
"Karin, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Obat perangsang dari pria itu membuatku gila."
"Aku sudah melupakannya."
"Aku mohon jangan marah Karin. Jangan bersikap dingin seperti ini. Baiklah, aku janji, aku tidak akan mengulangi hal itu lagi," goda Mike dengan genit.
"Aku rasa kamu tidak sepenuhnya menyesal, Mike. Lupakan saja, aku tidak mau membicarakannya lagi."
Karin tampak kesal pada Mike sebab pemuda itu seolah meminta maaf karena hanya takut Karin tidak memberinya jatah bukan karena Mike memang merasa bersalah.
Melihat Karin yang marah, Mike segera memeluk pinggul ramping gadis itu lalu mencumbu leher belakang Karin dengan mesra. Mike mulai menggoda Karin untuk menuruti kemauan Mike.
"Hentikan, Mike!!" teriak Karin.
Plakkk
"Jangan menganggap aku murahan hanya karena aku sudah menandatangani kontrak denganmu. Jangan pikir kamu bisa seenaknya saja datang dan pergi kapanpun kamu mau, tanpa peduli padaku," Karin tiba-tiba menangis sesenggukan.
Mike menatap Karin bingung. Menangani seorang wanita yang sedang marah memang sangat mengerikan bagi Mike.
"Kamu kenapa Karin?. Kenapa kamu tiba-tiba marah tidak jelas seperti ini?" tanya Mike bingung.
"Hiks.., hiks. Kamu sama sekali tidak peduli, Mike. Kamu cuma peduli sama diri kamu sendiri."
"Kamu masih marah karena aku tidak memberi kabar tempo hari?. Bukankah aku sudah mengirimkan email?. Ponselku sulit menerima sinyal di Jerman."
"Jangan bohong, aku tidak menerima pesan apapun."
Mike kemudian menunjukkan isi pesannya pada Karin yang masuk ke spam email. Pantas saja Karin tidak melihat pesan Mike.
"Aku sedang ada urusan bisnis di Jerman. Makanya aku buru-buru pergi dan tidak memberitahumu terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, aku langsung kembali kesini. Karena aku merindukanmu Karin," jelas Mike.
"Maaf," ucap Karin.
"Apa kamu sudah tidak marah?" Mike memeluk Karin dengan erat.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Mike.
Karin tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada Mike.
Mike tersenyum sumringah, dengan cepat dia menggendong Karin menuju kamarnya sambil sesekali mencumbu bibir ranum gadis itu.
Mike merebahkan Karin di kamarnya. Sudut mata Mike menyiratkan sesuatu.
"Kamu cantik sekali Karin," ucap Mike sambil mengecup kening Karin.
"Teruslah di sampingku dan jadilah gadisku selamanya," bisik Mike di telinga Karin.
Deg
Apa maksudnya?, bisik Karin dalam hati.
Apa mungkin saat ini Mike memintaku untuk jadi kekasihnya?, lanjut Karin dalam hatinya.
Saat Karin masih bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba Mike mencumbu leher jenjang Karin perlahan.
"Stop, Mike berhenti," rintih Karin sesaat setelah memeluk Mike lalu mencengkeram erat pundak kekar pemuda itu.
Bukannya berhenti Mike jutsru tersenyum sumringah dan semakin bergerilya di tubuh Karin.
"Aku mohon layani aku. Aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, Karin," melas Mike dengan tatapan hangat.
Karin mengiyakan dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus. Karin menutup wajahnya menahan malu saat Mike menatapnya dengan intens.
Mike kemudian mencium puncak kepala Karin dengan lembut yang dibalas dengan senyuman di wajah Karin. Sesuatu seolah menggelitik dada Karin saat Mike mencium puncak kepala gadis itu.
Pemuda pemudi itu pun tampak semakin bersemangat meluapkan gairah mereka. Terlebih Mike yang terlihat sudah siap menggempur Karin kembali malam itu. Pertahanan Mike selama ini pun runtuh dihadapan Karin.