
"Mau kemana kamu pagi-pagi begini?" tanya Mike saat berpapasan dengan Karin di ruang tengah.
"Bukankah hari ini kamu libur kuliah?" tanya Mike.
"Aku mau ke perpustakaan. Aku butuh bahan buat tugas kuliahku."
"Aku tidak mengizinkan kamu pergi, bukannya kamu sudah berjanji untuk bersamaku hari ini?" ucap Mike.
"Ayolah, Mike. Kita bisa melakukan itu nanti malam. Sekarang aku sedang sibuk."
Ponsel Karin berbunyi, "Oh, mas Bagas udah sampai. Iya, ini Karin keluar," sahut Karin sesaat sebelum menutup ponselnya.
"Kamu mau pergi sama siapa?. Siapa itu Bagas?" cecar Mike.
"Bukan siapa-siapa, cuma teman lama," jawab Karin singkat sambil buru-buru berjalan keluar rumah dengan diikuti Mike dari belakang."
"Kamu tidak lupa janjimu kan?. Ini sudah hari ketiga aku menunggu," ucap Mike saat mereka tiba didepan gerbang.
Namun, Karin tidak menjawab.
Tepat setelahnya, Mike dan Bagas saling menatap. Bagas tersenyum ke arah Mike, sementara Mike menatap tajam ke arah Bagas.
Bagas memperkenalkan dirinya yang disambut dengan wajah ketus Mike.
"Saya banyak mendengar tentang anda dari Karin. Saya tidak tahu kalau Karin punya paman di Jakarta," Basa-basi Bagas.
"Apa?!, paman?!. Aku bukan pamannya," tolak Mike tegas.
Bagas bingung sambil menatap Karin.
Karin menimpali, "Jangan bercanda dong, Om. Om Mike memang suka bercanda Mas Bagas," Karin tersenyum canggung.
"Aku memang bukan pamannya. Omong kosong apa ini?" ketus Mike.
Bagas hanya bisa diam sambil menatap Karin dengan wajah bingung.
"Udah, yuk Mas Bagas. Karin berangkat dulu ya Om. Bye," sahut Karin merangkul tangan Bagas kemudian berpamitan pada Mike.
Mike sangat kesal melihat tingkah Karin pagi itu.
...****************...
Siang harinya, setelah cukup mencari bahan untuk tugas kuliahnya, Karin dan Bagas pun kemudian melanjutkan dengan makan siang di sebuah mall dekat dengan perpustakaan.
"Aku baru tau ternyata kamu itu keluarga konglomerat," ucap Bagas memulai percakapan.
"Maksudnya?" tanya Karin.
"Michael Strahan Riedl, bukannya dia pemilik Strahan Corp. ternama di Indonesia dan setahuku dia itu keturunan Belanda-Jerman. Bagaimana kamu bisa jadi keponakannya?"
"Menurut Mas Bagas?"
"Entahlah, aku hanya merasa aneh."
"Sebenarnya Mike itu paman angkat Karin, Karin bisa kuliah juga karena Om Mike yang bantu biayanya. Karin tinggal di rumah itu juga buat bantu-bantu Om Mike karena Om Mike udah baik ke Karin."
Maaf mas, Karin harus bohong ke mas Bagas. Karin nggak mungkin cerita ke mas Bagas hal yang sebenarnya, batinnya.
"Oh, jadi begitu ceritanya, tapi kamu nggak tinggal berdua aja kan disana?"
"Nggak kok Mas, ada ART dan satpam juga."
"Syukurlah. Walaupun kamu sudah menganggap dia pamanmu tapi bagaimanapun juga kalian berdua tetap orang asing. Aku hanya tidak mau saja dia melakukan hal-hal yang tidak baik padamu."
"Mas Bagas tenang aja. Karin bisa jaga diri kok."
Bagas kemudian mengusap puncak kepala Karin sambil tersenyum, "Mas percaya kok sama kamu."
Senyuman Bagas dibalas dengan senyuman bahagia di wajah Karin.
...****************...
Malam harinya, Mike terlihat menunggu Karin di ruang tengah. Berulangkali pemuda itu melihat jam ditangannya sambil menggerutu kesal.
"Sudah jam segini tapi Karin belum juga pulang. Bahkan dia tidak membalas pesan atau telepon ku."
Dua jam berselang, Karin dan Bagas pun kemudian pulang ke rumah. Bagas mengantarkan Karin hingga ke depan pintu dan tak lupa mengecup pipi gadis itu.
Tanpa menyadari kalau Mike tampak sudah meradang di balik jendela menyaksikan adegan tersebut.