Beautiful Disabled Girl

Beautiful Disabled Girl
Episode 17



Nieya mengemasi bajunya di dalam tas sederhana ia sudah


bilang ke ibu dan bapak kalau dirinya ingin pergi ke Samarinda untuk


menenangkan diri. Ibu dan bapak hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan anaknya.


Mereka berdua memberikan wejangan dan juga beberapa uang hasil warung untuk


Nieya hidup disana.


Pikiran Nieya ia akan berdagang di sana walaupin


berkeliling.


"Kapan pulang jadinya Mba?" Tanya Ibu sambil


mengusap rambut panjang Nieya. Nieya berbalik sambil menghapus air matanya.


"Secepatnya bu, Nieya cuma mau menghilang dari


kehidupan Daeng Althan." Jawabnya Nieya.


"Mba Nieya jangan pergi nanti yang jagain Riko


siapa?" Tangis sang adikpun sedari tadi terus menggema.


"Ada Ibu dan Bapak, Mba hanya sebentar kok. Kalau


Daeng Althan tanya kamu tentang Mba bilang aja gak tau ya." Nieya memeluk


sang adik.


"Siapa yang mengantarmu Mba?" Tanya bapak.


"Keana pak dia lagi di dalam mobil."


"Walah panggil suruh kesini.'' Ujar bapak sambil


keluar untuk memanggil Keana.


"Simpan uang ini buat kebutuhanmu di sana ya Mba,


kalau kurang bilang nanti Ibu akan pinjam ke tetangga.'' Kata Ibu. Nieya


menggeleng.


"Jangan pinjam uang ke siapapum Bu, ibu jualan aja


di warung Nieya kalau rejekinya banyak pindahlah kerumah yang layak." Kata


Nieya.


Ibu memeluk anaknya tanpa sadar Nieya telah mengubah


perekonomian keluarga dengan inisiatifnya untuk membuka warung kecil- kecilan


di pasar.


"Semoga Allah melindungimu nak disana." Doa


ibu.


"Amin.


❤❤❤❤


Althan tidak pulang kerumah dan masih berada di kediaman


Danu. Lelaki itu menunggu Keana pulang untuk membawa Nieya disisinya.


"Tidurlah, Keana tidak pulang malam ini." Danu


meletakan teh hangat di meja santai.


"Kemana? Apa dirumah Nieya?" Tanya Althan


penasaran.


"Entahlah." Jawabnya.


"Harusnya aku mengejarnya tadi bukan kesini."


Althan meremas rambutnya frustasi.


"Hm." Jawab Danu.


"Bukannya kamu sedang ada janji?" Tebak Danu.


Althan menegakan badannya dan mencoba ingat.


"Ah, detektif untuk mencari informasi kalian


berdua." Kata Althan.


"Yalah, dia datang kepadaku untuk membenarkan tapi


Nieya terlebih dahulu jujur kepadamu."


"Sepertinya aku harus mendengar informasi dia."


"Kau sudah tau, bukan aku yang mencelakai Nieya tapi


beberapa preman." Kata Danu sambil menyeruput teh hangat.


"Kau pelakunya." Kata Althan membuat Danu


menghembuskan nafasnya.


"Terserah deh."


❤❤❤❤


Pagi menjelang tepat jam enam pagi Nieya berpamitan


dengan kedua orang tuanya tak lupa ia mencium adiknya yang masih tertidur


karena libur sekolah.


"Ibu jangan kasitau Althan ya." Kata Nieya. Ibu


mengangguk "tapi jangan membencinya ya Bu, dia cintanya Nieya." Kata


Nieya lagi.


Ibu mengangguk begitupun bapak yang menyiapkan mobil


Keana. Keana baru selesai sholat subuh wanita itu langsung bersiap untuk


mengantar Nieya.


"Ini Ana kuncinya, Bapak sudah panaskan tadi."


Kata Bapak sambil memberikan kunci mobil ke Keana. Keana tersenyum sambil


mengangguk


"Makasih.'' Jawab Keana. "Ayo, keburu Danu


"Walah ingat suami dan anaknya toh." Kata Ibu.


"Iyalah bu, Danu kalau gak ada saya bisa ngambek


seharian belum anak- anak haduh." Keana menepuk keningnya membuat mereka


tertawa.


"Ibu pergi dulu, Assalamualaikum" pamit Nieya


dan Keana. Ibu dan bapak tak kuasa menahan sedih.


"Bu, kita pindah rumah aja yuk. Supaya Althan tidak


menganggu keluarga kita nantinya.


"Iyalah Pak, kita cari uang dulu baru pindah."


Keana dan Nieya sudah berada di dalam mobil. Nieya nampak


melamun sambil melihat ke arah luar jendela.


Flashback.


Perasaan wanita itu tak enak sejak membaca surat masa


lalu Althan. Apa yang pria itu inginkan? Masa lalunya kah? Tapi buat apa di


ketahui.


Nieya akhirnya berfikir dan terus mempertimbangkan hingga


ia memutuskan untuk menceritakannya nanti. Nanti, bila ia siap untuk pergi dari


Althan.


Kemarin Nieya tak sengaja membaca sebuah pesan singkat


dari seorang detektif terus Nieya sengaja memeluk Althan agar pesan itu jelas


di matanya dan benar.


Dalam hati wanita itu meringis sambil menangis ia akan


bercerita nanti.


"Makan dimana?" Tanya Althan. Nieya reflek


menjawab


"Manggar." Agar ia memiliki waktu luang untuk


bercerita.


Flashback.


Nieya tersadar saat tubuhnya di goyangkan oleh Keana.


"Kamu tunggu sini, aku akan memesankan bus


untukmu." Kata Keana setelah itu ia keluar dan pergi menuju loket yang


cukup ramai.


10 menit kemudian Keana membuka pintu mobilnya dan


membantu Nieya keluar.


"Busnya pergi jam tujuh kurang." Keana menuntun


Nieya keluar lalu menuju bus dan masuk ke dalam sana. Keana sengaja memesan


tempat duduk di belakang dan di batasi dengan dua kursi kosong tak lupa Keana


menaruh satu pengawal rahasia yang sedang menyamar agar Nieya selamat sampai


tujuan. "Ini ada bantal dan selimut untumu dariku dan juga tas untuk kamu


pakai jadi tidak menjinting dompet." Kata Keana sambil memberikan tasnya


yang ia pakai.


Tas seharga motor hehe.


"Disini ada kartu kreditku pakailah dan beberapa


uang cash, jangan sampai kesusahan di sana." Kata Keana. Nieya menangis


haru tak lama ia memeluk mantan majikannya itu.


"Aku tak tau hatimu terbuat seperti apa Ana tapi


makasih untuk kebaikanmu. Semoga Tuhan balas kebaikanmu untukku."


"Jangan nangis, hiduplah untuk sang maha hidup


jangan biarkan dirimu putus asa." Kata Keana. Nieya melepas pelukannya dan


mengangguk ia tersenyum tulus begitupun Ana.


"Banyak penumpang, aku turun dulu... semangat"


kata Keana setelah itu ia turun dari bus dan berdiri untuk melambaikan tangan.


Nieya membalas lambaikan Keana hingga bus yang di


tumpanginya mulai berjalan dan pergi meninggalkan Kota Balikpapan.


❤❤❤❤


"Bersiaplah sepertinya dirimu akan kedatangan tamu


baru." Ujar wanita paruh baya ke wanita seumuran dirinya di samping. Kiran


menatap Ratna yang sedang duduk dipinggir alun- alun.


"Maksudmu?" Tanya Ratna ke Kiran. Kiran


tersenyum sambil menunjuk wanita cantik di seberang jalan.


"Dia membutuhkanmu karena satu nasib." Ujar


Kiran sambil menerawang. Ratna ber oh ria lalu menyuruh Aika memanggil wanita


itu.


"Sayang panggilah wanita itu." Kata Ratna ke


Aika. Aika yang sedang menemani mereka mengangguk dan mendatangi Nieya.


"Ah, kita akan


kedatangan tamu baru." Kata Kiran sambil tersenyum arti.