Bad CEO

Bad CEO
Botol minuman



Mike berusaha membuka kamar Karin yang terkunci dari dalam. Ia pun segera mendekat ke arah Karin yang masih tertidur pulas di ranjang sesaat setelah pintu terbuka.


Mike mendekap Karin ke arahnya lalu mengecup kening gadis itu sebelum akhirnya mereka tertidur pulas kembali.


Pagi harinya, Karin kaget saat melihat Mike sudah berdiri didepan ranjangnya dengan pakaian jas lengkap.


"Good morning honey?" sapanya lembut pada Karin.


Karin hanya diam, saat Mike mengecup kening Karin dengan cepat.


"Aku sudah siapkan makanan buat kamu. Kata dokter kamu harus makan yang banyak, biar sembuh," ujar Mike lembut.


Bukannya menjawab, Karin justru segera turun dari ranjang lalu berlutut dihadapan Mike. Hingga membuat Mike terkejut.


Karin mengatakan, "Tuan, saya mohon biarkan saya pergi dari sini. Saya tidak bisa memenuhi keinginan Tuan. Saya tidak bisa memenuhi kontrak ini. Saya janji, saya tidak akan melaporkan Tuan ke polisi asalkan Tua melepaskan saya."


Mike tampak sangat kesal mendengar perkataan Karin, "Kamu tidak punya hak untuk memohon padaku. Jangan pernah menyuruhku melakukan hal yang tidak aku suka. Menurut padaku, kalau kamu tidak mau mendengar kabar ibumu di televisi."


Karin menangis sesenggukan.


Mike menambahkan sebelum pergi dari ruangan Karin, "Makanlah, selagi aku masih baik padamu."


...****************...


Di kantor, Mike tampak uring-uringan. Sudah sejak pagi, Mike terus saja memarahi karyawannya dengan kata-kata kasar. Melihat itu Difan hanya bisa menghela nafas panjang.


Difan membacakan jadwal Mike hari ini, Mike tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Difan. Kekesalan masih tampak di wajah Mike.


Mike pun mengeluarkan uneg-unegnya pada Difan. Mendengar Mike yang terus saja mengoceh membuat Difan hanya tersenyum saat ia tahu apa yang sebenarnya membuat bos nya itu menjadi senewen tak karuan.


"Harusnya wanita itu bersyukur karena dia bisa dengan mudah bercinta denganku kapanpun dan tanpa syarat apapun disaat semua wanita berlomba untuk mendapat perhatian dariku. Tidak semua wanita seberuntung dia. Aku tidak habis pikir dengan gadis kampung itu."


"Kenapa kamu tidak menikahinya saja?. Bukankah akan lebih mudah," tembak Difan tepat sasaran.


"Apa?!. Menikah?!. Aku tidak percaya kamu mengatakan hal itu. Kenapa aku harus menikah kalau aku bisa berhubungan **** dengan wanita manapun."


"Kalau kamu memang bisa berhubungan **** dengan wanita manapun kenapa kamu justru tidak melepaskan Karin?"


Mike tergagap, "A-a-a-aku.., ah sudahlah. Bicara denganmu hanya membuatku sakit kepala."


Difan tertawa melihat ekspresi bingung pria didepannya.


Mike berkata lagi, "Ayo kita pulang. Batalkan semua jadwalku hari ini."


Difan merasa heran tidak biasanya Mike meminta pulang padahal saat itu jam masih menunjukkan pukul satu siang. Namun, ia tidak berkata apapun dan hanya diam mengikuti Mike yang sudah berjalan terlebih dahulu didepannya.


Diperjalanan, Mike menyuruh Difan menghentikan mobil didepan sebuah minimarket karena ia ingin membeli minuman. Difan mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Mike membeli minuman di tengah jalan. Namun, ia hanya diam sambil memperhatikan Mike yang masuk ke dalam minimarket.


Tak lama Mike pun keluar dari minimarket kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Difan memperhatikan Mike yang terlihat tersenyum bahagia sepanjang perjalanan mereka. Keanehan tampak jelas diwajah Mike.


Setibanya di rumah, Mike langsung bergegas menuju dapur pribadinya. Ia menuangkan sebotol minuman yang dibelinya tadi kedalam sebuah gelas, tak lupa ia menambahkan sesuatu lagi kedalamnya.