Bad CEO

Bad CEO
Jurus pamungkas



Melihat Mike yang masih saja diam, membuat Karin sedikit frustasi. Karin berpikir sepertinya ia harus melakukan hal yang lebih ekstrem lagi untuk dapat merayu Mike.


Jurus pamungkas Karin pun muncul, kali ini Karin membuka pakaian Mike lalu memainkan ****** pria itu dan mengecupnya lembut. Mike tampak sedikit terpengaruh kali ini.


Selanjutnya, Karin melebarkan kaki Mike dan duduk dipangkuan pria itu saling berhadapan.


Karin terperanjat saat menyadari kalau inti miliknya bersentuhan dengan milik Mike yang ternyata sudah mengeras dibawah sana.


Wajah Karin memerah menahan malu. Namun, Karin tidak bisa mundur, ia harus menang kali ini.


Dengan penuh perlawanan Mike menarik kedua tangannya saat Karin memaksa tangan pria itu untuk menerobos masuk memainkan dua gundukan kenyal miliknya.


"Kalau aku melakukan ini, apa kamu akan berubah pikiran?" tanya Karin lagi.


"Aku tidak akan mengubah pikiranku semudah itu," jawab Mike.


Dengan wajah cemberut Karin pun mengakhiri rayuannya. Karin turun dari pangkuan Mike, lalu pergi meninggalkan pemuda itu tanpa mengucapkan apapun.


Apa aku tidak semenarik itu?, batinnya.


Karin merasa kepercayaan dirinya hancur karena Mike sama sekali tidak terpengaruh dengan semua godaan yang ia lakukan. Padahal Karin berharap lebih pada Mike saat itu.


Malam harinya, Mike mendapati Karin sudah tertidur pulas di kamar. Mike sengaja tidak memperbaiki pintu kamar Karin agar Mike bisa leluasa masuk kedalam kamar tersebut. Hal itu sangat menguntungkan baginya.


Mike kemudian menaiki ranjang lalu menarik Karin dalam pelukannya. Mike memeluk Karin erat seolah takut kehilangan gadis itu.


Kamu menang, Karin. Aku berubah pikiran. Aku akan mendukungmu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Maaf, kalau aku terlalu keras padamu tadi.


Tak lama berselang, Mike pun tertidur dengan posisi tangan masih memeluk Karin dengan erat.


...****************...


Pagi harinya, Karin sedang bersiap menyiapkan sarapan pagi untuk Mike tapi betapa kecewanya Karin saat mengetahui kalau Mike sudah pergi. Lagi-lagi Karin harus menelan kekecewaan karena sikap Mike.


...****************...


Karin tampak serius menjalani perkuliahan pertamanya di kampus. Ia tidak menyangka bisa berkuliah di kampus favorit yang selama ini ia inginkan.


Karin bertemu dengan pria yang kemarin mengantarkannya pulang ke rumah Mike.


"Eh, Karin. Kamu kuliah hari ini?"


Karin mengangguk antusias.


"Baguslah kalau begitu. Kalau di kampus, panggil saya 'pak'. Nggak enak soalnya didengar sama mahasiswa lain kalau kamu panggil saya cuma Bagas doang."


"Baik mas.., eh, baik Pak."


"Bagaimana?. Apa kamu betah kuliah disini?"


"Betah pak, kampusnya bagus. Dosennya juga cakep-cakep."


"Kamu harus kuliah yang rajin, biar bisa membanggakan orang tua. Ngomong-ngomong, ibu kamu apa kabar?"


Raut wajah Karin berubah seketika, Karin diam sejenak lalu menjawab, "Ibu baik, pak," jawabnya tersenyum paksa.


"Syukurlah kalau begitu."


Sepanjang jalan, Karin memperhatikan semua mahasiswa yang melewati mereka tampak menyapa Bagas dengan ramah.


"Bapak disini ngajar mata kuliah apa?"


Bukannya menjawab, Bagas justru tersenyum mendengar pertanyaan Karin.


"Nanti juga kamu tau," ucapnya setelah beberapa saat sambil menatap wajah polos Karin.


...****************...


Upacara penerimaan mahasiswa baru pun dimulai pagi itu. Karin dan mahasiswa yang lain duduk di aula besar universitas yang nantinya akan menjadi tempat Karin menuntut ilmu.


Karin melambaikan tangan kearah Bagas yang dibalas dengan senyuman oleh pria yang saat ini berada diatas panggung berjajar dengan dosen lainnya.


Karin mendengarkan pidato yang disampaikan oleh beberapa dosen dengan seksama.


Hingga tibalah saat nama Bagas dipanggil, betapa terkejutnya Karin saat menyadari kalau pria yang pernah menjadi cinta pertamanya itu merupakan seorang rektor disana.