
Riuh suara memekakkan telinga Karin setibanya gadis itu di stasiun kereta yang mengantarkannya ke sebuah kota besar yang baru kali itu ia kunjungi.
Bergegas Karin menuju ke arah bajaj yang baru saja berhenti didepannya. Karin memberitahukan alamat yang akan ia tuju kepada supir bajaj didepannya. Pak Supir pun mengangguk dan langsung menarik gasnya menuju ke alamat yang diberikan oleh Karin.
Sepanjang perjalanan Karin melihat ke arah bangunan kokoh yang menjulang tinggi disana. Takjub dalam hatinya.
"Neng, baru pertama kali ke Jakarta?"
"Apa pak?" suara Karin memekak bersautan dengan suara berisik mesin bajaj yang ia tumpangi.
"Baru pertama kali ke Jakarta?" tanya supir bajaj kembali.
"Iya pak, saya mau ketemu sama ibu saya dan kuliah disini," pekik Karin lagi.
Obrolan pun berhenti cukup lama, hingga akhirnya bajaj pun berhenti di depan pos satpam sebuah kawasan elit.
"Kok berhenti pak?"
"Saya cuma bisa anter sampai sini neng, nggak boleh masuk ke dalam."
"Ya sudah pak, terima kasih ya," Karin memberikan tiga lembar uang pecahan sepuluh ribu ke supir bajaj.
Karin menemui satpam penjaga pos didepan gerbang dan memberitahu maksud kedatangannya dengan menunjukkan alamat yang ia tuju ke petugas yang berjaga disana.
Tanpa berlama-lama, petugas menunjukkan arah rumah yang mau dituju Karin tersebut. Karin pun berjalan masuk ke arah yang sesuai dengan petunjuk petugas.
Hingga akhirnya, tibalah ia didepan sebuah rumah mewah nan megah bak istana di negeri dongeng. Karin kembali takjub dalam hatinya. Ia tidak menyangka kalau rumah seperti ini benar-benar ada di dunia nyata.
Karin terkejut, saat tiba-tiba suara klakson mobil memecah lamunannya. Karin bergeser lalu kembali terkejut saat melihat gerbang besar didepannya tiba-tiba terbuka tanpa ada orang yang menggerakkannya.
Saat pintu terbuka, Karin pun bergegas masuk mengikuti mobil didepannya. Namun, seorang petugas satpam menghentikan langkah Karin.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"Perkenalkan saya Karin, Pak. Saya anaknya ibu Sarah."
"Oh, kamu toh anaknya ibu Sarah."
Petugas itu pun membawa Karin duduk di teras depan rumah itu.
"Terima kasih, Pak."
Karin celingukan melihat ke sekelilingnya, merasa takjub dengan kemegahan rumah didepannya. Saat berbalik, tanpa sengaja Karin menabrak dada bidang seseorang.
Tubuh Karin pun oleng, dengan sigap, tangan kekar pria itu menarik lengan Karin. Karin menatap lekat wajah pria asing didepannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan lembut dan tenang.
"Iya, saya baik-baik saja. Terima kasih, Om."
"Om?!. Heh," sahut pria itu samar.
Cuaca terik membuat peluh bercucuran di kening dan leher Karin. Bulir-bulir bening itu, seketika menarik perhatian pria asing yang masih tegap berdiri didepan gadis itu.
Pria itu menelan ludahnya kasar saat melihat bulir bening jatuh membasahi leher mulus Karin. Sekali lagi, ia menelan ludahnya kembali saat melihat lengan putih Karin menyeka bulir itu dengan lembut.
Wajah pria itu seketika memerah, menahan sesuatu yang bergejolak disana. Namun, Mike mencoba bersikap setenang mungkin didepan Karin.
Tenanglah, Mike. Tenang. Kendalikan dirimu, bisiknya dalam hati.
Namun, anehnya Mike tidak kuasa untuk berpaling sedikitpun dari apa yang dilihatnya. Ingin rasanya Mike menarik Karin ke dalam kamarnya saat itu juga.
Sekali lagi Karin menyeka keringatnya, hal itu sontak membuat hasrat Mike semakin terdesak kuat. Mike menggenggam erat tangannya, berusaha menguasai nafsunya.
"Tuan Mike," suara seorang wanita mengejutkan Mike.
Ternyata itu Sarah, ibu Karin.
Setelah memperkenalkan Karin kepada Mike, Mike pun bergegas pergi meninggalkan mereka.
Di mobil, Mike menyeka keringatnya dan menarik nafas dalam-dalam dengan sedikit erangan dan ******* dari mulutnya. Mike pun menuntaskan gelora hasratnya seorang diri.
"Tisu," ucapnya.
Difan, sekretaris pribadi Mike hanya bisa menggeleng saat melihat kelakuan bosnya itu.