
Setibanya di Jerman, Mike segera menuju ke rumah kedua orangtuanya yang meskipun sudah lumayan tua tapi masih tampak segar.
Mike memeluk ibu dan ayahnya. Terlihat Mike sangat bahagia begitupun sebaliknya.
Mike adalah anak tunggal di keluarganya. Meskipun begitu Mike tidak pernah merasa kesepian karena Mike memiliki keluarga yang cukup harmonis.
Tanpa basa-basi, Mike menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengurus kekacauan yang dibuat oleh Kristin di Jerman.
"Ayah rasa lebih baik kau menerima Kristin jadi pendamping hidupnya. Dia gadis yang cukup baik dengan latar belakang keluarga yang juga setara dengan kita. Apa yang masih membuatmu ragu?"
"Ayah, aku tidak mencintainya. Aku tidak suka gadis itu."
"Cobalah kau mengenal Kristin lebih dekat. Dia gadis yang baik dan bermartabat. Lagipula Kristin juga sudah lama menyukaimu Mike."
"Ayah, aku datang kesini untuk meluruskan semuanya. Aku akan menghentikan pertunangan yang telah kalian rencanakan. Bagaimana bisa kalian memaksaku bertunangan dengan orang yang tidak aku suka. Lebih baik kita sudahi pembicaraan ini."
Mike pun segera pergi ke kamarnya karena dia sudah sangat letih akibat perjalanan jauh yang ditempuhnya.
"Mike," sapa seorang wanita sesaat setelah mengunci pintu kamar Mike.
"Kristin!!" lirih Mike tidak percaya.
Tanpa aba-aba, Kristin langsung memeluk Mike dengan erat. Mike dapat merasakan dua gundukan kenyal milik Kristin menempel erat di dadanya.
Cepat-cepat Mike melepas pelukan Kristin.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?. Kenapa kau ada disini?"
"Bukankah kita sudah bertunangan, wajar kalau aku tinggal di rumah tunangan ku."
"Jaga sikapmu Kristin. Aku tidak akan pernah menyetujui pertunangan sialan ini."
Bukannya marah, Kristin justru kembali memeluk Mike dengan erat. Bahkan dia sengaja menggesek kedua benda kenyal miliknya semakin erat untuk menggoda pemuda itu.
"Aku merindukanmu, Mike. Apa kamu tidak bisa merasakannya?" desah Kristin mulai melancarkan jurusnya.
Sesaat kemudian, Kristin mencumbu Mike tepat pada titik lemah pemuda itu yakni dibelakang telinga Mike yang memerah. Sontak hal itu membuat Mike bereaksi, dia merasakan sensasi yang luar biasa menggelitik tubuhnya.
"Aaahhhh....," Mike meloloskan suaranya.
"Kau sudah siap, Mike," ucap Kristin seraya meraba milik Mike yang sudah mengeras dibalik balutan jeans yang Mike kenakan.
tok
tok
Suara ketukan pintu, menghentikan aktifitas mereka.
"Mike, aku hanya mengingatkanmu untuk menepati janji. Aku pergi."
Mendengar itu, seketika Mike tersadar lalu menjauhkan tubuh Kristin darinya.
"Aku tidak bisa melakukan ini. Aku kesini karena ingin membatalkan rencana pertunangan kita."
Kristin masih berusaha menggoda Mike, "Kau bohong Mike, lihat tubuhmu sudah menginginkan ku."
"Aku tidak menginginkan mu, kau lah yang menggodaku."
Kristin mulai menyentuh Mike tepat di daerah sensitif Mike, "Bukankah itu sama saja?. Aku mencintaimu Mike. Aku bahkan tidak pernah melakukan hal ini pada pria lain, " ucapnya sambil terus mencumbu pria itu.
Tidak mau lebih jauh lagi, Mike pun segera mendorong Kristin hingga gadis itu tersungkur di lantai.
"Hentikan omong kosong mu dan keluar dari kamarku."
Kristin yang kesal seketika keluar dari kamar Mike sambil menangis. Sesaat setelahnya Difan masuk dan memuji Mike yang telah berhasil menahan dirinya di depan Kristin.
"Aku berterima kasih padamu karena kau datang disaat yang tepat, kalau terlambat sedikit saja, mungkin aku sudah menjadi santapan wanita itu."
"Aku rasa kau lah yang akan menyantap nya duluan," ujar Difan melirik kearah bawah Mike yang sudah mengeras lalu tertawa.
Melihat ekspresi ledekan di wajah Difan membuat Mike kesal, dengan cepat Mike pun mengusir pemuda itu dari kamarnya lalu menuntaskan hasratnya yang sempat terpancing oleh Kristin.
"Aku bisa gila. Yesss..., yesss...., ahhhhh..., ahhhhh..., ahhhh..., ouch..., ouch..., uuhhhhh..., aaggghhhh...," ucap Mike sambil memainkan miliknya dibawah sana.
Hingga akhirnya Mike pun lega setelah menyemburkan cairan miliknya.