
Ruang BK.
"Pak saya ijin pulang karna ada urusan Keluarga" Ucap Rangga kepada Guru BK.
"Hmm, Saya ambilkan dulu surat Ijin nya" Ucap Guru Bk tersebut.
Sementara di Luar Ruang BK.
"Bastian?" Panggil Rere.
"Rere, ngapain lo?" Tanya Bastian.
"Mau ijin pulang, Minggir-Minggir" Ucap Rere mendorong Bastian.
"Apa ini kebetulan?" Ucap Bastian dalam Hati.
Klik..
"Rangga?"
"Rere!"
"Ngapain Lu disini?" Tanya Rangga dan Rere secara Bersamaan.
"Gw disini Mau ijin pulang karna urusan Keluarga" Ucap Rangga dan Rere secara bersamaan Lagi.
"Ha?"
"Apa?"
"Ada apa ini?" Tanya Guru BK yang kembali.
"Pak, saya ingin meminta surat Ijin pulang" Ucap Rere yang langsung duduk di sebelah Rangga.
"Alasannya?"
"Ada urusan keluarga yang sangat mendesak" Ucap Rere.
"Kalian masing-masing ijin pulang karna alasan yang sama, Apa kalian sekeluarga?"
"Tidak!" Ucap Rangga dan Rere kompak.
"Kenapa lu terus-terusan niru ucapan gw?" Protes Rere.
"jelas-jelas yang ngomong duluan itu Gw!" Omel Rangga.
"Sudah-sudah, Diam.. kalian saya ijinkan Pulang, sekarang saya akan tulis surat Ijinnya" Ucap Guru BK yang meleraikan masalah.
_
Di Luar Ruang BK.
"Bastian" panggil Indah.
"Indah"
"Kenapa kamu disini?"
"Tidak apa, Ayo pergi" Ucap Bastian menggandeng tangan Indah.
"Kamu habis dari mana?" Lanjut Bastian.
"Toilet, terus sengaja lewat sini. Mau lihat Rere sudah pulang atau belum"
"Rere juga mau pulang karna urusan Keluarga"
"Iya"
"Rangga juga"
"Ha?"
"Iya"
"Begitu sangat kebetulan" Ucap Indah.
"Mungkin mereka jodoh"
"Hahahaha"
"Yasudah, sana masuk kelas, belajar yang Pintar" ucap Bastian didepan kelas Indah.
"Bye-bye"
"Bye"
Di Luar Sekolah.
"Kenapa tidak ada Bemo yang lewat" Ucap Rere melihat ke kanan-kiri.
Brum..Brum..
"Woe Minggir" Ucap Rangga.
"Napa lu masih disini?" Tanya Rangga.
"Menurut Lo"
"Nyari Bemo di jam segini? Belum ada mbak, Ini masih Pagi"
"Bukan urusan Lo"
"Yasudah Gw pulang dulu"
"Eh tunggu" Ucap Rere.
"Apa?"
"Gw, boleh numpang?" Tanya Rere.
"Naik"
"Ha?"
"Waktu adalah uang, kalau lu lelet. Gw tinggal" Ucap Rangga, Rere pun tanpa basa-basi lagi langsung Naik ke motor Rangga.
"Rumah lo dimana?" Tanya Rangga.
"Di jalan mawar"
"Oh, Pegangan, gw ngebut"
***
Rumah Rere.
"Ma, pa" Ucap Rere yang langsung Berlari masuk kedalam Rumah nya. Namun tidak ada jawaban.
"Nyokap, Bokap lo ada dirumah?" Tanya Rangga.
"Hmmm, mungkin mereka sudah pergi" Ucap Rere duduk di teras rumahnya dengan wajah yang murung.
"Ha, mana?" Tanya Rere berdiri dan berjalan ke arah Rangga. Ia pun membuka surat tersebut dengan tergesa-gesa.
"Sayang, kami pergi dulu. Atasan kami mendesak untuk segera tiba di bandara. Dan kami menitipkan mu kepada Teman Ibu yang bernama Tina dia orang baik, sekaligus teman masa kecil Ibu, dia juga punya anak seumuran kamu, hanya saja lebih tua 1 tahun. Tempat tinggal nya di Jalan Citra Nomor 71, Jangan nakal-nakal disana ya" Isi surat yang dibaca Rere.
"Jalan Citra nomor 71?" Ucap Rere yang membuat Rangga terkejut.
"Apa?" Tanya Rangga.
"lu tau alamat ini? Ini rumah tempat Tinggal nya teman Ibu gw dan gw harus kesana Karna Gw dititipin tinggal disana selama 1 minggu"
"Jadi, Dia yang di bicarakan Mama kemarin, kenapa bisa dia, dan kenapa harus dia" Ucap Rangga dalam Hati.
"Lu tau alamatnya kan?" Tanya Rere.
"Oh, Ya Gw tau"
"Kalau begitu Bisa Antar Gw kesana sekarang? Maaf ngerepotin lu lagi" ucap Rere yang di balas Rangga Anggukkan.
"Ayah sekarang Mabuk, apa ini tidak akan membuat nya takut?" Ucap Rangga dalam Hati.
"Hmmm, katanya Keluarga tersebut mempunyai seorang anak yang seumuran dengan Gw, hanya saja dia tua 1 tahun, tapi dia laki-laki atau perempuan ya, jika perempuan Gw harus bersikap Sopan"
"Jika laki-laki?" Tanya Rangga.
"kalau laki-laki gw harus tunjukin Kekuatan Gw biar dia gak seenaknya nindas Gw kan di TV sekarang sangat banyak anak perempuan di titipkan ke keluarga yang mempunyai anak laki-laki, perempuan itu sering di tindas bahkan di jebak, Ck..ck"
"Kebanyakan nonton Acara TV yang gak jelas, Ayo naik" Ucap Rangga menjitak kepala Rere.
"Oh"
Rumah Rangga.
"Ma, aku pulang, Dimana Ayah?" Ucap Rangga masuk kedalam rumah nya yang diikuti Rere.
"Ayah disini" Ucap Ayah Rangga yang bernama Warno.
"Sayang, sudah pulang" Ucap Ibu Rangga yang bernama Tina.
"Pa, Ma. Kalian drama lagi?" Tanya Rangga.
"Hahahaha, Tentu. Jika tidak kamu tidak akan pulang, eh Tunggu, Anak ini yang di foto kan, Pa" Tina berbisik kepada Suami nya.
"Iya Ma, Dia..Rangga Dia Rere Ambarwan Anak temen Ibu mu?" Tanya Warno kepada Anak nya.
"Hmmm"
"Ha?"
"Kalian?"
"Kami satu sekolah, hanya saja dia junior kelas 11" Ucap Rangga dan duduk di sofa meneguk minuman yang di meja.
"Wah, Cantik sekali, sini-sini duduk" Ajak Ibu Rangga menggandeng tangan Rere.
"Tante jadi..jadi Tante teman ibu ku?" Tanya Rere.
"Iya, Bahkan kami ingin menjodohkan mu dengan anak Tante yang tampan ini" Ucap Ibu Rangga.
"Apa!!" Ucap Rangga dan Rere secara Bersamaan.
"Kenapa? Bukan kah kalian juga sudah saling kenal, ternyata belum di pertemukan oleh kami, kalian sudah di pertemukan terlebih dahulu oleh takdir" Ujar Tina.
"Ma, apa mama bercanda? kita masih Sekolah, lagi pula aku sama dia gak akrab" Protes Rangga.
"Memang kenapa kalau masih sekolah? Kan ini hanya perjodohan bukan pernikahan, kenapa kamu sangat Heboh, kalau tidak akrab kan lama-lama pasti akrab kalau kalian selalu bersama"
"Ma.."
"Tante, lebih baik jangan memaksa Rangga, lagi pula dia ada benar nya, Kita masih SMA.. aku juga belum ada persiapan buat perjodohan ini, karena ini berita dadakan" Ucap Rere.
"Tetapi kami dan Keluarga mu sudah merencanakan ini sejak awal" Tina menunduk dan memasang raut wajah sedih.
"Pa, Ternyata Menantu yang kita impikan tidak ingin bersama keluarga kita" Ucap Tina kepada Suaminya.
"Haizz, keluarga kita banyak kekurangan jadi dia tidak siap" Warno menepuk lembut bahu istri nya.
"Ma, Pa. Berhenti berpura-pura, apa begitu menyenangkan bermain Drama?" Ucap Rangga.
Rere yang melihat Tina dan Warno (orang tua Rangga) menjadi tidak enak hati, walau drama. Tapi jika beneran kecewa bagaimana? Ditambah mereka teman baik orang tua nya juga.
"Om, Tante. Saya akan mempertimbangkan perjodohan ini" Ucap Rere menatap ke arah Rangga, membuat Rangga terkejut dan menatap balik ke arah Rere.
"Sayang, apakah kamu yakin?" Tanya Ibu Rangga dengan penuh semangat dan menggenggam tangan Rere.
"Rangga juga tidak buruk, dia pernah menolongku, anggap saja aku membalas budi nya dengan cara menerima perjodohan ini" Ucap Rere dalam hati dan mengangguk Iya kepada Ibu Rangga.
"Ma, aku ke kamar dulu" Ucap Rangga meninggalkan semua nya di ruang tamu.
"He, tunggu" Henti Ibu Rangga, Rangga pun berhenti melangkah dan berbalik.
"Antar Rere ke kamar nya" Lanjut Ibu Rangga.
"Ayo, naik" Ucap Rangga mengulurkan tangan nya kepada Rere, Rere pun menerima uluran tersebut dan naik ke atas menuju kamar dengan bergandengan tangan.
"Wah, Rangga kita sungguh romantis" Ucap Ibu Rangga.
"Sama kaya kita saat dulu" Ujar Ayah Rangga.
_
"Ini kamar lu" Ucap Rangga kepada Rere.
"Oh"
"Ini kamar gw tepat di depan kamar lu"
"Oh"
Rangga yang melihat wajah murung Rere, mendorong nya masuk kedalam kamar Rere, membuat Rere terkejut.
"Apa yang lu lakuin" Tanya Rere.
"Kenapa lu nerima perjodohan Ini?" Tanya balik Rangga kepada Rere.
"gw..."
"Asal lu tau, orang tua Gw pandai bersandiwara, apa karna ini lu menerima perjodohannya" Ucap Rangga namun Rere hanya diam saja.
"Kenapa diam saja? Jawab, bukan nya lu gadis yang juga sama seperti Indah"
"Gw nerima perjodohan karna gw pikir ini bisa menebus rasa terimakasih gw sama lo karna kemarin udah nyelamatin gw, bahkan lu gak lebih buruk dari orang-orang disana" Ucap Rere.
"Cihh, omong kosong"
BERSAMBUNG....