Bad CEO

Bad CEO
Aku mohon layani aku



Tak lama berselang, Karin masuk ke kamar Mike tepat saat Mike sedang melakukan aktifitas dengan jari lincahnya yang terlihat naik turun memegang miliknya yang sudah mengeras.


Karin yang melihat itu, tentu saja tidak berani mendekat.


Dasar pria mesum!!, bisiknya dalam hati.


"Pergilah Karin, aku sedang tidak punya waktu untuk menemuimu. Uuuchh, aahhhh. Segera telepon Difan, katakan padanya sepertinya aku terkena obat perangsang, uuuchhhh, aahhhhh," rintih Mike, dengan wajahnya yang sudah merah padam.


Mendengar itu Karin pun segera pergi dari sana lalu menelepon Difan untuk membantu Mike.


Karin segera mengatakan pada Difan kalau saat ini Mike seperti orang frustasi karena pengaruh obat tersebut.


Mendengar hal itu, Difan pun segera menyuruh agar Karin menjauh dari Mike, sebelum hal yang tidak Karin inginkan terjadi padanya, sebab Difan tau betul seperti apa perilaku Mike jika nafsu pemuda itu sedang naik, apalagi saat ini Mike sedang berada dibawah pengaruh obat.


Mike selayaknya binatang buas, yang akan terus menerjang mangsanya sampai ia merasa terpuaskan. Tanpa pengaruh obat saja, Mike memiliki nafsu yang cukup tinggi, terlebih pada saat sekarang. Difan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Karin kalau pemuda itu sampai menyentuhnya.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?"


"Secepatnya kunci pintu kamarmu dan jangan keluar dari sana sampai aku datang," titah Difan di ujung telepon.


Karin pun segera mengiyakan dan melakukan perintah Difan.


Kembali ke kamar Mike.


Didalam kamar, Mike tampak frustasi kesana kemari tak karuan. Ia bahkan sudah menelanjangi tubuhnya sendiri. Entah sudah yang keberapa kalinya, ia mencoba mengeluarkan cairan panas miliknya, tapi hasilnya nihil.


Wajah Mike kembali merah padam, saat ia merasakan sesuatu dari dalam sana kembali akan mendesak keluar sementara saat ini ia tidak tau bagaimana lagi caranya untuk menuntaskan gelora tubuhnya itu seorang diri.


"Aku tidak kuat lagi. Aku bisa mati kalau aku terus menahannya. Aku butuh wanita saat ini."


Mike menyelimuti tubuhnya, sementara jemarinya masih terus beraktifitas dibawah sana.


Sempat terlintas dipikiran Mike untuk menghampiri Karin. Namun, ia mengurungkan niatnya saat mengingat bagaimana ketakutan Karin tadi.


Karin merasa dirinya sangat egois, bukankah seharusnya saat ini dia menolong Mike, tapi kenapa justru dia hanya berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun untuk pemuda itu, padahal tadi pemuda itu sudah menolongnya.


Namun, Karin terlihat takut dengan apa yang disampaikan oleh Difan di telepon.


"Bagaimana kalau dia nanti justru memakanku hidup-hidup. Aku tidak mau menjadi pemuas nafsu pemuda bejat itu...., tapi bukankah tadi Mike telah menolongku?"


"Baiklah, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu yang lain untuk menolongnya, tidak hanya berdiam diri seperti ini."


Karin memberanikan diri membuka pintu kamarnya, tepat saat itu ia melihat Mike yang sudah terkulai lemah dengan balutan selimut ditubuhnya. Wajah pemuda itu tampak merah padam dengan keringat membanjirinya.


Dengan cepat Karin memapah Mike untuk masuk kedalam kamarnya.


Karin kemudian memberikan Mike air. Dalam hitungan detik, Mike sudah meneguk habis air tersebut.


"Aku ingin memelukmu Karin. Tolong aku," suara Mike lemah.


Melihat kondisi Mike yang seperti itu, membuat Karin sangat iba padanya. Karena kasihan, Karin pun mengiyakan permintaan Mike untuk memeluknya.


Mike kemudian berbaring diikuti oleh Karin disampingnya, lalu Mike pun memeluk Karin dengan erat. Melekatkan tubuhnya dengan Karin.


"Kenapa badan kamu panas sekali, Mike?"


"Itu karena efek obat perangsang ini, Karin. Aku merasa tubuhku terbakar," balas Mike.


Mike pun semakin mempersempit jarak diantara mereka dengan meminta Karin masuk kedalam selimut yang sama dengannya.


"Akhh, nyaman sekali. Aku benar-benar suka tubuhmu," ujar Mike seraya menggosok miliknya ke tubuh bagian bawah Karin, yang sontak membuat Karin terperanjat meskipun saat itu Karin masih memakai pakaiannya.


"Aku mohon layani aku malam ini," pinta Mike memelas.