
Setibanya di lobby kantor, Mike berpapasan dengan seorang wanita cantik yang sepertinya menyukai Mike. Namun, entah sadar atau tidak Mike justru mengacuhkan wanita tersebut.
Difan melihat ke arah Mike, dengan ekor mata yang terus memperhatikan wanita itu.
"Wanita itu terus saja menggangguku. Apa dia pikir, setelah bercinta dengannya aku akan menyukainya. Dasar wanita bodoh," ucap Mike sambil berjalan ke ruangannya.
Difan hanya diam mendengarkan celotehan tuannya.
"Apa jadwalku hari ini?"
"Tuan ada jadwal pertemuan dengan perwakilan Angkasa Grup hingga sore hari."
"Pria atau wanita?"
"Tuan Alexander."
"Baiklah. Setelah itu, pesankan aku sebuah kamar hotel. Aku ingin bermain malam ini."
Difan mengangguk dan menyanggupi permintaan bosnya itu.
Difan memang sudah tahu seluk beluk bosnya itu. Setiap kali pria itu menyelesaikan jadwal pertemuan dengan klien, pria itu akan meminta Difan untuk mencarikan seorang wanita untuk memuaskan nafsunya semalaman.
Bahkan jika klien mereka adalah seorang wanita muda, tanpa pikir panjang Mike akan merayu kliennya itu untuk bercinta satu malam dengannya.
Meskipun Mike doyan bercinta, tapi tidak sembarang wanita dapat menjadi teman pemuas nafsunya.
Dalam hal ini, Mike menyuruh Difan untuk menyeleksi siapa saja wanita yang boleh masuk sebagai kriteria teman kencannya. Dan hanya wanita terpilih dan beruntung lah yang dapat memenuhi kriteria tersebut.
Saat bercinta, Mike tidak pernah melakukan persetubuhan dengan wanita-wanita itu. Mike hanya bermain hingga puas untuk meluapkan hasratnya.
Namun prinsip Mike, ia tidak akan pernah mau bercinta dengan orang yang sama lebih dari satu kali. Baginya, bercinta dengan orang yang sama berulang kali hanya membuang-buang waktu saja sebab Mike lebih suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Begitulah Mike dan sisi gelapnya.
Saat dini hari, Mike akhirnya tiba di kediamannya setelah semalaman melakukan aktivitas tak berfaedah diluar sana.
Dengan berjalan santai Mike memasuki rumah mewahnya. Karena merasa haus, Mike pun berjalan ke arah dapur untuk melepaskan dahaganya.
Disana ia melihat Karin yang sedang meneguk air. Perlahan Mike mendekat dan menyapa Karin. Sontak Karin kaget, alhasil Karin menyemburkan air di mulutnya ke wajah Mike.
"Maaf Tuan, maaf Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Karin berulang kali.
Mike tampak sedikit kesal, tapi ia mencoba untuk tersenyum meski terpaksa.
Tanpa disuruh, Karin pun segera menyeka air di wajah tampan Mike. Karin menyeka tiap lekuk wajah Mike dengan tisu, sebaliknya Mike justru memperhatikan lekuk wajah dan tubuh indah gadis berbalutkan daster hitam didepannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mike menggenggam tangannya dengan erat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Karin.
Kendalikan dirimu Mike, tuturnya dalam hati.
Mike kembali menegang, saat Karin menyentuh wajah Mike untuk memastikan kalau wajah pria itu sudah bersih dan kering. Mike seperti tersengat aliran listrik tiap kali Karin menyentuhnya.
"Sekali lagi saya benar-benar minta maaf Tuan," sesal Karin.
Karin pun segera mundur dan menjauhkan tubuhnya dari Mike.
Akhirnya Mike bisa bernafas lega, Mike melepas ikatan dasi dan kancing baju atasnya seraya menelan ludahnya kasar kemudian meninggalkan Karin tanpa berkata apapun.
Sementara Karin hanya menatap punggung bidang pria itu dengan tatapan bersalah bercampur takut.