tasnya
yang ia pakai.
Tas seharga motor hehe.
"Disini ada kartu kreditku pakailah dan beberapa
uang cash, jangan sampai kesusahan di sana." Kata Keana. Nieya menangis
haru tak lama ia memeluk mantan majikannya itu.
"Aku tak tau hatimu terbuat seperti apa Ana tapi
makasih untuk kebaikanmu. Semoga Tuhan balas kebaikanmu untukku."
"Jangan nangis, hiduplah untuk sang maha hidup
jangan biarkan dirimu putus asa." Kata Keana. Nieya melepas pelukannya dan
mengangguk ia tersenyum tulus begitupun Ana.
"Banyak penumpang, aku turun dulu... semangat"
kata Keana setelah itu ia turun dari bus dan berdiri untuk melambaikan tangan.
Nieya membalas lambaikan Keana hingga bus yang di
tumpanginya mulai berjalan dan pergi meninggalkan Kota Balikpapan.
❤❤❤❤
"Bersiaplah sepertinya dirimu akan kedatangan tamu
baru." Ujar wanita paruh baya ke wanita seumuran dirinya di samping. Kiran
menatap Ratna yang sedang duduk dipinggir alun- alun.
"Maksudmu?" Tanya Ratna ke Kiran. Kiran
tersenyum sambil menunjuk wanita cantik di seberang jalan.
"Dia membutuhkanmu karena satu nasib." Ujar
Kiran sambil menerawang. Ratna ber oh ria lalu menyuruh Aika memanggil wanita
itu.
"Sayang panggilah wanita itu." Kata Ratna ke
Aika. Aika yang sedang menemani mereka mengangguk dan mendatangi Nieya.
"Ah, kita akan
kedatangan tamu baru." Kata Kiran sambil tersenyum arti.