Bad CEO

Bad CEO
Pesan singkat



Besok paginya Mike melihat Karin sudah di meja makan menunggu kedatangan Mike. Karin tampak sangat bahagia saat melihat Mike turun dengan setelan kemeja biru berbalut jas hitam yang menempel pas di tubuh Mike, membuat Karin sedikit terpesona dengan kharisma Mike saat itu.


"Apa kamu menunggu ku?" tanya Mike.


"Hmmm," jawab Karin dengan anggukan kepala.


Mike tersenyum simpul, dalam hatinya ia senang karena Karin mau menemani dirinya untuk sarapan pagi itu.


"Baiklah, ayo kita sarapan," ujar Mike saat membalik piring miliknya.


Karin pun dengan sigap berdiri disebelah Mike kemudian mengisi piring Mike dengan sarapan yang tersedia disana selayaknya seorang istri hingga membuat Mike tertegun.


"Mau cokelat atau stroberi?" tanya Karin saat akan mengisi selai pada roti Mike.


"Stroberi," jawab Mike.


"Kopi atau teh?" tanya Karin lagi.


"Kopi tanpa gula," jawab Mike.


"Wah, selera kita benar-benar berbeda, aku lebih suka cokelat daripada stroberi dan lebih suka teh daripada kopi," ungkap Karin memulai perbincangan pagi mereka.


"Aku tidak suka dengan sesuatu yang manis," jawab Mike.


"Jam berapa kamu pulang dari kantor?"


"Seperti biasa, mungkin sekitar jam lima sore."


"Apa seorang bos boleh pulang secepat itu?. Tidakkah pekerjaan kamu sangat banyak di kantor?" tanya Karin.


"Pekerjaan ku memang banyak, tapi aku bisa menyerahkannya pada Difan."


Karin mengernyit kesal pada Mike yang hanya menjawab pertanyaan Karin dan tidak pernah bertanya balik padanya.


Mike sama sekali tidak peduli. Dia tidak tertarik dengan hidupku.


Karin merasa Mike tidak ingin mengenal Karin lebih dekat. Padahal banyak sekali hal yang ingin Karin ceritakan padanya. Namun, melihat sikap cuek dan dingin Mike setelah apa yang mereka lakukan kemarin membuat Karin sedikit mengurungkan niatnya tersebut.


"Aku sudah selesai sarapan. Aku berangkat."


Mike segera beranjak pergi dari kursinya tepat saat Karin hendak mengucapkan sesuatu dari bibirnya.


"Hati-hati di jalan," lirihnya.


Karin merasa sedih saat itu juga.


"Aku minta maaf. Karin mengajakku sarapan bersamanya, sampai aku lupa kalau aku menyuruhmu datang lebih awal," Mike tersipu malu.


"Apa sarapannya seenak itu sampai membuat pipimu merona?" goda Difan.


Mike memegangi pipinya, "Apa terlalu kelihatan?. Akh, pikiranku kosong didekat gadis itu, jantungku rasanya mau meledak saat melihatnya berdiri sedekat itu tadi. Ada apa denganku?"


Ternyata sedari tadi Mike menahan kegugupannya saat didepan Karin. Hingga membuatnya tidak bisa berkata apapun selain menjawab apa yang ditanyakan oleh Karin.


"Wah, sepertinya sarapan rumahan tidak baik untuk kesehatanmu," goda Difan sambil tersenyum.


Sementara disebelahnya Mike masih memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya itu.


...****************...


Saat siang hari, Mike mengirim pesan pada Karin untuk mengunci pintu rumah sebab hari ini Mike mendapat pesan kalau satpam dan mba Pur izin untuk pulang lebih cepat.


Mike tidak ingin kejadian tempo hari terjadi lagi pada Karin. Oleh sebab itu ia ingin memastikan kalau gadisnya baik-baik saja disana.


Namun, setelah tiga puluh menit berlalu saat terakhir Mike mengirim pesan, Karin belum juga membalas. Mike mulai khawatir.


Mike kemudian menelepon Karin.


"Halo," jawab Karin sesaat setelah menerima teleponnya.


"Kamu dimana?. Kenapa berisik sekali?"


"Aku lagi diluar Mike. Nanti aku hubungi lagi."


Percakapan mereka pun berakhir dengan kekesalan di wajah Mike karena Karin memutus panggilannya dan bahkan tidak mengangkat telepon dari Mike setelahnya.


Mike mengirim pesan kembali.


Kamu ada dimana Karin?, cepat beritahu aku sekarang.


Sepuluh menit kemudian,


KARIN


Lima belas menit berlalu,


Aku akan pulang sekarang, awas saja kalau kamu tidak ada di rumah. Aku akan membuatmu tubuhmu tidak bisa bergerak besok pagi.