
Karin memutar otaknya, mana mungkin ia bisa dengan mudahnya menuruti semua kemauan gila laki-laki yang tidak tau malu itu.
"Aku harus bagaimana sekarang. Apa aku kabur saja?" ujarnya sesaat setelah melihat penjagaan ketat di rumah Mike.
"Tapi bagaimana caranya?" kesalnya kemudian.
Karin membulatkan matanya saat melihat mobil Mike sudah ada didepan rumah.
"Kenapa laki-laki gila itu udah pulang jam segini?. Aku harus bagaimana!!"
"KARIN...KARIN..." teriak Mike dari bawah.
Dengan cepat Karin mengunci pintu kamarnya.
Mike memutar gagang pintu yang terkunci lalu menggedornya dari luar dengan terus memanggil nama Karin.
Sementara di kamar, Karin sudah mondar-mandir memikirkan apa yang harus ia lakukan kalau Mike mendekatinya dan melakukan hal yang sama seperti kemarin.
Prang!!!
Mike terperanjat disana, tepat saat ia membuka pintu, ia melihat Karin sudah bersimbah darah.
"KARIN!!!" teriak Mike.
Karin pun dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
Dua jam kemudian, Karin pun siuman. Dokter mengatakan kepada Mike kalau Karin butuh istirahat yang cukup selama beberapa hari agar ia segera pulih.
Mike pun meminta agar Karin diperbolehkan untuk dirawat di rumahnya saja agar ia dapat memantau kesehatan Karin. Dokter pun memperbolehkan.
Namun, saat Karin akan dibawa pulang oleh Mike dan Difan. Karin justru menolak.
"Saya tidak mau pulang," tolaknya.
"Kalau kamu disini, aku tidak bisa memantau kamu setiap saat. Kita pulang saja, di rumah nanti kamu akan dirawat lebih baik."
"TIDAK," bantah Karin.
"Ikut denganku dan berhenti bersikap kekanakan!!" ujar Mike dengan sedikit bentakan.
Nyali Karin seketika ciut, ia pun akhirnya bersedia untuk kembali ke rumah.
Difan membukakan pintu mobil, sesaat setelahnya dengan sigap Mike membopong Karin, sementara Karin lagi-lagi meronta minta di turunkan dari gendongan Mike.
"Bersikap manis lah, atau aku akan bersikap buruk padamu," ancam Mike yang dibalas dengan tatapan sinis Karin.
"Dasar sampah!!"
Brak!!!
Mike membanting pintu tepat didepan Karin hingga membuat Karin sedikit tersentak.
"Ayo jalan!" ucap Mike pada Difan sesaat sebelum Difan menginjak gas mobil dalam.
Setibanya di rumah, Mike membopong tubuh Karin ke kamar tidur Mike. Karin memberontak pada Mike.
"Kenapa kamu membawaku kesini?!" teriaknya
Mike membuang jasnya kasar, membuat Karin sedikit takut.
"Kamu udah tanda tangan kontrak disini. Kamu itu milik aku. Jadi terserah aku, mau melakukan apapun ke kamu."
"Aku ini manusia bukan properti milik siapapun!!" bentak Karin sambil bangkit dari ranjang.
"Kamu nggak punya hak atas aku!!" ujar Karin lagi sesaat sebelum ia pingsan tak sadarkan diri.
Semalaman Mike menjaga Karin di kamarnya hingga tanpa sadar ia pun tertidur lelap disamping Karin.
Karin merasakan sesuatu yang berat, melingkari pinggangnya. Sebuah tangan kekar seorang pria tampak sedang memeluk pinggang mungil gadis itu erat.
Sesaat setelah Karin memutar wajahnya, ia melihat sosok Mike tertidur pulas disebelahnya.
Dengan cepat, Karin menggeser tubuhnya dan turun dari ranjang. Meskipun masih merasa pusing, Karin mencoba keluar dari kamar Mike dengan berjalan sempoyongan.
"Mike..Mike," terdengar suara Difan dari luar kamar.
Mike kemudian mengerjap, sesaat setelah tersadar ia melihat disebelahnya sudah tidak ada Karin.
Mike pun segera keluar dan menanyakan pada Difan yang masih berdiri didepan pintu, dimana Karin berada. Untungnya Difan mengatakan kalau Karin sedang tertidur pulas di kamar.
Dengan cepat, Mike pun mengejar Karin ke kamarnya.